Dilarang spam promo di sini!
Warning! Banyak tindak kekerasan, penuh masalah moral. Harap ditanggapi dengan bijak!
Tahap Revisi!
Genre : Dystopia, High Fantasy, Romance, Action, Mystery, Psychology, Adventure.
Sakura, gadis yatim piatu berotak cerdas, yang selama hidupnya dibesarkan di sebuah Panti Asuhan.
Karena sebuah tragedi, ia dilahirkan kembali menjadi seorang Putri di Negeri Asing. Negeri di mana, seorang perempuan berusia empat tahun akan dipaksa bertunangan dengan seorang asing, lalu saat perempuan tersebut menginjak tujuh belas tahun ... Dia akan dieksekusi jika laki-laki yang menjadi tunangannya itu, menolak mentah-mentah dirinya.
Tak ada kebebasan untuk perempuan, yang ada hanyalah ... Hukum mutlak jika hanya laki-laki yang berkuasa, perempuan tak lebih berharga dari seekor hewan.
Ini kisah Sakura, yang berjuang untuk mendapatkan keadilan. Ini kisahnya, kisah yang akan membawamu ke sisi paling kelam kehidupan.
Semangat, cinta kasih, haru biru, memenuhi perjuangannya di dalam kisah ini. Perjuangan, yang akan membawa nasib perempuan untuk kedepannya.
2 chapter, up daily.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FufuHima, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter XXVI
Dinginnya pagi memaksa kedua mataku untuk terbuka, kuangkat lengan Izumi yang memeluk tubuhku. Beranjak dan duduk aku di tengah-tengah mereka.
Kugerakkan tubuhku merangkak dari dalam tenda, semuanya sama seperti terakhir kali terlihat. Duduk aku di depan tenda seraya memegang tenggorokan ku yang mengering.
"Sachi.." tukas Lux seraya mengikutiku keluar dari dalam tenda
"Kau sudah bangun, Lux?" ungkapku yang dibalas dengan anggukan kepalanya
"Apa yang kau lakukan?" ucapnya seraya terbang ke atas kepalaku
"Hanya duduk..." balasku sembari tertunduk
"Kau baik-baik saja?"
"Aku baik-baik saja..."
"Hanya mungkin sedikit haus."
"Haus ya?..."
"Kalau begitu, tunggulah disini sebentar" ujar Lux seraya terbang menjauh
Kuperhatikan tubuh Lux yang semakin lama semakin menghilang. Kuangkat kedua lututku seraya kupeluk kedua lututku tadi dengan kedua tanganku, pandangan mataku tampak jatuh kosong ke depan...
"Oi Tupai, apa yang kau lakukan disini?." terdengar suara Izumi disertai cengkraman lemah di bahu kananku
"Kau sudah bangun, nii-chan?" ungkapku seraya berbalik ke arahnya
"Bantal guling ku menghilang, jadi aku tidak bisa tidur" balasnya seraya duduk di sampingku
"Nii-chan, apa kau juga pernah melihat ibuku?" ucapku tanpa sadar
"Tidak pernah. Pertama kali aku bertemu Haruki, itu saat Mari di eksekusi. Sebelum itu, kami berdua hidup di dua istana kecil yang berbeda, sama sepertimu dulu..."
"Eh? benarkah?" tanyaku yang dibalas dengan anggukan kepalanya
"Karena itulah, mungkin yang dimaksud Haruki untuk tidak membencinya, karena kami seperti orang asing dulunya."
"Apa yang sedang kalian bicarakan?" suara Haruki ikut terdengar dari arah belakangku
"Membicarakan tentang masa lalu," tukas Izumi singkat
"Apa ada hal yang membuatmu penasaran, Sa-chan?" ucapnya seraya berjalan dan duduk di samping kiri ku
"Izu nii-chan berkata jika kalian sebelumnya tinggal di dua istana yang berbeda?" ucapku seraya menoleh kearahnya
"Itu benar, karena dulunya aku lebih memilih mengurung diri dengan tumpukan buku-buku. Setelah bertemu Izumi dan kau lahir, aku baru mulai merubah cara pandang ku."
"Lalu bagaimana dengan Mari nee-chan?"
"Entahlah, aku tidak pernah bertemu dengannya sebelumnya. Akupun baru tahu kalau aku punya kakak perempuan saat itu."
"Akupun begitu. Akupun sudah lupa bagaimana tampilan wajahnya. Tapi kupikir itu tidaklah penting, adik perempuanku yang lemah masih membutuhkan bantuan dari kakaknya yang kuat ini, hal itulah yang terpenting sekarang" tukasnya seraya menyandarkan lengan kirinya di bahu kananku
"Kau benar. Our precious sister..."
"Our sister is the most precious thing in the world to us..." sambung Haruki seraya melakukan hal yang sama di bahu kiriku
"Sachi..."
"Lux.." ucapku seraya mengarahkan pandanganku ke atas, tampak Lux terbang ke arahku dengan membawa sebuah daun yang dilipat nya seperti sebuah corong.
"Aku membawakan air untukmu.." ungkapnya terbang pelan ke hadapanku
"Air?" tanyaku bingung menatapnya
"Air yang aku kumpulkan dari embun-embun yang menempel di daun-daun yang ada di sekitar sini." tukasnya seraya mengarahkan corong daun berisi air yang ada di tangannya ke arahku
"Eh? kau bisa melakukan hal itu?" ucapku seraya mengambil corong daun itu darinya
"Tentu. Itu bakat alami kami." ungkapnya seraya terbang dan hinggap di atas kepalaku
"Apa kalian juga ingin meminumnya, nii-chan?" ucapku seraya menatap air yang ada di dalam corong yang terbuat dari daun itu
"Tidak, kau bisa meminum semuanya..." ungkap Haruki menatapku
"Aku kuat, jadi aku tidak membutuhkannya" sambung Izumi yang juga ikut menatapku
"Bagaimana denganmu, Lux?"
"Aku sudah minum tadi sebelum kesini, jadi kau bisa meminum semuanya"
"Baiklah.." tukasku seraya meneguk air yang dibawa Lux hingga habis
________________
Berjalan aku dituntun Haruki dengan Izumi dan yang lainnya mengikuti kami dari belakang menyusuri desa. Tampak dari kejauhan sekumpulan anak-anak duduk mengelilingi tong air yang diletakkan di tengah-tengah desa, kulepaskan genggaman tanganku dari Haruki seraya berjalan ke arah mereka...
"Apa semuanya baik-baik saja?"
"Putri.." ucap mereka satu persatu diiringi ekspresi terkejut
"Kami menjaga tong air ini seperti perintahmu, Putri" ucap salah satu anak
"Putri berkata kalau sisa air bersih yang ada hanya harus digunakan untuk mereka yang sakit, nenekku sedang sakit karena itu aku pun harus menjaga nya" ungkap salah satu anak perempuan seraya tertunduk
"Bisakah kalian menolong ku?" ucapku seraya mengalihkan pandangan ke arah beberapa Ksatria yang mengikuti ku dari belakang
"Apa yang harus kami lakukan, Putri?" ucap salah satu Ksatria
"Aku ingin kalian memasak air ini. Setelah air nya sudah sedikit hangat, kalian tambahkan gula dan garam ke dalamnya. Lalu berikan air itu untuk penduduk desa yang sakit..."
"Gula dicampur garam?" tukas salah satu dari mereka
"Kita akan membuat larutan oralit. Air kotor yang mereka konsumsi selama ini banyak menyebabkan penduduk desa mengalami diare.."
"Diare?" ucap mereka satu persatu diiringi ekspresi bingung
"Bagaimana caraku menjelaskannya..." ungkapku tertahan
"Diare itu adalah dimana kita mengalami buang air besar dengan frekuensi yang tinggi, sulit ditahan, disertai kotoran yang keluar berbentuk lembek dan berair..."
"Dan apa itu frekuensi, Putri?" ucap salah satu anak yang ikut mendengarkan pembicaraan kami
"Frekuensi?" ucapku spontan seraya berbalik menatapnya
"Frekuensi itu, suatu ukuran jumlah putaran ulang per peristiwa dalam satu waktu..."
"Jadi frekuensi di dalam diare itu sendiri dimaksudkan beberapa kali penderita diare itu mengalami buang air besar dalam sehari..."
"Kau benar, Putri. Kakakku juga mengalaminya kemarin..." ucap anak yang lainnya
"Benarkah?" ucapku mengarahkan pandangan ke arahnya
"Kalau begitu, kakakmu sangat membutuhkan larutan oralit ini..."
"Kakakmu pasti merasa sangat lemas bukan setelah beberapa kali buang air besar?" ucapku menatapnya yang dibalas dengan anggukan kepala darinya
"Itu dikarenakan, penderita diare mengalami dehidrasi..."
"Dehidrasi itu sendiri ialah proses keluarnya cairan dari dalam tubuh, entah itu dari keringat yang kalian hasilkan ataupun dari diare seperti yang warga desa kalian alami..."
"Dehidrasi itu sendiri sangat berbahaya, bahkan bisa menyebabkan kematian. Karena itulah, kita membutuhkan larutan oralit yang akan kita buat nanti..."
"Larutan oralit sendiri berfungsi untuk mengganti cairan tubuh yang hilang. Dan itu salah satu pertolongan pertama yang harus kita lakukan untuk menyelamatkan mereka..."
"Karena itulah semuanya, kita bantu kakak-kakak Ksatria memberikan larutan oralit itu pada semua warga desa. Ambil semua mangkok maupun cangkir yang ada di rumah kalian dan kumpulkan kesini. Kita akan menyelamatkan desa kalian!!" ucapku setengah berteriak ke arah anak-anak desa
"Laksanakan, Putri..." ucap mereka serempak seraya berbalik dan lari berpencar
"Kau melakukan tugasmu dengan sangat baik" bisik Haruki yang sudah berdiri di belakangku
"Aku hanya ingin, kedepannya mereka dapat menjaga diri mereka sendiri dengan pengetahuan yang berhasil mereka dapatkan." ucapku berbalik menatapnya dan tersenyum ke arahnya
skrg malah baper bgeettttt
"aku membuat puding untuk kakak ku yang pecemburu"
haiii,aku d 2025