"janji ya kita harus bareng-bareng sampai besar nanti.. sampai aku bisa ajak kamu jalan-jalan keliling dunia!" seru Sena pada Arunika, gadis dengan rambut kepang duanya itu. "hm! Sena gak boleh ingkar janji ya, Aru bakalan nunggu janji Sena!" angguk gadis itu semangat sambil menyambut jari kelingkin Sena
namun sebuah kesalahpahaman menghantam keduanya, mengukir benci tanpa akhir. perpisahan tak dapat terelakkan hingga takdir mengikat keduanya kembali Cinta dan Benci, Rindu dan Dendam mempermainkan mereka dalam kisah masa-masa SMA
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna_dee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rindu
Bus berhenti di lapangan kantor kepala Desa, Surya dan para pegawai desa menyambut mereka dengan senyum ramah. Surya menyambut Dharma, menjabat tangannya dan mulai menepuk pundak satu sama lain dan berbagi kabar.
wajah Surya tertutup kepala Dharma, Deva tak melihat jelas wajah kepala Desa itu, dalam batinnya dia cukup kagum dengan perubahan Darwin yang sudah kurus tak segemuk di 7 tahun lalu
"anak-anak.. kalian istirahat lah dulu, kita akan mendaki satu jam lagi.. kalian boleh berkeliling Desa atau mencari makanan tapi harus kembali sebelum satu jam" ucap Dharma yang sudah berdiri di samping Surya, Deva yang sudah tak memperhatikan mereka itu sedang berjalan menelusuri jalan sepetak menuju makam, Alvin dan Samudra mengikutinya dari belakang.
banyak siswa yang duduk istirahat ada juga yang tak mau diam dan menikmati Desa yang cukup indah itu, berkeliling memuaskan rasa penasaran mereka
"Odii, mau ikut kerumah gue atau Yuli?" tanya Lusi, Claudia menatap keduanya bergantian
"bingung nih, gue pengen kerumah loe berdua!!" kesal Claudia
"rumah gue dulu aja! rumah gue deket!" tarik Yulia, Claudia pun ikut kerumah Yulia dan Lusi pulang sendiri tak ada yang bisa di ajaknya karena teman-teman nya sibuk dengan dunianya masing-masing
Surya yang sempat melihat anaknya sekilas itu tak sabar ingin menyapa, tapi putrinya itu sudah mengirim pesan pagi tadi untuk tidak mengakuinya di hadapan teman-teman nya. Surya berfikir mungkin putri nya itu sedang menghindari kehebohan dari mereka semua
"Ibu!!" teriak Lusi berlari melihat ibunya yang sedang menampi beras di halaman rumah nya
"Lusi! Ibu udah nunggu kamu dari tadi loh!!" peluk Arini pada putrinya yang sudah pergi belum satu minggu ini
"Ibu kangen Lusi nggak?" tanya Lusi, yang padahal dirinya tau jika ibunya itu sangat merindukan nya
"enggak! Ibu cuma kangen sama Bisma!" kesal Arini, Lusi tertawa menanggapi kekesalan ibunya
"Sella mana Bu?" tanya nya lagi, gadis kecil yang menjadi musuh bebuyutan nya, adiknya yang baru berusia lima tahun itu sangat di rindukan nya
"enggak tau tadi, katanya mau main sambil nunggu kamu pulang" jawab Arini menoleh ke kanan dan ke kiri mencari putri kecilnya yang sangat nakal itu
"ishhh.. ya udah lah Bu, yang penting Lusi udah liat Ibu dan Ibu sehat-sehat aja! takutnya nanti Lusi di cariin pak guru.. oh ya kak Bisma nitip sesuatu nih buat Ibu sama Bapak" Lusi membuka tas ranselnya yang berat dan mengambil sebuah kotak di sana
"yang ini buat Ibu, dan..." Lusi kembali mengambil sebuah benda yang sedikit panjang
"ini buat Bapak.. uangnya udah kak Bisma kirim pagi tadi, Ibu cek aja" ucap Lusi
"makasih ya nak.. sudah sana! nanti kamu di marahin sama guru kamu"
Lusi memeluk Ibunya sebelum pergi, sempat mencium nya juga. di tengah jalan malah bertemu dengan ayahnya yang buru-buru mencarinya karena rindu
"Lusi anak Bapaaaakkk!" teriak Surya, astaga! untung ayahnya itu mau mengerti dan menuruti keinginannya dalam pesan pagi tadi
Surya memeluk putrinya itu dengan gembira, melepas rindunya yang terpendam
"Bapak.. Lusi belum seminggu loh perginya" ucap Lusi dalam pelukan Surya
"tapi Bapak kangen.. lagian kenapa memangnya? belum seminggu juga kan udah beberapa hari dan masa Bapak gak boleh kangen sama anak Bapak?" sahut Surya melepas pelukannya, siapa yang akan menyangka seorang Surya yang begitu tegas dan penuh wibawa sebelumnya adalah seorang Ayah yang begitu bucin pada putrinya
"kak Bisma kirim joran tuh buat Bapak, udah Lusi titipin di Ibu" ucap Lusi tersenyum
"Joran?? wah.. putra Bapak emang anak yang bijak!!" puji Surya begitu bahagia
"udah ah pak.. balik sana masa Bapak tinggalin pak Dharma sih!! eh iya.. kok Bapak setuju? gimana kalo mereka banyak yang gak mau denger dan rusakin alam kita?" Lusi mulai menanyakan alasan Surya yang memberi izin
"Dharma udah janji kalo ada satu kelalaian dia akan tanggung jawab, Bapak juga sungkan sama mereka.. yah.. seengaknya bapak tau peraturan di Lentera Ilmu sangat ketat, makanya Bapak berani kasih izin" jawab Surya, mereka berjalan menuju kantor kepala desa
"mereka?" tanya Lusi
"iya.. selain Dharma masih ada satu lagi yang mengajukan izin, kamu ingat sama Om Maj.."
"Lusiii.. !!!" teriak Yulia dan Claudia didepan sana, Lusi terkejut beruntung hanya mereka yang melihat dirinya dan sang Ayah berjalan sambil mengobrol santai
"gue kaget banget loh.. ternyata kepala Desa itu papa kamu ya?" celetuk Caludia tak menyangka
"jangan di sebarin ya?" bisik Lusi, Claudia bertanya dengan mengangkat sebelah alisnya, Lusi hanya menggeleng
"oke deh.." jawab Claudia pelan
"om Surya sehat?" tanya Yulia, Surya tersenyum
"sehat, kamu gimana? udah ketemu ibu sama Bapak kamu?" tanya balik Surya
"iya sehat, udah ketemu kok Om.. eh.. kita duluan ya Om Surya..."
mereka bertiga segera kembali ke kantor Desa lebih dulu. Surya juga bergegas kembali sudah terlalu lama dirinya meninggalkan tamunya diam-diam, awalnya dia izin ke kamar kecil padahal hanya demi menemui Lusi yang sudah tak di lihatnya beberapa hari itu
"UTARI SAFA" nama yang tertulis di nisan besar itu. Deva beberapa kali mengelap matanya yang penuh air mata, rindunya pada mendiang Mamanya sudah sangat tak terbendung. Alvin dan Samudra mengelus pelan pundak sahabat mereka itu, mencoba menenangkan nya
"sabar Dev.. tante pasti bangga liat loe yang sekarang, dia pasti lagi bahagia banget liat loe disini" ucap Alvin
"ya.. dan gue yakin, tante gak setuju kalo loe nangis gini.." sahut Samudra juga
"kakak kangen Ibu kakak ya? jangan nangis.. kata ibu kalo kakak nangis nanti Ibu kakak juga ikut nangis.. nih Sella kasih bunga tapi jangan nangis lagi?" gadis kecil dengan rambut kepang dua itu memberikan sebuah bunga berwarna kuning pada Deva, di keranjang yang di bawanya tak cuma ada bunga tapi juga makanan ayam dan telur. Alvin begitu kagum melihat gadis kecil yang begitu manis itu
"makasih.." senyum Deva menerima bunga itu mencoba menghentikan tangisnya. Deva tiba-tiba teringat pada gadis kecil di masa lalunya, gadis didepannya begitu sangat mirip dengan Aru, wajahnya.. mata dan pipinya bahkan cara berpakaian dan rambut kepang dua nya. Deva seakan di tarik paksa untuk kembali menatap masa lalu yang berbalut dendam dan kebencian itu
"nama kamu siapa?" tanya Deva pelan
"Sella Anaya Madalin.." jawab Sella tersenyum manis
"oh?? nama yang indah, umur kamu berapa malaikat kecil?" tanya Alvin yang ingin sekali mencubit pipi chubby gadis itu
"lima tahun" jawab Sella
'dua tahun setelah aku gak disini ya? gadis ini manis juga tapi kenapa harus mirip dia?' batin Deva mulai berdiri
"oke deh.. Sella pergi dulu ya, kakak jangan nangis lagi nanti Ibunya kakak ikut nangis" ucap Sella berlari keluar dari makam, Deva menatap bunga berwarna kuning di tangannya itu
'bahkan warna bunga ini pun warna favorit nya.. Aru.. aku harap kita gak pernah ketemu lagi atau aku akan semakin membencimu' batinnya menaruh bunga itu di bawah nisan Mamanya
"Ma.. Deva pergi ya, lain kali Deva kesini lagi" ucapnya pada makam itu
mereka bertiga keluar dari makam, langkah kaki mereka kembali terhenti saat melihat gadis itu, Sella sedang memberi makan pada ayam liar disana. hati mereka kembali meluluh, ahh.. gadis itu terlalu sangat manis di mata mereka