📢📢 WELCOME DI AREA BAWANG GORENG😭😭
Kamiya Maulida harus merelakan kebahagiaan yang selama ini ia bangun hancur, demi mewujudkan wasiat terakhir sang ibu. Tahun ke tahun ia berusaha menghapus semua kenangan indah yang makin lama nampak semakin nyata. Bahkan sosok sempurna di depan matanya tak bisa menggantikan satu nama yang tetap tersimpan apik di hati.
"Gue nggak pernah pengen lu pergi, Mi. Tapi kalo lu nggak percaya sama kebahagiaan yang gue tawarin lu boleh pergi. pergilah, gue tetep di sini. tapi jika suatu saat lu kembali, gue pastiin perasaan ini bukan buat lu lagi. gue pastiin nggak akan ada 'kita' lagi." Ardi Rahardian.
"Aku dan kamu pernah bersama, bahagia. Berada di fase dunia milik berdua, yang lain ngontrak. Karena suatu hal aku pergi, membiarkanmu merasakan ditinggal pas sayang-sayangnya. Jika kini aku kembali, bisakah kamu dan aku menjadi kita?" Kamiya Maulida.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Net Profit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Puluh Empat
Miya menerima berkas itu dalam diam. Sekali lagi ia memastikan apakah lelaki di hadapannya benar-benar Ardi nya. Tapi suara dan tatapan itu, dia benar-benar mengenalinya. Tapi mengapa Ardi malah memanggilnya dengan sebutan ‘mbak’ seolah mereka tak saling kenal?
Sekali lagi Ardi hanya tersenyum sebelum akhirya berjalan menjauh dari Miya.
“Ardi…” Miya memanggilnya dengan suara yang sudah terisak menahan tangis.
Lelaki yang sudah berjalan beberapa langkah di depannya itu berhenti tanpa membalik tubuhnya.
“Ardi…” panggilnya sekali lagi. Berkas-berkas ditangannya kembali berjatuhan.
Kini Miya memberanikan diri melangkahkan kakinya. Berhenti tepat di belakang Ardi, hingga ia bisa mengirup dalam-dalam parfum yang dikenakan lelaki itu. Masih sama seperti dulu, aroma yang begitu ia kenali. Aroma yang sudah empat tahun tak ia hirup. Bahu tempatnya bersandar kini benar-benar ada di hadapannya.
Miya membuang jauh-jauh rasa bersalahnya yang meninggalkan Ardi dulu. Memantapkan hati untuk memperjuangkan pemilik hatinya. Dia melingkarkan kedua tangannya di perut Ardi. Memeluk laki-laki jangkung itu dari belakang.
“Ardi, maafin aku.” Ucap Miya sambil menangis tersedu.
Cukup lama Ardi membiarkan Miya memeluk tanpa sepatah kata pun keluar dari bibirnya. Ia hanya mendengar Miya berulang kali mengatakan maaf. Ardi bisa merasakan air mata Miya sudah membasahi baju yang ia kenakan.
Saat ini Ardi begitu dilema dengan keadaan. Ia tak pernah menyangka jika dirinya akan bertemu kembali dengan Miya, gadis yang sudah berhasil membuat hatinya tertutup untuk orang lain. Bertahun-tahun ia menunggu gadis yang sedang memeluknya itu kembali, tapi saat ini ia tak tau harus melakukan apa.
Sejak melihat seorang gadis berambut panjang sedang berdiri di samping mobil tadi, ia sudah mengira itu Miya. Tapi dia menyakinkan dirinya dengan menatap berlama-lama sosok itu untuk memastikan dirinya tak salah melihat.
Tak sengaja tatapannya bertemu, melihat respon gadis yang juga menatapnya membuat Ardi yakin jika itu Miya. Ardi beranjak dari duduknya dan mengambilkan berkas-berkas yang berjatuhan. Begitu melihat dari dekat, ternyata benar itu Miya. Rambutnya panjang tanpa poni, sayang saat ini ia tak bisa melihat senyum khas Miya karena gadis itu justru terlihat bersedih bertemu dengannya, hingga akhirnya Ardi memlilih berpura-pura tak mengenalinya.
Tapi tak disangka Miya berani memeluknya dari belakang, bahkan gadis itu terus menagis tersedu-sedu.
Ardi mengusap kedua tangan Miya yang melingkar di perutnya, ia melepaskannya dan berbalik menatap Miya dalam diam.
“Maafin aku, Di.” Lagi-lagi kata yang sama terucap dari bibir Miya dengan suara yang sedikit bergetar.
“Ardi…” panggil Miya, ia memberanikan diri menatap mata Ardi. Masih tak bersuara Ardi hanya menatapnya balik.
“Ardi… jangan diem aja. Aku harus gimana supaya kamu maafin aku?”
“Bilang Di… aku bakal lakuin apa aja asal kamu maafin aku.
“Aku tau Di, kalo aku udah salah banget ninggalin kamu dulu. Tapi aku punya alasan Di…
“Maafin aku Di…” kini tangis Miya makin pecah mendapati Ardi tak juga mau berbicara padanya.
Ardi tak bisa membiarkan gadis ia cintai menangis begitu lama. Sejak awal dia tau jika Miya tak mungkin meninggalkannya tanpa alasan. Mengingat hubungan mereka yang sebelumnya baik-baik saja.
Kedua tangan Ardi terulur untuk menghapus wajah air mata di pipi Miya.
“Jangan nangis lagi. Yang lalu kita lupakan saja.” Ucap Ardi seraya tersenyum kemudian merengkuh gadis itu ke dalam pelukannya.
“Ardi…”
“Hm?”
“Daddy Ardi… aku sayang sama kamu. Aku harus gimana Di? Supaya kamu dan aku kembali menjadi 'kita' lagi.” Tanya Miya begitu Ardi melepaskan pelukannya.
“Jangan pernah pergi lagi, Kamiya Maulida.” Jawab Ardi. “Aku anterin kamu pulang.” Ianjutnya.
Miya mengangguk setuju dan mengikuti Ardi yang berjalan sambil menggenggam tangannya menuju mobil yang terpat terparkir di samping mobilnya.
Sepanjang jalan Ardi tak mepelaskan genggamannya pada tangan Miya. Keduanya masih larut dalam diam dengan saling bersitatap.
“Masih tinggal di rumah yang dulu?” tanya Ardi.
“Iya Di.” Jawab Miya.
“Salama ini kamu kemana?” saking lamanya tak bertemu, meskipun ada banyak hal yang ingin keduanya bicarakan tapi rasanya mendadak canggung. Seperti ada kaca pembatas diantara mereka.
“Singapura.”
Setelah itu kembali hening, lagi-lagi mereka hanya saling tatap sesekali.
Setibanya di rumah, Ardi mengikuti Miya masuk ke dalam rumah.
“Duduk dulu, Di. Aku bikinin kamu minum.” Ucap Miya kemudian berlalu ke dapur.
Miya mengambil kopi dan gula, memasukannya ke dalam gelas. Bibirnya tersenyum tapi air matanya pun ikut menetes. Iya tak menyangka jika jalannya untuk bertemu Ardi begitu dimudahkan oleh sang maha kuasa.
“Ardi, aku bersyukur bisa bertemu kamu lagi.” Ucapnya lirih.
“Tuhan, terima kasih sudah mengembalikan Ardi ku.” Ucapnya lagi.
“Terima kasih sudah kembali.” Ucap Ardi yang memeluknya dari belakang, “jangan pernah pergi lagi.” Ucapnya lagi seraya mencium pucuk kepala Miya.
Miya membalik tubuhnya dan kembali memeluk Ardi, “aku nggak akan pergi lagi, Di. Aku cinta sama kamu. sejak kita SMK sampe sekarang. Nggak ada yang bisa gantiin kamu.”
“Jangan pernah pergi lagi bibinya caby.” Ucap Ardi sambil menatap lekat wajah Miya.
“Aku bakal ceritain semuanya Di. Kenapa aku ninggalin kamu dulu.”
Keduanya beranjak dan duduk di ruang tamu, "Waktu itu aku bener-bener nggak punya pilihan lain..."
Ardi menangkup wajah Miya dengan kedua telapak tangannya, membuat Miya menghentikan cerita yang bahkan baru akan di mulai.
"Aku nggak peduli Mi. Yang penting sekarang kamu udah kembali." Ucapnya kemudian mengecup sekilas bibir Miya.
"Tapi kamu harus tau, Di."
"Nggak sekarang sayang. Aku kangen, aku cuma mau kita kayak gini aja." Jawab Ardi kemudian kembali menyecap manisnya madu rindu. Mempererat dan memperdalam ciuman mereka. Menggugurkan semua rasa kecewa dan benci yang tetap kalah oleh banyaknya cinta yang tak pernah berkurang meski sekian lama mereka berpisah.
Getaran ponsel di sakunya membuat Ardi menyudahi ciuman mereka, untuk menjawab telpon.
“Siapa?” tanya Miya begitu Ardi menyimpan kembali ponsel ke sakunya.
“Eh tunggu yang, kok HP kamu jadi warna pink gini sih?” tanya Miya yang kini memengang mengambil alih ponsel dari tangan Ardi.
“HP Freya itu. Tadi ketinggalan di cafe, makanya aku balik lagi buat ambil.” Jawab Ardi.
“Aku juga kangen sama Freya sayang. dia baik-baik aja kan? Masih kayak dulu nggak?”
“Nanti kapan-kapan kamu ketemu sama dia sendiri aja. Lihat sekarang dia kayak apa.” Ucap Ardi, “tidur gih udah lewat tengah malem. Aku juga harus pulang” Lanjutnya.
"Aku nggak mau tidur. Aku mau kita kayak gini aja terus." Miya memeluk Ardi erat-erat.
"Aku takut, kalo aku tidur pas bangun nanti kamu udah nggak ada. Aku takut kalo ternyata semua ini cuma mimpi." Lanjut Miya, gadis itu kembali terisak dalam tangis.
semuanya👍👍👍👍👍