Adella Mahendra, gadis cantik dengan segudang prestasi. Kehidupannya bagaikan salah naik angkot, oper sana oper sini, pindah sana pindah sini.
Bagi sebagian orang, mungkin akan merasa senang jika berada di posisi Adel, tetapi tidak bagi Adel yang membuat dirinya harus di putar putar karena memiliki tiga orang tua yang sangat menyayanginya. Ditambah lagi dengan seseorang yang telah lama mencintainya dan begitu posesif terhadapnya.
Lanjut baca yuk, gimana jungkir baliknya Adel tetapi dengan sejuta pesona nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aulina alfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menyatakan
"Pi....."
Adel menatap Papinya, dari tadi sebenarnya ada yang disampaikannya.
"Ada apa sayang?" Papi Surya menatap wajah cantik putrinya, kini di ruangan Papi Surya cuma ada mereka berdua karena Raka sudah pergi 10menit yang lalu
"Apa ini gak berlebihan Pi?"
"Lagian kita kan gak?"
Papi Surya meraih tangan Adel, dia tau apa yang di maksud oleh putri semata wayangnya.
"Kamu nanti pasti tau sendiri Del" Papi Surya kemudian mengusap air mata yang tak sengaja lolos di pipi Adel
"Tapi Pi??"
"Percaya sama Papi ya nak"
Ceklek
Pintu ruangan Papi Surya dibuka oleh seorang laki laki yang memakai jas putih. Setelah menutup pintunya, laki laki itu masih berdiri di depan pintu, tetapi pandangan matanya tidak berkedip mengarah ke Adel, yang juga saat itu menatap wajah laki laki yang membuka pintu.
Tampak senyum bahagia terpancar di wajah Dokter Vikky, setelah hampir sembilan tahun tidak bertemu, akhirnya mereka di pertemukan dengan cara tidak sengaja seperti ini
"Ehem....." Papi Surya berdehem, sengaja memecahkan lamunan antara putrinya dengan Dokter Vikky
"Vikky....." panggil Papi Surya, tetapi sang empunya nama tidak bergeming
"Vikky " lanjut Papi Surya, tetapi tetap sama, tidak ada pergerakan dalam tubuh Dokter Vikky, sang Dokter tampan itu masih berdiri mematung dan menatap putri cantik Papi Surya
"Vikky Bagaskara.....apa kamu mau seharian di sana?? dan hanya memandang wajah cantik putriku??" teriak Papi Surya yang sudah geram melihat tingkah calon menantunya itu
"Boleh Vikky mendekat Pi?? sengaja bertanya untuk menghilangkan rasa gugupnya, jujur lama tidak bertemu membuat dirinya jadi canggung
Mau mendekat aja pakai ijin segala sih Dok...Dokter
"Kalau Papi tidak mengijinkan, apa kamu masih tetap berdiri di sana??"
Dokter Vikky melangkahkan kakinya dengan tersenyum, dan tentu saja detak jantungnya yang jedag jedug tak menentu, tetapi matanya masih saja memandang lurus ke arah gadis kecilnya itu
"Vikky, awas kalau jatuh" goda Papi Surya yang melihat abege setengah tua itu berjalan lurus tanpa berkedip.
Dokter Vikky tidak menghiraukan ucapan calon mertuanya itu, yang ada di matanya saat ini adalah Adella dan ingin segera memeluk tubuh gadisnya itu.
"Del, berdiri sana! sambut calon suamimu" goda Papi Surya dengan menyenggol lengan Adel, Adel juga sama dari tadi masih memandang wajah tampan Dokter Vikky
"Papi ih" Adel malu, tapi dia juga langsung berdiri, jujur saja gadis itu juga sangat merindukan teman masa kecilnya itu yang sudah memberikan janji manis padanya.
Adel dan Vikky sama sama berdiri, dengan jarak yang lumayan dekat, keduanya sama sama saling menatap, saling melempar senyum dan detak jantung keduanya sama sama berbunyi jedag jedug. Tetapi anehnya kedua nya sama sama canggung.
Peluk gak peluk gak peluk gak, batin Dokter Vikky
"Pi....boleh Vikky peluk Adel?"
*Aduh gue ngomong apaan, mau peluk aja pake ijin
Sementara Adel juga sama, ni orang....kalau mau peluk ya peluk saja, ngapain minta minta ijin segala*
Papi Surya mengangguk, merasa lucu melihat adegan drama yang sangat amat konyol sekali, tapi bener bener menghiburnya
Tanpa menunggu lama, Dokter Vikky langsung meraih tubuh Adel dan memeluknya erat, begitu juga Adel, awalnya kaget tapi lama kelamaan dia juga membalas pelukan Dokter Vikky.
"Mas kangen kamu Han" empat buah kata yang berhasil diucapkan oleh Dokter Vikky di sela sela pelukan romantisnya
Adel mengangguk dan semakin mempererat pelukannya, jujur selama ini hanyalah didekat Dokter Vikky jantungnya tidak normal, dan berada dipelukannya membuat Adel nyaman senyaman nyamannya
"Aku juga kangen Mas"
Dokter Vikky pun sama, baru Adel wanita yang membuat jantungnya jedag jedug, dan pelukan Adel adalah pelukan ternyaman, selaian pelukan Bunda Aira tentunya
Mereka kemudian melepaskan pelukannya, tetapi tetap matanya masih saling memandang. Hingga Dokter Vikky memberanikan diri untuk meraih dagu Adel, ingin mencium gadisnya karena bibir Adel yang sangat menggoda
Sedangkan Adel pun sama, dia sudah pasrah dan meyakinkan dirinya. Adel memejamkan matanya, meskipun belum pernah melakukan ini sebelumnya, tetapi dia sudah paham adegan selanjutnya.
Saat bibir Dokter Vikky dan Adel dalam jarak yang dekat, dan hampir menyentuh tiba tiba..
"Ehem....Belum muhrim Vikky, Adel" ucap Papi Surya dengan cengengesan karena telah berhasil menggagalkan adegan 18+ itu.
"Halalin dulu putri cantik Papi, baru kamu bisa menyentuhnya Vikky, lagian juga ada Papi di sini kalian malahan enak enakan ki*ssing"
Adel dan Dokter Vikky tentu saja malu, karena kepergok Papinya, bukan kepergok, dasar mereka yang tak tau malu ingin melakukan itu di depan Papi Surya
"Pasti Pi pasti, secepatnya Vikky halalin putri cantik Papi"
Vikky tersenyum dan tangannya meneyelipkan rambut Adel ke belakang telinga karena tadi sebagian menutupi wajahnya. Dan dengan refleks mencium kening Adel lama
"Mas sayang ma kamu Han" ucapnya dengan lembut
Adel tidak menjawab hanya tersenyum, jujur dalam hatinya dia begitu senang, karena separuh hatinya benar benar menyatakan rasa sayangnya. Tetapi Adel seketika teringat tentang postingan di akun lambe nyinyir tadi siang yang sempat di baca.
"Kenapa?? kok hanya diam?" tanya Dokter Vikky yang seketika melihat perubahan dari raut wajah Adel
"Duduk dulu Mas" pinta Adel dan langsung menarik kursi di dekat nya.
Sementara Papi Surya pura pura membaca koran yang memang sudah berada di sampingnya, sambil sesekali melirik ke arah Adel dan calon mantunya itu
"Ini!" Adel menyerah kan ponselnya yang sudah dia buka sebelumnya
Dokter Vikky tersenyum, kemudian mengacak rambut Adel dengan gemasnya. Lalu menyerahkan ponsel Adel ke Papi Surya
"Pi.....putri cantik Papi cemburu"
Papi Surya membaca sebuah postingan yang ada di ponsel Adel, dia juga tersenyum dan melirik Adel yang sudah manyun
"Papi, dan Mas Vikky nyebelin deh"
Dokter Vikky kembali melihat ke arah Papi Surya, seperti mengisyaratkan sesuatu, dan seketika itu Papi Surya mengangguk
Tanpa banyak kata kata, atau penjelasan mengenai postingan yang beredar itu, Dokter Vikky lalu berlutut di depan Adel dan meraih tangan Adel
"Eh Mas jangan gini, bangun gih" pinta Adel yang tak sadar jika Dokter Vikky sudah berlutut di depannya
"Dengarkan Adella Mahendra binti Surya Gunadi, dan lihat mata Mas honey"
Seperti tersihir, Adel mengangguk dan matanya melihat mata Vikky
"Sore ini, di sini, di depan Papi kandung kamu, Mas ingin mengutarakan isi hati Mas yang paling dalam, yang sudah sekian lama mas pendam, dan kali ini Mas gak akan bisa memendamnya lagi"
"Mas sayang dan cinta ma kamu Adella, dari dulu, sekarang dan sampai nanti, selamanya"
Deg
Jantung Adel berdetak sangat kencang, dan sepertiny habis ini Adel ingin memeriksakan dirinya ke Dokter spesialis jantung.
"Adel...."