Aksa, pria dewasa yang sudah matang dan mapan harus dihadapkan dengan ancaman sang Ayah
yang sudah sangat lelah dengan kelakuannya yang selalu bergonta-ganti wanita.
mampukah Aksa menutup luka lamanya. dan membuka hati untuk wanita yang dijodohkan oleh orang tuanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najwatirta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bawalah bukti!
"bi cepat panggil mang ucup, kalau kita berdua yang ngangkat gak bakalan kuat".
"okey dokey neng",
'nyari aman daripada neng curiga mending manggil si ucup'
karin meletakkan kepala aksa di pangkuannya. sesekali menepuk pipi aksa agar dia terbangun.
'bi ijah lama banget sih manggil mang ucup gak tau gue kedinginan apa' batin Aksa
tidak lama bi ijah datang dengan mang ucup mengikutinya dari belakang. mang ucup kaget bukan main pasalnya selama ini dia tidak pernah melihat tuan mudanya pingsan sekalipun.
"bi, bibi bantu mang ucup bawa om ke kamarnya. biar karin nyiapin air hangat dulu di dapur", bi ijah mengangguk
karin berjalan dan menghilang di balik tembok.
"tuan, neng karin sudah tidak ada, ayo tuan berdiri dan segera ke kamar", Aksa dengan cepat berdiri dan berjalan menuju lift yang terletak di samping kolam renang.
"loh... tuan muda?", bi ijah membekap mulut mang ucup. dan membawanya menyusul aksa ke lift
"kamu jangan bilang ke neng karin cup kalo tuan Aksa hanya pura pura pingsan". ucup mengangguk
"ohhh jadi tuan muda hanya pura pura?", tanya ucup santai dan bi ijah pun mengangguk
"astaghfirullah.... berarti tuan muda bohongan", ucup segera menutup mulutnya sendiri sedangkan bi ijah menepuk keningnya melihat cara berpikir ucup yang sedikit lola menurutnya.
sesampainya di kamar Aksa, aksa segera merebahkan tubuhnya.
'ceklek'
karin masuk dengan membawa baskom berisi air hangat.
'ya ampun kenapa papa sama mama malah gak ada di rumah sih?'
karin duduk disamping ranjang dan mengelap wajah Aksa. mulai dari hidung mancungnya, jambang yang mulai tumbuh, bulu mata lentik, alis yang tebal.
'karin, apa yang kamu pikirkan!' karin segera menggeleng
karin yang kebingungan mencari cara bagaimana agar dia bisa mengelap tubuh aksa. perlahan karin mengelap bagian leher aksa yang masih mengenakan bathroobnya.
perlahan karin mengelap bagian tangannya, bagian atas tubuh aksa sedikit dibukanya untuk mempermudahnya mengelap, terlihat rambut halus tumbuh di bagian dada bidangnya.
karin menelan ludahnya. bimbang untuk melanjutkan atau tidak, karin merasa kasihan karena takut aksa akan demam.
semakin kebawah tampaklah susunan otot perut secara paralel yang membentuk tonjolan, karin melihat perut sixpack aksa yang berhasil membuat mukanya memerah.
sedangkan aksa yang sedang bersandiwara dilanda kebimbangan, pasalnya dia harus kuat menahan efek sentuhan lembut karin.
'shit! sentuhannya membuat junior ku bangun' aksa mengumpat kesal dalam hatinya.
terdengar suara pintu terbuka, bi ijah datang membawa bubur di nampannya. karin hendak berdiri, sialnya kakinya terpeleset dan jatuh ke tubuh Aksa.
"aaaaaaaa......" karin berteriak dan berlari ke arah bi ijah
"aaaaaaa.... kenapa neng?", bi ijah yang kaget sontak ikut berteriak juga
"ada yang tegak bik, tapi bukan keadilan". karin segera keluar dari kamar aksa. bi ijah yang tidak mengerti ucapan karin hanya menggelengkan kepalanya dan menaruh nampan diatas nakas.
"tuan, neng karin sudah keluar".
Aksa segera duduk dan mengatur nafasnya, dan berjalan ke arah kamar mandi.
"bi ijah keluar saja! aku mau mandi". aksa masuk ke kamar mandi dan mengguyur badannya yang terasa panas.
sedangkan di ruang tamu. Asryi dengan telaten mengompres luka lebam di wajah ramon.
"ahh.. pelan pelan, perih". keluh ramon, arsyi dengan telaten melembutkan sentuhannya.
"ma'afkan kak Aksa mon," ramon menggenggam tangan arsyi yang saat ini berada di sudut bibirnya
"aku tidak masalah aksa salah paham padaku, tapi tidak denganmu Ar.. aku mohon jangan diamkan aku seperti ini". ramon menatap manik cokelat arsyi, dia yakin arsyi juga masih mencintainya
"aku akan segera membawa bukti kalau malam itu aku hanya dijebak seolah aku akan memperkosamu. percayalah padaku ar", Arsyi mengangguk, ramon segera membawa tubuhnya kedekapannya.
"terimakasih, setidaknya sedikit bebanku berkurang. setelah ini, aku berharap kesalah pamahaman antara aku dan kakakmu juga akan berakhir", karin yang sedari tadi berdiri di samping mereka hanya bisa mendengarkan percakapan dua kekasih itu. kesedihan, itu lah yang dapat karin tangkap dari ekspresi mereka.
'sebenarnya ada masalah apa? dan kesalahpahaman? siapa yang menjebak kak ramon?'
Aksa yang sudah terlihat segar, keluar dari lift dengan menggunakan baju santainya. kaos oblong putih dan boxer hitamnya. Aksa melihat karin tengah berdiri di samping ruang tamu.
Aksa menghampiri Karin. sedangkan karin yang tidak menyadari kehadiran Aksa tetap berdiri melihat ramon dan arsyi yang masih berpelukan.
"sedang apa?", bisik Aksa
"sedang lihat teletubbies," karin baru sadar kalau suara yang barusan didengarnya adalah suara aksa. langsung membalikkan badannya menghadap aksa. potongan adegan beberapa saat lalu di kamar aksa melintas diingatannya
"kenapa wajahmu memerah?", tanya Aksa. karin meraba raba wajahnya.
"ish diam lah om!"
"teletubbies apa yang kamu lihat?".
"itu", karin menunjuk ke arah arsyi dan ramon. aksa mengikuti arah jari karin, langsung mengepalkan tangannya dan hendak berjalan ke arah ruang tamu.
"eitsss om mau kemana?", karin menarik lengan aksa
"aku akan memenggal kepalanya", kilatan kebencian terlihat jelas di mata aksa
"om itu salah paham!",
"kamu tidak tau masalah sebenarnya, sebelum dia membawa bukti aku tidak akan membiarkannya mendekati arsyi". karin membenarkan ucapan aksa, dirinya hanya mendengar pembicaraan ramon dan arsyi tapi dia tidak tau asal muasal permasalahan mereka.
Aksa melangkahkan kakinya dan langsung mencengkram kerah baju ramon.
"kak.. hentikan! kamu bisa membunuhnya!", isak arsyi
"keluar lo dari sini! jangan pernah deketin arsyi sebelum lo bawa bukti itu. urus saja pacar lo si clara ", aksa melepaskan cengkramannya dan segera keluar. karin menghampiri ramon dan arsyi.
"kak ramon, kakak baik-baik saja?", ramon mengangguk dan tersenyum
"buktikan kalau kakak tidak bersalah, aku akan membantu menenangkan om aksa", karin tersenyum
"susul dia rin, dia bisa menghancurkan rumah ini kalau sedang emosi", karin mengangguk dan menyusul aksa.
karin mencari keberadaan aksa namun bayangannya saja tidak terlihat. karin mendengar suara mobil aksa, segera berlari ke garasi.
'ish, aku harus ikut dengannya, tidak baik kalau dia menyetir dalam keadaan marah'
"om, tunggu! aku ikut". aksa mengabaikan karin yang menggedor kaca mobilnya
"om, buka pintunya!", aksa pun membuka kunci mobilnya. karin langsung duduk di samping aksa.
aksa mengendarai mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata.
"om, apa om sudah bosan hidup?", karin memegang erat sabuk pengamannya. namun yang didapatkannya aksa malah mempercepat laju mobilnya.
karin hanya pasrah dan memilih memejamkan matanya. ciiiiittttttt....... hening... tidak ada suara apapun
'apa aku sudah mati? apa malaikat sudah datang mengambil nyawaku?' karin enggan membuka matanya.
"apa kamu tidur?", suara serak aksa terdengar begitu dekat di telinga karin. saat karin membuka matanya dia kaget karena wajah aksa hanya berjarak beberapa senti saja dari wajahnya.
karin membulatkan matanya, sedangkan aksa menatap setiap bagian wajah karin dan berhenti di bibir mungil pinknya, aksa mendekatkan wajahnya dan memejamkan matanya siap mendaratkan bibirnya di bibir pink karin.
"haaaaaciiiiwwwww", aksa kaget langsung membuka matanya melihat karin yang baru saja bersin.