Indah Della Safitri, wanita yang kini tak muda lagi harus melewati hari-harinya bersama penyakit yang baru saja ia ketahui.
Sklerosis Ganda adalah penyakit yang divoniskan oleh Syadam pada Della. Penyakit sklerosis ganda atau multiple sclerosis adalah gangguan saraf pada otak, mata, dan tulang belakang. Multiple sclerosis akan menimbulkan gangguan pada penglihatan dan gerakan tubuh.
Penyakit itu mulai menyapa Della, hingga membuat Della sangat menderita. Perjuangan Della untuk tetap hidup melawan rasa sakit itu juga menjadi poin utama pada cerita ini.
Yang lebih menyakitkan lagi bagi Della panggilan akrabnya yakni dokter yang menangani kondisi tubuhnya adalah mantan kekasih yang selama ini pergi meninggalkan Della. Dan apesnya, Della tak berdaya menghadapi dokter Syadam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dheselsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bimbang
Bagai angin yang berhembus, semilir tapi menyihir. Bak pedang yang terhunus, mengiris setiap sisi jiwa ini. Layaknya api yang membakar hangus, meleburkan setiap cinta dan kasih. Bagai ombak di lautan yang menggulung, seperti langit yang mendung.
Seperti itulah gambaran sang pesakit yang tumbang kini.
Dalam sunyi kucoba merangkak dengan tertatih, menuju ke arah yang memancarkan seberkas sinar menyilaukan mata. Aku harus segera menggapai cahaya itu bagaimana pun caranya. Karena aku yakin! ajalku tak mampu kutolak. Dia akan selalu menyambangi diriku tanpa bisa kucegah.
Tubuh ini tak mampu kukendalikan dengan sempurna seperti biasanya. Aku terlalu lemah untuk sekadar membuka mata saja. Sebenarnya apa yang sedang terjadi dengan diriku?
Sayup-sayup telinga ini mendengar suara percakapan lebih dari satu orang. Aku tahu, salah satunya adalah ayahku. Karena aku sangat hafal, dan kukuatkan diri ini untuk membuka kedua kelopak mataku. Berat! aku merasa sungguh payah kali ini. Bila bukan karena rasa penasaran yang cukup kuat, aku enggan untuk melihat dunia yang penuh kepalsuan ini.
'Ku kejapkan kedua netra ini karena samar-samar kulihat orang asing. Aku tak tahu ada hubungan apa wanita itu dengan ayah dan ibuku. Ibuku, Aini Rahman hanya duduk termenung dengan kedua bola mata tak lepas dari tubuh lemah ini. Tubuh yang terbaring tak berdaya bersama dengan selang infus menggantung di sisi kiri tempat tidurku. Aku tahu, dan paham berada di rumah sakit.
Mungkin karena pingsan itulah, mereka membawa tubuh lemahku ke rumah sakit ini. Tapi tunggu dulu! bukankah ayah dan ibu bertemu dengan Syadam? Lalu apa reaksi keduanya? Jangan bilang kalau mantan kekasihku itu juga memberi tahu perihal penyakit yang kuderita ini pada orang tuaku.
"Della .... " Suara ibu lirih terdengar di telingaku.
Kulihat guratan-guratan kekhawatiran serta kepanikan memenuhi wajah tuanya. Batinku teriris rasanya melihat begitu kesulitannya wanita itu. Kucoba untuk mengulas senyum kecil untuknya, untuk wanita pahlawanku itu.
"Bagaimana keadaanmu Nak?" Dua orang yang sedang terlibat dalam sebuah percakapan tadi mendekat ke arahku. Selain ayah, ternyata wanita yang tampak asing kulihat tadi adalah mamanya Syadam. Untuk apa orang ini ke mari?
Mungkinkah mereka semua mengira kami berdua masih berhubungan? Pasti keduanya akan memperingatkan aku dan Syadam untuk tak saling bertemu.
Pada bentangnya sunyi semesta ini, lantang kueja setiap makna. Tentang luka yang saling membiru nyata, menghapus seluruh canda tawa. Ingin sekali rasanya kuhempas duka. Namun, aku tak kuasa atas segalanya.
"Della, kenapa kamu menyembunyikan ini dari ayah dan ibu?" Suara ayah sangat berat, seperti tertimpa beban beratus-ratus kilogram.
Ayah pasti berfikir bahwa aku masih menjalin cinta dengan dokter lelaki itu. Oleh karena itu ia menginginkan konfirmasi dan jawaban jujur dariku. Ah ... andai saja pria itu tak pernah hadir dalam kehidupanku, mungkin aku tak 'kan sesulit ini hanya untuk menjelaskan pada ayah.
"Ayah, ibu! maafkan Della. Tapi sumpah demi Tuhan, Della tidak menjalin hubungan seperti yang ayah lihat di Bandara."
"Maksud kamu mengenai Syadam? Bukan itu yang kami maksud! mengapa kamu menyembunyikan penyakit yang kau derita?" tanya ayah seolah ingin memastikan bahwa kabar itu memang benar adanya. Dokter lelaki itu pasti telah menjelaskan menjelaskan seputar penyakit yang kuderita.
"Percayalah pada mama, kamu pasti akan sembuh!" Mama Syadam menggenggam tangan kananku yang saat ini terbebas dari injeksi infus.
"Mama?"
"Iya, saya mamamu Nak!" tutur wanita yang kini menatapku dengan intens melebihi seorang Aini Rahman yang notabenenya ibuku sendiri.
Apa maksud dari perkataan ibu tua ini? Mengapa ia mengatakan hal seperti ini padaku?
'Ku ingin berlari ke gunung di mana aku mampu termenung. 'Ku ingin berjalan ke laut, untuk bertanya pada laut mengapa aku bisa terhanyut? 'Ku ingin masuk ke dalam kobaran api, dan menanyakan mengapa semua kebahagiaanku habis terbakar?
Namun, bisakah aku menjadi sebuah rintik hujan? Yang selalu ditunggu setiap insan. Untuk membasahi semua daratan nestapa ini.
Bisakah juga aku menjadi air? Yang mampu mengaliri setiap sendi kebahagiaan dari kehidupan orang terdekatku? Tapi nyatanya aku gagal!
"Iya Nak, Bu Kumalasari adalah ibu kandungmu!" Ibuku Aini Rahman yang sejak tadi hanya bergeming tanpa sepatah katapun kini memberi sebuah berita yang kuanggap sebagai lelucon baru di hidupku.
Segera ku tepis perhatian dari orang yang mengaku sebagai mama kandungku. Aku tidak ingin menyakiti perasaan wanita yang sejak tadi berwajah sendu! Aini Rahman dialah satu-satunya ibuku. Tak ada yang bisa menggantikannya di dalam hatiku, sekarang hingga seterusnya.
"Berhenti berbuat seenaknya nyonya, saya dan putra Anda tidak menjalin hubungan seperti yang kalian pikirkan! jadi kalian tak perlu menjalankan drama menjijikan seperti ini!" pungkasku menutup pertikaian menggelikannya ini.
"Della jangan kurang ajar! Beliau ibu kandungmu." Suara ayah menggelegar di antara simpang siur ini. Benar atau tidaknya aku tak ingin tahu.
"Iya, ibu kandung yang telah membuang putrinya apa pantas kupanggil Mama?" Jangan salahkan aku bila aku berkata demikian ayah! Sungguh tak ada maksud sama sekali Della membantah ayah. Aku hanya ingin memberikan tempat untuk ibuku, Aini.
"Sudahlah! aku lah yang salah karena meninggalkan putriku demi mengejar karir." Wanita yang mengaku sebagai mamaku itu mulai terisak dan terlihat sangat menyedihkan di depan kami.
"Dell ... Mamamu, ayah serta ibu adalah teman lama. Karena kepercayaannya pada ayahlah akhirnya Bu Kumalasari menitipkan kamu pada kami berdua," ibuku menjelaskan padaku dengan kalimat menyejukkan seperti biasanya.
"Karena kehadiranku tidak ia inginkan bukan? Apa wanita seperti itu layak kusebut Mama? Jangan bercanda padaku!" pungkasku lalu memalingkan seluruh wajah ini dari pandangan ibuku sendiri.
"Demi Tuhan Dell, tak ada sedikitpun keinginan Mama untuk melakukan ini semua terhadap kamu."
"Kalian semua keluar! Aku tidak mau melihat kalian semua."
**
Betapa lucunya dunia ini bukan? Kala ajal mulai mendekat, aku masih harus menghadapi sebuah kenyataan pelik yang telah mengaduk serta mengguncang jiwa ini. Pada akhirnya, akulah sejatinya korban itu. Bukankah ini lucu? Saat hidup ini tak bertahan lama lagi, aku mendapatkan sebuah kebohongan besar dari drama hidup orang tuaku.
Ketika ada jeda di depan, tepat di persimpangan jalan. Langkah ini mulai terhenti, barang sebenar hanya sebentar.
Apakah aku mampu memilih dua jalan yang telah terhampar? Sedang salah satu jalan itu terputus dan tak ada arah.
Salah satu sisi dihadapkan Senja, ke mana 'ku harus melangkah? Aku telah terpuruk di bawah kilaunya dunia. Fana dan bimbang tak berarah.
Aku masih berdiri diujung bimbang, tanpa tau caranya menyatukan hasrat dan cinta dalam satu desah nafas.
Aku masih duduk di ujung resah, ketika harus menyatukan sikap kekanakkan ku dalam dewasa ini. Aku selalu di ujung bimbang ketika harus memutuskan untuk membenci dalam diam atau tetap merindu dengan sinis?
...****...
Bonus Hong Bajang
akuuu datang TOOR 🥰
semangat 💪🏻