Anita tak pernah menyangka bahwa dia akan hidup abadi akibat kutukan dari keluarganya yang tewas karena ulahnya.
Seluruh keluarga Anita tewas oleh pengkhianatan sahabat karibnya bernama Samantha yang menjebak Anita berbuat jahat mengikuti kemauannya.
Selama dua ratus tahun, Anita hidup dalam ketidakpastian yang menyakitkan hatinya, dia kesepian, sendirian, tak punya keluarga lagi namun dia abadi.
Anita bertekad akan mengubah hidupnya menjadi lebih baik jika seandainya Tuhan Yang Maha Esa memberinya sebuah kesempatan baru untuk memulai hidupnya jika dia berkeluarga lagi. Dan Anita berharap Tuhan mempertemukan dia dengan keluarganya di kehidupan baru nantinya.
Mampukah Anita berubah dan menjadi ibu tiri yang baik hati ?
Mari kita ikuti serialnya, ya, pemirsa dan terima kasih telah membaca...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reny Rizky Aryati, SE., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17 LAMARAN NIKAH
Alana dan Azka masih terbengong-bengong ketika dia mendengar ucapan papa mereka yaitu Adrian Wilson barusan saja.
Adrian Wilson mengatakan bahwa kakek buyut mereka sedang sakit parah padahal dia baik-baik saja sampai detik ini, dan duduk nyaman di rumah mereka di New York.
Alana dan Azka, anak kembar berbeda jenis kelamin itu tampak meringis keheranan namun mereka menangkap tanda tertentu dari papa mereka bahwa Adrian Wilson sedang mencoba merayu Anita Tumbler.
Anita Tumbler jatuh iba pada Adrian Wilson yang tak berdaya di hadapannya, laki-laki itu masih terisak-isak sembari meratapi nasibnya yang kurang beruntung sebab kakeknya sedang sakit parah.
"Katakan saja padaku apa yang ingin kamu sampaikan padaku, mungkin aku bisa membantumu, Adrian..."
"Sebenarnya aku tidak tega mengatakannya akan tetapi kakek memaksaku agar aku segera pulang dan menikah lagi."
"Bukankah itu sangat bagus buatmu, kau tidak lagi sendirian, Adrian..."
''Tapi aku harus menikah sekarang juga jika tidak kakek akan terkena serangan jantung dan meninggal dunia seketika kalau aku tidak pulang membawa calon istri untuknya, Anita."
"Me-menikah sekarang juga ?"
"Yah, aku harus menikah sekarang juga padahal aku tidak memiliki calon pendamping untuk kunikahi saat ini, Anita..."
"Astaga... Lantas bagaimana sekarang, kita tidak mungkin mencarikan calon istri untukmu dengan situasi mendadak seperti ini, Adrian..."
"Yeah, aku tahu itu tidaklah mudah menikahi seseorang secepat kilat tanpa adanya hubungan dekat dan saling mencintai."
"Dan bagaiamana pendapatmu sendiri sekarang, Adrian ?"
"Pendapatku ? Kau sedang menanyakan tentang pendapatku, Anita ?"
"Yah, Adrian."
Lama Adrian Wilson memandang pada Anita Tumbler yang ada di hadapannya saat ini, sedangkan kedua tangannya menggenggam erat-erat tangan Anita Tumbler.
Keduanya saling berpandangan satu sama lainnya, terdiam tanpa bersuara kemudian Adrian Wilson berdehem pelan.
"Ehem..., sebenarnya aku mempunyai suatu ide namun aku tidak tahu apakah kamu bisa menerima ide ini, Anita..."
"Jika menurutmu ide itu baik untuk keselamatan hidup kakekmu maka aku akan setuju menerimanya dengan senang hati, Adrian..."
"Benarkah itu, Anita ?"
"Ya, Adrian..., kenapa tidak jika ide itu terbaik bagi semuanya maka aku akan sukarela menerima keputusanmu asal bisa membuat kakekmu yang sakit parah dapat sembuh kembali, Adrian."
"Jika dilihat dari usianya, kakekku tidak mungkin bisa sembuh sediakala sebab faktor usia tidak mendukungnya sehat secepat yang kita inginkan maka kita harus lebih hati-hati mengambil tindakan teruntuk dirinya..."
Anita Tumbler menepuk pelan punggung tangan milik Adrian Wilson seraya berkata lembut.
"Jangan cemaskan keadaannya, pasti kakekmu akan segera pulih, kita hanya berharap untuk saat ini yang terbaik, Adrian..."
Anita Tumbler tersenyum sabar seakan-akan memastikan bahwa semua akan baik-baik saja, sedangkan Adrian Wilson berkata tanpa ragu-ragu menumpahkan isi hatinya kepada Anita Tumbler.
"Menikahlah denganku, Anita !"
Seketika isi di dalam kepala Anita Tumbler berputar-putar cepat setelah dia mendengar permintaan dari Adrian Wilson yang memintanya menikah dengannya.
Wajah cantik nan awet muda milik Anita Tumbler berubah memucat pasi sedangkan sekujur tubuhnya berkeringat dingin. Dan bayangan-bayangan kenangan akan masa lalunya bersama mendiang suaminya, Adrian Wilson datang silih berganti di dalam benak Anita Tumbler.
Sekonyong-konyong Anita Tumbler segera bergerak mundur dari hadapan Adrian Wilson, dan mimik wajahnya terkejut kaget.
Tak percaya dengan apa yang barusan dia dengarkan saat ini.
"Me-menikah denganmu ?"
"Ya, Anita..."
Adrian Wilson mengangguk pelan, dia berhati-hati menjaga sikapnya supaya Anita Tumbler tidak kabur darinya.
Tampak Anita Tumbler menggeleng cepat seakan-akan apa yang didengarnya barusan saja hanya lah angin lalu.
Seketika Anita Tumbler melompat turun dari atas ranjang tidur berukuran besar yang ada di ruangan VVIP hotel miliknya, dia berjalan cepat menuju pojokan kamar ini lalu menatap lurus-lurus ke arah Adrian Wilson yang masih duduk di tepi ranjang tidur.
Kedua mata Anita Tumbler membesar seperti pupil milik Tarsius Wilson di malam hari, dan bibirnya membentuk huruf O besar.
"Anita..."
Panggil Adrian Wilson sembari beranjak bangun lalu berdiri tegak menghadap ke arah Anita Tumbler yang berdiri di pojokan kamar ini, seperti ketakutan.
"Anita, kau baik-baik saja..."
"Oh, ehk, yah..., aku baik-baik saja, Adrian."
Anita Wilson menjawab tergagap lalu berjalan mondar-mandir sambil berpikir serius dan kedua tangannya saling mendekap erat.
"Tapi kulihat kau seperti tidak sedang baik-baik saja, Anita..."
"Tidak, tidak, tidak begitu, Adrian, tidak."
Anita Wilson menjawab dengan gelengan kepala pelan sedangkan hatinya gelisah kian tak menentu kemudian dia menghentikan laju langkah kakinya dan menghadap kembali pada Adrian Wilson yang tak jauh darinya berdiri saat ini.
Sinar matanya bercahaya tenang, memancarkan aura kebahagiaan dalam diri seorang Anita Tumbler yang terlihat sangat senang.
Kebahagiaan yang tak terhingga maknanya tergambar jelas dalam diri Anita Tumbler ketika Adrian Wilson melamarnya menikah.
Sudah dua ratus tahun berlalu begitu lamanya, sebuah penantian panjang yang sangat melelahkan diri seorang Anita Tumbler menunggu kembali pertemuannya dengan sosok mendiang suaminya, Adrian Wilson.
Rupanya takdir Tuhan telah mengubah jalan hidupnya dalam situasi berbeda.
Kuasa Tuhan Yang Maha Esa telah mempertemukan dirinya dengan Adrian Wilson dalam wujud laki-laki yang sama namun di kehidupan yang sangat jauh berbeda karena mereka saling tak mengenal satu sama lainnya, tidak seperti dulu di saat mereka masih berstatus sebagai suami-istri di masa dua ratus tahun yang lampau.
Tak terasa sekujur tubuh Anita Tumbler bergetar keras, kepalanya berputar-putar pening namun dia tetap bertahan untuk terjaga sadar.
Anita Tumbler mendongak, langit-langit di ruangan kamar hotel ini seolah-olah berkata padanya.
"Aku kembali teruntuk kalian..."
Sedetik kemudian, air mata milik Anita Tumbler menggenang di pelupuk matanya, dan dia menangis penuh rasa haru.
"Oh, demi Tuhan..., kukira ini hanyalah keajaiban semata namun ternyata semua ini adalah kenyataan..."
Anita Tumbler bergumam pelan lalu duduk bersimpuh di lantai kamar hotel ini sembari menangis tersedu-sedu.
Tangisannya pecah tanpa dia dapat membendungnya lagi.
"Anita..."
Adrian Wilson tampak bingung sehingga dia berlari cepat menghampiri Anita Tumbler dan duduk berjongkok di samping, sedangkan dua anak kembar bernama Alana dan Azka ikut melompat turun dan mendekati Anita Tumbler.
"Mama Anita !!!"
Kedua anak kembar berbeda kelamin itu terburu-buru menghampiri Anita Tumbler.
Terlihat Alana kecil lebih menaruh perhatian kepada Anita Tumbler, dipeluknya Anita Tumbler seakan-akan dia ingin menenangkan hati wanita cantik nan malang itu.
"Mama Anita, jangan bersedih dan menangis seperti itu... !"
"Oh, sayangku...!"
"Aku tidak bersedih, aku cuma terharu, Alana sayang... !"
"Mama Anita..."
"Alana, peluk mama Anita erat-erat, ya, sayang..."
Anita Tumbler yang masih beruraian air mata karena merasakan terharu langsung mendekap tubuh kecil milik Alana dan menangis tersedu-sedu.
Seketika semuanya terdiam melihat Anita Tumbler yang biasanya kuat sekaligus penuh semangat dengan rasa percaya diri tiba-tiba menangis pilu tanpa tahu apa penyebabnya yang terjadi pada dia sehingga bersikap seperti itu.
Suasana di ruangan kamar hotel berkelas VVIP dimana Anita Tumbler bersama Adrian Wilson serta dua anak kembar bernama Alana dan Azka terasa hening, kesunyian merebak dalam di sekitar mereka berempat yang masing-masing orang tenggelam dalam perasaan terharu.