NovelToon NovelToon
ADOPSI YANG MENJADI OBSESI

ADOPSI YANG MENJADI OBSESI

Status: tamat
Genre:Cinta Terlarang / Crazy Rich/Konglomerat / Obsesi / Beda Usia / Cinta Seiring Waktu / Menyembunyikan Identitas / Tamat
Popularitas:9.2k
Nilai: 5
Nama Author: frj_nyt

Ia ditemukan di tengah hujan, hampir mati, dan seharusnya hanya menjadi satu keputusan singkat dalam hidup seorang pria berkuasa.

Namun Wang Hao Yu tidak pernah benar-benar melepaskan Yun Qi.

Diadopsi secara diam-diam, dibesarkan dalam kemewahan yang dingin, Yun Qi tumbuh dengan satu keyakinan: pria itu hanyalah pelindungnya. Kakaknya. Penyelamatnya.
Sampai ia dewasa… dan tatapan itu berubah.

Kebebasan yang Yun Qi rasakan di dunia luar ternyata selalu berada dalam jangkauan pengawasan. Setiap langkahnya tercatat. Setiap pilihannya diamati. Dan ketika ia mulai jatuh cinta pada orang lain, sesuatu dalam diri Hao Yu perlahan retak.

Ini bukan kisah cinta yang bersih.
Ini tentang perlindungan yang terlalu dalam, perhatian yang berubah menjadi obsesi, dan perasaan terlarang yang tumbuh tanpa izin.

Karena bagi Hao Yu, Yun Qi bukan hanya masa lalu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon frj_nyt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

35

Yun Qi tidak tidur nyenyak malam itu. Ia terbangun beberapa kali, jantungnya berdebar tanpa sebab yang jelas. Setiap kali memejamkan mata, wajah-wajah di kampus muncul—tatapan penuh rasa ingin tahu, senyum setengah mengejek, bisikan yang tidak pernah benar-benar ia dengar tapi selalu ia rasakan.

Pagi datang dengan cahaya pucat yang menyelinap melalui tirai apartemen.

Yun Qi duduk di tepi ranjang, menatap lantai. Kepalanya berat, matanya perih. Ia mengangkat tangan, menyentuh lehernya sendiri, seperti memastikan ia masih ada. Nyata. Utuh.

Di dapur, suara langkah kaki terdengar.

Hao Yu sudah berpakaian rapi. Jas hitam, kemeja putih, rambutnya tersisir sempurna. Wajahnya tidak menunjukkan apa pun—seperti biasa. Terlalu terkendali untuk seseorang yang semalam berbicara tentang “membersihkan” gosip.

“Kamu tidak berangkat kuliah hari ini,” katanya tanpa menoleh, menuang kopi.

Nada suaranya bukan bertanya.

Yun Qi berdiri di ambang pintu dapur. “Aku harus,” jawabnya pelan. “Aku nggak bisa terus kabur.”

Hao Yu akhirnya menoleh. Tatapannya jatuh ke wajah Yun Qi yang pucat, ke mata yang sedikit bengkak.

“Kamu tidak dalam kondisi baik.”

“Aku baik-baik saja,” bantah Yun Qi cepat, terlalu cepat. Ia meluruskan punggung, seolah postur tubuh bisa menipu kenyataan. “Kalau aku nggak datang, mereka malah makin ngomong.”

Hao Yu meletakkan cangkirnya perlahan. Suara porselen menyentuh meja terdengar jelas di dapur yang hening.

“Mereka akan tetap bicara,” katanya datar. “Datang atau tidak.”

Yun Qi mengepalkan tangan. “Aku cuma nggak mau kelihatan lemah.”

Hao Yu menatapnya lama. Ada sesuatu yang bergerak di balik matanya—bukan empati yang lembut, melainkan perhitungan. Seperti seseorang yang sedang menilai risiko dan solusi.

“Aku antar,” katanya akhirnya.

Di mobil, Yun Qi duduk dengan tangan di pangkuan. Jalanan pagi terlihat biasa saja, tapi baginya terasa seperti medan yang harus ia lewati dengan perisai rapuh.

Saat mobil berhenti agak jauh dari gerbang kampus, Yun Qi menghela napas lega.

“Di sini aja,” katanya cepat. “Makasih, Ge.”

Hao Yu mengangguk. “Aku jemput sore.”

Yun Qi membuka pintu, lalu ragu sejenak. “Ge…”

“Hm?”

“Jangan… bikin masalah,” katanya lirih.

Hao Yu tidak langsung menjawab. “Masalah itu relatif,” ucapnya pelan. “Pergi.”

Yun Qi menutup pintu mobil dengan perasaan tidak tenang.

Begitu ia melangkah masuk area kampus, bisikan itu kembali. Seolah udara di tempat itu membawa suara.

Ia berjalan cepat menuju gedung fakultas, menunduk. Ponselnya bergetar berkali-kali—pesan masuk, notifikasi grup. Ia tidak membuka satu pun.

Di kelas, kursi-kursi di sekitarnya terisi, tapi jarak itu tetap ada. Seorang dosen memulai perkuliahan, namun fokus Yun Qi terpecah. Ia menatap layar presentasi tanpa benar-benar melihat.

Saat istirahat, ia ke toilet. Di sana, dua mahasiswi sedang merapikan makeup di depan cermin.

“Eh,” salah satu dari mereka berbisik, cukup keras untuk didengar, “itu dia.”

Yun Qi berhenti di depan wastafel. Tangannya gemetar saat membuka keran.

“Kasihan sih,” lanjut yang lain, suaranya berpura-pura simpatik. “Tapi ya… kalau mau hidup mewah.”

Yun Qi mengangkat wajahnya. Di cermin, ia melihat pantulan dirinya—wajah muda, mata lelah, bibir pucat. Ia juga melihat dua gadis itu terdiam ketika menyadari ia menatap mereka.

“Kalau kalian mau tahu,” kata Yun Qi, suaranya bergetar tapi jelas, “lebih baik tanya langsung.”

Tidak ada jawaban. Salah satu gadis itu memalingkan wajah. Yang lain berpura-pura sibuk.

Yun Qi meraih tasnya dan keluar, langkahnya cepat. Begitu sampai di lorong, napasnya memburu. Dadanya sesak. Ia mencari bangku kosong dan duduk, menunduk, berusaha mengendalikan diri.

Air mata jatuh satu, lalu dua.

Ia mengusapnya kasar, marah pada dirinya sendiri. “Jangan nangis,” gumamnya. “Jangan.”

Ponselnya akhirnya ia buka. Puluhan pesan. Beberapa dari teman asrama yang ragu-ragu. Beberapa dari nomor tak dikenal.

Satu pesan dari Chen Rui menarik perhatiannya.

Chen Rui:

Qi, kita perlu bicara. Aku dengar sesuatu lagi.

Yun Qi tidak membalas.

Sementara itu, di sebuah ruang rapat berlapis kaca dan baja, Wang Hao Yu duduk di ujung meja panjang.

“Temukan siapa yang mulai,” katanya kepada asistennya, nada suaranya tenang. “Aku mau sumbernya.”

“Sudah hampir,” jawab asistennya hati-hati. “Akun anonimnya terhubung ke jaringan kampus. Tapi kalau kita—”

“Lanjutkan,” potong Hao Yu.

Ada keheningan singkat sebelum salah satu direktur angkat bicara. “Tuan Wang, ini… urusan pribadi?”

Hao Yu menoleh, tatapannya dingin. “Tidak.”

Tidak ada yang berani bertanya lagi.

Di layar laptopnya, data bergerak. Nama-nama muncul. Riwayat. Hubungan sosial. Hao Yu menatapnya tanpa emosi, tapi jari-jarinya mengetuk meja dengan ritme pelan—tanda bahwa kesabarannya menipis.

Kembali ke kampus, Yun Qi tidak sanggup menyelesaikan hari itu. Ia keluar lebih awal, alasan sakit kepala. Di gerbang, ia berdiri ragu, lalu mengirim pesan singkat.

Yun Qi:

Aku pulang duluan.

Balasan datang cepat.

Hao Yu:

Aku jemput.

“Tidak,” gumam Yun Qi pada ponselnya, tapi mobil hitam itu sudah muncul beberapa menit kemudian.

Di dalam mobil, Yun Qi diam. Ia menatap tangannya sendiri, melihat bekas tekanan kuku di kulit.

“Kamu menangis,” kata Hao Yu, bukan pertanyaan.

Yun Qi menggeleng. “Sedikit.”

Hao Yu tidak menjawab. Rahangnya mengeras. Tangannya di setir mencengkeram lebih kuat dari biasanya.

Sampai di apartemen, Yun Qi langsung menuju kamarnya. Ia duduk di lantai, bersandar ke ranjang, memeluk lutut. Tangis yang ia tahan akhirnya pecah, pelan tapi dalam.

Di luar kamar, Hao Yu berdiri lama. Ia mengangkat tangan, hampir mengetuk, lalu menurunkannya lagi.

Malam itu, makan malam nyaris tidak tersentuh. Yun Qi duduk di meja, menatap piringnya.

“Qi,” kata Hao Yu akhirnya, suaranya lebih rendah dari biasanya. “Aku akan menangani ini.”

Yun Qi mengangkat kepala. “Aku cuma pengen… mereka berhenti ngomong.”

“Mereka akan,” jawab Hao Yu.

Nada suaranya membuat Yun Qi merinding.

“Dengan cara apa?” tanyanya ragu.

Hao Yu menatapnya. Lama. “Dengan cara yang efektif.”

Yun Qi menggeleng. “Aku nggak mau kamu nyakitin siapa pun.”

“Aku tidak menyakiti,” katanya tenang. “Aku mengatur.”

Kata itu—mengatur—jatuh berat di udara.

Malam semakin larut. Yun Qi berbaring di ranjang, menatap langit-langit. Di pikirannya, wajah Hao Yu terbayang—tenang, dingin, tapi penuh intensitas yang sulit ia pahami.

Di ruang kerjanya, Hao Yu duduk sendirian. Layar ponselnya menyala, menampilkan pesan singkat yang baru masuk.

Asisten:

Sudah ketemu. Mahasiswa tahun dua. Ada motif cemburu.

Hao Yu menutup mata sesaat.

“Jangan berlebihan,” katanya pelan pada dirinya sendiri, seperti mantra.

Namun saat ia membuka mata, pantulannya di layar gelap tampak berbeda—lebih tajam, lebih gelap.

Ia mengetik balasan singkat.

Hao Yu:

Lanjutkan.

Di kamar, Yun Qi akhirnya tertidur dengan mata basah, tanpa tahu bahwa dunia di sekelilingnya mulai bergerak—perlahan, teratur—mengikuti kehendak satu orang.

Dan amarah itu, meski tidak bersuara, sudah mulai bekerja.

1
cah gantenggg
semoga ceritanya bagus ,baru mampir author,sepertinya masih butuh up ,jangan panjang episodenya Thor ,biar gak bosan yg baca .
semoga novelnya seruuu
@fjr_nfs
tinggalkan like dan Komen kalian ☺❤️‍🔥
cah gantenggg: ceritanya terlalu kaku dan membosankan .maaf aku hapus dari daftar
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!