Ini adalah novel religi pertamaku. Banyak banget yang butuh perbaikan sana sini. jika ada yang tidak sesuai, othor terima banget masukannya.
Tiba-tiba dilamar oleh seorang Ustad, membuat Arin berpikir dan melakukan berbagai cara untuk membatalkan pernikahan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danie A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 26
Arin keluar dari kamar bersama Huda, masih dengan mengenakan mukena. Begitu mereka membuka pintu, Pak Agung dan Bu Wulan menatap keduanya dengan mata membulat lebar.
Sungguh pemandangan yang cukup langka. Putri kecil mereka yang bandel, kini sepertinya sudah belajar menjadi istri penurut di depan suami.
"Duh, kok rasanya ada yang beda, ya?" ledek Bu Wulan saat melihat putrinya.
"Apa yang beda, Bu?" tanya Pak Agung ingin ikut mengejek Arin.
"Ada yang udah nemu pawang tuh, Pak!" seru Bu Wulan. "Biasanya juga sholat subuh pas udah mepet di rumah. Sekarang pagi-pagi udah keluar pakai mukena."
Tentu saja Arin merasa risih diledek. Pak Agung dan Bu Wulan memang suka sekali meledek Arin dalam hal apa pun.
"Kenapa? Kaget anaknya udah jadi istri solehah?" gerutu Arin merasa malu dan jengkel karena ejekan kedua orang tuanya.
Pak Agung dan Bu Wulan justru makin gencar menggoda putrinya itu. "Bu, anak kita udah jadi istri solehah katanya?"
"Maklum manten baru, Pak. Baru punya suami semalam, udah langsung berubah jadi istri alim," timpal Bu Wulan.
"Ibu sama Bapak apa-apaan, sih? Tiap hari kerjaannya ngeledek mulu?" omel Arin kesal.
Wanita itu berbalik badan dan hendak masuk ke dalam kamar lagi. Untuk apa Arin memulai kebiasaan baru, jika hal itu hanya akan dijadikan bahan olokan oleh kedua orang tuanya. Namun, Huda sudah terlebih dulu menahan Arin tanpa menyentuh wanita itu.
"Saya bangga Arin udah mengalami peningkatan. Kalau biasanya Arin memang bangun mepet untuk salat subuh, tapi sekarang Arin sudah mau bangun lebih pagi dan ikut salat berjamaah," ungkap Huda.
"Perubahan ke arah yang lebih baik pantas untuk didukung," seru Huda mencoba membela Arin. "Arin udah berusaha untuk mengubah diri menjadi Arin yang lebih baik."
Mendengar perkataan Huda, Arin pun langsung melirik kedua orang tuanya dan menyunggingkan senyum penuh kemenangan. Mau diledek seperti apa pun juga, kali ini Arin sudah mempunyai orang yang akan membela dan mendukungnya.
"Anak mau belajar lebih rajin tuh harusnya dipuji, bukannya diledek," seru Arin pada Pak Agung dan Bu Wulan.
Kedua orang tua Arin pun mengalah. Daripada melihat Arin makin marah, lebih baik Pak Agung menyudahi ledekannya. "Iya, deh! Bapak nggak ngeledek lagi," timpal Pak Agung.
Bu Wulan masih tersenyum-senyum sendiri menatap Arin. Melihat Arin yang mulai belajar kebiasaan baik, membuat Bu Wulan merasa lega. Bu Wulan yakin, Huda pasti bisa membimbingnya Arin sampai putrinya itu bisa menjadi istri yang baik.
Setelah kembali dari salat subuh di masjid, Arin dan Huda pun memulai aktivitas pertamanya sebagai pasangan suami istri. Karena Huda masih berada di rumah mertua, pria itu pun memanfaatkan waktu untuk membantu ayah mertuanya selama dia berada di sana.
Huda menemani Pak Agung mengotak-atik motor tua di halaman rumah, sembari menunggu ibu-ibu menyiapkan sarapan. "Kamu tahu juga ya soal mesin motor tua," cetus Pak Agung mulai hanyut dalam obrolan seru bersama dengan Huda.
"Kebetulan saya pernah beberapa kali bantuin temen ngurus motor tua, Pak. Jadi, saya tahu sedikit soal perawatan motor tua," timpal Huda.
Keduanya terlihat akrab sekali. Pak Agung yang sejak awal memang sangat suka pada Huda, makin menyukai sang menantu yang mempunyai banyak kecocokan dengannya.
Dua pria beda generasi itu berbincang seru, hingga suara mereka terdengar sampai ke dapur, tempat di mana ibu-ibu tengah sibuk menyiapkan makanan.
Ya, tidak hanya Huda saja yang asyik menemani Pak Agung, Arin juga menemani ibunya mengolah makanan. Sebagai seorang istri, wanita itu mulai membiasakan diri berada di dapur untuk membantu ibunya memasak. Tidak hanya ada Bu Wulan saja di rumah, tapi Musdalifah juga berada di rumah Pak Agung sekarang.
"Eh, manten baru mau belajar masak, ya?" ledek Musdalifah.
Arin langsung menampakan wajah cemberut. Apa pun yang ia lakukan di hari pertamanya menjadi seorang istri, selalu saja dikomentari oleh keluarganya.
"Kalian kenapa, sih? Nggak capek apa godain orang terus?" gerutu Arin.
Musdalifah dan Bu Wulan tertawa. Melihat kemarahan Arin membuat mereka gemas.
"Gimana tadi malam pertamanya?" tanya Musdalifah membuat wajah Arin langsung memerah.
"Malam pertama apanya, sih? Aku cuma tidur," seru Arin.
"Ah, masa sih cuma tidur? Tidur dikelonin kan maksudnya?" timpal Musdalifah.
Arin makin marah, tapi Musdalifah tidak juga menghentikan ledekannya. Wanita itu makin senang menggoda adiknya yang malu.
"Arin, kamu sekarang udah jadi seorang istri! Jaga kelakuan kamu, ya! Kamu bukan lagi anak-anak. Kamu udah resmi jadi wanita dewasa. Menikah adalah tanda kedewasaan. Kamu harus ubah kebiasaan jelek kamu," seru Bu Wulan.
Arin hanya mengangguk sembari memotong-motong sayuran. Memang masih terlalu dini bagi Arin untuk memasuki dunia pernikahan. Namun, wanita itu yakin ia bisa membangun rumah tangga harmonis bersama dengan imam yang tepat.
"Belajar masak yang bener, Rin! Jangan jadi gadis bandel lagi di depan suami!" seru Musdalifah.
"Mbak kayaknya seneng banget ya jelek-jelekin aku?" omel Arin.
Musdalifah terkekeh. Wanita itu ingin memuaskan diri tertawa dan bercanda bersama dengan sang adik, sebelum Arin dibawa pergi sang suami.
"Bangun pagi terus ya, Rin! Terus langsung masuk! Suami diurus. Jangan males-malesan lagi!" cetus Bu Wulan.
"Iya, Bu. Arin tahu," timpal Arin.
"Tapi manten baru gini pasti masih dimanja, Bu!" kelakar Musdalifah.
Bu Wulan tersenyum sembari melirik Arin. "Arin, kalau udah jadi istri, harus jago tiga hal," ucap Bu Wulan.
"Jago apa?"
"Harus jago di dapur. Kalau masak ya yang enak, yang bisa dimakan. Jangan ngasal!" seru Bu Wulan memberikan petuah di sela-sela ledekannya. "Terus, harus jago di sumur. Maksudnya buat bersih-bersih. Ngurus rumah sama seisinya, kamu juga harus bisa. Dan yang nggak kalah penting, harus jago di kasur. Biar kamu makin disayang sama suami."
Ujung-ujungnya Bu Wulan masih terus menggoda putrinya. "Nggak apa-apa malam pertama kamu belum jago. Nanti lama-lama juga jadi pemain pro," celetuk Bu Wulan.
Arin makin malu karena perkataan sang ibu. Tidak hanya halaman rumah saja yang ramai dengan suara bapak-bapak, ibu-ibu di dapur juga tak mau kalah membuat kehebohan.
****
Semua anggota keluarga kini tengah berkumpul di meja makan dan telah selesai menyantap makanan. Sebelum semua orang beranjak melanjutkan aktivitas, Huda pun membuka perbincangan dan menyampaikan rencananya pada hari itu.
"Pak, Bu, hari ini saya mau minta izin. Saya mau bawa Arin pulang ke Tubansari," ujar Huda pada Pak Agung dan Bu Wulan.
Pak Agung dan Bu Wulan tak dapat melarang. Kapan pun Huda akan membawa Arin pergi, mereka tak dapat mencegahnya.
Tugas Pak Agung dan Bu Wulan untuk menjaga Arin sudah selesai. Kini putri bungsu mereka sudah menjadi tanggung jawab orang lain. Sudah ada Huda yang akan menjaga putri mereka seumur hidup.
"Silakan Nak Huda. Kami percayakan Arin pada Nak Huda. Arin sekarang sudah menjadi bagian dari keluarga Nak Huda. Bapak sama Ibu titip Arin, ya?" cetus Pak Agung.
Sebenarnya Bu Wulan tak rela. Putri bungsunya yang bandel dan manja, kini sudah menjadi milik keluarga pria. Tapi Bu Wulan cukup lega dan senang, Arin menemukan pria baik yang bisa menjaganya.
"Terima kasih banyak, Pak, Bu. Saya akan menjaga Arin dengan baik. Saya juga akan sering-sering menjenguk Bapak dan Ibu," ucap Huda.
Arin tak dapat menahan air mata. Berat rasanya meninggalkan rumah dan keluarga.
Wanita itu mengemasi barangnya dengan wajah muram. Selama delapan belas tahun, Arin tumbuh hingga dewasa di rumah itu. Namun, kini Arin harus meninggalkan rumah yang sudah menjadi tempatnya pulang selama belasan tahun. Kini Arin harus mulai membiasakan diri dengan hidup baru serta rumah baru yang akan menjadi tempatnya pulang seumur hidup.
"Ada yang bisa saya bantu, Rin?" tanya Huda saat melihat istrinya yang sibuk mengemasi barang-barang yang akan dibawa pindah ke Tubansari.
"Nggak, Mas. Barang-barang Arin nggak banyak kok."
"Kamu nggak apa-apa, kan?" tanya Huda. Pastinya Huda melihat wajah Arin yang sedikit muram.
"Aku baik-baik aja, Mas. Emangnya kenapa?"
"Kamu kelihatan agak muram. Pasti berat ya buat kamu ninggalin rumah ini?" tanya Huda.
Arin melempar senyum kecut. "Bohong kalau aku bilang nggak berat. Aku udah hidup di sini sejak lahir, Mas. Wajar kalau aku sedih karena harus pindah, kan?"
Huda mengangguk. Huda memahami perasaan Arin. Jika Huda ada di posisi Arin, mungkin Huda juga akan merasakan hal yang sama.
"Tapi kamu bisa balik ke sini kapan pun kamu mau, Rin. Mas nggak akan membatasi kamu untuk mengunjungi orang tua kalau kamu lagi kangen. Kita coba adaptasi pelan-pelan, ya?" seru Huda.
"Makasih, Mas."
Huda dan Arin segera berpamitan setelah selesai berkemas. Setibanya di Tubansari, Arin disambut dengan hangat oleh keluarga Huda. Riski langsung berlari memeluk sang ayah angkat setelah mereka berpisah selama satu hari.
"Riski kangen sama Abi, ya?" tanya Huda sambil memeluk manja bocah kecil itu.
"Abi lama banget pulangnya. Riski capek nunggu," omel Riski.
Arin tersenyum menatap Riski yang begitu menempel pada Huda. Mulai sekarang, bocah kecil itu juga akan menjadi putranya.
"Riski lengket banget sih sama Mas Huda, kaya perangko? Padahal Mas Huda bukan ayah kandungnya," batin Arin.
Disaat Arin tengah berbasa-basi bersama sang mertua, wanita itu tiba-tiba dikejutkan dengan keberadaan seorang wanita yang nampak asing baginya. Arin baru pertama kalinya melihat wanita itu. Wanita kalem berhijab besar yang sepertinya berusia tak jauh dari Huda. Siapa sebenarnya wanita itu?
***
semangat up nya thor 💪💪💪