Sepuluh tahun mengejar cinta suaminya, Lara Margaret Buchanan, tidak kunjung dapat meluluhkan hati lelaki yang sejak masa kuliah itu ia sukai.
Hingga usianya menginjak tiga puluh dua tahun, akhirnya ia pun menyerah untuk mengejar cinta David Lorenzo.
Hingga tanpa sengaja, ia bertemu dengan seorang pemuda, yang memiliki usia sepuluh tahun dibawah usianya.
Siapa sangka, pesona Lara Margaret Buchanan sebagai wanita dewasa, membuat pria muda itu tidak ingin melepaskan Lara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KGDan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16.
Sementara itu di vila Buchanan.
Cindy dengan sedih sembari menangis memberitahukan, bagaimana ia sangat kesakitan telah ditindas Lara.
"Dia bersama dengan lelaki liar, yang ia temukan sembarangan dijalanan memukul ku, lihat! Pa, Ma!!"
Cindy memperlihatkan bekas tamparan Stefan pada pipinya, kiri dan kanan.
Wajah Darius seketika menggelap melihat bekas tangan Stefan, yang tampak membekas pada pipi Cindy.
Darius mengepalkan tangannya dengan erat, "Kurang ajar! dia semakin keterlaluan walau pun sudah memutuskan hubungan keluarga dengan Buchanan! dia masih saja mengusikmu! aku tidak akan membiarkan dia semakin semena-mena terus!!!" geram Darius mengetatkan gerahamnya.
Mendengar amarah Darius yang semakin benci pada Lara, Cindy membuat tangisnya semakin sedih, agar Darius semakin naik darah.
Sudut bibir Cindy menyunggingkan senyuman melihat Darius mengambil ponsel, dan kemudian dengan gerakan tangan, yang terlihat tidak sabaran Darius menghubungi Lara.
"Apa?! dia memblokir nomor ku! sialan!!" umpat Darius membanting ponselnya ke sofa.
"Pa, sudahlah! aku tidak mempermasalahkan lagi, sepertinya kak Lara memang serius tidak ingin punya hubungan lagi dengan keluarga Buchanan!" kata Cindy dengan nada sedih sembari menangis.
"Oh, putriku! hatimu lembut sekali, walau kamu sudah dianiaya kakakmu seperti ini, kamu masih memaafkan apa yang ia lakukan padamu!" Anna dengan nada sedih memeluk Cindy, dan nyaris ikut menangis mendengar apa yang Cindy katakan.
Mendengar suara lembut dan sedih Anna, yang merasa tersentuh mendengar kata-kata Cindy memaafkan Lara telah menindasnya, Darius justru menjadi semakin naik darah.
"Huh! kakak sepertinya tidak pantas dimaafkan! aku ingin dia menyesali apa yang ia lakukan padamu, dan berlutut meminta maaf padamu!!!"
Suara kencang Darius yang penuh amarah, membuat sudut bibir Cindy dan Anna menyunggingkan senyuman senang.
Bagus! bisik hati mereka saling menatap penuh arti satu sama lain.
Lalu kemudian Cindy kembali menangis dengan sedih, dan Anna yang selalu memperlihatkan sikap sebagai Ibu yang lembut, kembali mencoba menenangkan Cindy.
"Sudah, jangan menangis lagi! Butler, tolong ambilkan untuk luka lebam!!" perintah Anna menoleh memandang ke arah Butler, yang tidak jauh berdiri dari sofa.
"Oh, baik Nyonya!" jawab wanita berusia sekitar hampir lima puluhan itu, lalu pergi untuk mengambil apa yang diinginkan Anna.
"Huh! sungguh membuat ku semakin marah! aku ingin sekali membuat anak itu tidak bersikap arogan lagi! Ray!!!" Darius memanggil Asisten pribadinya.
"Ya, Tuan!" jawab Asisten Darius tersebut, yang bergegas masuk ke dalam ruang utama vila.
"Cepat kamu selidiki di mana anak tidak tahu diri itu tinggal! aku ingin membuat perhitungan padanya! cepat!!!" perintah Darius.
"Anak siapa, Tuan?" tanya Ray bingung.
Mata Darius tajam memandang Ray, "Siapa lagi kalau bukan Lara! memangnya di rumah ini, siapa yang suka menindas Cindy, kalau bukan anak tidak tahu etika itu?!!"
Amarah Darius menjadi semakin naik, melihat cara Asistennya yang begitu lamban berpikir.
Ray mengerutkan keningnya, dan melirik ke arah Cindy yang menangis sedih dalam pelukan Anna.
Bukankah Nona Cindy yang selalu menindas Nona Lara? pikir Ray bingung.
"Cepat pergi!!!" bentak Darius.
"Oh, eh.. iya! baik Tuan!" jawab Ray, lalu berbalik meninggalkan ruang utama vila tersebut.
Darius menghempaskan tubuhnya ke sofa.
Kepalanya terasa begitu sakit memikirkan sikap Lara, yang tidak seperti dulu lagi.
Putri yang selalu mendengarkannya, walau ia bicara keras sekali pun kepada putrinya itu.
Sementara itu, Cindy dan Anna saling berbisik tanpa sepengetahuan Darius.
"Ma, si Lara itu menemukan seseorang menjadi pendukungnya, sepertinya seorang mahasiswa!" bisik Cindy, "Anak muda itu sepertinya dia sewa untuk jadi bodyguardnya! aku ingin menjatuhkan reputasinya, dan mengunggahnya di media sosial, agar dia tidak lagi bisa bersikap sombong!"
"Kamu tenang saja, Mama tadi sudah memikirkan bagaimana caranya, untuk membuat namanya tercemar! kita butuh seseorang melancarkan rencana kita!"
Cindy nyaris tertawa gembira mendengar rencana Ibunya itu, yang menurutnya sangat brilian sekali.
"Tenang saja Ma, aku punya teman yang dapat membantu kita!" jawab Cindy dengan penuh semangat.
"Bagus! besok kamu sewa kamar hotel, tempat ia masuk dalam jebakan kita!"
"Baik, Ma!" jawab Cindy tersenyum senang.
Ke dua wanita tersenyum penuh licik, memikirkan nasib tragis menimpa Lara menjadi terkenal sebagai wanita murahan.
Sementara itu di vila Lorenzo.
Sudah hampir jam sebelas malam, David baru sampai di vila.
Seperti biasa ia melepaskan jasnya, dan tangan Lara dengan cepat menerima jasnya.
Bruk!
Jasnya jatuh ke lantai, saat tangannya seperti biasanya dengan acuh tak acuh ia ulurkan untuk diterima Lara.
David terpaku ditempatnya melihat jasnya yang jatuh ke lantai.
Dan ia pun tersadar, kalau ia sudah bercerai dengan Lara, dan Lara sudah tidak tinggal lagi di vila Lorenzo.
Tiba-tiba ada perasaan yang hampa ia rasakan tidak melihat sosok Lara dalam vila.
Sepuluh tahun ia sudah terbiasa bersikap dingin pada Lara, dan menganggap Lara hanyalah seorang pengasuh yang suka rela mengurusnya.
Rasa yang sudah terbiasa ini membuat ia merasa asing dalam vila nya sendiri.
Dengan malas ia membungkuk mengambil jasnya yang jatuh dari lantai.
Lalu dengan langkah lesu ia perlahan menaiki anak tangga, dan kakinya berhenti di depan pintu kamar yang biasa Lara tempati.
Dengan pelan ia membuka pintu kamar Lara, dan melihat kamar yang kosong, dan terasa begitu sunyi.
Tanpa sadar kakinya melangkah masuk ke dalam kamar itu, dan memeriksa isi lemari yang sudah pernah ia lihat sebelumnya.
Lemari kosong, sama sekali tidak ada satu pun pakaian Lara yang tertinggal.
Saat matanya menatap tembok, tempat biasa Lara menggantung foto pernikahan mereka, matanya seketika berkedip.
Foto itu tidak terlihat lagi tergantung di sana.
Kembali perasaan aneh menjalar dalam hatinya.
Perasaan yang terasa sangat tidak nyaman, yang seharusnya ia senang tidak melihat lagi foto itu tergantung di sana.
"Giana!!!"
Tiba-tiba ia pun berteriak memanggil pengasuh vila, dengan hati yang tidak tahu entah kenapa merasa seketika panik.
"Ya, Tuan!" jawab Giana, yang datang tergesa-gesa berdiri di ambang pintu kamar.
"Kemana foto pernikahan yang tergantung di sini?!" tanya David menunjuk tembok, di mana biasanya foto pernikahannya dengan Lara tergantung.
Giana diam ditempatnya melihat raut wajah panik David, yang selama ini tidak pernah ia perlihatkan, walau apa pun yang bersangkutan dengan Lara.
"Kenapa kamu diam? kemana foto pernikahanku dengan Lara?!!"
"Tuan, apakah anda sadar dengan pertanyaan Tuan itu?"
Dengan hati-hati Giana menjawab David, untuk mengingatkan akan pertanyaan tidak masuk akal David itu.
David mengedipkan matanya.
Jari telunjuknya yang teracung menunjuk tembok di atas tempat tidur, perlahan ia turunkan kembali ke sisi tubuhnya.
"Bukankah anda tidak pernah suka melihat foto pernikahan anda dengan Nyonya Lara, Tuan?" kata Giana, yang membuat David kembali mengedipkan matanya.
"Nyonya Lara sudah menyingkirkan semua foto pernikahan anda berdua, dengan membakar habis semua foto itu, setelah anda berdua sah bercerai!" kata Giana lagi menjelaskan kemana perginya foto pernikahan David dengan Lara.
"Apa?!!"
Mata David membulat mendengar apa yang dikatakan Giana.
Seketika tidak tahu entah kenapa, ada semacam perasaan yang terasa sakit dalam hatinya.
Bersambung.........