Karena alasan cinta, Aisha mengubur cita-citanya dan menikah muda dengan Aarick. Namun sayang, ternyata cinta saja tidak mampu menjaga keutuhan rumah tangganya.
"Di mana dia menyentuhmu! Apa selama ini kau selingkuh di belakangku?" teriakan Aarick menggema di dalam kamar.
"Apa kau akan melepaskan aku jika aku menjawab iya?"
"Aisha!!"
Sejak pertengkaran itu Aarick semakin bersikap dingin, bahkan rasa cemburunya sudah menyakiti Aisha dan janin yang dikandung istrinya.
Bagiamana akhir rumah tangga mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon violla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku Menginginkanmu
"Kak jangan di sini, malu." Wajah Aisha bersemu merah ketika Aarick melepaskan bibirnya. Dia menunjuk satpam yang saat itu sudah membuka pagar besi rumahnya. Meskipun mereka sudah menyandang status sebagai suami istri tetap saja Aisha tidak mau memertontonkan kemesraannya di depan umum.
Aarick mengacak rambut Aisha dengan gemas, lalu mengusap bibir Aisha yang hampir bengkak karena ulahnya, andai saja ia tidak ingat kalau sedang berada di mobil, detik ini juga dirinya pasti sudah menerkam Aisha tanpa ampun.
"Aman, sayang ... siapapun nggak bisa liat kita di dalam mobil." Aarick memasangkan sabuk pengaman istrinya kemudian bersiap melajukan mobil.
Seperti pasangan pengantin baru pada umumnya, Aarick dan Aisha sama-sama tidak mau menjaga jarak, sesekali Aarick mencium tangan Aisha dan Aisha juga melakukan hal yang sama. Dunia terasa milik berdua jika dijalani dengan orang tercinta.
Aisha terperangah ketika Aarick mematikan mesin mobilnya tepat di depan sebuah gedung yang beberapa hari lalu menjadi perbincangan hangat antara dirinya dengan teman-temannya.
Universitas ternama di tengah kota itu seakan melambai kearahnya. Kening Aisha mengkerut bingung saat Aarick membuka pintu mobil untuknya.
"Sampai kapan mau ngeliatin gitu, hm?" Aarick tersenyum sembari meraih tangan Aisha dan mengajaknya jalan di sepanjang taman. Kehadiran Aarick dan Aisha menarik perhatian beberapa orang di sana.
Aisha menjadi tidak nyaman ketika tidak sengaja mendengar bisikan dari beberapa perempuan cantik yang memuji suaminya. Aisha cemberut dan merangkul lengan Aarick dengan posesive, seolah menunjukkan kepada semua orang jika Aarick hanya miliknya.
"Ngapain sih ke sini? Kakak mau tebar pesona sama mereka?" Aisha menghentakkan kakinya.
Aarick menoleh dan merapikan rambut Aisha yang sedikit berantakan karena hembusan Angin. "Pesonaku cuma untuk satu wanita ... Aisha Bella," bisik Aarick di telinga istrinya. "Nggak ada yang bisa buat aku berpaling dari kamu." Aarick mengecup pipi Aisha.
"Janji...?" Aisha mengangkat jari kelingkingnya.
"Janji! Kamu juga harus meyakini hal yang sama di dalam hatimu. Karena mulai hari ini waktu kamu akan tersita di sini, di tempat ini semoga aja kamu nggak tergoda sama yang lain." Aarick menyatukan jari mereka, mengikat sebuah janji yang tidak kasat mata.
"Maksudnya gimana?" tanya Aisha heran, sebab Aarick tidak menjelaskan apapun tentang kampus ini.
Dengan kedua telapak tangannya, Aarick mengapit wajah Aisha. "Ini kampusmu, sayang ... aku tau kamu menunggu saat-saat seperti ini. Selain berbakat mencuri hatiku, kamu juga berbakat di bidang yang lain. Kamu cerdas dan kamu harus selalu mengasah kemamampuanmu."
Mata Aisha berkaca-kaca, dia tidak tau kalau Aarick sudah menyiapkan semua ini. Aarick tidak seperti apa yang dikatakan Elang, sudah terbukti Aarick juga memikirkan masa depan Aisha. Aisha tidak salah memilih Aarick menjadi suaminya meskipun umur mereka terbilang masih cukup muda.
"Terima kasih...." Aisha membaur ke dalam pelukan Aarick.
"Aku akan selalu bangga sama kamu, sayang. Aku yakin kamu bisa mencapai keinginanmu." Aarick mendaratkan ciuman di kepala istrinya.
***
Urusan kampus sudah hampir selesai saat matahari sudah hampir tenggelam menyisakan cahaya jingga yang akan berubah menjadi warna hitam gelap. Sebelum itu terjadi Aarick dan Aisha sudah sampai di apartmen.
Aisha mengagumi semua isi lemari di kamar mereka. Beberapa gaun mewah, gaun malam dan masih banyak pakaian lain sudah tersusun rapi di dalamnya. Aisha terpesona pada lukisan wajahnya yang berukuran besar menempel di dinding persis di dekat tempat tidur mereka.
"Kapan kak Aarick nyiapin semua ini?" ia bermonolog sendiri, sementara Aarick masih di kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Cantik'kan?" Tiba-tiba Aarick memeluk Aisha dari belakang, mencium aroma wangi dari rambut istrinya yang masih setengah basah.
"Kakak penuh dengan kejutan ya? Aku nggak pernah tau semua ini." Aisha terkekeh ketika Aarick menggigit kecil telinganya.
"Sampai kapanpun lukisan itu akan tetap di sana, menjadi saksi kegiatan kita nanti." Sepertinya menggoda Aisha sudah menjadi hoby baru Aarick, sangat mudah membuat pipi Aisha bersemu merah.
"Kita makan malam, yuk!" Aisha mengalihkan pembicaraan, dia belum siap jika harus menyerahkan semuanya.
Aarick memutar tubuh Aisha sampai menghadapnya. "Tapi aku mau makan kamu." Aarick meraih dagu Aisha, ntahlah bibir istrinya sudah membuat ia candu, sedari tadi ia sudah berusaha menahan gejolak yang sempat menggelora di dalam dada.
Aisha sudah hapal dengan gelagat dan raut wajah mesum yang mendamba itu, dengan gerakan cepat ia mendorong punggung Aarick sampai keluar kamar.
"Makan malam dulu...!"
"Ah iya, kamu harus isi tenaga penuh, ya!"
"Apa, sih? Mesum aja." Aisha menjewer telinga Aarick sampai duduk di kursi meja makan.
"Makan apa adanya, cuma ini yang bisa aku masak." Aisha mengisi piring kosong dengan nasi, ayam goreng dan sayur bening, kemudian meletakkan piring itu untuk Aarick.
"Apapun yang kamu kelola pasti enak. Tangan kamu ajaib."
"Pinter banget sih ngerayunya? Ada maunya ya?" tanya Aisha sembari mengunyah makanan.
"Jelas lah, mauku nggak bisa ditunda lagi." Aarick mengerlingkan mata, sementara Aisha memutar bola mata kearahnya. Aisha tau kalau Aarick tidak akan bisa lagi melepaskannya.
Makan malam sudah selesai, Aisha masih mencuci piring saat Aarick berdiri tepat di belakangnya.
"Besok aja, nanti kamu masuk angin." Aarick mengarahkan tangan Aisha tepat di bawah kran air sampai tangan halus itu bersih dari busa sabun.
"Tanggung sedikit lagi."
"Nggak!" Aarick menutup krain air. Tanpa aba-aba ia menggendong Aisha menuju kamar mereka.
"Kak lepasin! Nanti jatoh!"
"Nggak di sini lepasinnya, tapi di kamar ... nanti di atas tempat tidur!"
"Bukan lepasin itu!" pekik Aisha kesal, ia memukul dada bidang suaminya.
Aarick tidak menghiraukan Aisha yang masih mengomel, tepat di depan pintu kamar Aarick mencium Aisha. Aarick mendorong pintu menggunakan kaki dan tanpa melepaskan panutan bibir mereka, Aarick merebahkan Aisha di atas tempat tidur.
"Aku menginginkanmu. Boleh?" tanya Aarick dengan suara gemetar penuh gairah. Tangannya sudah membuka tiga kancing piyama yang dipakai Aisha.
"Ta-takut," jawab Aisha malu-malu.
"Kenapa harus takut?" Tangan Aarick sudah tidak bisa diam, sudah berjalan ke permukaan kulit istrinya.
"Nanti sa---
Aarick memungkas ucapannya. "Percaya padaku." Tanpa banyak bicara dan tidak mau membuang waktu, Aarick kembali lagi menyatukan permukaan bibir mereka. Aisha pun melakukan hal yang sama.
Tangan Aarick meraih remot kecil dan mematikan lampu. Kini di malam yang sunyi di dalam kamar yang gelap gulita hanya ada Aarick dan Aisha.
Aisha merasa begitu di sayang, ia yang awalnya ketakutan dan menolak kini seakan menuntut agar Aarick terus memanjakannya. Membawanya menuju puncak yang menggelora.
***
Dahlah besok lagi😅