Siapa yang tak mengenal seorang bernama belakang Alfonso?
Maximo Alfonso adalah laki-laki bergaris keturunan bangsawan Alfonso yang saat ini mengambil alih tugas pekerjaan gelap ayahnya.
Seorang mafia terkenal kejam dan sering bergonta-ganti wanita. Siapa sangka, dirinya terpikat oleh salah satu budaknya yang sangat cantik hingga membuatnya meninggalkan kebiasaan bermain dengan banyak wanita.
Wanita itu bernama Alea, gadis yang sangat malang. Akibat iri hati saudara tirinya membuatnya tega menjual Alea sebagai seorang budak hingga jatuh ke tangan Maximo.
Akankah Alea dan Maximo bersatu menuju ikatan suci? Ataukah hanya sebatas hubungan budak dan majikan?
Ikuti terus kelanjutannya!
CEKIDOT!😍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana Azzura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26. Terbang ke Indonesia Gara-gara Makanan
Satu bulan berlalu, Tuan Maximo belum menemukan Alea dimanapun. Seluruh anak buahnya sudah dikerahkan mencari wanita itu hingga ke penjuru kota, namun sepertinya wanita itu sudah tak berada di sini.
Meksi keadaan Tuan Maximo sedang buruk, namun karena tuntutan pekerjaan dia tetap kembali menjalankan aktivitas seperti biasa. Tuan Maximo sudah tak mabuk-mabukkan lagi, hanya saja laki-laki itu terlihat lebih menyeramkan dari biasanya. Tak sedikit para pegawai yang dipecat dan mendapat pelampiasan amarah nya yang tak jelas.
Sudah banyak pula barang-barang berharga di ruangan nya yang hancur saat mendapat informasi Alea belum juga di temukan. Ya, sampai saat ini anak buah Tuan Maximo memang masih mencari wanita itu, beberapa ahli teknologi juga ikut andil dalam beberapa hari belakangan ini setelah mendapatkan perintah dari Petro.
Laki-laki yang menjadi asisten pribadi Tuan Maximo bahkan sudah sangat kewalahan dengan semua tingkah Tuan nya yang seperti anak kecil.
Jika dulu menyenangkan Tuan nya itu sangat mudah hanya dengan menyerahkan beberapa wanita baru saja sudah membuat nya senang, maka kali ini Tuan Maximo tak bisa lagi diberi mainan seperti itu selain Alea. Sepertinya obsesi nya terhadap Alea sudah sangat akut hingga mampu mengorbankan segalanya demi Alea.
"Tuan, sudah waktunya makan siang. Anda ingin makan apa?" Petro menatap jam tangan nya yang sudah menunjukkan waktu makan siang.
"Aku ingin makan seperti yang ada di gambar ini." Tuan Max menyodorkan ponsel nya pada Petro. Gambar yang dimaksud adalah aneka jajanan tradisional khas Indonesia mulai dari kue putu, klepon, cucur, gethuk trio, bengawan solo, dan masih banyak lagi makanan tradisional yang mempunyai cita rasa manis. Semua makanan yang ada di gambar itu benar-benar membuat air liur Tuan Maximo hampir menetes.
"T-tuan, bagaimana mungkin Anda ingin memakan makanan langka ini?" Petro bahkan sampai meneguk ludahnya kasar dengan manik mata membola begitu melihat gambar yang ada di ponsel itu. Tentu saja Petro sangat tahu makanan itu, jajanan pinggir jalan yang hanya terdapat di Indonesia. Dulu saat dia menjadi mata-mata musuhnya yang lari ke daerah Bali, Petro sempat tinggal di sana selama beberapa bulan menyamar menjadi rakyat jelata. Dia sangat paham makanan seperti itu karena dulu juga sering membeli saat melewati beberapa pedagang di jalanan. Makanan murah meriah namun juga tidak kalah lezat dengan makanan kelas tinggi.
"Apa maksud mu? Bukankah makanan langka ini juga terlihat sangat enak? Apa salahnya kalau aku menginginkan?"
Sebenernya pilihan Tuan nya ini tidak salah, hanya saja jika harus makan siang makanan ini maka dia harus rela menunda makan siang selama satu hari lagi.
"Bukan begitu, Tuan." Petro menghela nafasnya. "tapi makanan itu tidak dijual di semua tempat. Makanan ini hanya ada di negara Indonesia."
"Indonesia? Dimana itu?" Tuan Maximo merasa tidak familiar dengan negara yang baru saja di sebutkan Petro membuat asisten nya harus super sabar dan kembali menjelaskan.
"Bali, Tuan. Anda sepertinya pernah ke sana."
"Bali? Pantai?"
"Ya, Tuan. Pulau Bali yang terkenal dengan pantai nya yang indah." Sahut Petro mengiyakan Tuanya.
"Atur jadwal ku kesana sekarang juga," Perintah Tuan Maximo tanpa beban yang langsung direspon dengan pelototan dari mata Petro karena terlalu syok.
"Hei, berani-beraninya kau memelototi ku!" Tuan Maximo menatap galak pada Petro yang matanya tiba-tiba melotot seperti baru saja menelan bola bekel.
"T-tidak, T-tuan. Mana berani saya melotot pada Anda." Petro langsung menyangkal keras karena tak ingin membuat Tuan Maximo mengamuk.
"Tapi buktinya baru saja aku melihat kau memelototi ku."
"Itu hanya reflek, Tuan. Terlalu terkejut hingga tak sengaja mata saya membola yang kebetulan sedang menatap Anda." Jelas Petro lagi. Dia benar-benar trauma jika Tuan nya dibuat marah karena dirinya. Pasti laki-laki itu akan mengamuk seharian penuh bahkan sampai mengancam akan memotong gaji Petro agar tak bisa menyewa banyak wanita.
"Ya, sudah. Kalau memang kau tak memelototi ku jalankan perintah ku sekarang juga,"
"S-sekarang, Tuan?" Tanya nya lagi masih tak percaya dengan keinginan konyol Tuan. Sebentar lagi pertemuan nya dengan klien besar dari Bangladesh, dan dengan seenak jidatnya Tuan Maximo ingin terbang ke Indonesia sekarang juga. Sungguh tak masuk akal.
"Tentu saja sekarang! Memang nya kau ingin menunggu ku mati kelaparan ya?!" Astaga ... Ternyata Tuan nya benar-benar sudah gila! Dia bahkan rela menunda makan siang nya dan terbang ke Indonesia untuk makan makanan yang ditunjukkan tadi. Butuh dua puluh empat jam untuk sampai di negara itu, dan apakah selama itu pula dia tak akan makan? Batin Petro dalam hati.
"Tuan, Apakah Anda tidak ingin mencari koki asal Indonesia saja supaya mempersingkat waktu?"
"Tidak, aku ingin ke Indonesia sekarang." Sahut Tuan Maximo penuh penekanan dan tidak ingin diganggu gugat.
Petro mendesahh frustasi, untuk pertama kalinya Petro mengumpat. Padahal laki-laki itu adalah laki-laki paling sabar terhadap semua kekejaman Tuan nya. Namun ternyata tingkah menjengkelkan nya ini justru lebih menguji kesabaran nya dibanding kekejaman Tuan nya yang sering merampas nyawa manusia.
"Baik, Tuan. Akan saya siapkan jet pribadi." Petro akhirnya meraih ponsel dan memanggil pada pihak penerbangan.
Sepuluh menit kemudian penebaran sudah siap, namun bukan berarti urusan Petro selesai. Klien yang berasal dari Bangladesh ternyata sudah sampai di kantor, dia sedang berdebat dengan beberapa petinggi perusahaan akibat pembatalan meeting hari ini karena ketidakhadiran Tuan Maximo sebagai pemegang saham tertinggi.
Dan setelah segala bujuk rayu dari Petro, Klien dari Bangladesh akhirnya mau mengalah. Dengan beralasan Tuan Maximo sedang sakit keras dan harus segera diterbangkan ke Indonesia membuat hati klien itu luluh. Bahkan dia sampai mendoakan agar tuan nya diberi kesembuhan serta kesempatan untuk hidup kembali.
Untung saja tuan Maximo tidak ada disana, seandainya Tuan Maximo mendengar perkataan Petro, bisa-bisa laki-laki itu tak akan bisa lagi melihat matahari terbit.
"Tuan, semuanya sudah siap. Mari kita ke Bandara." Petro kembali ke ruangan Tuan Maximo yang ternyata sedang menonton serial kartun dua anak botak kembar. Dari suaranya saja, dapat dipastikan Tuan nya ini tak tahu arti tontonan itu, karena meskipun Tuan Max bisa menggunakan banyak bahasa, bukan berarti dia juga tahu bahasa Melayu. Selama ini Tuan nya hanya bisa berbahasa yang negara-negara nya sering dikunjungi, namun tidak tahu kenapa Tuan nya justru tertarik melihat tingkah dua bocah botak yang memiliki wajah mirip itu meski tak mengerti arti percakapan itu.
hanya kurang melow melow saat mereka pertemukan,,andai anaknya sudah berusia 3 tahun dengan wajah bak pinang di belah 2..hehehee mau ku thorr..kependekan kisahnya..😀