Kehilangan seseorang yang sangat disayangi untuk selamanya itu, bukan hal yang mudah. Apalagi orang itu merupakan seorang anak yang sangat di sayangi.
Anaya Aninditia merupakan seorang gadis yang berumur 12 tahun, Anaya memiliki sebuah keluarga yang harmonis. Suatu ketika keharmonisan itu hilang, akibat ulah ibunya yang selalu mementingkan arisan, semenjak suaminya naik jabatan dan memiliki Gaji yang besar.
Anaya yang periang berubah menjadi pendiam karna perceraian orang tuanya. Satu ketika sang ayah mengenalkan sosok wanita yang memiliki 2 orang anak. Wanita itu mampu mengambil hati seorang Anaya.
Anaya yang dulu pendiam berubah menjadi periang kembali. Setelah kebahagiaan datang, Anaya mengalami kesedihan yang teramat dalam. Anaya harus kehilangan seorang ibu kandungnya untuk selamanya.
Dan kini Anaya sedang berjuang melawan penyakit meningitis yang bersarang di otaknya. Sakit itu berawal dari anaya sering sakit kepala.
apakah Anaya mampu bertahan dan melewati semua itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia permata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 26
Bunda dan Aris pun datang ke rumah sakit dengan membawa pesanan Anaya.
"Assalamu'alaikum," ucap Bunda.
"Waalaikuumsalam bunda," ucap Anaya.
"Kamu sendirian, ayah ke mana?," tanya bunda.
"Ayah lagi keluar, beli susu," ucap Anaya.
"Oh gitu," ucap bunda.
"Bunda sendiri?," tanya Anaya.
"Iya bunda sendiri, kak Aris gak bisa ikut katanya," bunda yang menahan tawa yang sedang menjahili Anaya.
Flashback On
Saat sedang dalam perjalanan, Aris memikirkan untuk menjahili Anaya.
"Bunda nanti sesampai di rumah sakit, tepatnya di ruang Anaya, bunda masuk sendiri. kaka ingin lihat reaksi Anaya," ucap Aris.
"Okay deh," ucap bunda.
"Bunda berhenti sebentar di depan, Aris mau beli mawar putih dan merah untuk Anaya," ucap Aris.
"Duh kaka sweet banget untuk adeknya," ucap bunda.
Aris pun membeli mawar merah dan putih dan bunda melanjutkan perjalanan ke rumah sakit.
Flashback Off
Anaya yang mendengar penuturan bunda, Anaya langsung cemberut dan tidur menghadap ke kanan.
"Kaka kenapa gak datang," gumam Anaya dalam hati sambil meneteskan air mata.
Bunda yang tidak tega melihat Anaya sedih, bunda menghampiri Aris untuk masuk ke dalam. Aris yang melihat itu semua langsung terdiam, dan Aris pun langsung masuk.
"Sesedih itukah dek, kalau kaka gak datang," gumam Aris dalam hati.
Anaya yang menghadap ke kanan dan memejamkan matanya. Aris berjalan pelan-pelan berjalan ke depan wajah Anaya.
"Anaya makan yu," ucap bunda.
Anaya yang bangun dan melihat ada bunga mawar di depannya langsung bengong melihat siapa yang bawa bunga itu.
"Mawar merah menandakan cinta dan mawar putih menandakan kasih sayang. Aku berikan mawar ini untuk adikku tersayang, cinta dan kasih sayang seorang kaka untuk adiknya ini tidak akan pernah hilang," ucap Aris.
"Kaka," ucap Anaya sambil menangis.
"Adek kenapa nangis?," tanya Aris.
"Adek kira, kaka beneran gak datang. Adek sedih kalau kaka gak ada," ucap Anaya sambil menangis tersedu-sedu.
Aris yang merasa bersalah pun langsung memeluk Anaya.
"Maaf ya, kalau kaka udah bikin adek sedih," ucap Aris.
"Iya kak... Bunda adek lapar," ucap Anaya.
"Ya udah kita makan Bareng-bareng ya," ucap bunda.
Semua pun makan dengan lahap, Anaya makan hingga 2x nambah. Bunda yang melihat Anaya makan dengan lahap senang banget.
.
.
.
.
.
Ayah yang baru pulang mencari susu kedelai bertemu dengan dokter Benny.
"Pa Teguh," ucap dokter Benny.
"Selamat siang dok, ada apa?," tanya Teguh.
"Mari kita ke ruangan saya," ucap dokter Benny.
"Gimana dok hasilnya?," tanya Teguh.
"Anaya putri bapak positif terkena meningitis," ucap dokter Benny.
"Astagfirullah...Apa itu ada obatnya dok," tanya Teguh.
"Sampai saat ini belum ada obat untuk menyembuhkan meningitis. Paling saya akan memberikan obat penghilang rasa sakit, obat penahan untuk tidak menyebar ke seluruh otak. Karna jika menyebar, meningitis bisa berubah menjadi lupus dan bisa membuat pasien jadi hilang kesadaran dan kalau sudah parah bisa hilang ingatan," ucap dokter Benny.
"Astagfirullah...Saya gimana cara menyampaikan ini semua terhadap Anaya," ucap Teguh.
"Kalau susah, nanti saya bantu berbicara sama Anaya," ucap dokter Benny.
"Apa ada pantangan makanan," tanya Teguh.
"Untuk makanan tidak ada, banyak minum air putih, banyak istirahat, jangan kelelahan dan jangan banyak pikiran," ucap Dokter Benny.
"Baik dok, saya permisi dulu," ucap Teguh.
"Baik pa, oh iya obat-obatannya di minum sesuai jam nya, nanti saya kasih jadwalny," ucap dokter Benny.
"Baik dok, Terima kasih untuk sebelumnya. Saya permisi dulu dok," ucap Teguh.
Teguh pun pamit keluar dari ruangan dokter Benny. Teguh bingung harus mengucapkan apa sama anak semata wayangnya itu.
Ayah pun berjalan kaki dengan pelan menuju kamar rawat Anaya, sebelum masuk ayah berdoa dulu.
"Assalamu'alaikum," ucap ayah.
"Walaikumsalam ayah," ucap semua yang ada di dalam ruangan.
"Ayah dari mana?," tanya Anaya.
"Ayah habis ketemu dokter Benny," ucap ayah.
"Apa kata dokter Benny?," tanya Anaya.
Ayah berjalan menuju Anaya dengan diam, ayah langsung memeluk Anaya.
"Yah... Anaya sakit apa?," tanya Anaya dengan cemas.
"Nak maafkan ayah ya, selama ini ayah tidak bisa menjaga dan merawatmu nak," ucap Ayah.
"Ayah kenapa dan ada apa?," tanya Anaya.
"Nak kamu yang kuat, sabar dan ikhlas ya," ucap Ayah.
Ayah bingung harus berkata apa, bunda dan Aris yang melihatnya langsung terdiam.
"Pasti ayah udah tau hasil tentang penyakit Anaya," gumam bunda dan Aris dalam hati.
"Nak maafkan ayah," ucap Ayah.
"Iya tapi ada apa yah, Aku sakit apa yah?," tanya Anaya.
"Kamu terkena penyakit meningitis atau radang selaput otak," ucap ayah.
"Gak yah, Anaya baik-baik saja kan?," tanya Anaya.
"Pusing di kepalamu karna ada peradangan selaput otak. Biasanya kalau kambuh, akan merasakan sakit dari bagian belakang sampai ke depan dan pundukmu terasa pegal dan tegang. Dan itu bisa membuatmu untuk ingin tidur hingga badan lemas," ucap ayah sambil memeluk Anaya dan menangis.
"Apa bisa sembuh yah?," tanya Anaya sambil menangis.
"Maaf nak, menurut dokter sampai saat ini belum ada obat untuk menyembuhkan meningitis itu. Hanya saja harus minum obat penahan sakit ketika merasakan pusing dan obat penahan agar meningitis tidak menyebar ke syaraf yang lain dan beberapa vitamin. Tapi obat-obat itu akan diberikan selama hidupmu nak," ucap ayah yang sudah menangis hinga tersedu-sedu.
Bunda sudah menangis mendengar penuturan suaminya dan Aris sudah berjalan keluar kamar, karna tak kuasa mendengar berita itu.
Anaya yang mendengar itu semua mencoba menarik selang infusan.
"Buat apa di tes, di infus, di kasih obat. Kalau pada akhirnya Anaya akan mati," ucap Anaya sambil berteriak.
Ayah yang bingung, langsung memencet bel untuk memanggil suster. Suster pun akhirnya datang dan diberitahu oleh bunda apa yang terjadi.
Akhirnya Anaya diberi suntikan penenang, agar Anaya tenang dan tidur. Dan Anaya sudah tertidur.
"Maafkan ayah nak, ayah janji akan lakukan apa saja, asalkan Anaya bisa sembuh," ucap ayah.
Bunda yang mendengar ucapan sangat suami, mendekat ke arah suami.
"Yah kita harus kuat dalam menghadapi cobaan ini, kita harus mensupport Anaya agar mau menjalani hidupnya. Meskipun harus minum obat selamanya," ucap bunda sambil memegang lengan suaminya.
Ayah yang mendengar ucapan bunda langsung memeluk sang istri tanpa bersuara, karna masih susah untuk berbicara. Hatinya masih resah dengan kejadian barusan.
Bunda yang tersadar tak melihat keberadaan Aris, bunda pun beranjak pergi mencari Aris keluar ruangan. Tapi Aris tak berada disana.
"Aris kemana yah?," tanya bunda.
"Biarkan saja dulu, dia pasti sedih mendengar semua ini," ucap ayah.
"Iya yah, dia semalam pun tidur sama bunda. Dia bilang gimana kalau adek gak sembuh, gimana kalau adek gak bisa menerima semua ini," ucap bunda.
Ayah yang mendengar ucapan bunda pun langsung terbengong.
"Benar kata Aris, gimana kalau Anaya gak bertahan, gimana Anaya kalau meninggal. Sebegitukah rasa sayang kamu sama Anaya. makasih nak, kamu udah mau peduli sama Anaya," gumam ayah dalam hati.
Bunda yang melihat sang suami melamun, mencoba menenangkan suaminya.
"Ayah pasti belum makan, kita makan dulu," ucap bunda.
"Ayah tidak lapar bun," ucap ayah.
"Kalau ayah gak makan terus ayah sakit, siapa yang rawat Anaya disini? ayah harus jaga kesehatan ayah," ucap bunda.
"Ya sudah ayah makan, mana ikan nya?," tanya ayah.
"Ikan nila ukuran 1kg, abis sama Anaya sendiri, makan nasi sampe 2x tambah. Ini sisa ayam bakar saus madu dan sambel terasi," ucap bunda.
"Ya udah gak apa-apa, asal jangan di kasih tulang ayam aja kaya tadi pagi sebelum tes," ucap ayah.
"Hah tulang apa?," tanya bunda
"Iya tadi pagi Anaya pengen makan kentang goreng LFC, ya udah ayah beli online 1paket ayam +nasi + kentang goreng + perkedel +sup ayam," ucap ayah.
"Itu abis semua sama Anaya?," tanya bunda yang terheran.
"Iya abis semua, sampe disisain tulang. Anaya bilang, aku udah kenyang dan buat ayah aja. Pas diliat sisa tulang, ayah bilang aja, emangnya ayah si miko di kasih tulang. Tadi pagi ayah liat dia ketawa bahagia sekali," ucap ayah.
"Waaah itu anak, makannya lagi enak kali ya, sampe 1paket LFC habis, ikan nila bakar 1kg abis," ucap bunda.
"Iya kayanya lagi enak makan dia, semoga aja pulang dari sini, Anaya tidak merasakan pusing-pusing lagi. Asalkan kita harus mampu membujuk Anaya agar mau minum obat," ucap ayah.
"Aamiin yah, smoga aja dia mau. Eh Aris kemana ya, bunda telepon dia dulu," ucap bunda.
Bunda pun mencoba menelepon Aris tapi tak ada jawaban.
.
.
.
.
Aris yang sedang duduk di taman, hanya bisa melamun meratapi nasib adiknya yang kini positif meningitis. Dan meningitis ini tidak ada obat yang benar-benar bisa menyembuhkannya. Aris pun terus melamun.
Aris tersadar dari lamunannya karna getaran HP, karna ada panggilan masuk dari sang bunda.
"Bentar bun, Aris belum tenang," gumam Aris dalam hati.
Setelah 2 jam di taman dan terdengar suara adzan maghrib, Aris pun mencari mushola untuk solat maghrib. Setelah solat Aris kembali ke kamar Anaya.
Saat masuk ke dalam ruangruang rawat, hati Aris kembali hancur dengan penuturan sang ayah yang masih terngiang di telinganya.
Aris pun masuk dengan tidak semangat dan melihat Anaya yang sedang makan.
"Kaka dari mana," tanya Anaya.
"Tadi habis ngopi terus solat maghrib," ucap Aris berbohong.
"Sini adek suapin," ucap Anaya yang sedang makan. kur blackforest.
"Buat adek aja, adek makan yang banyak. Kaka tadi udah ngopi sambil makan roti," ucap Aris berbohong.
Ayah dan bunda yang melihat gelagat Aris, mereka sangat tahu gimana perasaan Aris saat ini.
"Aris kita pulang yu," ucap bunda.
"Iya bun, kaka ada tugas. Tadi siang guru IPS ngasih tugas merangkum sejarah negara Indonesia," ucap Aris berbohong, padahal tidak ada tugas. Hanya saja semakin lama diam disini, hati Aris semakin rapuh.
"Bukan bilang dari tadi," ucap bunda yang tahu kondisi Aris.
"Dek... Kaka pulang dulu ya, kaka ada tugas sekolah, besok harus di kumpulkan," ucap Aris berbohong.
"Iya kak.... Kaka dan bunda ati-ati di jalan ya. salam buat Adam," ucap Anaya.
"Iya nanti bunda sampaikan sama Adam," ucap bunda sambilmemeluk dan mengecup kening Anaya.
"Kaka peluk dulu," ucap Anaya.
Aris yang kaget dengan permintaan adiknya, Aris pun berjalan ke arah Anaya dengan hati yang rapuh. Akhirnya Aris memeluk Anaya.
Hati Aris semakin hancur dan Aris menghapus air mata yang hendak keluar, mencoba menahan untuk tidak menangis di hadapan Anaya.
"Kaka pulang dulu ya dek," ucap Aris sambil memeluk Anaya.
"Ayah tau nak, gimana perasaan kamu saat ini. Semoga kamu dan kita kuat menghadapi semua ini," gumam ayah dalam hati.
Aris dan bunda pun berjalan pulang, sepanjang jalan dari kamar Anaya hingga ke mobil. Aris gak berhenti menangis, bunda yang melihat anak sulungnya itu pun hanya bisa terdiam melihatnya.
"Kita harus kuat menghadapi semua ini, tadi Anaya udah bisa menerima apa yang terjadi pada tubuhnya. Tinggal kita yang menguatkan hati untuk mensupport dia, agar dia tidak menyerah dengan hidupnya," ucap bunda.
"Insya Allah bun, Aris kuat dan akan memberi energi positif untuk Anaya. Meskipun saat ini, hati Aris rapuh bun," ucap Aris.
"Bunda dan ayah mengerti gimana perasaan kamu saat ini, pas kamu keluar kamar kami tau apa yang Aris rasakan. Makanya tadi bunda sengaja mengajak pulang, karena bunda tau, kamu menahan nangis," ucap bunda.
"Makasih ya bun, udah mengerti kondisi Aris saat ini. Besok Aris ijin gak masuk sekolah ya bun, pasti Aris gak akan fokus sekolah juga," ucap Aris.
"Iya boleh, tapi jangan cerita dulu sama Iyan dan Dita untuk masalah ini, biar ayah yang cerita sama mereka tanpa sepengetahuan adek," ucap bunda.
"Iya bun," ucap Aris.
Bunda pun menjalankan mobilnya, Aris yang sedang melamun dan sudah tidur karena hati dan pikirannya lelah.
"Dek cepet sembuh ya, jangan tinggalin kaka" ucap Aris yang mengingau.
Bunda yang mendengar Aris mengigau hanya bisa mengelus dadanya karna tak tahan melihat Aris yang seperti ini.
2 tahun yang lalu setelah sang ayah meninggal, Aris pun sempat down. Sekarang Aris kembali down, karna sang adik yang sakit parah.
"Sampe kebawa mimpi," gumam bunda dalam hati yang melihat Aris tertidur.
Akhirnya sampe rumah dan bunda pun membangunkan Aris, Aris yang tersadar segera keluar dari dalam mobil dan menuju kamarnya.
Nita yang melihat Aris pun bingung, karena tidak seperti biasanya.
"Nit... Adam mana?," tanya bunda.
"Den Adam sudah tidur," ucap Nita.
"Ada apa bun, itu den Aris murung dan sedih seperti itu?," tanya Nita.
Bunda pun duduk lalu menghela nafas panjang sebelum bercerita pada asistennya ini.
"Anaya positif terkena meningitis atau radang selaput otak," ucap Bunda.
"Astagfirullah non Anaya,terus sekarang keadaannya bagaimana bun?," ucap nita
"Tadi Anaya sempat tidak menerima dengan penyakitnya itu, tapi setelah ayah dan bunda memberi tahu. Anaya mengerti kalau ini tuh takdir dri Allah, dan penjelasan itu membuat Aris menjadi sedih dan hatinya pasti rapuh. makanya tadi kaya gitu," ucap bunda.
"Ya Allah den Aris sebegitunya sayang sama non Anaya, meskipun bukan adik kandungnya. Saya salut sama den Aris dan den Adam yang bisa menerima tuan Teguh dan Non Anaya. Pasti hati den Aris rapuh dan sedih," ucap Nita.
"Ya gitulah Nit, besok pagi kamu bangunkan Adam saja ya. Aris jangan di bangunkan, karena tadi dia bilang gak akan sekolah, karna pasti tidak akan fokus sekolah juga," ucap bunda.
"Baik bun... Ya udah bunda istirahat aja, Nita mau mengecek pintu lalu istirahat," ucap Nita.
"Makasih ya Nit," ucap bunda.
Bunda yang berjalan masuk ke dalam kamar, Nita yang mengecek pintu udah di kunci atau belum.
"Ya Allah Non Anaya cepet sembuh ya. Den Aris yang kuat ya," gumam Nita dalam hati.
Nita pun berjalan ke kamar tamu untuk istirahat, sebelum masuk Nita mengecek den Aris udah tidur atau belum. Ternyata den Aris sudah tertidur, tapi nafasnya masih terlihat belum teratur.
"Pasti den Aris menangis, sabar ya den," gumam Nita dan meninggalkan kamar den Aris.
Akhirnya Aris pun tertidur dengan lelap setelah menangis yang ntah sampai jam berapa.
#RIPNadiaPermata
ga sabar nya🤗😆😆