Hawa Hasnawi gadis penjual kripik singkong, yang dipaksa menikah dengan pemuda sombong, dingin dan angkuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon harsupi fakihudin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Seminggu Kepergian Mami
Semua pelayat satu persatu meninggalkan tempat pemakaman ini, tapi tidak dengan semua keluarganya.
Mereka berdo'a menunggu beberapa menit. Setelah do'a selesai, Anand berdiri dibantu oleh Xander dan Ilham
"Papi, papi kuat? jika tidak kuat, akan aku gendong pih" Xander menawarkan
"Tidak nak, papi masih sanggup berjalan" Tolaknya
-
Mereka semua sudah kumpul diluar area pemakaman.
"Nungguin siapa ini?" Ilham sambil mengabsen seluruh keluarganya
"Fariz Il" Jawab Anand sendu
"Terus, dimana dia" Masih Ilham yang bertanya
"Masih didalam pa" Fatih
"Dengan??" Ilham
"Sepertinya Hawa" Hanan
"Coba sana jemput. Siapa tau dia nangis. Bahaya" Masih Ilham yang belum percaya
"Dia sudah besar Il" Anand
-
Dipemakaman
Fariz terus melafazkan do'a, dan terus mengusap usap nisan yang tertuliskan nama maminya
"Abang, kita sudah lama disini, kita pulang yuk? Teman temannya dah habis" Ajak Hawa untuk segera pulang
Fariz menoleh "Hawa, jika kamu capek, pulanglah. Tinggalkan aku sendiri" Ucap Fariz sendu
Tangan Hawa menjulur memegang wajah Fariz "Tapi wajah abang terlihat lelah. Hawa takut abang sakit" Bujuk Hawa kembali
Srek srek srek
"Fariz" Panggil Hanan
Fariz mendongak
"Hari sudah semakin gelap, papi sudah menunggumu sejak tadi. Papi tidak mau pulang, jika kamu tidak pulang" Ucap Hanan membujuk
"Tapi mami sendiri" Mata Fariz terpejam, menghirup udara agar tidak sesak
"Fariz, kau sudah dewasa, kau bukan anak kecil. Jika kau begitu terus, mami disana tidak tenang, papipun kasihan menunggumu"
Ada jedah
"Jika kau tidak menyayangi tubuhmu, tidak masalah kau masih muda. Tapi ingatlah papi. Seharusnya kau yang memberi kekuatan buat papi. Tapi kenapa kau yang diandalkan papi, justru rapuh melebihi papi. Hawa, jika suamimu dibujuk susah. Tinggalkan dia. Jika terjadi apa apa dengan papi. Dialah biangnya" Sambungnya panjang lebar
Hanan berlalu meninggalkan makam, bersamaan itu pula, Hawa berdiri akan meninggalkan makam.
Fariz bergerak akan berdiri. Tapi terlihat limbun "Abang, hati hati" Hawa mendekat "Ayo Hawa bantu"
Hawa menaikkan tangan kiri Fariz, dan menaruhnya pada bahunya, untuk ia papah
Dari jauh sudah terlihat Fariz dan Hawa berjalan mendekati rombongan
"Itu Fariz"
-
Seminggu sudah kepergian mami
Seminggu pula Hawa dianggurin oleh Fariz
"Bang, abang nggak kangen sama Hawa" Rayu Hawa ndino mengi ( Tiap hari tiap malam )
"Aku lagi nggak ada mood Hawa" Jawab Fariz sambil memakai jaz
"Oke..Tak masalah. Aku akan turun duluan ya bang" Ucapnya seceria mungkin
Padahal, hati Hawa, rasanya tercubit cubit seperti layaknya menembak pacar, tapi ditolak terus terusan.
Hawa turun, tujuan utama adalah kamar papi
Tok tok tok
"Pi, papi" Panggil Hawa
Karena tidak menyaut dari dalam, Hawa segera membuka pintu
"Papi, pi, oh papi" Kepala Hawa menyembul kedalam "Papi lagi ngapain? boleh Hawa masuk?"
"Oh masuklah nak" Ucap Anand sambil memakai kemejanya
"Papi rapih banget, apa papi mau keshowroom ?" Ucap Hawa sambil membantu menekuk lengan kemeja Anand
"Iya, kau mau ikut?" Tawar Anand
"Apa papi tidak keberatan?" Ditanya malah nanya
"Sama sekali tidak" Tegas Anand
Ketegasan Anand, walaupun sudah tua, masih terlihat seperti muda dulu.
"Baiklah, kalau begitu Hawa ikut" Ucap Hawa sesumringah mungkin
"Baik, kita sarapan dulu. Ayo" Ajak Anand
-
Dimeja makan
Hawa mengambilkan makanan untuk Anand
"Papi segini cukup?"
"Sudah nak, jangan banyak banyak" Jawab Anand sambil tersenyum kecil
"Abang mau sekalian Hawa ambilkan?" Tawar Hawa
"Iya, sedikit saja"
Setelah mengambilkan makanan untuk kedua orang yang ia cintai, barulah untuk dirinya
Diselah selah sarapan, Hawa berbisik
"Bang, bagi duit" Tangan Hawa terangkat
Fariz mengambil dompet, dan membuka dompetnya "Abang nggak ada duit tunai" Fariz menyodorkan kartu "Ini, pakailah untuk kebutuhanmu"
"Hawa maunya tunai. Nggak mau, nggak jadi" Hawa sedikit merajuk. Akhirnya, makanpun dengan terpaksa.
Hari ini, mood Hawa kacau. Minta jatah tidak dikasih. Minta duit, tidak ada yang tunai. Gondok rasanya.
Hawa menoleh pada Anand "Papi sudah selesai?"
"Sudah nak"
"Baiklah, ayo papi, kita mulai cari duit" Hawa membantu Anand berdiri
"Ahaha kau ini. Cari duit itu, memangnya duitnya pada ilang" Anand tertawa mendengar ucapan Hawa
"Ah papi. Pi, apa papi perlu tongkat?"
"Papi masih sanggup untuk berjalan sendiri. Papi masih sehat" Tolak Anand mengenai tongkat
"Oh, kirain papi perlu tongkat. Terus buka lowongan. Hawa mau daftar nomor satu pi"
Mereka sudah dihalaman, dimana mobil sudah siap mengantar sang empu
"Silahkan" Pak Casbari sopir baru keluarga Anand, mempersilahkan tuannya masuk
"Hati hati pih" Hawa ikut ikut menata Anand, agar duduk dengan nyaman
Setelah mobil berjalan, mereka melanjutkan obrolannya
"Memangnya hari ini kamu tidak kuliah?" Tanya Anand
"Kuliah pih, biasanya Hawa ambil jam kuliah habis maghrib"
"Tidak kamu ruba jadwalnya?" Tanya Anand
"Entahlah pih. Sudah kebiasaan"
Setelah sampai dishowroom, mobilpun berbelok, menuju parkiran khusus pemilik dan parkiran para karyawan
"Sini ya pih" Tanya Hawa kagum
"Iya, ayo masuk" Anand keluar lewat pintu kiri, dan Hawa keluar lewat pintu kanan mobil
Hawa langsung menggandeng Anand, sambil berdecak kagum "Wow gedenya. Ini toko mobil papi? eh showroom?"
Anand tersenyum "Iya"
Hawa melihat mobil yang dipajang berderet rapih.
Tiba tiba
"Selamat pagi pak" Sapa seseorang, yang mengagetkan lamunan Hawa
"Pagi. Penjualan berjalan lancar Haidar?" Tanya Anand, pada orang kepercayaannya
"Alhamdulillah lancar pak"
-
Mereka sudah diruangan milik Anand. Hawa berdiri memperhatikan orang orang bekerja dibalik kaca ruangan ini
"Pih, sepertinya ada tamu pih datang kemari" Hawa berbelok mendekati meja Anand
Anand berdiri, ingin memastikan itu tamu, atau calon pembeli
"Oh itu calon pembeli. Kau ingin kesana?" Anand
"Iya pih, tapi malu hehe" Hawa nyengir kuda
"Baiklah, ayo kita kesana" Anand
Anand dan Hawa keluar mendekati calon pembeli
"Nah ini bapak pemilik showroom" Ucap Edo Marketing otomotif "Maaf pak, tadi dia menanyakan bapak" Bisik Edo pada Anand
Mereka bersalaman.
Terkadang, calon pembeli ingin sekali melihat keberadaan pemiliknya. Alasannya klasik, mereka lebih sreg soal harga. Padahal, harga dibandrol sama.
Hawa memperhatikan Anand menjelaskan sedetail mungkin soal mobil dihadapannya
Tidak memakan waktu lama, pembeli langsung tertarik dan membelinya
"Pih, dia jadi membeli mobilnya?" Tanya Hawa penasaran
"Jadi, ayo masuk" Anand mengajak Hawa masuk lagi keruangannya
"Kok, tidak bayar sama papi?"
"Tidak, mereka diurus oleh para admin disini"
"Oh, jadi papi tinggal duduk"
"Ahaha, kau ini"
Mereka sudah masuk kembali diruangan Anand
"Waaah kok tiba tiba banyak makanan pih" Mata Hawa melebar
"Makanlah, kau pasti jenuh"
"Boleh?" Tanyanya
"Boleh, makanlah" Anand mengambil apa yang ia suka, Hawapun sama
-
Sementara dipabrik roti milik Fariz.
Fariz berjibaku dengan dokumen yang menumpuk
Tok tok tok
"Masuk" Fariz
"Riz, sudah saatnya makan siang. Kau akan aku pesankan makanan, atau kita kesana bareng?" Ucap Firad
"Sebentar. Kita kesana bareng saja"
-
Dikantin
"Kelihatannya, kau tidak nafsu makan Riz?"
"Entahlah, akhir akhir ini makanku tidak berselera. Ah Hawa, sekarang sedang apa ya?" Menjawab pertanyaan Firad, tapi fikirannya melayang ke Hawa
BERSAMBUNG...
trenyuh aku..... banyu moto gak bisa mandek....
trenyuh aku..... banyu moto gak bisa mandek....