SEKUEL PERNIKAHAN KONTRAK SANG CEO
Zia Rose Amanda yang biasa di sapa Rose. Seorang mahasiswi cantik yang jatuh cinta pada Dave Danuarta.
Rose melakukan segala cara agar dapat dekat dan menjalin hubungan dengan Dave.
Keberhasilan menjalin hubungan tidak serta merta membuat perjuangan Rose berhenti, mulai dari sini perjuangan yang sesungguhnya akan di mulai.
Rose yang di tolak berkali-kali keberadaannya oleh Dave, hanya dapat pasrah.
Di titik terendah Rose, datanglah Gabriel Gandratama. Seorang sekertaris se-kaku kanebo yang jatuh hati kepada Rose.
Di sinilah cerita cinta segitiga dimulai, kepada siapa Rose melabuhkan hatinya?
Apakah Gabriel akan menyerah ketika masa lalunya terkuak?
Ikuti terus setiap babnya.
Harap bijak dalam berkomentar, novel hanya sebuah imajinasi penulis dan tidak ada hikmah yang dipetik.
Ditulis untuk sebuah hiburan semata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Momy Ida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cake
Happy Reading 🌹🌹
"Rose!!" Seru Putri di sebuah meja cafe.
Rose segere melambaikan tangannya dan berlari kecil menghampiri sahabatnya.
"Aku rindu." Ucap Rose manja.
Putri hanya tertawa renyah, "Aku juga merindukanmu Rose." Jawab Putri jujur.
"Ck, bohong. Kau selalu sibuk dengan suamimu." Cebik Rose dengan mendudukkan pantatnya di kursi kosong.
Putri tergelak, "Oh, kasihan. Apakah perlu aku carikan jodohmu Rose?" Tawar Putri padanya.
"Hah, aku masih berjuang." Ucap Rose lesu.
"Berjuang? Siapa?" Tanya Putri menaikkan sebelah alisnya.
Rose kaget dan memukul pelan bibirnya, "Ah tidak apa-apa." Jawab Rose bohong.
"Rose," Putri berkata dengan penuh penekanan.
"Aku mencintai Pak Dave." Cicit Rose lirih dengan menundukkan kepalanya.
"Hah? Kak Dave?"
"Iya, apa kamu tahu..."
"Itu Kak Dave." Putri menunjuk ke arah dua orang yang baru saja masuk di cafe.
Rose mengikuti arah Putri menunjuk, terlihat Dave bersama wanita yang dia temui ketika di kantor tempo lalu.
"Kamu kenapa dengan Kak Dave, Rose?" Tanya Putri yang tadi tidak konsentrasi mendengarkan cerita Rose.
"Apa Pak Dave memiliki kekasih Put?" Rose tidak menjawab melainkan melemparkan pertanyaan.
Putri menggeleng pelan, "Aku tidak tahu Rose, bisa tidak... bisa iya." Jawab Putri tidak memberikan solusi.
"Hahh..." Rose menidurkan kepalanya di meja cafe dengan wajah menghadap Dave.
Terlihat Dave mengbrol dan sesekali wanita itu menyentuh Dave, "Apakah mereka berpacaran?" Gumam Rose lirih dalam hati.
Hati Rose merasa sedih, kesal, marah, cemburu... seperti permen nano-nano yang tidak jelas rasanya. Rose hanya menatap sendu ke arah Dave.
Putri hanya melihat Rose dan Dave secara bergantian, "Rose, apa kamu menyukai Kak Dave?" Tanya Putri pelan.
Rose menganggukkan kepalanya yang masih di atas meja, Putri mengerjakan matanya cepat.
"Kenapa tidak kamu datangi Kak Dave," Tanya Putri kembali.
Rose hanya diam tidak menjawab, saat ini pandangan Dave dan Rose saling bertemu. Pandangan mereka seakan terkunci satu sama lain, hingga Dave memutuskan pandangan tersebut.
"Permisi Tuan, kuenya." Ucap seorang pelayan yang mendatangi meja Dave dan sekertarianya.
"Apa kamu memesannya?" Tanya Dave kepada sekertarisnya.
"Tidak Tuan, maaf kami tidak memesan kue." Jawab sekertaris dengan sikap sopannya di depan Dave.
"Ini dari seseorang untuk Tuan Dave, apakah Anda bernama Dave?" Pelayan memastikan jika dirinya tidak salah.
Dave mengangguk, segera pelayan itu meletakkan sepotong kue coklat di depan Dave.
Indra penglihatan Dave, menelisik ke arah sudut meja. Sudah tidak ada Putri dan Rose di sana.
📩 Selamat menikmati sepotong kue coklat manis, semanis senyumanmu hari ini.
Dave menarik sudut bibirnya tipis sehingga tidak seorangpun menyadari, terlihat pesan Rose kembali masuk di HP nya.
Seperti biasa, Dave hanya membaca tanpa berniat membalas pesan Rose.
Ya, setelah Putri memaksa Rose untuk bercerita. Rose mulai menceritakan bagaimana dirinya mulai jatuh cinta kepada Dave, dan dia juga menceritakan bagaimana perjuangannya untuk mendapatkan perhatian dari Dave.
"Apa kamu perlu bantuanku Rose?" Tanya Putri dengan wajah serius.
"Tidak perlu Put, aku ingin membuatnya move on darimu. Jadi kamu jangan pernah muncul di hadapannya dulu Put. Sebelum aku berhasil membuatnya move on darimu." Jawab Rose bersungguh-sungguh.
"Ampun.. aku takut." Ledek Putri.
Rose mencubit gemas kedua pipi Putri, "Awas saja kamu." Rose yang pura-pura mengancam.
Putri masih tertawa, "Lalu apa rencanamu sekarang, aku lihat wanita yang bersama Kak Dave sangat dewasa. Dia wanita karir, lihat saja mengenakan pakaian kerja, wajah cantik, tubuh sexy... oh Rose kau kalah telak." Ucap Putri dengan memandang Rose.
"Kenapa memandangku seperti itu? Tapi aku memiliki kelebihan, aku jauh lebih muda dari wanita itu." Jawab Rose bangga dengan membusungkan dadanya kedepan.
Putri semakin tergelak, "Sepertinya jatuh cinta membuatmu sedikit tidak waras Rose." Kata Putri yang masih mencoba meredam tawanya.
"Benar, bisa jadi aku akan gila." Jawab Rose jujur.
"Hey! Ingat, janur kuning belum melengkung. Kamu masih memiliki kesempatan untuk bersama Kak Dave." Ucap Putri memberikan semangat.
"Ya.. ya... janur kuning belum melengkung, tetapi sudah membuat wanita melengkung." Ucap Rose ambigu.
Rose tidak bodoh dengan hubungan dewasa, terlebih dirinya mengingat tanda merah di. leher Dave dan juga wanita tersebut.
Putri hanya menggelengkan kepalanya pelan, karena dia tidak paham dengan jawaban ambigu Rose.
Rose memanggil pelayan yang tengah mengantarkan pesanan di meja depannya.
"Mbak, ada kue apa hari ini?" Tanya Rose kepada pelayan.
Pelayan menyebutkan kue-kue yang ada di cafe tersebut
"Mbak pesan satu, antar ke meja itu. Tapi tunggu setelah saya keluar ya." Ucap Rose memberikan intruksi.
"Baik mbak, silahkan lakukan pembayaran di kasir." Jawab tersebut dengan sopan.
"Sudah ayo Put, kita teruskan cerita di mansionmu saja. Sudah lama tidak bertemu dengan suamimu." Rose berdiri dan siap menbayar tagihan.
"Kenapa dengan suamiku, jangan bilang kau." Putri sudah mendelik kesal ke arah Rose.
"Oh my, aku hanya bercanda. Aku juga tidak suka dengan lebah yang sudah menghidap madu." Kelakar Rose dengan berjalan ke arah kasir.
Setelah memastikan kedua pembeli itu keluar, pelayan segera mendatangi meja Dave dan memberikan kue coklat tersebut.
...🐾🐾...
"Tuan, waktunya makan siang." Ucap sekertaris yang melihat jam tangannya.
Saat ini Dave dan kertarisnya pergi keluar untuk melakukan pertemuan meeting dengan client.
Mobil yang di tumpangi Dave berhenti karena terkena lampu merah, dirinya menoleh ke arah kanan terlihat gadis yang cerewet tengah memeluk wanita yang sangat dia hindari.
"Kita mau kemana Tuan?" Tanya sekertaris yang heran karena Dave berbelok ke sebuah cafe.
Kenapa aku malah berbelok kesini, aku ingin menghindari Putri dan hanya melihat gadis cerewet itu.
"Tuan," Sekertaris itu membuyarkan lamunan Dave.
"Kita makan siang di sini." Jawab Dave acuh dan segera keluar dari dalam mobil.
Dave berjalan terlebih dahulu ke arah cafe, sekertaris itu mencoba mengejarnya agar ketika masuk ke dalam cafe terlihat seperti sepasang kekasih.
Dave dan sekertarisnya duduk di meja yang jauh dari meja Rose, Dave hanya melirik dan sesekali memeriksa ponselnya.
Hingga pandangan Dave dan Rose terkunci, "Kenapa gadis itu terlihat lemah sekali. Apa dia sakit, oh Dave jangan gila untuk apa kamu memikirkannya." Dave segera memutuskan pandangan tersebut terlebih dahulu.
...🐾🐾...
Rose setiap hari semakin gencar mendekati Dave meskipun sering di acuhkan.
"Aku akan memasak apa ya hari ini," Gumam Rose yang tengah berbelanja di supermarket dekat kampusnya.
"Sepertinya Pak Dave pemakan segalanya, terbukti dia tidak pernah mengeluh makanan yang aku kirikan untuknya." Gumam Rose dengan mengambil beberapa sayur dan lauk di etalase toko.
Rose bersenandung kecil dengan mengambil beberapa belanjaan yang lainnya, dia sudah memiliki bayangan akan memasakkan apa untuk makan siang Dave satu minggu kedepan.
Rose terlihat berjalan masuk kedalam perusahaan Dave, "Mbak, tolong antarkan bekal ini ke Pak Dave ya." Ucap Rose dengan tersenyum dan menyerahkan kotak sterofom itu.
"Baik, apakah mbak jasa catering?" Tanya resepsionis tersebut.
"Tidak mbak," Jawab Rose cepat.
"Oh, saya pikir mbak pemilik catering. Karena masakan mbak sangat enak." Ucap resepsionis itu jujur.
Rose mengedipkan matanya cepat, "Ah, terima kasih mbak." Jawab Rose dengan memaksakan senyumnya.
Dalam hati Rose merutuki perbuatan Dave, dia sudah bersusah payah memasakkan bekal makan siang untuk pria itu. Tetapi hanya berakhir kepada karyawannya.
Hingga tubuh Rose menabrak seseorang sehingga membuatnya terhuyung kebelakang.
"Anda Tidak apa-apa Nona, maafkan saya. Rose? " Ucap Gabriel yang menangkap tubuh ramping Rose agar tidak jatuh ke lantai.
Rose masih terdiam, dia menatap lekat wajah pria yang ada di depannya. "Tampan" Gumam Rose lirih.
"Apa Rose?" Tanya Gabriel karena tidak jelas Rose berbicara apa.
Rose tersadar dan melebarkan kelopak matanya, "Eh, maafkan aku Kak Gabriel." Ucap Rose yang sudah berdiri dengan benar.
"Tidak apa-apa Rose, aku yang salah." Jawab Briel sopan.
Rose mengangguk, "Eh, sebentar. Kenapa Kak Gabriel ada disini ?" Tanya Rose menahan tangan Briel.
Briel melirik tangan yang di pegang Rose, "Ah maaf." Rose langsung melepaskan cekalan tangannya.
"Maaf saya harus segera pergi." Pamit Briel sopan.
"Oh, ya... ya... pergilah." Jawab Rose dengan menggerakkan tangannya seakan mengusir Gabriel.
Gabriel berjalan dan berlalu begitu saja tanpa membalas ucapan Rose.
Rose yang melihat sikap Gabriel hanya menggelengkan kepalanya saja, "Kasian sekali Putri, dikelilingi pria kaku." Ucap Rose lirih seakan prihatin dengan Putri.
Sedangkan Gabriel merasa jantungnya akan meledak jika lebih lama berdekatan dengan Rose.
...🐾🐾...
PROMOSI NOVEL