NovelToon NovelToon
Terpaksa Berbagi Ranjang

Terpaksa Berbagi Ranjang

Status: tamat
Genre:Patahhati / Spiritual / Poligami / Konflik Rumah Tangga-Konflik Etika / Cintapertama / Tamat
Popularitas:425.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nyai Ambu

Daini Hanindiya Putri Sadikin : "Aku tiba-tiba menjadi orang ketiga. Sungguh, ini bukan keinginanku."

Zulfikar Saga Antasena : "Tak pernah terbesit di benakku keinginan untuk mendua. Wanita yang kucintai hanya satu, yaitu ... istriku. Semua ini terjadi di luar kehendakku."

Dewi Laksmi : "Aku akhirnya menerima dia sebagai maduku. Sebenarnya, aku tidak mau dimadu, tapi ... aku terpaksa."

Daini, Zulfikar, Dewi : "Kami ... TERPAKSA BERBAGI RANJANG."

Author : "Siksa derita dan seribu bahagia terpendam dalam sebuah misteri cinta. Banyak manusia yang terbuai oleh cinta, tapi tidak tahu hakikatnya cinta. Terkadang cinta laksana proklamasi, bisa dirasakan dengan mendalam dan seksama, namun dapat hancur dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Tidak ada yang memiliki porsi lebih besar dalam hal menjaga hati, karena setiap pasangan memiliki peran yang sama untuk saling menjaga dan saling percaya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyai Ambu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Janji Pertemuan

Daini Hanindiya Putra Sadikin

"Pak ... huuu ...."

Dia benar-benar pergi, meninggalkanku dalam kesendirian setelah menuntaskan syahwatnya. Lalu dengan bodohnya aku malah memanggil namanya serta menangisi kepergiannya. Aku sebenarnya tidak berharap dia kembali, aku hanya ingin dia menoleh, cukup itu saja.

Lalu kenapa memangnya kalau dia tak menoleh? Kenapa aku melankolis seperti ini? Ada apa dengan hatiku?

Ada perasaan sakit saat dia meninggalkanku di saat tubuhku masih merasakan kegilaan dan kehangatannya. Untuk beberapa saat aku hanya mampu menatap pintu kamar dengan deraian air mata.

Selain pada-Nya, pada siapa lagi aku mengeluhkan semua ini?

Ingin rasanya aku cerita pada ummi atau abah, tapi aku tidak ingin membebani mereka. Bicara pada Putra juga tidak mungkin karena ia sedang mondok. Jangan sampai belajarnya terganggu gara-gara aku.

Aku menatap langit-langit dengan perasaan kalut. Aku ingin cerita pada kak Listi, tapi aku takut dia salah faham lalu tidak ingin menjadi temanku lagi. Di samping tempat tidur king size ini ada cermin besar, aku baru berani menatap cermin itu saat Pak Zulfikar sudah pergi.

Tecermin dengan jelas betapa menyedihkannya aku saat ini. Aku terbaring tak berdaya, tubuhku dihiasi jejak-jejak itu, mata sembab, dan bibirku merah sekali. Airmataku terus menetes. Semenyakitkan ini ternyata menjadi kupu-kupu malam untuk suamiku sendiri. Semenyakitkan ini ternyata bercinta dengan pria beristri.

"Mas Zul ...," gumamku.

Bolehkah aku memanggilnya seperti itu?

Tidak, tentu saja tidak boleh. Ini bukan masalah mudah atau tidaknya aku mengatakan itu. Tapi ini tentang hati.

Sebenarnya aku ingin segera mandi untuk membersihkan diri. Tapi badan ini teramat lelah. Dia perkasa sekali. Aku sampai berpikir kalau dia meminum obat kuat. Jika lebih lama sedikit lagi aku yakin akan pingsan.

Pukul dua malam, aku baru bisa beranjak dari tempat tidur, terhuyung-huyung menuju kamar mandi dalam kesendirian ini. Unit sebesar ini membuatku merasa kesepian. Ingin segera pergi dari sini tapi aku takut dicari dan disusul lagi.

Apa aku mengundurkan diri saja? Aku dilema.

Aku berendam di dalam bathup dan kembali menangis. Entah berapa lama aku beredam, hingga airnya berubah menjadi dingin. Aku bahkan baru beranjak setelah tubuhku menggigil kedinginan.

.

Di dalam doa aku memohon ....

"Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu agar memperoleh kebaikan, rahmat, pertolongan, cahaya, berkah, dan petunjuk-Mu di hari ini."

"Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kebaikan hari ini, kebaikan apa yang ada di dalamnya, kebaikan hari sebelumnya, dan kebaikan hari setelahnya. Dan Aku berlindung kepada-Mu dari keburukan hari ini, keburukan apa yang ada di dalamnya, keburukan hari sebelumnya, dan keburukan hari sesudahnya."

"Ya Allah, jika memang dia baik untukku maka dekatkanlah. Jika ini takdir terbaik, semoga Engkau memudahkan untuk kami bersatu, meski sulit jalan dan aral-rintangnya.

"Dan jika tidak, maka jauhkanlah dia dariku, bukakanlah pintu hatinya untuk segera melepaskanku, lalu ganti dengan yang lebih baik darinya. Semoga Engkau menjagaku dari rasa kecewa dan putus asa."

"Dan aku memohon pada-Mu untuk melimpahkan kebaikan, kesehatan dan keberkahan untuk bu Dewi. Ya Rabbi, tolong jangan biarkan bu Dewi tersakiti gara-gara kehadiranku."

"Aamiin."

Lalu memanjatkan doa-doa lain untuk kebaikanku di dunia maupun di akhirat. Kemudian berdoa untuk ummi, abah dan putra. Tak lupa berdoa untuk kebaikan bagi seluruh kaum muslimin dan muslimat.

Selesai shalat malam, aku kembali merebahkan diri. Lalu menatap jas kerjanya yang tertinggal atau mungkin sengaja ditinggal.

Mungkinkah ada baju-baju miliknya di lemari itu?

Aku menatap sebuah lemari besar yang dibiarkan terkunci.

"Huuuh ...."

Aku harus kuat, aku tidak boleh buang-buang waktu dengan terus melamun dan memikirkan masalah ini. Aku tidak akan membiarkan hatiku dipenuh dengan kesedihan yang akhirnya membuatku jenuh dan tak semangat dalam menjalani hidup.

Aku akan memasrahkan semua yang kualami kepada-Nya dengan usaha, lantunan doa, dan memohon ampunan. Lalu biarlah takdir-Nya yang menjawab kebimbanganku dan memberikan jalan keluarnya.

Tugasku hanyalah terus meminta yang terbaik dari-Nya, meminta agar aku tak salah menafsirkan rasa, dan meminta agar aku tak berakhir dengan rasa kecewa, luka, dan nestapa yang berkepanjangan hingga melalaikanku dari beribadah kepada-Mu.

...***...

Dewi Laksmi

Walau kesal, tapi aku senang karena dia akhirnya pulang juga. Untung saja aku pasang alarm. Jadi bisa siap-siap dulu. Dia sudah berada di kamarku. Sedang mengganti baju, memunggungiku. Aku pura-pura tidur. Ada yang sedikit aneh. Rambutnya terlihat basah.

Aku memandangi tubuhnya. Punggung itu benar-benar sempurna. Hingga aku tak tahan untuk tidak mendekat. Aku bangun, berjalan pelan, dan memeluknya dari belakang.

"Hai cinta," sapanya. Dia lantas berbalik membalas pelukanku. Dada polosnya wangi sabun mandi.

"Mas mandi dulu sebelum pulang," terangnya. Padahal aku tidak menanyakan masalah itu.

"Mandi semalam ini? Tak biasanya," kataku. Masih bergelayut di dadanya.

"Emm, gak masalah, kan?" katanya sambil menangkup pipiku.

"Gak kok gak masalah, Mas." Aku kembali ke tempat tidur, membuka piyamaku yang di dalamya sudah terdapat baju seksi. Lalu terbaring dan menggodanya.

"Wah, cantik," pujinya. Hanya tersenyum. Dan aku merasa senyumannya begitu hambar.

"Mas mau langsung tidur?"

"Iya cinta, Mas lelah." Untung saja obat dari paklik belum diseduh. Mungkin untuk lain kali saja.

"Boleh, tapi aku mau cium kamu dulu Mas, mau dua menit," pintaku. Dia hanya tersenyum sambil mengangguk. Masuk ke dalam selimutku setelah memakai piyama.

Aku segera memagutnya sebelum dia sempat mengatakan apapun. Tak peduli seberapa besar rasa kesal dan kecewaku, aku tetap mencintai, merindukan, dan mendamba tubuhnya.

"Emmh, cinta, kenapa kasar sekali?" protesnya saat aku menjeda aktivitas ini.

"Aku gemas Mas," jawabku. Lalu menyerangnya lagi. Dia pasrah, tak menolak, pun tak melakukan sambutan yang berarti. Aku jadi merasa hanya menikmatinya seorang diri. Tapi biarlah, toh aku sangat menyukainya. Dua menit berlalu.

"Uhhuk, uhhuk," Mas Zul batuk-batuk sambil mengusap bibirnya. Aku tersenyum puas.

"Nakal," katanya. Mencubit daguku, lalu memelukku.

"Tidur yuk!" ajaknya.

"Ya Mas, aku juga kebetulan sudah ngantuk berat. Oiya Mas, besok aku ikut ke kantor ya."

"Untuk?" Matanya sudah terpejam.

"Mau bantuin teman isi survey Mas, dia kuliah lagi ambil S3. Dulu, saat aku S2 dia pernah bantuin aku juga. Ya itung-itung balas jasa gitu Mas, boleh 'kan?"

"Oh, boleh dong. Apa sih yang nggak boleh buat kamu?" katanya.

"Surveynya sudah ditentukan Mas. Karena targetnya layanan masyarakat, jadi sampelnya divisi mutu."

"Oh, divisi mu --- a-apa?! Divisi mutu?" Dia tiba-tiba kaget, bahkan matanyapun sampai terjaga.

"Ya, Mas. Memanganya kenapa? Gak boleh?"

"Bo-boleh, kok."

"Nanti aku minta satu orang dari divisi mutu untuk diwawancara." Padahal, ini hanya akal-akalanku saja untuk bertemu dengan wanita itu. Mas Zul menghela napas.

"Nanti kamu koordinasi saja sama bu Caca manajer divisi mutu," katanya. Lalu memejamkan mata kembali.

"Oke, tapi nanti aku wawancaranya di ruangan kamu, boleh 'kan Mas?"

"Boleh," jawabnya.

"Terima kasih suamiku," aku mengecup kedua matanya. Lantas masuk ke dalam dekapannya.

...***...

"Bang Radit, aku mau ke kantor bareng Dewi, kamu antar ya." Aku lagi sarapan. Mas Zul sibuk kasih intruksi pada Radit. Aku lebih senang memanggilnya Radit saja.

"Bapak gak bawa mobil sendiri?"

"Hari ini tidak dulu, Bang Radit gak sibuk, kan?"

"Gak Pak. Hari ini tugas saya hanya mandorin ngisi kolam renang dengan air gunung. Itu juga mobil tangki airnya baru bisa kesini setelah Dzuhur."

"Ya sudah, nanti Bang Radit pulang lagi. Ke kantor lagi pas jemput Dewi."

"Bu Dewi mau sampai jam berapa di kantornya?"

"Aku gak tahu, nanti dikabarin."

"Terus Bapak mau pulang jam berapa?"

"Aku pulang naik taksi saja."

Naik taksi? Aku menautkan alis. Tak biasanya mas Zul mau naik taksi.

"Nanti saya jemput lagi Pak."

"Tidak perlu," tambah Mas Zul.

Ruang makan dan ruangan tempat mas Zul dan Radit mengobrol letaknya berdampinghan dan hanya disekat oleh partisi dengan desain terbuka, jadi pembicaraan mereka terdengar jelas.

.

Sepanjang perjalanan menuju kantor, kita hanya diam-diaman. Bahkan Raditpun tidak menyalakan musik ataupun radio. Mas Zul sering melamun. Ia menatap keluar, melihat laju lalu-lintas yang pagi ini terlihat ramai lancar.

Aku dan Mas Zul duduk di kursi belakang, aku menyandarkan kepala di bahu Mas Zul sambil melingkarkan tangan di lengannya. Mas Zul membelai rambutku. Sesekali ia juga mencium puncak kepalaku. Namun setelahnya, ia kembali menatap jalanan dengan tatapan hampa.

...***...

Akhirnya tiba kita di kantor. Seluruh karyawan dan staf menundukkan kepala padaku dan pada mas Zul. Di sini aku merasa bangga. Mas Zul menuntun tanganku seraya melemparkan senyum. Karena tiba-tiba hujan, pagi ini apel pagi yang biasanya dilaksanakan di ruangan terbuka ditiadakan untuk sementara waktu

"Serasi ya mereka."

"Gila, istrinya cantik banget."

"Kaya pasangan selebriti ya?"

Seperti itulah mereka memujiku dan mas Zulfikar. Ya, dari dulu kita memang sering disebut serasi.

"Mau dibawakan sarapan apa, Pak? Oiya Pak, rapat pertama diundur jadi jam sembilan," jelas Tania sambil tersenyum dan membungkukkan badan padaku yang saat ini tengah sibuk menyiapkan formulir wawancara.

"Aku sudah sarapan, tak perlu dibawakan apapun. Cinta, apa kamu ada yang perlu disampaikan pada Nia? Takutnya mau sarapan lagi," kata mas Zul sambil memelukku. Seolah ingin menunjukkan pada Tania jika dia sangat mencintaiku.

"Aku juga sudah sarapan, emm tapi kalau aku mau minta bantuan yang lain boleh gak?"

"Boleh," jawab Tania.

"Tolong kamu ke divisi mutu, terus kamu suruh staf mutu yang bernama Daini untuk ke ruangan ini," titahku.

"Apa?!" kata mas Zul dan Tania serempak. Mas Zul terlihat kaget.

"Maaf, untuk kepentingan apa ya Bu?" tanya Tania. Belum juga aku menjawab, mas Zul menyela.

"Cinta, apa kamu memanggilnya untuk wawancara itu? Maaf cinta, untuk masalah ini kamu tidak bisa menugaskan pada Nia, kamu harus izin dulu sama manajernya." Mas Zul menatapku, Tania menunduk.

"Mas, memangnya gak bisa langsung, lagipula wawancaranya gak lama-lama kok, paling juga sejam." Aku jadi kesal. Moodku mode jutek.

"Cinta."

Mas Zul memegang tanganku. Aku cemberut. Dia dan wanita itu benar-benar mencurigakan. Hari ini, aku harus memperkuat bukti foto dari Rani dan keterangan bu kost dengan bertemu Daini secara langsung.

"Semua ada birokrasinya cinta. Ya, kamu memang istri Mas, divisi mutu juga bisa memaklumi kalaupun kamu tidak izin pada bu Caca. Tapi, disini aku jadi role model cinta, apa yang kita lakukan pasti jadi sorotan. Jika kamu melanggar aturannya, ditakutkan mereka juga me ---."

"Oke! Oke! Fine! Aku mau izin dulu sama bu Caca!" teriakku sampai-sampai mas Zul dan Tania teperanjat.

"Nia, kamu keluar saja," usir mas Zul pada Tania.

"Ba-baik, Pak." Tania berbalik cepat meninggalkan aku dan mas Zul.

"Cinta, kamu kenapasih? Kan dari semalam Mas sudah bilang kami harus koordinasi dulu sama bu Caca."

"Iya Mas! Iya, aku faham!" Aku beranjak menuju meja telepon paralel.

"Cinta, jangan telepon di jam segini. Biasanya mereka lagi briefing dulu. Nanti jam setengah sembilan ya." Menahan tanganku yang baru saja memegang telepon.

"Mas, aku mau coba dulu. Kalau lagi sibuk. Pasti tak diangkat."

"Hmm, ya sudah silahkan cinta, tapi kalau Han --- maksudku kalau Daini tidak bisa, mungkin kamu akan melakukan wawancara dengan staf yang lain."

"Tidak Mas, aku tidak mau yang lain, pokoknya mau dia, mau staf atas nama Daini Hanindiya Putri Sadikin," tegasku.

"K-kamu? Dari mana kamu tahu nama lengkapnya?" Ups, aku keceplosan, aku tahu nama panjang dia dari bu kost.

"Terus Mas juga dari mana tahu nama panjang dia?!" Serius, emosiku mulai tak terkendali.

"Dia karyawanku, kebetulan aku hafal," jelasnya sambil duduk di kursi kerjanya.

"Wow, luarrrr biasa, kamu hafal nama panjang seluruh karyawan?! Ck ck ck."

'Prok, prok, prok.' Aku bahkan tepung tangan karena terpukau.

"Cukup Wi, kamu tidak perlu berlebihan seperti itu."

"Sepertinya yang berlebihan itu kamu, Mas. Berlebihan dalam menghafal nama karyawan," sindirku. Mas Zul tak menjawab, malah sibuk memeriksa berkas.

Aku lanjut menelepon divisi mutu. Langsung menelepon ke ruangan bu Caca.

"Ya, hallo, selamat pagi, dengan Bu Caca, divisi mutu."

"Aku Dewi, istrinya Pak Zul."

"Oh, Bu Dewi. Ada yang bisa saya bantu, Bu?Ya ampun, sebuah penghargaan bisa mendapat telepon dari Bu Dewi sepagi ini." Aku ternyata famous.

"Mohon maaf menganggu waktu Bu Caca. Aku lagi bantuin teman Bu, dia lagi nyusun disertasi, mau wawancarai staf Ibu, boleh?"

"Emm, boleh Bu, silahkan."

"Aku mau mewawancara bu Daini? Apa boleh?"

"Daini? Oh maaf Bu, kebetulan hari ini dia tidak masuk."

"Tidak masuk? Kenapa?"

"Daini sakit, Bu. Tadi surat sakitnya diantar ojek online."

"Sakit, yah sayang sekali."

Aku sengaja bicara keras. Aku penasaran dengan respon mas Zul. Benar saja, saat kulirik, mas Zul terlihat kaget dan menghentikan pekerjaannya. Dia berhenti mengetik. Mas Zul langsung berdiri, membawa ponselnya dan menjauh.

"Hallo." Bu Caca memanggilku.

"Maaf Bu, nanti aku telepon lagi. Terima kasih."

"Sama-sa ---." Aku menutup panggilan.

Segera mengendap-endap mengikuti mas Zul, dan entah kenapa jantungku jadi berdebar. Aku bersembunyi di balik pintu. Dia menelepon di dalam kamar. Mungkin mas Zul lupa, pintu kamarnya terbuka sebagian.

"Kamu sakit apa? Kenapa tidak mengabariku?"

Deg, deg, jantungku bergejolak. Dada ini terasa panas. Aku memegang dadaku. Tanganku gemetar.

"Maaf, mungkin kamu sakit gara-gara ulahku. Semalam aku hilang kendali. Maaf jika menyakitimu lalu meninggalkanmu begitu saja. Aku minta maaf ya."

Apa itu? Apa yang dibicarakan mas Zul? Siapa yang dia telepon? Apakah wanita itu?

Walau badanku terasa lemas. Aku memberanikan diri untuk mendekati mas Zul. Posisi mas Zul membelakangiku.

"Pulang kerja aku akan menemui kamu."

"Ehhem," aku berdeham.

'PRAK.'

Karena kaget mas Zul sampai menjatuhkan ponselnya. Namun ponselnya masih menyala dan aktif. Panggilan itupun belum berakhir. Nama yang tertulis di sana adalah ....

Deg, jantungku tak bisa tenang.

"Bu Daini Divisi Mutu."

"De-Dewi?" Mas Zul mematung. Wajahnya memucat. Dengan napas memburu aku beteriak.

"Apa hubungan kamu dengan dia Mas?!" Tadinya aku akan pura-pura dulu. Namun bukti ini tak bisa kubiarkan begitu saja.

"Wi, te-tenang du ---."

"Jawab aku Mas! Jawab! Apa hubungan kamu dengan wanita itu?! Kalau kamu tidak jujur, aku akan melaporkan semuanya pada papa kamu!" ancamku sambil meraih ponsel mas Zul yang tadi jatuh.

"Dan kamu wanita munafik! Jangan harap hidup kamu bisa tenang setelah mengganggu rumah tanggaku! Kamu akan menyesal tujuh turunan!" teriakku.

"Dewi, cukup! Jaga ucapan kamu!"

Mas Zul merebut ponselnya dan menutup panggilan. Lalu menarik tanganku dan memelukku erat hingga aku tak bisa begerak sedikitpun.

"Huuu huuu, siapa wanita itu Mas?! Siapaaa?!"

"Dewi, kamu harus tenang. Setelah kamu tenang, Mas akan jelaskan."

"Huuu," aku memukuli bahu Mas Zul. Ini terasa menyakitkan. Sakit sekali.

"Wi, ceritanya sangat panjang. Bisakah kamu tenang dulu?"

"Huuu, bagaimana caranya aku bisa tenang Mas?!"

"Mas janji akan jujur, tapi masalah ini harus kita rahasiakan dari siapapun. Ini rumit, Wi. Tadinya, Mas mau jujur sama kamu setelah polisi selesai melakukan penyelidikan. Masalah ini harus dibicarakan dengan pengacara juga."

"Mas, aku benar-benar tak mengerti maksud kamu! Huuu, huuks."

"Begini saja, Mas akan panggilkan polisi dan pengacara ke sini agar kamu tidak salah faham."

"Baik, cepat panggilkan mereka! Tapi aku ingin agar wanita itu juga hadir di tempat ini!"

"Wi, dia sedang sa ---."

"Mas! Seperhatian itukah kamu sama dia?! Kalau dia tidak bisa kesini, berarti kita semua yang harus menemuinya. Kita pergi saja ke rumahnya!"

"Wi, tapikan dia sa ---."

"Cukup Mas! Oke dia sakit! Apa Mas tak sadar kalau aku juga sakit?!" selaku. Sambil memukul dadaku berulang-ulang.

"Wi, stop!" Dia menahan tanganku.

"Pokoknya aku ingin bertemu dia sekarang juga! Kalau Mas tak mengikuti keinginanku, jangan salahkan aku kalau aku mengatakan semua ini pada papa dan mamamu!" Aku kembali mengancamnya.

Mas Zulfikar menghela napas, wajahnya mendadak sendu. Ia terlihat sedih dan bingung.

"Bagaimana Mas? Setuju?"

"Baiklah, a-aku setuju."

...~Tbc~...

1
Dy Idtoudiah
ditunggu karya berikutnya
Khairul Azam
yg menang laki lakinya celap celup Sana sini
kimiatie
hanin pun sentiasa kalah...sekejap mahu sekejap teruskan lepas tu rasa sakit hati....rumit
nyai ambu: maksiiih
total 1 replies
Dy Idtoudiah
love you too 🤣
kimiatie
demi keselamatan Kandungannya...bagus hanin resign
Dy Idtoudiah
seruuu
Dy Idtoudiah
hamiiil
Dia Amalia
cerita nya mengandung bawang 😅😭😭😭😭
kimiatie
kenapa pak Zul egois...yang susah hanin
Pipin Nurma
menurut saya sangat bagus ..
nit_nut
ceritanya menyentuh hati..🥲
indah77
kuwangen
indah77
aaaaghhh bahagianya neng dai ..
apakah a' abil dan neng listrik sudah punya momongan???
kistatik
trimakasih Nyai vote nya sudah aku kasih ke Serena
kistatik
satu cangkir kopi buat Pakzul, senangnya punya banyak anak bahagia banget rasanya. 😍😍😍
zainiyah hamid
kopi panas buat pak Zul ...
zainiyah hamid
rindu berat SM pak Zul.....
rindu manja nya,rindu tegas & galak nya makasih nyai...udah mengobati kerinduan ini 🤭🤭🤭🤭
Annie Soe..
Rasanya ga rela dah tamat deh,,
Aku msh ter-hanin2 & ter-listi2.
Keknya seru Listi di bikin episode tersendiri.
Tengkyu tuk karya nyai yg wuapik ini.
Bukan skedar halu tp banyak pembelajaran yg ga menggurui dlm bersikap sesuai keimanan kita..
lav yu thor, Semangaattt..
nyai ambu: alhamdulillaah, terima kasih Kak🙏🙏. salam kenal🥰🥰🥰
total 1 replies
Fiani Arifin Arifin
aku baca semua. novel nyai semuanya bagus dan menarik plus seru di hati bangetttt
nyai ambu: terima kasih kak🥰🥰🥰
total 1 replies
Quinna Salsabilla
😭😭😭 sbnr na ga rela tbr hari ditamatkan,,,, tp sukses sll buat nyai baik itu di dunia nyata maupun di dunia perhaluan 😘😘🤗🤗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!