NovelToon NovelToon
Ketulusan Hati 2

Ketulusan Hati 2

Status: tamat
Genre:Romantis / Action / Tamat
Popularitas:7.2M
Nilai: 5
Nama Author: desih nurani

Sahabat dan cinta. Kedua elemen itu sangat sulit untuk dibedakan. Dalam persahabatan terkadang tumbuh sebuah cinta. Cinta yang sulit di mengerti. Cinta yang sangat jarang disadari. Sahabat. Sebuah ikatan yang tak bisa diuraikan dengan sebuah kata-kata.

Dillara Chalista Putri Pratama. Gadis cantik yang selalu ceria. Namun dibalik keceriaannya terdapat sifat cengeng dan manja. Terkadang sifat kekanak-kanakannya akan muncul. Saat ia berada di dekat orang yang paling dekat dengannya.

Arlan Digantara. Pria tampan bertubuh tinggi, memiliki kepintaran diatas rata-rata, sopan dan banyak digemari kaum hawa. Namun ada yang mereka tidak tahu. Pria itu memiliki sifat jahil dan terkadang cuek jika ia sedang bersama orang yang paling dekat dengannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon desih nurani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26. Tanah Rencong (Ara)

Aku mengerjapkan mataku saat merasa pipiku ditepuk beberapa kali. Aku mengangkat kepalaku perlahan. Uh, leherku sangat sakit.

"Kita sudah sampai." kata suamiku. Aku tersenyum dan mengangguk. Ku lihat semua orang masih mengantri untuk keluar.

"Alan, leher Ara sakit banget." ujarku sambil menyetuh leherku yang terhalang kerudung.

"Sebentar lagi akan hilang, kamu sih tidurnya kayak kerbau." ucapnya yang berhasil membuatku kesal. Lalu pandanganku tertuju pada pria paruh baya yang duduk di sebelah Alan sedang menatapku.

"Istri kamu sangat lucu, jadi ingat anak saya." kata pria itu. Aku menatap Alan bingung.

"Kenalkan, ini Pak Aji." ucap Alan. Aku tersenyum dan menangkup kedua tanganku.

"Ara." ucapku. Pria yang bernama pak Aji itu pun tersenyum dan mengangguk.

"Alan, kita kerumah paman Haikal dulu ya? Ara kangen Mereka." pintaku sambil menyetuh tangan Alan.

"Iya bawel." ucap Alan mencubit hidungku. Aku tersenyum bahagia. Sudah hampir satu tahun aku tidak bertemu dengan mereka. Semoga mereka baik-baik saja disana. Paman tidak pulang saat pernikahanku, karena dia sedang bertugas. Maklumlah, seorang dokter kan lumayan sibuk. Aku juga memakluminya.

Kini kami sudah keluar dari pesawat menuju tempat pengambilan barang. Untung saja bandara disini tidak selebar bandara soetta.

"Paman sudah menunggu kita didepan." ujar Alan. Aku sangat tekejut bercampur bahagia. Kami pun langsung beranjak keluar.

"Kak Ara... " teriak seseorang. Aku sangat mengenal suara itu. Benarkan, itu Rizka. Dia melambaikan tanganya. Aku tersenyum dan sedikit berlari menghampirinya.

"Rizka! Ya ampun rindunya." Aku langsung memeluknya.

"Rizka juga rindu kakak." serunya memelukku dengan erat.

"Denganku tidak rindu?" tanya seseorang. Siapa lagi kalau bukan si jahil Rizki. Ya, mereka memang kembar. Teuku Rizki Al-Farizzi dan Cut Rizka Ar-Syila. Nama yang indah bukan. Sama seperti mereka, si cantik dan si tampan.

"Rindu juga, apalagi sama kejahilan kamu." seruku juga memeluknya. Lalu aku melihat paman Haikal. Dia sedang menatapku.

"Ra, sehat?" sapa paman ku. Aku mengangguk dan berhambur memeluknya.

"Huh, masih saja manja. Sudah punya suami juga." ujar paman mengelus kepalaku.

"Bunda dan papa kamu sehat kan?" aku kembali mengangguk.

"Hey Lan, perdana main ke Aceh. Semoga menikmati suasana disini. Disini lumayan panas." ucap paman. Alan pun mencium tangan paman.

"Iya paman, Alan harap bisa betah disini." ucap Alan. Aku tersenyum mendengar itu. Lalu kami pun langsung beranjak masuk kedalam mobil. Suhu disini lumayan panas. Apalagi ini menjelang siang.

"Kak Ra, Rizka janji deh. Bakal ajak kakak keliling kota Banda Aceh. Kita bakal ngunjungin tempat-tempat bersejarah disini. Ada Museum Tsunami, Rumah Aceh, Kapal Apung dan yang paling utama itu Masjid Raya Baiturrahman. Terus kita nanti main kelaut ya? Oh iya kakak lama kan disini?" oceh Rizka dengan tangan tak lepas dari tanganku. Aku sangat senang, bisa melihat mereka lagi.

"Gak lama sih, cuma seminggu." ucapku menatap Alan yang sedang mengobrol dengan paman di depan. Ya, yang tepatnya saat ini aku diapit oleh si kembar.

"Oh, bisa dong jalan-jalan dulu. Jangan bilang kalian kesini cuma mau honeymoon?" tanyanya. Langsung saja aku menggeleng.

"Cie,,, pipinya merah gitu." ucap Rizka sambil menoel pipiku. Aku menggembungkan pipiku karena kesal.

"Jangan ganggu kakakku, dia masih kecil. Jadi gak akan tahu apa itu honeymoon." timpal Rizki semakin membuatku kesal.

"Enak saja, kalian tuh yang masih kecil. Anak kecil mah tahu apa cobak?" ucapku sangat kesal.

"Sudah, jangan ganggu kakak kalian. Kalau dia merajuk terus minta pulang kan repot." ucap paman ikut-ikutan mengejekku.

"Alan, belain dong" rengekku tak terima di pojokkan.

"Wah, sekarang ceritanya udah punya pembela nih." ucap Rizki menyenggol pundakku. Aku pun memukul lengannya.

"Ampun kak, ampun." ucapnya sambil tertawa.

"Kak Alan, kok mau sih nikah sama anak kecil?" tanya Rizka. Sepertinya sekarang aku akan menjadi bahan bullian.

"Ok, terserah kalian. Aku tidak dengar." ucapku sambil menutup telinga. Aku menatap Alan melalui cermin untuk meminta bantuan. Alan tersenyum dan menggeleng. Ck, kenapa Alan juga ikut-ikutan ngerjain aku sih.

"Ih jangan merajuk dong, sini deh aku peluk." ucap Rizka memelukku. Aku masih pura-pura merajuk.

"Ada syaratnya!" ucapku sambil menyilangkan tangan.

"Syarat, apa itu?" tanya Rizka masih setia memelukku. Aku tersenyum dan mulai mencari ide.

"Ah, besok kamu harus masakin masakan paling enak. Tidak ada penolakan." ucapku tersenyum jahil. Mana mungkin Rizka mau, dia kan paling anti dengan yang namanya dapur. Ya, walaupun aku juga tidak bisa masak.

"Ah, kalau ancamannya gitu mah gampang buat dia kak. Dia kan sekarang udah jago masak. Suruh aja dia manjat pohon kelapa, pasti bakal nolak." ujar Rizki. Aku tertawa mendengarnya. Tapi tunggu, apa dia bilang. Rizka sudah bisa masak? Wah, aku ketinggalan jauh sepertinya.

"Ih kiki, jangan macam-macam deh." ucap Rizka menatap Rizki tajam.

"Maaf deh kaka." ucap Rizki tersenyum jahil. Aku hanya bisa tertawa melihatnya.

"Sejak kapan kamu bisa masak?" tanyaku menatap Rizka. Lihat, dia sudah mulai memasang wajah sombongnya.

"Sejak aku lahir juga sudah ditakdirkan untuk pandai dalam segala hal. Jadi sedikit saja belajar, sudah pasti langsung jago." ucapnya begitu percaya diri.

"Paman, apa pas paman kecil dulu seperti mereka ya? Sombong." ucapku.

"Ya begitu lah, sebelas dua belas." ucap paman yang di sambut tawa oleh semua orang.

"Stop Alan! Jangan ketawa, kalau ketawa Ara gak akan mau bicara." ucapku mencubit lengannya. Alan meringis kesakitan. Syukurin.

"Ih jangan galak-galak dong sama suami. Lembut dikit napa. 'Alan sayang, jangan ketawa dong. Nanti gak Ara kasih kiss loh'. Gitu kan enak." ucap Rizki. Aku yang mendengarnya jadi geli sendiri.

"Ih, anak kecil jangan sok tahu." ucapku dengan kesal.

"Kami sudah dewasa kali, emang situ yang masih kecil." ucap mereka bersamaan.

'Ya allah, bisa gila kalau terus bersama mereka.'

Sesampainya di rumah, aku langsung berlari dan berhambur kepelukan tante Syila yang sudah menunggu kami didepan rumah.

"Rindunya." ucap tante memelukku dengan erat.

"Ara juga rindu tante." ucapku.

"Gimana? Udah ada kabar baik?" tanya tante Syila. Aku melepas pelukkanku dan menatapnya bingung.

"Ini, sudah ada belum?" tanya tante lagi sambil menyentuh perutku. Ah, aku ngerti sekarang. Aku melihat kebelakang. Mereka sudah mulai mendekat.

"Masih dalam proses." bisik ku. Tante pun tertawa mendengar ucapanku. Hihi, memang benar kok. Masih dalam proses. Semoga saja secepatnya Alan memberikan kepastian. Aku juga sudah tidak sabar untuk merasakan menjadi ibu hamil. Seperti apa ya rasanya?

"Eh, kok malah bengong. Ayok masuk, kamu pasti sudah lapar." ucap tante menarikku kedalam.

"Tahu aja tante mah." ucapku. Aku meletakkan tas milikku di sofa dan menyusul tante ke dapur.

"Masak apa sih, wangi banget tan?" tanyaku meneliti beberapa masakan yang ada di meja makan. Ada beberapa masakan yang tak pernah aku lihat.

"Ada asam pedas daging sapi, kalau orang sini bilang 'asam keueng', ada keumamah (ikan kayu) dan banyak lainnya." ucap tante begitu semangat. Aroma masakan pun mulai menyeruak masuk dalam hidungku.

"Hmmm... Ara jadi gak sabar pengen makan." ucapku menarik kursi. Ku absen satu persatu hidangan dimeja.

"Wah, udah stand by aja ni anak. Emang doyan masakan aceh?" tanya paman duduk di bangku utama.

"Jangan salah paman, Ara pemakan segala. Jadi semua bisa masuk. Makanya Alan tidak susah memberi dia makan." ucap Alan duduk di sebelahku. Aku hanya bisa tersenyum. Memang benar sih, aku bukan tipe pemilih makanan. Jadi semua bisa masuk. Kecuali yang berbau susu.

"Tapi ini tidak suka." ucapku sambil menunjuk teko berisi susu. Membayangkan saja aku sudah mual.

"Loh, susu kan sehat. Kalau hamil nanti harus minum loh." ucap tante. Ish, kenapa dari tadi semuanya bahas hamil sih? Aku menatap Alan disebelahku. Aku bisa melihat Alan hanya pura-pura tidak mendengar. Jahat sekali dia.

"Ya sudah, mari makan." ucap paman. Lalu kami pun makan dengan begitu tenang.

***

"Bagaimana, suka disini? Apa mau pulang?" tanya Alan saat kami sudah berada dikamar.

"Diamanapun Ara suka, asal ada Alan." ucapku memeluknya.

"Hmmm... Ya sudah, sana mandi. Setelah itu kita solat." ucap Alan mengecup kepalaku. Aku mengangguk dan langsung beranjak menuju kamar mandi.

Setelah selesai solat, aku langsung mejatuhkan tubuhku diatas kasur. Aku sangat lelah.

"Istirahat, sore nanti kita akan jalan-jalan." ucap Alan duduk di sebelahku.

"Kemana?" tanyaku kembali bangun.

"Tidak tahu, paman akan mengajak kita keliling sebentar." ucap Alan. Eh, malah dia yang berbaring.

"Hmmm... Pasti seru." ucapku berbaring memeluk Alan. Ku letakkan kepalaku didada nya. Suara jantung Alan terdengar begitu jelas.

"Kok detak jantung Alan kenceng banget sih?" tanyaku sambil menatap wajahnya.

"Karena ada kamu, makanya jantungku berdetak lebih kencang." ucap Alan memejamkan matanya. Aku memainkan dagu Alan dengan jariku.

"Jantung Ara juga selalu berdetak kencang saat kita sedekat ini. Apa semua orang juga seperti itu ya?" tanyaku lagi. Alan kembali membuka matanya.

"Aku tidak tahu, karena aku tidak pernah sedekat ini dengan orang lain." ucap Alan. Aku tersenyum malu. Sudah jelas dong aku adalah perempuan pertama yang begitu dekat dengannya, aku kan istri Alan.

"Ara mau kita seperti ini terus." ucapku menenggelamkan wajahku di dadanya. Suara detak jantung Alan bagaikan alunan musik. Terdengar sangat merdu. Aku sangat menyukainya.

"Alan." panggilku saat tak terdengar suaranya lagi.

"Hmmm... " gumamnya.

"Alan, Ara mau tanya sesuatu. Tapi jangan marah." ucapku memeluknya dengan erat.

"Apa itu?" tanyanya mengusap kepalaku.

"Em, apa Alan mau punya anak dengan Ara?" tanyaku sambil mengigit bibir. Aku sangat takut jika Alan akan marah lagi. Aku merasakan Alan mulai bergerak. Aku mengangkat kepalaku. Ku tatap wajah tampannya untuk menunggu jawaban.

"Ara." panggilnya. Aku mengangguk sambil terus menatapnya.

"Kamu adalah istriku, jadi sudah pasti aku ingin memiliki anak bersamamu. Memangnya kamu pikir aku mau punya anak dengan siapa?" tanyanya sambil mencubit kedua pipiku.

"Kalau begitu ayok kita buat anak. Ara sudah siap kok." ucapku dengan yakin. Namun aku sangat terkejut karena mendapatkan toyoran dari Alan.

"Dasar bodoh, kamu kira semudah itu. Apa kamu benar-benar sudah siap? Cobak ingat lagi pelajaran biologi, kamu sebagai wanita harus menanggung apa saja?" ucapnya turun dari ranjang. Memangnya apa? Bukankah jika ingin memiliki anak, hanya tinggal tidur saja. Memang sih aku kurang fokus saat belajar biologi. Ih, kenapa Alan malah kasih soal ujian sih?

"Alan, memangnya susah ya?" tanyaku menatap punggung Alan.

"Makanya kalau pelajaran biologi dengerin dengan jelas. Jangan menghayal." ucap Alan kembali duduk di sebelahku. Hah, kok Alan bisa tahu aku sering menghayal saat pelajaran biologi. Jangan-jangan dari dulu Alan sering perhatiin aku lagi. Huaaaaaaa... Senangnya diperhatikan Alan. Kenapa aku tidak pernah menyadarinya?

"Cie, jadi dari dulu Alan perhatiin Ara ya? Kok Ara gak tahu ya?" tanyaku sambil tersenyum senang.

"Karena kamu tidak peka." ucapnya kembali berbaring. Aku mengubah posisi tidurku menjadi tengkurap. Kedua tangan kegunaan untuk menopang daguku. Aku menatap wajah Alan lekat-lekat. Sungguh sempurna ciptaanmu ya allah, kau menciptakan hidung dan mata yang begitu indah. Pahatan yang begitu sempurna, dengan rahang yang begitu tegas.

"Hey, kenapa menatapku seperti itu?" lamunan ku buyar seketika.

"Menikmati ciptaan allah yang begitu sempurna. Ara sangat bersyukur bisa mendapatkan suami yang tampan dan baik seperti Alan. Ara bisa terus manja, bisa ngerjain Alan terus. Pokoknya Ara bahagia." ucapku sambil tersenyum. Aku melihat Alan juga tersenyum padaku. Lalu ia menepuk dadanya. Aku menatapnya bingung.

"Tidur lagi disini." ucapnya, dengan semangat aku menuruti keinginan Alan. Aku juga sangat menyukai tidur di dada Alan. Selain hangat, juga membuat aku cepat tidur. Alan memelukku dan mengecup kepalaku beberapa kali.

"Aku juga sangat beruntung dan bersyukur bisa mendapatkan istri cantik dan pintar seperti kamu. Walaupun lebih banyak manjanya." ucapnya. Ku tarik tangan sebelahnya dan ku letakkan di pipiku.

"Alan, katakan I love you." pintaku. Aku ingin mendengarnya lagi.

"I love you my wife." ucapnya yang berhasil membuat jantungku semakin berdetak kencang.

"Lagi." pintaku lagi. Dengan senang hati Alan mengatakannya. Aku sangat senang karena Alan mau menuruti keinginanku. Aku meminta Alan untuk terus mengatakan itu sampai aku benar-benar tertidur.

1
Lazna El Hanan Az-zarkasyi
Luar biasa
Lazna El Hanan Az-zarkasyi
lebih suka papa Arnold dari pada arham, Arnold aja masih bisa nerima Alan padahal dia jelas di selingkuhin, sampe hamil pula, lah si arham dari jaman dulu pikirannya cetek, selalu gitu, berarti dia gak bisa move on
Lazna El Hanan Az-zarkasyi
semua penderitaan (Dara, Nisa, Hilda, sama mama kandung nya Alan) titiknya ada karena si Bayu
Ayu galih wulandari
Semangat & sukses ya kak...👍👍👍😍😍😍
Ayu galih wulandari
Selamat kak author cerita ini sunggh2 luar biasa ...maafff kaeuun daku baru bacavlg ...bokehndoong request untk kelanjutan inincerita anak2 mereka sampai besar ...🤗🤗😘😘😘😘 mkc kak 🙏🏼🙏🏼
Ayu galih wulandari
Jafi penadaran aqu thor lanjuut dech
Ayu galih wulandari
Bahagua sll Ara ya bumil lagi ,bahagua sll Arlan yg mau jd Abi 😘😘😘😘
Ayu galih wulandari
Visualnya keyeen keyeen...mic kak author😘😘😘😘😘
Ayu galih wulandari
Aqu sedih banget pas part ini 😔😔
Ayu galih wulandari
Bagus banget alur ceritanya kak author😍😍😍
Ayu galih wulandari
MadyaaALLOH Vidual Alan sm Ara daoat cucok syantik wajah lembut mata teduh ,senyumannya semua indah seperti bidadari ,Alan yg cool ,tampan , wajahnya jg teduh banget..😍😍😍😍😍
Ayu galih wulandari
Lanjuuut kak 😍😍😍
Ayu galih wulandari
Bagus. banget ceritanya dr awal season ke 1 spai season ke 2😍😍😍😍
Ayu galih wulandari
Teadisi turun temurun terkadang susah di terima krn sdh ada dr dl ,semoga Alan & Ara sll bersama .😍😍😍😍
Ayu galih wulandari
Lanjuuut kak...maafff aqu baru merapat lagii...hpku agak eror InShaaALLOH skrg & setrusnya baik baik aja ..😘😘😘
Ayu galih wulandari
Bagus banget alur ceritanya dr season ke 1 sampai season ke 2 ...SEMANGAT KAK AUTHOR..😘😘😘😘😘
Hr sasuwe
👍🏻👍🏻👍🏻
My dream
gercep juga kak' author sat set , agak laen emang 🤭😁
My dream
next lanjuuut.... 💪 kak' author ❤️
Berkah Kafa Jaya
Alur Ceritanya banyak kejutan tdk Horor🤩🌟🌟🌟🤩menghibur Mak2 yg lagi Galau dari pd Ngrumpiin Org mending gabung ma Kak Thor desih nurani
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!