Kesedihan kadang membuat kita lupa dan menjadi gelap susah membedakan mana yang salah dan benar hingga menimbulkan kemarahan yang menyebabnya sulit tuk menyengarkan penjelasan hingga akhirnya penyesalan pun datang dan membuat kita menjadi Sadar namun semua sudah terlambat, Waktu yang dulu sudah berputar tidak mungkin bisa kembali lagi.
Ikuti kelanjutan Kisah Nadia Dan Kasih yang berjuang menjaga ibunya membalas budinya dulu...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nadataskia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26.
Ayah keluar dari kantor polisi dengan perasaan penuh harap, semoga usahanya akan membuahkan hasil, dari situ ia segera menuju warung terdekat untuk membeli nasi untuk makan siang sesuai pesanan ibu, untuk dirinya dan juga kedua orang yang ia sayangin.
Di sepanjang jalan ayah melaju motornya dengan sangat pelan sambil melihat sekeliling berharap kalo bisa bertemu dengan Kasih di suatu tempat, tapi ayah tidak sadar kalo harapanya hanyalah sebuah harapan yang entah akan sampai kapan bisa terwujud, karena Kasih sudah tidak berada lagi di satu daerah dengan mereka.
" Semoga saja bisa bertemu Kasih di suatu tempat, semoga Kasih masih belum jauh dari sini," doa ayah sepanjang jalan.
Setibanya ayah di warung makan tidak sama sekali ia bertemu dengan putrinya membuat ayah sedikit kecewa tapi tidak patah semanggat, ia akan terus berusaha lagi untuk mencari putri bungsunya.
"Permisi bu, Saya beli nasi emoat bungkus," kata ayah memesan nasi kepada penjual.
"Lauknya apa aja pak?" tanya penjual.
"Hmm yang dua bungkus pakai ayam goreng sama telor dadar ya! di samain aja, terus dua lagi pakai ayam pedes sama sayur sambel kentang goreng samain juga, udah itu aja," jawab ayah duduk sambil menunggu.
Penjual pun segera membuatkan pesanan ayah dengan sangat cepat karena sudah terlatih juga mungkin, setelah keempat pesanan ayah terbungkus rapi dan penjual memasukannya ke plastik lalu memberikannya ke ayah.
"Ini pak, sudah jadi!" kata penjual.
"Berapa srmuanya bu?" tanya ayah siap mengeluarkan uang seratus ribuan.
"Semuanya jadi lima puluh ribu pas," jawab si penjual.
Ayah memberikan uangnya dan menunggu kembalian, setelah kembalian di terima ayah pun pemit pergi dengan menguncapkan terima kasih lalu melaju motornya jauh dari tempat itu menuju rumah, karena tidak mau membuat kedua orang yang ayah sayangi menunggu lama dalam keadaan kelaperan.
*****
Sementara ibu dan Nadia masih asyik nonton tivi sambil menunggu ayah datang, hari sudah mulai siang suara azdan duhur pun sudah terdengar sedari tadi, ibu dan Nadia sudah solat bersama.
Setibanya ayah di rumah jam sudah menunjukkan pukul 13.00 wib, ayah langsung masuk ke dalam dan segera menyiapkan makanan untuk istri dan putrinya karena ibu harus minum obat setelah ini.
"Assalamualaikum!" salam ayah masuk.
"Waalaikumsalam," jawab ibu dan Nadia bareng.
"Maaf ya, ayah telat tadi rame warungnya jadi ayah harus menunggu dulu deh," kata ayah membukan bungkus nasinya.
"Silakan ibu makan dulu lalu segera minum obat, ini punya Nadia dan juga Kasih, panggil Kasih suruh segera makan keburu adem nanti nasinya!" perintah ayah lupa.
Ibu dan Nadia hanya saling lirik merasa sedih teringgat Kasih lagi, ayah lupa kalo Kasih sudah tidak bersama mereka lagi.
"Ayahh... tapi Kasih kan tidak ada," jawab Nadia sedih.
Perkataan Nadia menjadi pukulan untuk ibu tanpa sadar ibu kembali menanggis lagi, dan ayah pun juga tersadar segera istigfar.
"Astagfirlloh, ya ayah lupa terlalu rindu hati ini sama Kasih maafin ayah, bukan maksud ayah untuk membuat ibu bersedih lagi, ayah juga rindu Kasih dan mengkhawatirkan dia, dimana anak ini semoga saja dia baik-baik saja dimana pun berada," kata ayah menyesal saat melihat ibu menanggis lagi.
Ayah mengisap air mata ibu yang mengalir tanpa permisu di wajahnya yang membasahi kedua pipinya, ayah sanggat mengerti dan teriris hatinya, ini memang bukan kali pertamanya ayah melihat ibu menanggis melainkan sudah sering bahkan kelewat sering saat dulu pertama kali mereka menjalin hidup bersama.
Tapi baru kali ini ayah merasakan kepedihan yang sangat mendalam di hati ibu kerena kesedihan ini adalah pukulan terberat baginya kehilangan putri bungsunya.
Lama ayah membujuk ibu dan akhirnya ibu mau juga untuk bethenti menanggis dan memakan nasinya mumpung masih hanggat karena harus minum obat lagi setelah itu.
****
Di Kota tempat Kasih di sekap.
Sudah setengah hari ini Kasih betputar-putar dari satu mobil ke mobil lain untuk meminta-minta uang, bukan untuk dirinya melainkan untuk si tuan penculik yang memang sedang memanfaatkan anak-anak di bawah umur untuk menjadi sumber mata pencariannya.
Sepuluh anak lain yang di pisahkan dari orang tuanya juga tenggah sibuk bekerja, ada yang sedang mengemis, ada yang mengamen ada yang mengelap kaca mobil, dan ada juga yang sedang mencopet, semua itu telah di ajarkan oleh si penculik, dan mereka ( sang anak) terpaksa melakukannya demi untuk menyelamatkan dirinya sendiri dari kejejaman para tuan penculik itu.
Karena jika mereka berani membantah akan ada hukuman berat yang menanti, selain tidak dapet jatah makan selama sehari mereka juga akan di pukuli sampai babak belur, ya begini cara kejam orang pemalas yang nenghalalkan segara cara untuk mendapatkan uang tak memikirkan orang lain yang penting baginya hanyalah dirinya bisa makan.
Sudah siang begini Kaleng yang tadi bagi di berikan kepada Kasih untuk modalnya usaha mencari uang hanya batu tetisi sedikit karena memang Kasih sedang tidak enak badan membuat gerakannya sedikit melambat, berkali-kali Kasih melewatkan lampu merah sampai kembali berubah hijau lagi.
Ridwan yang melihat dari kejauhan merasa khawatir dengan Keadaan Kasih ia pun menghampiri Kasih dan hendak membantunya, di saat semua anak sibuk akan dirinya masing-masing tak perduli satu sama lainnya karena moto mereka adalah bertahan hidup untuk sendiri karena jika mereka gagal tidak menenuhi target setoran sehari maka jatah makan tidak akan dapat.
Mereka di pekerjakan dari pagi hari hingga sore hari dan target setoran mereka seharinya harus dapet uang tiga ratus ribu satu anaknya dan dari situ yang menentukan jatah makan mereka, jika mereka dapet sesuai target maka jatah makan meraka bisa penuh sehari tiga kali, jiks hanya dua ratus makanya makannya hanya dua kali, dan begitu seterusnya, dan jika tidak dapet uang sama sekali, jatah makan pun tidak ada.
"Kasih kamu kenapa?" tanya Ridwan menghampiri Kasih.
Kasih diam tak menjawab pertanyaan Ridwan.
"Ya ampun Kasih kaleng kamu masih kosong kalo begini caranya nanti kamu tidak dapet makan, ayo kita cari uang sama-sama biar nanti kamu bisa makan!" ajak Ridwan.
Tapi saat Ridwan mengandeng tangan Kasih ia terkejut karena tangganya begitu panas sekali, dari tangan Ridwan segera mengecek dahinya Kasih untuk memastikan dugaannya benar kalo Kasih sedang deman.
"Ya Allah Kasih kamu demam, kenapa tadi kamu gak bilang sama, bos Barong sih kalo kamu sakit biar ijin gak usah tugas hari ini, sini aku bantu kamu istirahat!" ajak Ridwan membantu Kasih betjalan.
Dengan berjalan sedikit pincang karena memang kakinya masih sakit di tambah kondisinya yang saat ini sedang tidak enak badan Kasih berjalan betlahan di bantu Ridwan mengikuti langka kakinya dengan lemas kepinggir untuk istirahat.
Anak buah bang Barong yang sedang mengawasin anak-anak melihat kejadian ini dan segera menghampiri Kasih dan Ridwan yang menepi.
simpen==> simpan
bagus