Setelah kesalahan yang dilakukan akibat jebakan orang lain, Humaira harus menanggung tahun-tahun penuh penderitaan. Hingga delapan tahun pun terlewati, dan ia kembali dipertemukan sosok pria yang dicintainya.
Pria itu, Farel Erganick. Menikahi sahabatnya sendiri karena berpikir itu adalah kesalahan diperbuat olehnya saat mabuk, namun bertemu wanita yang dicintainya membuat Farel tau kebenaran dibalik kesalahan satu malam delapan tahun lalu.
Indira, sang pelaku perkara mencoba berbagai cara untuk mendapat kembali miliknya. Dan rela melakukan apapun, termasuk berada di antara Farel dan Humaira.
Sebenarnya siapa penjahatnya?
Aku, Kamu, atau Dia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Girl_Rain, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29. Perkara
Mata Indira melirik ke arah lain, riak wajahnya tampak cemas sampai mengeluarkan keringat dingin. Satu. Hal pemikirannya.... Benarkah ia ingin pria ini menyakiti Humaira?
"Kenapa diam? Aku salah menebak ya?" Exel menyeringai. Sementara matanya terus menelisik wajah Indira dengan tatapan takjub. Bagaimana wajah tirus, bulu mata lentik, hidung mancung serta bibir tipis menarik seluruh atensinya.
Sadar atas pancingan, Indira mengelak. "Terserah padamu mau melakukan apa? Itu tidak ada hubungannya denganku."
Exel bergumam seraya menaikkan bibirnya. "Tentu saja ada hubungannya. Aku menyakiti Humaira, Farel hancur, Farel yang hancur berdampak hancurnya kamu, dan kamu yang kucintai menghancurkanku dengan ketidakbahagiaanmu. Makanya aku harus menanyakan pendapatmu?"
Indira tertawa. "Kalau kamu berkata demikian.... Pada akhirnya tidak ada yang bahagia. Pantas saja selama ini enggak ada gebrakan dari orang itu, karena ia tahu resiko dari perbuatannya."
Exel mengerutkan kening sesaat, mencoba menebak siapa maksud 'orang itu' dari Indira. "Apa yang kamu maksud itu papamu? Kamu sadar terhadap perlindungan yang diberikan olehnya?"
"Tentu saja, kalau tidak.... Mana mungkin kamu hancur delapan tahun lalu. Bodohnya dulu disaat perusahaan ini diambang kehancuran, aku malah mendaftar jadi karyawan tanpa tahu sosok atasannya adalah kamu," tutur Indira yang menyadari kebodohannya.
Dirinya lantas mendorong Exel dan mundur beberapa langkah. Pria itu cukup terkejut karena kehilangan kenyamanan. "Aku tahu aku tidak tahu diri, berlagak dengan perlindungan yang aku benci. Tapi tetap saja, jika kamu menyentuhku, orang itu tidak segan-segan membunuhmu."
Exel menaruh kedua tangannya ke dalam saku celana. "Benar, tapi seperti yang aku katakan di pertemuan sebelumnya, mungkin papamu tidak keberatan sekarang. Papamu tidak akan membiarkan kamu terus-menerus terpuruk dalam cinta sepihak, dan akan mendukungku untuk membahagiakan kamu."
"Aku tidak memerlukan dukungan darinya. Dari awal aku tidak pernah menerima atur olehnya, ini hidupku atas kendaliku sepenuhnya. Kamu jangan berharap apa-apa, dan berhenti menggangguku," balas Indira disertai tatapan tajam.
Indira berbalik dan meraih gagang pintu, berniat untuk pergi, namun kata-kata Exel menghentikannya.
"Tidak, aku memiliki kesempatan, terlebih satu bulan ke depan. Aku harap kamu datang awal ke apartemenku untuk mengurusku besok, wahai sekretarisku."
Indira meremat kuat gagang pintu. "Apa kamu tidak bisa melepasku?"
"Tidak, aku membutuhkan satu miliyar untuk melepaskanmu, itu yang tertulis di kontrak yang kamu tandatangani," ucap Exel tersenyum.
Indira pun membanting pintu dan pergi dari sana, meninggalkan sosok pria yang dilanda kesenangan berlimpah.
"Sudah cukup aku melihat perjuangan kamu, Indira. Kini saatnya kamu merasakan perjuangan orang lain padamu," ucap Exel sungguh-sungguh. Ia menjadi tidak sabar akan hari esok dilihat dari senyum sumringahnya.
Di sisi lain.
Humaira membuka pintu mobil dan melangkah melewati pak Hardi yang bermaksud membuka pintu untuknya.
"Kenapa kamu terus cemas? Aku ikutan cemas juga," gerutu Humaira pada pria di seberang telepon.
"Aku takut terjadi apa-apa padamu. Makanya lebih baik pak Hardi saja yang jemput Rifqa."
Humaira masuk ke halaman sekolah dan berdiri di antara para orang tua lainnya. "Farel, plis.... Aku mau memenuhi kebutuhan Rifqa seperti anak lainnya. Lagipula, ini masih menjadi salahmu yang kurang perhatian padanya."
"Iya, Sayang, iya. Aku yang salah, tapi aku mengkhawatirkan mu." Dikantor, tepatnya di kursi dalam ruangan seorang pria duduk di sana. Telunjuknya menggaruk kening lantaran Humaira kembali melontarkan kata-kata yang membisukannya.
Humaira tersenyum malu-malu dibalik cadarnya. "Aku tahu kekhawatiranmu, Suamiku. Sebagai istrimu, sangat butuh perlindungan darimu. Dan juga.... Sebagai sosok istri duda anak satu, Rifqa butuh kasih sayang dariku. Maklumi diriku, Suamiku. Istri kamu ini berharap ridhamu. السلام علیکم."
Humaira memutuskan panggilan sepihak, lalu menunggu sembari melihat satu-persatu anak-anak yang keluar kelas, berharap netranya langsung menemukan Rifqa.
Rifqa memasukkan semua bukunya ke dalam tas dan memakai tas ke punggung, kemudian berjalan ke luar kelas. Tangannya menarik pet jelbabnya, lalu menggunakan kedua tangannya untuk memasukkan kepalanya lagi.
Tiba-tiba seseorang berhenti di depan menghadangnya, membuat Rifqa berhenti.
"Hari ini gimana? Kamu dijemput lagi 'nggak?" tanya anak seumuran Rifqa itu.
"Nggak tau, aku belum ke tempat parkir," jawab Rifqa bermimik cemberut. Menurutnya perempuan di depannya terlalu kepo sama kehidupannya.
Perempuan itu menyilangkan dada. "Kayaknya kamu nggak di jemput, soalnya aku nggak lihat mobil yang selama ini jemput kamu," ucap anak perempuan itu mencemooh.
"Terus, apa hubungannya denganmu? Kalau nggak dijemput, aku juga nggak bakal ditawarin tumpangan olehmu," balas Rifqa berjalan melewati teman sekelasnya itu.
Kejadian tadi menarik orang-orang untuk melihat, tentu saja para orang tua mulai bertanya tentangnya pada anak-anak mereka.
"Kasihan ya."
"Orang tuanya kayaknya nggak peduli padanya."
"Orang tuanya tidak menyayanginya."
Wajah Rifqa ditekuk saat berjalan ke arah gerbang, namun seruan namanya yang keras membuat mukanya menengadah pada sosok yang berjalan kepadanya.
"Akhirnya ketemu," ucap Humaira menghirup napas lega.
Kedua tangan Rifqa yang sempat meremat tali tas pun luruh, disertai mata yang membola.
Perlahan Humaira berjongkok, membuat muka tingginya sama dengan Rifqa. "Mulai hari ini kalau ada waktu, Tante yang bakal jemput kamu," ucap Humaira yang lalu tersenyum.
Kening Humaira mengkerut dan matanya mulai melirik ke sana-kemari merasakan beberapa tatapan ke arahnya. Ada apa dengan mereka?
"Bunda."
Humaira berkedip akan panggilan Rifqa.
"Makasih udah jemputin, Rifqa. Rifqa, senang." Rifqa berkata manja. Lalu memeluk leher Humaira.
Humaira tersenyum, dan membalas pelukan itu.
Orang-orang mulai berbisik, dan bisikan mereka seolah mengatakan langsung di depan mukanya.
"Itu istri keduanya ya?"
"Cih, pakaian doang syar'i tapi kelakuan astaghfirullah."
"Pelakor!"
Lantas Humaira melepas pelukan mereka. "Rifqa, ayo pulang."
Sepertinya ia tidak bisa berlama-lama di sini. Makanya Humaira berdiri dan meraih tangan Rifqa dan mengajaknya memasuki mobil. Sikapnya yang melarikan diri tentu saja menimbulkan cemoohan terang-terangan.
Humaira menghela napas.
Inilah yang harus aku tanggung kalau dinikahi pria cerai hidup dalam waktu dekat dengan cerainya. Aku harap bisa menahan diri untuk tidak menjawab mereka.
Riaknya yang serius membuat Rifqa mengelus punggung tangannya sehingga Humaira tersentak.
"Makasih, Bunda," ucap Rifqa sembari tersenyum sumringah.
Dan hal tersebut melegakan hati Humaira yang sempat memanas. Humaira balas tersenyum juga. "Iya, sama-sama, anaknya Bunda."
Dipanggil begitu berhasil menciptakan kebahagiaan luar biasa dalam diri Rifqa. Ini pertama kalinya, walau tidak berasal dari mama kandungnya, namun Rifqa menunjukkan reaksi senang sampai bersenandung.
Telapak tangan Humaira terangkat dengan maksud mengusap kepala Rifqa. "Pak Hardi, tolong berhenti di toko dessert ya."
"Baik, Nyonya."
...🌾🌾🌾🌾...