Bagai tersambar petir, saat Marinka tahu dan harus menyaksikan suami yang baru dia nikahi selama 3 bulan, memutuskan menikah kembali secara diam-diam. Tidak ada yang tahu seperti apa rasa sakit yang Marinka rasakan saat ini, pria yang dicintainya sejak lama, sudah bermain api dibelakangnya.
Marinka harus menerima kenyataan pahit, saat tahu gadis yang dinikahi suaminya adalah gadis yang dia kenal, bahkan mereka dengan tega merebut ranjangnya agar bisa menyingkirkan Marinka dari hidup mereka.
Akankah Marinka menyerah? atau Marinka akan bertahan demi pria yang dicintainya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neti Jalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.26. Fitting Baju Pengantin
"Kita mau kemana bang?" tanya Marinka.
"Fitting baju pengantin. Akhir pekan kita akan menikah, jadi harus segera dilihat kecocokkan pakaian."
"Kenapa harus pakai fitting baju segala? kita menikah secara sederhana saja, kan yang penting sah nya itu bang?"
"Ini kemauan Papa, Mama, kita tidak bisa menolaknya."
"Baiklah, aku nurut saja kalau begitu. Paling tidak saat ditanya malaikat nanti, aku pernah menikah secara meriah,"
Ezra terkekeh mendengar ucapan Marinka. Pria itu membelokkan mobilnya saat tiba di salah satu WO yang sudah dia sewa.
"Woaahhh...tempatnya mewah sekali, gaun pengantinnya juga sangat cantik-cantik," ujar Marinka saat mulai memasuki ruangan yang dipenuhi puluhan jenis baju pengantin.
"Selamat datang Tuan Muda, baju pengantin anda ada diatas, mari saya antar."
Salah seorang karyawan mengantar Ezra dan Marinka naik keatas, suara bisik-bisik dari para karyawan masih bisa Ezra dan Marinka dengar saat mereka memuji bahwa keduanya merupakan pasangan yang sempurna.
"Hey, Zra. datang juga akhirnya," ujar Yuanita sembari mencium pipi kanan dan kiri sahabatnya itu.
"Ka, kenalin Yuanita, dia sahabat lamaku waktu kuliah di Australia."
"Marinka,"
Marinka mengulurkan tangannya, sembari memasang senyum terbaiknya.
"Yuanita." sang WO menyambut uluran tangan itu dengan hangat.
"Jadi ini calon istri 6 bulan loe itu? gila, mending ini kemana-mana kali Zra. Wanita ini sangat sempurna, selain cantik kelihatannya dia juga tulus," bisik Yuanita.
"Berisik! urus aja tugas loe,"
Yuanita mencebikkan bibirnya, dan kembali tersenyum saat melihat Marinka yang seolah kebingungan.
"Hehehe, maaf kebiasaan lama. Kalau ketemu kunyuk satu ini, bawaannya pengen bisik-bisik," ucap Yuanita.
"Tidak masalah kak."
"Oke, yuk kita langsung aja keruang ganti?"
"Emm." Marinka mengangguk kemudian masuk lebih dulu.
"Gue pastiin loe akan nyesel kalau buang dia setelah 6 bulan. Gadis sempurna kayak dia, banyak banget yang mau mungut,"
"Berisik!"
Yuanita lagi-lagi mencibirkan bibirnya semonyong mungkin. Yuanita kemudian masuk kedalam ruang ganti, disana sudah ada dua buah pakaian yang akan Marinka gunakan saat Ijab dan juga resepsi pernikahan.
"Kak. Apa ini baju yang akan aku kenakan nanti?"
"Betul. Bagus nggak?"
"Ini luar biasa bagusnya kak. Kalau boleh tahu berapa harganya?"
"1,5 satu baju."
"150 juta?"
"1,5 milyar."
"Ap-Apa? apa bang Ezra sekaya itu? kenapa beli baju mahal-mahal untuk nikah selama..."
Kata-Kata Marinka terhenti karena takut Yuanita tidak tahu tentang pernikahan kontraknya.
"Kakak udah tahu kok. Ezra sudah cerita semuanya."
"Aku beruntung bertemu orang sebaik bang Ezra, jadi aku tidak keberatan membantu dia,"
"Kamu orang baik Marinka. Seharusnya Ezra tidak perlu membuat pernikahan kontrak yang konyol begitu."
"Ya nggak bisa gitu juga kak, dia kan punya orang yang dia cintai."
"Aku lebih suka kamu yang jadi istrinya untuk seumur hidup."
Marinka terkekeh sembari mengibaskan tangannya.
"Yuk, kita coba gaunnya."
"Aku jadi takut nyobain kak, baju semahal dan semewah ini terasa menakutkan saat aku yang memakainya." Yuanita tertawa mendengar kepolosan Marinka.
Perlahan tapi pasti, Marinka mengenakan gaun itu ditubuhnya, gaun cantik yang sangat pas ditubuh Marinka yang langsing namun mempunyai dada yang cukup besar dan padat. Yuanita sedikit menggelung rambut Marinka keatas, penampilan wanita itu persis bak putri di negeri dongeng.
"Zra. Kesini gih, low bisa liat apa yang kurang dari penampilan calon istri loe,"
Ezra yang tengah membalas chat Jihan terpaksa harus menghentikan kegiatan itu, untuk melihat penampilan Calon istrinya.
Deg
Ezra terpanah saat melihat penampilan Marinka yang sempurna dan terkesan sexy. Dilihat seperti itu, Marinka jadi tersipu malu dan sedikit menggigit bibirnya.
"Ehemmm...ini sudah bagus kok, tidak usah ganti lagi nggak ada waktu lagi soalnya."Ezra dengan cepat mengendalikan diri.
"Oke," Yuanita mengerlingkan matanya, karena tahu sahabatnya itu sempat terpanah akan kecantikan yang Marinka miliki.
"Selanjutnya apa langsung ke studio foto saja?" tanya Yuanita.
"Iya. Sekalian, biar nggak buang-buang waktu lagi." Jawab Ezra.
"Studio foto? mau apa kita ke studio foto?"
"Mau prewed." Jawab Yuanita.
Marinka yang bingung dan tidak pernah melakukan prewed jadi ikut penasaran. Mereka pun langsung pindah ke ruang atas, dimana tempat studio foto berada.
Setelah beberapa kali berganti pakaian, dan full make up, akhirnya acara sesi foto itupun usai dilakukan.
"Capek?" tanya Ezra saat melihat Marinka yang menyandarkan kepalanya dipintu mobil.
"Lumayan."
"Apa kamu menginginkan sesuatu, agar kembali segar?"
"Pengen itu,"
Marinka menunjuk kearah depan, saat mobil yang Ezra kendarai sedikit melambat.
"Yang mana?"
"Tuh...mamang-mamang gerobak es kembang tahu."
"Es kembang tahu? minuman apa itu? apa itu terbuat dari tahu?" tanya Ezra sembari menepikan mobilnya.
"Abang harus coba biar tahu rasanya. Yang pasti air gula jahenya bikin seger dan hangat."
"Oh...oke, tunggu sebentar biar aku belikan," ujar Ezra.
Ezra turun dari mobilnya dan membeli dua bungkus es kembang tahu.
"Bagaimana cara memakannya?"
"Nanti nunggu sampai Apartement saja, makan ini enaknya pakai mangkok dan sendok. Untung aja es nya Abang minta pisah."
"Iya. Aku fikir bagaimana minum itu sambil nyetir, makanya aku minta pisah aja es batunya."
Ezra kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
"Ka. Apa kamu tahu sosok pengusaha nomor satu di kota J?"
"Tidak tahu, tapi yang kudengar dia pengusaha hebat dan sukses diusianya yang masih terbilang muda. Kenapa abang menanyakan itu? apa abang mengenalnya?"
"Tidak."
"Ternyata benar yang Yuanita bilang, Marinka tidak tahu bahwa dia akan menikahi pengusaha nomor satu di kota J," batin Ezra.
"Kalau mantan suamimu pengusaha nomor berapa?" tanya Ezra penasaran.
"Ah...mana aku tahu bang, aku tidak pernah diajak kekantornya. Lagian mana aku perduli waktu itu dia mau pengusaha apa dan nomor berapa, aku mencintainya bukan karena harta dan kedudukkannya."
Ezra menyunggingkan senyumnya merasa kagum dengan kepribadian Marinka.
"Abang sendiri sebenarnya bekerja dimana? aku sempat kaget loh, pas nanya kak Yuanita harga gaun pengantinnya. Masa iya abang beli gaun 3 M hanya untuk pernikahan 6 bulan doang? sayang banget loh bang kalau itu beneran."
"Ah... Yuanita pasti becandain kamu. Mana aku ada duit sebanyak itu buat beli gaun 3 M. Yuanita pasti ngerjain kamu,"
"Ah.. syukurlah kalau begitu. Aku tuh suka gimana ya, kalau liat orang suka ngamburin-ngamburin uang. Rasanya gerget, kayak nggak menghargai uang banget. Padahal banyak orang susah, yang butuh banget uluran tangan kita."
Ezra hanya diam saja, padahal yang sebenarnya gaun itu memang seharga 3 M. Ezra tidak mau membuat Marinka jadi minder dan tidak enak hati padanya.
"Oh ya, abang belum jawab loh pertanyaan aku tadi,"
"Yang mana?"
"Abang kerja dimana?"
"Oh itu...aku kerja di perusahaan EH Group."
"EH Group? apa itu perusahaan besar?"
"Ya lumayanlah,"
"Kak Yuda kerja disana juga?"
"Iya."
"Oh gitu, tapi aku heran kenapa tiap orang melihatmu memanggilmu dengan sebutan tuan muda? apa kebiasaan dirumah orang tuamu juga terbawa ke mana-mana? soalnya dokter dirumah sakit memanggil abang juga gitu."
"Eh? iya juga ya? kenapa ya?"
"Abang tanya aku? lalu aku tanya siapa?"
Ezra terkekeh kembali, dia geli melihat ekspresi wajah Marinka yang cantik dan imut.
"Sudahlah, tidak usah pikirkan itu. Kita sudah sampai, aku sudah tidak sabar ingin mencicipi es kembang tahu ini."
Marinka dan Ezra turun dari mobil dan memasuki Apartemen untuk mencicipi es kembang tahu yang mereka beli.
"Enak?"
"Lumayan seger,"
"Iya kan? ada banyak es tradisional yang aku sukai ketimbang es kekinian. Harga ramah dikantong, tapi rasanya enak. Apa abang tahu? tempo hari aku diajak kak Yuda makan di restauran yang harganya naudzubilah, paling murah 5 juta loh, kan kalo pergi ke warteg bisa traktir orang satu RT bang,"
Uhukkk
Uhukkk
"Abang pelan-pelan dong, nggak keren banget kesedak es kembang tahu."
"Yuda mengajakmu makan di restauran?"
"Ya. Ya emang sih rasanya enak, tapi tetap aja kan bang ujung-ujung jadi kotoran juga. Ngapain buang-buang uang cuma enak sebatas tenggorokkan doang. Bener nggak bang?"
"Iya bener, si Yuda memang suka sok kadang-kadang." Jawab Ezra.
Ezra mengulum senyumnya tanpa Marinka ketahui. Pria itu tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi Marinka saat tahu ketika dirinya mengajak makan Jihan, yang bisa menghabiskan 10 sampai 15 juta hanya untuk sekali makan saja.
tetap semangat/Ok//Good/