Hutang budi membuat Aisyah terpaksa menerima permohonan majikan sang ayah. Dia bersedia meminjamkan rahimnya untuk melahirkan anak Satria dengan Zahra melalui proses bayi tabung.
Satria terpaksa melakukan hal itu karena dia tidak mau menceraikan Zahra, seperti yang Narandra minta.
Akhirnya Narandra pun setuju dengan cara tersebut, tapi dengan syarat jika kesempatan terakhir yang dia berikan ini gagal, maka Satria harus menikahi Gladis dan menceraikan Zahra.
Gladis adalah anak dari Herlina, adik tiri Narandra yang selalu berhasil menghasut dan sejak dulu ingin menguasai harta milik Narandra.
Apakah usaha Satria dan Zahra akan berhasil untuk mendapatkan anak dengan cara melakukan program bayi tabung?
Yuk ikuti terus ceritaku ya dan jangan lupa berkarya tidaklah mudah, jadi kami para penulis mohon dukungannya. Terimakasih 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julia Fajar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26. AISYAH PINGSAN
Ternyata dokter sedang memeriksa Satria dan memberikan obat untuk menghilangkan bengkak bekas sengatan lebah.
Setelah selesai, Satria dan Zahra pun menemui Narandra, mereka ingin pamit pulang karena khawatir meninggalkan Aisyah sendirian di rumah.
"Apa tidak sebaiknya Aisyah tinggal di sini saja bersama kita Sat? Kamu kan harus fokus dengan pekerjaan kantor dan bulan depan harus keluar kota. Siapa nanti yang akan memperhatikan dia jika Aisyah menginginkan sesuatu. Kalau tinggal di sini, banyak yang bisa dimintai bantuan."
"Nanti kami rembukkan dulu Pa, apakah Aisyah setuju atau tidak."
"Aku rasa Papa benar Mas, nggak mungkin kita meninggalkan Aisyah sendirian di sana meski ada pembantu."
"Iya Ra, kita tanya Aisyah dulu. Aku juga ingin yang terbaik untuk dia dan anak kita."
"Kami permisi dulu ya Pa, Papa jangan lupa minum obat. Satria nggak mau melihat Papa sakit lagi."
"Papa sudah sehat kok Sat, apalagi sekarang harapan Papa akan segera terwujud. Papa sudah tidak sabar ingin bermain dengan anakmu."
"Aku senang Papa sehat, tapi sabar dong Pa, masih lama. Jika cepat lahiran malah bahaya dan jelas nggak sehat anak kami."
"Iya Nak, kamu jaga baik-baik calon cucuku ya. Aku masih ingin hidup lebih lama karena dia," ucap Narandra.
Satria dan Zahra pun mengangguk, setelah itu mereka bergegas turun, pamit kepada Pak Yusuf dan meninggalkan rumah kediaman Narandra.
Herlina yang tadi sempat menguping percakapan Narandra dengan Satria merasa girang. Dia berharap, Aisyah akan secepatnya tinggal di rumah itu. Jadi mereka akan dengan mudah membuat Aisyah celaka.
Keturunan Narandra tidak boleh lahir, selain dari rahim Gladis. Karena Herlina tidak ingin harta kekayaan Narandra jatuh ke tangan orang lain.
Herlina kembali ke kamar dan dia melihat Gladis menggigil. Gladis mendesak ingin keluar dan membeli obat terlarang. Gladis sudah kecanduan jadi harus segera mengkonsumsi obat terlarang itu lagi.
Tidak ada jalan lain, Herlina pun menemani Gladis untuk membeli obat itu lagi. Karena dia tidak mau Gladis tinggal di tempat rehabilitasi sebelum rencananya berhasil.
Mereka berdua pergi secara diam-diam setelah sebelumnya menghubungi agen yang menjual obat tersebut.
Transaksi obat tetap dilaksanakan di rumah terpencil tempat Satria saat itu melihat Gladis mengkonsumsinya. Di sana, Gladis merasa lebih aman, jauh dari incaran pihak kepolisian.
Herlina terpaksa menemani Gladis hingga selesai. Setelah itu, barulah mereka pergi berbelanja karena Papa Gladis baru saja mentransfer uang seperti yang Gladis minta.
Namun mereka tidak tahu, jika Papa Gladis besok akan kembali untuk membawa Gladis dan memasukkannya ke tempat rehabilitasi sesuai permintaan Narandra.
Satria dan Zahra yang dalam perjalanan pulang, tidak lupa membeli bumbu rujak pesanan Aisyah, lalu mereka pun kembali melanjutkan perjalanan.
Di rumah, Aisyah kembali muntah dan dia terduduk lemas di kamar mandi. Semua makanan yang dia makan keluar tanpa sisa. Bahkan cairan kuning yang pahit pun ikutan keluar hingga membuat mulut serta perutnya menjadi tidak nyaman.
Satria dan Zahra memencet bel berulang-ulang, mereka khawatir karena Aisyah tidak juga kunjung membukanya. Bahkan telepon dari Satria juga tidak di angkat karena Aisyah sedang kesulitan untuk bangkit dan kembali ke kamarnya.
Aisyah perlahan berjalan ke ruang depan sambil memegangi kepalanya yang pusing dan begitu membuka pintu, tubuhnya pun luruh jatuh ke lantai.
Satria dan Zahra terkejut, lalu Satria menggendong Aisyah ke mobil dan mereka membawa Aisyah ke rumah sakit.
Dokter memeriksa kondisi Aisyah, lalu memasang selang infus untuk menambah tenaga.
Aisyah harus dirawat sampai kondisinya stabil. Dokter mengatakan kondisi tersebut baru akan membaik saat kehamilan masuk ke trimester kedua.
Satria yang merasa khawatir tidak beranjak dari sisi Aisyah dan dengan sabar diapun menemani Aisyah hingga sadar.
Sementara Zahra pergi ke kantin membeli makanan untuk dia dan Satria yang sejak tadi belum makan apapun.
Melihat Aisyah sadar dengan refleks, Satria merasa lega, lalu dia mencium tangan Aisyah dan berkata, "Kenapa kamu tidak telepon kami Syah? Untung saja kamu tidak kenapa-kenapa. Bagaimana jika kamu tadi pingsan saat kami belum sampai, bisa bahaya kan?"
"Aku tidak apa-apa kok Mas, hanya mual dan pusing. Karena muntah terus, jadinya tubuhku lemas tak bertenaga. Wajah Mas Satria kenapa, kok bengkak?" tanya Aisyah sembari meraba wajah Satria.
"Tersengat lebah saat mengambil mangga," jawab Satria malu.
"Aduh Mas, maafkan aku."
"Nggak apa-apa kok Syah, nanti setelah Zahra kembali, aku akan mengambil mangganya di mobil. Tapi kamu harus makan dulu sebelum makan yang asam."
Aisyah menggeleng dan berkata, "Aku nggak mau makan Mas, nanti muntah lagi."
"Tapi, bagaimana tenagamu akan pulih kalau tidak makan dan kasihan dong anak kita."
"Nanti saja Mas."
"Kamu kepingin apa, biar aku belikan, atau kamu mau aku masakkan sesuatu biar mau makan?"
"A-aku pingin sate Mas, tapi banyak bawang gorengnya."
"Ya sudah nanti tunggu Zahra balik ya, biar aku belikan. Biar ada yang temani kamu dulu di sini."
"Memangnya Mbak Zahra kemana Mas?"
"Ke kantin."
"Aku sudah kembali," ucap Zahra sambil masuk dan mengulas senyum.
"Kamu sudah bangun Syah, Oh ya...ini aku belikan bubur, kamu makan ya."
"Nggak Mbak."
Mendengar kata bubur, Aisyah kembali hendak muntah, hingga Satria buru-buru menggendongnya ke kamar mandi sementara Zahra memegangi botol infus.
Aisyah pun kembali muntah, tapi hanya air saja yang keluar. Setelah lebih enakan, Zahra membersihkan mulut Aisyah, lalu Satria membawa Aisyah kembali ke tempat tidurnya.
"Sakit ya Syah? Aku yang melihat kamu seperti ini saja tidak tega. Begini ternyata orang ngidam. Andai bisa dipindahkan, aku ingin kamu sehat Syah, biar aku saja yang merasakan sakitnya. Kamu seperti ini gara-gara kami."
"Nggak apa-apa Mbak, aku ikhlas kok menikmati momen ini. Begini ternyata rasanya mau jadi ibu, jadi kita bisa merasakan bagaimana susahnya ibu kita dulu saat mengandung kita."
Zahra tertunduk, dia sedih karena tidak akan pernah merasakan apa yang para wanita rasakan saat akan menjadi seorang ibu, seperti halnya yang saat ini sedang Aisyah rasakan.
Aisyah menggenggam tangan Zahra dan berkata, "Maaf Mbak jika kata-kata ku membuat Mbak Zahra sedih, aku nggak bermaksud menyinggung Mbak."
"Nggak kok Syah, ini sudah takdir ku, nggak bisa menjadi wanita sempurna. Aku cuma berharap kamu mengizinkan aku untuk menjadi ibu dari anakmu dan Mas Satria."
Satria menggenggam tangan Zahra, dia ingin memberi kekuatan agar Zahra tetap tegar. Apapun yang terjadi, Satria akan tetap menyayangi Zahra hingga sampai akhir hayatnya meski Zahra tidak bisa menjadi istri yang sempurna.
Bersambung....