~Novel ini masih tahap revisi. Mohon maaf jika masih banyak tipo dan kepenulisan yang tidak sesuai kaidah kepenulisan dan PEUBI, terlebih di seperempat bab awal.~
Rania gadis cantik yang berprofesi sebagai guru SD bertemu dengan Kanaya anak kecil si periang yang memiliki magnet tersendiri, membuatnya begitu nyaman bersama kanaya dan begitupun sebaliknya.
Tanpa diketahui Rania, Kanaya adalah anak dari Leo dan Ayu sang kekasih yang menghianatinya dengan sahabatnya sendiri. Kanaya yang merindukan sosok seorang ibu dan terlanjur jatuh hati pada sang guru bertekad menjodohkan Rania dengan sang Papa, sesuai amanah ibunya untuk menyatukan kembali cinta Papa Leo dengan sahabatnya.
Namun, Rania sudah terlanjur sakit hati dengan pengkhianatan Leo dan Ayu yang membuatnya begitu terpuruk. Akankah Rania menerima Leo kembali setelah ia mengetahui kejadian yang sebenarnya terjadi di masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leogirl's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamu tak Terduga
Sebuah mobil berhenti tepat di depan rumah Rania, Leo dan Kanaya langsung turun. Leo melihat sepeda motor yang pernah ia temui terparkir rapih di samping mobilnya.
"motor ini????" Leo mencoba mengingat sesuatu,
"itu motor bunda, pa..." jawab Kanaya
"jadi ini motor bunda, Ya??"
"iya Pa, setiap hari bunda ke sekolah pake itu. emangnya kenapa Pa??"
"apa kamu ingat waktu Papa bawa martabak?" tanya Leo
"ya, terus??"
"berarti yang bayarin martabakmu waktu itu bunda Rania...." jawab Papa sedikit tak percaya mereka pernah hampir bertemu sebelumnya.
"maksudnya gimana pa??" tanya Kanaya bingung
"ceritanya panjang lain kali aja, sekarang kita ketuk pintu dulu. Katanya mo ketemu Bunda Rania !!!" tutur Leo.
Kanaya langsung antusias dia semangat mau bertemu Rania, dia sedikit berlari dan langsung mengetuk pintu.
tok...tok...tok.....
pintu di ketuk Kanaya,
Leo menghela nafas panjang dia membutuhkan banyak keberanian untuk menemui Rania. Tak selang berapa lama Ibu membuka pintu, ia terkejut melihat Leo berkunjung ke rumah.
"Nak Leo ???!!!" ucap ibu tak percaya
"Assalamualaikum nenek"
"Assalamualaikum Tante" ucap keduanya bersamaan sambil mencium tangan Ibu secara bergantian.
"Waalaikumsalam... Mari masuk nak..!!" ibu mempersilahkan keduanya masuk.
Kanaya mendahului ibu dan Leo masuk ke rumah dan langsung mencari Rania ke kamar. Tak selang berapa lama Kanaya turun dengan wajah sendu.
"silahkan duduk nak Leo..." ucap ibu bertepatan dengan Kanaya yang baru turun dari kamar.
"kenapa sayang kok mukanya ditekuk gitu??" tanya ibu
"Bunda tak ada di kamar, Aya kira bunda sedang di kamar..." tutur Kanaya
"Bundanya lagi ada urusan sama bu guru Suci, sebentar lagi juga pulang. Sekarang Aya minum aja dulu, Aya mau minum apa biar nenek buatkan sayang.??" bujuk ibu
"minum jus jeruk, boleh??" tanya Kanaya
"boleh, nenek buatin ya... Nak Leo mau minum apa??" tanya ibu kepada Leo.
"terserah tante saja..." ucap Leo.
Ibu mengambil minum dan meyajikannya.
"Tante apa kabar??" tanya Leo memulai pembicaraan
"alhamdulilah kabar ibu baik. kamu sendiri bagai mana kabarnya nak??"
"al......" belum juga selesai Leo menjawab Kanaya memotongnya
"Papa gak baik nek mikirin bunda mulu.." jawab Kanaya
"Kanaya...." Leo mendelik kepada Kanaya, ibu yang melihatnya hanya mengulumkan senyum
"Alhamdulilah baik tante..." tutur Leo kemudian.
Ketika mereka sedang berbincang Ayah pulang dari toko.
"eh... ada tamu nich ????" ucap Ayah
Leo yang melihat kedatangan Ayah Rania langsung berdiri dan salim mencium tangan.
"apa kabar om??"
"alhamdulilah sehat nak.. sudah lama tidak bertemu, kau masih sama seperti dulu..." ucap Ayah sambil duduk.
Ibu yang melihat ayah sangat lelah langsung mengambil air teh hangat dan memberikannya.
"mak kasih bu..."
"sama-sama yah..."
Ayah dan Leo berbincang sangat akrab kadang pembicaraan mereka di timpali dengan gelak tawa.
"Apa Rania sering pulang malam Om??" tanya Leo karena hari sudah menunjukan pukul 20.00 wib. namun, Rania tak kunjung pulang.
"biasa dia jarang pulang malam, dia lebih suka di rumah. mungkin karena main dengan Suci jadi lupa waktu. Biasanya kalau sama Suci memang begitu." jelas Ayah
"Om minta maaf, om belum memberitahu kebenaran tentang waktu itu kepada Rania. Om pikir dia sudah melanjutkan hidupnya dan melupakanmu, karena setiap pulang dia selalu tampak bahagia. Jadi om dan tante mengurungkan niat kami memberitahunya toh kamu dan Ayu waktu itu juga sudah menikah." ucap ayah lalu terdiam sebentar,
"Akan tetapi melihat keadaan Rania kemarin om baru menyadari sebenarnya dia tidak benar-benar melupakanmu. Dia hanya pura-pura sudah melupakanmu, jika tahu seperti itu sudah dari dulu om memberitahunya.." sesal Ayah
"sudah om semuanya bukan salah om, mungkin waktunya memang belum tepat." tutur Leo.
Kanaya yang sedang tidur di kamar Rania, terbangun dan melihat di sekelilingnya tak ada siapa-siapa ia langsung turun.
apa bunda sudah pulang??mungkin di bawah sama Papa. batin Kanaya
Sesampai di bawah dia tak melihat sosok Rania, hanya ada nenek, kakek ,tante Dewi dan Papa.
"Bunda mana?? apa dia belum pulang??" tanya Kanaya
Dewi langsung menghampirinya dan mengajak Kanaya duduk di sampingnya.
" duduk bareng tante disini. Bundanya belum pulang masih ada urusan sayang, mungkin sebentar lagi pulang." ucap Dewi
"apa masih lama?? kenapa gak pulang-pulang?? apa Bunda marah sama Aya ya tante??" rentetan pertanyaan muncul dari mulut Kanaya.
"Bundanya masih sibuk jadi sedikit telat pulangnya sayang, dia gak pernah marah sama kamu. Jadi jangan berpikiran kayak gitu ya.... Kanaya kan anak kesayangam bunda" tutur Dewi menenangkan Kanaya yang dijawab anggukan Kanaya.
Sudah hampir pukul sembilan Rania belum juga terlihat batang hidungnya.
"Aya udah malam sebaiknya kita pulang dulu ya, besok kita pulang lagi kesini..." bujuk Leo yang sudah beberapa kali mengajak Kanaya pulang, tapi selalu di tolak Kanaya.
"Aya gak mau pulang. Aya mo ketemu bunda." rengek Kanaya
"mungkin bundanya mau nginep di rumah Bu Suci sayang, mending Aya pulang dulu besok kesini lagi kasian Papanya udah ngantuk.." Ibu mencoba membantu Leo membujuk Kanaya.
Setelah semua orang membujuk akhirnya Kanaya mau pulang, meskipun sebenarnya ia enggan tuk beranjak dari sana.