NovelToon NovelToon
Aku Lelah, Mas!

Aku Lelah, Mas!

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Penyesalan Suami / Fantasi
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Amie.H

Kehidupan yang tidak mudah harus aku jalani. Aku Nisya. wanita usia 29 tahun, seorang Ibu dari 3 orang anak. Awal pernikahan hidup kami baik-baik saja dengan ekonomi yang cukup. namun, setelah tiga tahun menikah dan gaji suami ku jauh lebih besar di banding sebelumnya, ia mulai berubah. Mabuk, judi hingga perselingkuhan mewarnai rumah tangga kami. Bahkan uang bulanan yang biasanya lebih dari cukup itu kini berubah menjadi serpihan kenangan. Ya.. Suamiku, Gani. Kini memberikan nafkah kepada kami dengan asal-asalan, bahkan tak jarang ia justru memberikan makian disaat aku meminta hak kami.
"Kerja kalau mau uang tuh, kerjaannya minta terus. Kamu gak tau kan kalau kerja itu capek, kamu taunya hanya minta saja!" selalu kata itu yang terucap.
Mulai dari situ, hidupku aku rubah. Aku tak ingin lagi berleha-leha. aku ingin merubah hidupku bagaimana pun caranya.
Mari ikuti kisah perjalanan aku mengubah hidupku kali ini😊

Fb : Adivahalwahasanah
Ig : @Adivahasanah
Tt : A.H Hasanah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amie.H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 9

"Sepertinya kalian harus menjelaskan sama bapak kenapa kalian kesini ngga berbarengan dan terkesan menjaga jarak!" kata bapak membuat keduanya saling pandang dalam keterkejutan.

"Sudah pak, lanjutin dulu makannya. Biar nanti aja ngobrolnya!" kata Mama.

Kami pun kembali makan dengan diam, tapi aku masih memperhatikan ketiga adikku yang saling sikut dalam kode.

Setelah selesai makan, bapak meminta kami berkumpul di ruang tamu.

"Jelaskan, kenapa kalian datang kesini sendiri sendiri seperti ini? Bukan bapak mau ikut campur, tapi ada baiknya jika kalian ada masalah cepat di selesaikan" kata bapak dengan tenang dan berwibawa.

"Apa harus dijelaskan disini, Pak? Kenapa nggak kita biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri?" tanya Mama yang juga di angguki oleh pasangan suami istri itu.

"Iyaa Pak, biar kita selesaikan masalah kami sendiri. Insyaallah nggak akan terjadi apa-apa kok, Pak" jawabku.

"Kenapa? Apa kalian merasa bapak terlalu ikut campur?" tanya bapak membuat ketiganya saling pandang.

"Bukan begitu Pak... Baiklah. Sebetulnya.. em sebelumnya Gani minta maaf Ma, Pak kalau tadi Nisya datang kesini lebih dulu. Itu karna dirumah masih ada ibu dan kakak saya Ma, Pak" kata Mas Gani.

"Kalau dirumah kamu ada Ibu dan juga kakak kamu, kenapa justru Nisya nekat datang kesini? Apakah ada yang salah dengan kedatangan mereka?" tanya bapak membuat Gani meneguk ludah.

"Jawab saja yang jujur jangan ada yang di tutup-tutupi, Mama juga pengen denger dari kamu Gan. Kenapa Nisya nekat datang kesini padahal disana ada keluarga kamu" kata Mama membuat Mas Gani melirikku.

"Em... Kalau soal itu... Maaf Ma, Pak. Gani juga nggak tau kenapa Nisya memilih kesini sementara dirumah ada keluarga Gani" kata Mas Gani membuatku membulatkan mata.

"Mas....!!" Desisku menatap Mas Gani dengan tatapan tajam.

"Apa maksud kamu nggak tau Gan? Bukannya selama ini kamu tau kalau Nisya tidak akan berbuat yang berlebihan kalau tidak ada yang membuat hatinya sakit?" tanya Mama menatap tajam Gani. Sebagai orangtua, Mama begitu geram karna Gani tidak berani tidak berani jujur dengan mereka.

"Ma... Biarkan Gani yang bicara sesuai versinya" kata Bapak membuat Mama terdiam.

"Saya nggak tau Ma, Pak. Saya ngerasa nggak ada yang salah dengan kedatangan keluarga saya. Itu menurut saya Ma, Pak. Tapi mungkin beda penilaian dengan Nisya" kata Mas Gani yang justru menatap aku.

"Oke kalau begitu, Nisya boleh bapak tau kenapa kamu justru datang kesini padahal di rumahmu ada keluarga suami mu?" tanya bapak membuat Mas Gani menatapku.

"Jawab aja Nis, nggak usah takut. Mama percaya sama kamu, biarkan masalah ini cepat selesai biar bapak juga bisa ambil sikap harus gimana. Lagian lelaki itu kalau dibaikin pasti melunjak!" kata Mama memandang Mas Gani dengan tatapan tajam.

"Jawablah Nisya, nggak perlu memandang Gani seperti itu!" kata bapak membuatku mengalihkan pandangan.

"Sebelumnya Nisya minta maaf Ma, Pak kalau mungkin ini terdengar keterlaluan. Tapi Nisya benar-benar tidak bisa tinggal satu atap dengan mertua dan ipar walau itu hanya sementara." kataku.

"Tiga hari Ma, Pak aku berada dirumah yang sana dengan mereka. Aku mengerjakan semua pekerjaan rumah tanpa bantuan mereka, iya memang itu tugasku. Aku tau, tapi apa salahnya membantu meringankan walau itu hanya mencuci piring bekas makan mereka sendiri. Aku membersihkan rumah, mencuci baju, mencuci piring bahkan memasak. Semuanya aku kerjakan sendiri tanpa istirahat, tanpa jeda. Tapi ketika aku selesa masak, aku justru selalu dikejutkan dengan hasil masakan aku yang selalu habis ludes. Bahkan ketika aku bertanya pada Adila, dia menjawab jika dia sendiri belum makan Ma, Pak. Kalau masakan itu aku masak hanya sedikit aku mungkin mengerti, tapi tidak Ma Pak. Aku masak dengan porsi yang lumayan banyak, berharap semuanya bisa kebagian bahkan sampai Mas Gani pulang kerja. Tapi ternyata satu kali aku masak, saat itu itu habis tak bersisa. Alhasil aku harus memasak kembali sampai bahan yang harusnya cukup untuk satu minggu habis dalam tiga hari. Ini bukan soal makannya Ma, Pak. Ini soal menghargai dan menghormati siapa yang memasaknya. Aku capek, aku lelah tapi ketika ingin mengisi tenaga justru mendapatkan hal yang tidak terduga" lanjutku.

Bapak menganggukkan kepala beberapa kali mendengar perkataanku.

"Kamu sudah dengar apa yang istri kamu katakan Gan? Jadi, apa yang mau kamu sampaikan?" tanya Mama.

"Gani nggak bisa ngomong apa-apa Ma, Pak. Tapi kalau memang benar, Gani minta maaf atas nama keluarga Gani. Jujur, Gani tidak tau jika itu terjadi karna Gani tidak berada dirumah saat itu. Gani kira baik-baik saja, sampai tadi pagi Gani meminta Nisya membuatkan rendang untuk keluarga Gani tapi Nisya menolak!" kata Gani.

"Aku tidak menolak Mas, aku hanya meminta uang untuk membeli bahannya. Daging, bumbu dapur, santan, bahkan bumbu rendangnya harus di beli. Kamu tau persis bagaimana keuangan kita, berapa yang kita habiskan untuk kebutuhan rumah dan berapa yang aku gunakan untuk masak. Tapi kamu dengan sengaja menolak ketika aku meminta itu, bahkan meminta aku yang beli menggunakan uang belanja kita. Kalau aku gunakan uang itu hanya untuk membeli bahan untuk rendang yang pasti hanya akan satu kali makan, bagaimana setelahnya ketika aku pulang nanti. Bagaimana kalau uang yang ada di aku itu nggak cukup sampai kamu gajian lagi, apa aku salah menolak? Aku pelit? Aku rasa nggak, karna aku hanya membela diriku dari keserakahan kalian. Lagi pula apa kamu tau apa motif ibu dan kakak kamu datang kerumah kita? Aku rasa nggak!" kataku dengan lantang.

"Maksud kamu apa? Tolong Nisya jangan buat keluarga aku jelek dimata Mama dan juga bapak kamu disini, aku datang kesini untuk menyusul kamu agar bisa ikut menikmati liburan bareng dengan anak-anak juga!" kata Mas Gani.

"Oh tidak sama sekali Mas, aku hanya bicara fakta. Tidak ada yang aku lebihkan dan tidak ada yang aku kurang-kurangkan, semuanya real dan semuanya sesuai dengan keadaan yang ada. Kamu harus tau Mas selain untuk menginap dirumah kita, mereka juga sengaja datang untuk menekan pengeluaran mereka dan membuat pengeluaran kita semakin membengkak. Mereka mau menikmati itu. aku bingung, kenapa mereka sama sekali tidak ada empatinya pada kita. mereka pikir karna kita mengambil rumah KPR maka uang kita itu banyak, padahal mereka nggak tau bagaimana susahnya kita menghemat dan menekan pengeluaran. Bahkan tabungan untuk sekolah Adila pun tidak ada!" kataku yang sudah geram dengan Mas Gani yang justru menyudutkan ku.

"Apa itu benar Gani?" tanya Bapak. Mas Gani terdiam.

"Mama sih percaya sama Nisya Pak, dari awal Mama juga sudah felling kalau Ibu Gani itu kurang suka sama Nisya. Bukan kurang suka sih, lebih tepatnya nggak suka kalau Gani menikahi anak perempuan orang lain. Mungkin belum merasa dibahagiakan sebagai orangtua!" kata Mama membuat Mas Gani memejamkan mata.

"Ma... Bukan seperti yang Mama pikirkan, Ibu saya juga menyayangi Nisya. Mungkin Nisya saja yang terlalu membesarkan masalah!" kata Mas Gani.

"Membesarkan masalah gimana maksud kamu Gan? Maksud kamu anak saya yang problematik, gitu? Maaf ya Gan, saya mengajari anak-anak saya berkata jujur bersikap baik tapi bukan berarti bisa diinjak-injak. Saya tidak pernah mengajarkan Nisya diam ketika dibully, saya mengajarkannya membalas perbuatan itu tanpa takut dengan masalah kedepannya. Jadi, kalau sekarang kamu menyalahkan Nisya karna tindakannya. Saya adalah orang pertama yang tidak terima!" kata Mama dengan mata berapi-api.

"Mama.. Sabar dulu, biar bapak yang bicara!"

"Sabar gimana Pak, bapak denger sendiri kan kalau lelaki itu seolah menyalahkan anak kita pak. Padahal anak kita itu korban, rumah tangga macam apa sebetulnya yang kalian jalani ini. Kamu juga, lelaki macam apa yang masih berlindung di ketiak ibumu! untuk apa kamu menikah kalau hanya untuk menyakiti anak orang lain!"

Bersambunggg

****

Nah.. Sampai kita di pengadilan, kira-kira apa yang akan terjadi ya? stay tuned ya????

jangan lupa Like komen vote dan juga share yaa

Oiyaa btw guys, kalian pernah nggak sih nggak bisa tidur malem. Aku udah dua malem nih ngga bisa tidur, mata sama sekali ngga mau merem loh. Yang punya saran obat boleh komen yaaa

1
Jetva
perasaan lia baru masuk SMA..koq udah kuliah..??
AH. HASANAH
Kuat ya kak💪🙏
Jetva
papaq hanya 3 bln melihat cucunya ...beliau meninggalkan dunia ini saat anakq berusia 3 bln....klo mamaq lebih lama..hingga anakq lulus SMA...
AH. HASANAH
Kalau langsung, tamat dong ceritanya kak hehehe😄
falea sezi
cerai sat sset 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!