Ini masih cerita tentang anggota keluarga Nikolai. Siapkan mental gaesss karena petualangan baru akan segera dimulai.
"Malyshka!!!!" Daryl selalu berteriak setiap kali dia bangun di pagi hari. Atau ketika tak menemukan Nania di dalam rumah.
Tiba-tiba saja semuanya berubah, dan mereka tak mengira akan memiliki hubungan seperti ini. Karena semuanya begitu jauh dari bayangan.
Dan bagi Nania, dialah sebaik-baiknya perlindungan.
"Lalu apalagi yang aku harapkan, jika segalanya ada pada dirimu?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fitTri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cinta Di Amara's Love
💖
💖
Flashback On
"Jangan, Sandi! Ini uangnya Nania!" Nenek merebut kotak biskuit berisi uang pemberian Nania yang Sandi ambil dari lemari.
"Sandi minta, Nek!" Pemuda itu meraup isinya.
"Ambil sedikit saja, jangan semuanya!"
"Cuma segini juga? Kalau habis minta lagi sama Nania. Dia pasti kasih kok, Nania kan kerja."
"Seharusnya kamu juga kerja. Laki-laki dihargai karena pekerjaannya, bukan gayanya." ujar nenek ketika rasanya dia sudah merasa terlalu kesal dengan cucunya yang satu itu.
"Apa nenek bilang?" Sandi berbalik setelah sang nenek berkata demikian.
"Kamu itu seharusnya kerja, jangan hanya mengandalkan ibu apalagi adikmu. Nania bahkan mau mengerjakan apa pun dari sejak keluar sekolah agar dia bisa mendapatkan uang untuk membiayai hidupnya. Apa kamu tidak malu? Sebagai laki-laki, kamu hanya bisa meminta saja!"
Sandi mengetatkan rahangnya.
"Nenek banyak omong!" geram pemuda itu, dan dia kembali mengambil selembar uang yang tersisa di dalam kaleng.
"Tidak! Sudah cukup! Yang ini jangan diambil!" Nenek menahan tangannya.
"Lepas, Nek!"
"Tidak, sampai kamu kembakikan yang satu itu. Uang itu bukan milik kamu, tapi milik Nania!"
"Berisik!" Sandi menarik tangannya dengan keras sehingga genggaman nenek terlepas. Namun menyebabkan perempuan tua itu terhuyung sehingga dia jatuh tersungkur dengan kening membentur lantai.
Sandi bermaksud pergi, namun nenek mencekal sebelah kakinya. Membuat kemarahannya menyeruak begitu saja sehingga tanpa berpikir panjang dia menyentakkan sebelah kakinya yang lain pada bahu neneknya. Dan perempuan itu pun melepaskan genggamannya.
Flashback Off
"Cuma gitu, Bu! Sandi nggak nyangka kalau nenek akan meninggal. Sandi nggak sengaja! Habisnya Nenek bikin Sandi emosi!"
"Tapi nyatanya nenek meninggal, dan Nania yang menemukannya pertama kali."
"Please, Bu. Sandi nggak mau masuk penjara. Nania pasti laporin Sandi ke polisi, Bu!" Pria muda itu bersimpuh di kaki Mirna.
Sang ibu terdiam.
"Tolong Sandi, Bu! Sandi nggak mau masuk penjara!" Dia menangis tersedu-sedu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Terima kasih, makan siangnya enak seperti biasa." Daryl membersihkan mulutnya dengan tissue setelah menghabiskan makan siangnya di Amara's Love.
Seperti janjinya jika dia akan mengalah untuk mendatangi kedai itu pada jam makan siang agar Nania tak harus mengantarkan makanan untuknya di masa berkabung.
Dan ini sudah tiga hari sejak kematian Neneknya, Nania tetap berada di kedai.
"Mau yang lainnya?" tawar gadis itu yang membereskan peralatan makan yang sudah kosong.
"Ya, kamu." Pria itu menggumam.
"Apa?"
"Ah, tidak. Maksudku, tidak usah, nanti aku kekenyangan. Kopi saja sudah cukup." jawabnya, seraya menyesap kopi yang dibawakan Nania untuknya.
"Baiklah." Gadis itu membawa peralatan kotor tersebut ke belakang.
"Aku pergi dulu, Malyshka. Ada pertemuan dengan desainer baru sebentar lagi." Daryl mendekat ke pantry saat Nania tengah mengerjakan pesanan berikutnya.
Gadis itu hanya menoleh lalu dia menganggukkan kepala.
"See you to night." ucap pria itu sambil melambaikan tangannya.
"Dah Kak, salam sama Mama Fia ya?" Amara menyahut dari balik kasir.
Daryl menoleh.
"Hari ini Mama datang ke Fia's Secret nggak? Kalau datang bilangin aku kangen." ucap perempuan itu, kemudian tertawa. Sementara Daryl memutar bola matanya.
"I'm go." katanya, yang kemudian segera pergi.
Tiga pegawai yang lain bersorak, lalu seperti biasa menggoda Nania hingga wajah gadis itu memerah seperti tomat. Sedangkan Amara dan Galang tertawa di tempat duduknya.
***
"Pak Daryl kayaknya malam ini nggak datang?" Ardi mengenakan jaket dan memastikan tasnya sudah dia bawa. Semantara Raka dan Nindy sudah pulang lebih dulu.
"Hmm …." Nania melihat keluar kedai. "Nggak apa-apa lah, lagian masa dia mau nginap di sini terus? Emangnya nggak punya rumah apa? Jangan-jangan bisa jadi masalah juga sama orang tuanya?"
"Masalah apanya?"
"Ah, kamu nggak akan ngerti kalau aku jelasin juga." Nania menyesap milktea nya.
"Kalian pacaran ya?" Lalu Ardi bertanya.
"Nggak, siapa bilang?" Nania menjawab.
"Tapi kalian kayak yang pacaran." Pemuda itu tertawa.
"Masa? Emangnya gimana? Uuh … bayanginnya aja aku nggak berani. Masa anaknya Nikolai mau macarin pelayan kedai kayak aku. Halu."
"Lah, itu buktinya?"
"Apaan?"
"Udah berapa hari Pak Daryl tidur di sini melulu. Karena apa coba?"
"Mungkin karena kasihan aja tahu aku lagi berkabung."
"Dih, kasihan sampai segitunya?"
"Ya apalagi? Dia itu seorang Nikolai." Nania berujar.
"Terus?"
"Ya masa mau sama aku? Kalau temenan doang aku ngerti, tapi punya hubungan yang lebih? Nggak logis."
"Nggak logis apanya? Nikolai juga manusia?" Ardi tertawa.
"Ya … nggak logis aja. Perbedaannya terlalu jauh."
"Karena dia anak yang punya Nikolai Grup?"
"Ya, sementara aku cuma pelayan kedai yang nggak punya siapa-siapa dan nggak punya apa-apa."
"Ini tahun milenial, apa pun bisa terjadi, Nna. Sekalipun kamu tinggal di comberan kamu akan bisa mewujudkan mimpimu." Ardi menepuk pundak temak kerjanya itu.
"Dan mendapatkan anak seorang Nikolai bukanlah mimpiku." Nania bsrujar.
"Lalu apa mimpimu?" Suara lain dari dekat pintu menginterupsi percakapan mereka.
Ardi dan Nania mengalihkan perhatian dan pria itu sudah di sana.
"Umm … Pak?"
"Bawa ke rooftop!" Daryl menyentakkan kepala, lalu beberapa orang pria masuk dengan membawa banyak barang.
"Apa itu? Bapak mau pindahan?" Nania berjalan mendekat.
Daryl tak menjawab, namun dia mengikuti pria-pria itu ke lantai paling atas ruko tersebut.
"Aku … pergi ya? Maaf nggak bisa bantuin kamu." Ardi bersiap untuk pergi.
"Eh, tunggu!" Namun Nania menahannya.
"Nggak mau, aku takut nggak selamat kalau nggak buru-buru pergi!" Pemuda itu melirik ke arah tangga di mana Daryl memperhatikan dengan kilatan matanya yang tajam seperti elang yang sedang mengintai mangsa.
"Hii … takut!"
"Di?!"
Namun Ardi bergegas keluar.
"Bapak mau ngapain sih, repot amat?" Nania naik ke lantai tiga di mana Daryl dan orang suruhannya tengah mengerjakan sesuatu.
"Membuat sesuatu agar kamu tidak sedih lagi." jawab pria itu yang membuka beberapa bungkusan.
"Apaan?"
"Lihat saja, nanti kamu akan mengerti." Dia menggeser kursi plastik untuk Nania yang segera gadis itu duduki.
Sebanyak enam orang pria dengan peralatan pertukangannya memasangkan beberapa kayu. Merangkainya menjadi semacam naungan kemudian menambahkan beberapa hal sehingga tampak nyaman untuk ditempati.
Kemudian di sisi lainnya mereka memasangkan tiang-tiang lalu menambahkan semacam lampu di setiap sudut sehingga rooftop tersebut tampak meriah ketika listriknya dinyalakan.
"Whoaaaaa …." Nania dengan mata berbinar.
"Bagus kan?" Daryl yang sejak tadi menunjuk beberapa hal untuk mereka kerjakan.
"Kenapa Bapak bikin ini?"
"Agar tempat ini lebih menyenangkan untuk ditinggali. Seandainya nanti aku tidak menginap lagi, setidaknya kamu nggak kesepian."
Nania menatap wajah pria itu yang tampak berpendar tertimpa cahaya lampu yang menggantung di sepanjang pinggiran rooftop.
"Memangnya Bapak mau ke mana?" Gadis itu lantas bertanya.
"Tidak kemana-mana. Ya masa aku harus tetap menginap di sini? Nanti apa kata orang tuaku? Memangnya kita ini suami istri?" Daryl terkekeh.
Nania tertegun. Mengapa hatinya merasa tidak rela ketika pria itu mengatakan hal tersebut? Dia seperti sedang menegaskan sesuatu di antara mereka.
"Maaf Pak?" Salah seorang dari pekerja datang menghampiri.
"Kami sudah selesai, Pak." katanya, yang menunjukkan pekerjaannya kepada Daryl.
"Oh, … cepat juga ya?" Pria itu yang menatap jam tangannya yang sudah menunjukkan hampir tengah malam.
"Kalau tidak ada lagi yang harus dikerjakan, kami pamit Pak?"
"Ya kalau sudah beres, silahkan." jawab Daryl.
Kemudian pria-pria itu membereskan peralatan kerjanya. Dan setelah memastikan semuanya selesai, maka mereka pun cepat meninggalkan Amara's Love.
"Kemarilah!" Daryl masuk ke dalam naungan semacam gazebo.
Lantai papannya beralaskan karpet berwarna hijau seperti rumput dengan beberapa bantal dan sandaran sehingga membuatnya terlihat nyaman.
Mereka duduk bersisian menatap sekeliling rooftop yang kini berubah suasana.
"Besok aku bawakan tanaman agar terlihat lebih indah." ucap pria itu.
"Bagaimana menurutmu?" Dia meminta pendapat.
"Bagus Pak."
"Kamu menyukainya?"
"Ya. Ini membuat perasaan gembira dan terasa lebih ceria." Nania mengalihkan pandangan kepada pria itu.
"Nania?"
"Hum?"
"Apa hubunganmu dengan Ardi?"
"Nggak ada."
"Raka?"
"Nggak ada juga. Cuma temen aja."
"Tapi kalian terlihat sangat dekat?"
"Memangnya kalau dekat harus ada hubungan ya?"
"Tidak juga."
"Mereka cuma sangat baik, kayak Nindy juga. Makanya kami dekat. Kalau mereka nggak baik ya saya juga nggak akan dekat. Malu."
Daryl terdiam.
"Bapak juga baik, tapi itu nggak bikin kita jadi ada hubungan kan?" Nania meneruskan perkataannya.
"Dan seseorang bahkan bisa melakukan sesuatu walau tanpa hubungan." Gadis itu mengingat apa yang terjadi di antara mereka berbulan-bulan yang lalu.
Ketika Daryl mencuri ciuman pertamanya di pantai pada saat pesta resepsi pernikahan Amara dan Galang.
Lalu hatinya berdenyut ngilu ketika dia juga teringat apa yang dilihatnya di Fia's Secret, ketika pria itu dengan modelnya yang seksi bercumbu mesra di dalam ruang kerja.
Nania menggelengkan kepala untuk menepis ingatan itu, juga perasaannya yang kini mulai kacau.
"Kamu … masih mengingatnya, heh?" Daryl buka suara.
"Sepertinya itu sulit untuk dilupakan, Pak. Tapi …."
"Jadilah kekasihku." Pria itu tiba-tiba.
"Apa?"
"Jadilah kekasihku." ulang Daryl, membuat
Nania membeku seketika.
"Umm …."
"Jadilah kekasihku!" Pria itu mencondongkan tubuhnya kepada Nania sehingga hampir tak tersisa jarak di antara mereka.
"Nania!!" Daryl meninggikan suaranya.
"Ya Pak?"
"Jadilah kekasihku!" katanya lagi, untuk kesekian kalinya, dan dia sedikit membentak seperti kebiasaannya.
"Iya Pak, baik." jawab Nania, dan kebiasaannya pun kembali muncul setiap kali seseorang membentaknya.
"Baik?" Pria itu kegirangan.
"Umm … maksud saya …."
"Baik, itu artinya iya kan?" Daryl tertawa.
"Iya, eh … maksud saya …."
"Baiklah, Malyshka. Jangan meralatnya lagi, aku tidak mau mendengarnya!"
"Nggak! Maksudnya …."
Lalu tanpa aba-aba Daryl meraup wajah Nania dan mendaratkan ciuman di bibirnya.
"Mmm … Pak?" Nania menahan dadanya untuk menghentikannya.
"Diamlah! Kamu kekasihku sekarang!" bisik Daryl yang menjeda cumbuannya sebentar.
Dia menatap ke dalam mata gadis itu dengan kedua tangan yang memeluk tubuh mungilnya.
Daryl tersenyum kemudian melanjutkan cumbuan dan merapatkan tubuh mereka berdua. Membenamkan tubuh kecil Nania dalam pelukan seolah dia ingin mereka melebur jadi satu.
Sementara Nania hanya bisa terdiam menerima cumbuan itu. Dia mengabaikan suara berisik di kepala yang meneriakkan banyak hal.
Entah mengapa hal ini membuatnya merasa bahagia dan dia tidak ingin menolak.
Nania bahkan diam saja ketika pria itu mendorongnya ke belakang sehingga mereka saling menindih. Dan dia seperti kehilangan kesadaran saat Daryl berbuat lebih jauh.
Tangannya mulai menyelinap di punggung, kemudian merayap ke depan. Dan dia bahkan hampir menyentuh dadanya ketika tiba-tiba saja Nania tersadar dan menghentikannya.
"Pak?" Gadis itu melepaskan tautan bibir mereka.
Daryl tertegun, namun kemudian dia terkekeh. Dia bangkit seraya menyugar rambutnya yang berantakan, lalu menarik Nania juga agar dia bangkit juga seperti dirinya.
"Ah, … aku hampir kebablasan." Daryl mengusap wajah dengan kedua tangannya. Dia melirik ke arah Nania yang terdiam mengatupkan mulutnya rapat-rapat.
Daryl tertawa, kemudian kembali merangkul Nania dan memeluknya erat-erat. Seolah gadis itu akan kabur menjauh jika dia tak melakukannya.
💖
💖
💖
Bersambung ....
Gimana, gimana? 🙈🙈🙈
Like komen sama hadiahnya lagi dong
semangat terus kak Fit, tambah sukses dan selalu bahagia 🤲