NovelToon NovelToon
Top 1%

Top 1%

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri
Popularitas:550
Nilai: 5
Nama Author: Reyanza Rayyan Fahlevy

Nexus Academy bukan sekolah biasa. Hanya 1% siswa terbaik yang berhasil diterima setiap tahun. Dari lebih dari 120.000 pendaftar, hanya 600 siswa yang lolos melewati serangkaian tes yang hampir mustahil: tes logika ekstrem, simulasi kepemimpinan, wawancara psikologi, ujian ketahanan mental, hingga permainan strategi yang membuat ribuan peserta menyerah sebelum mencapai gerbang sekolah.
Mereka yang diterima disebut sebagai Elite One.
Namun tidak semua yang masuk mampu bertahan.
Setiap semester, siswa dengan nilai, etika, atau mental terburuk akan dikeluarkan tanpa kesempatan kedua. Di sekolah ini, tidak ada teman yang benar-benar bisa dipercaya. Tidak ada kemenangan tanpa pengorbanan dan tidak semua siswa jenius adalah orang baik. Sebuah rahasia yang membuat beberapa alumni menghilang tanpa jejak

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyanza Rayyan Fahlevy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27: Papan Peringkat

Suasana lobi utama yang biasanya riuh mendadak sunyi ketika cahaya dari layar proyeksi raksasa di dinding tengah aula memancar terang. Cahaya itu bukan sekadar cahaya biasa; itu adalah Live Rank Board sebuah manifestasi fisik dari algoritma NRS yang kini menentukan kasta kehidupan mereka di Nexus Academy.

Ratusan siswa berhenti melangkah, terjebak dalam magnetisme visual yang mematikan. Mereka mendongak, mencari nama mereka sendiri dalam daftar yang terus bergeser secara dinamis.

Di barisan paling atas, cahaya keemasan menyelimuti tiga nama teratas.

ATHARVA (NX-001) — 98.4 Poin

KEISYA AURELLIA (NX-002) — 97.9 Poin

GAVIN ARSENIO (NX-003) — 97.2 Poin

Atharva menatap namanya sendiri dengan ekspresi yang tak terbaca. Posisi pertama bukanlah sebuah kebanggaan; itu adalah sasaran tembak. Ia bisa merasakan tatapan dari lima ratus sembilan puluh tujuh pasang mata yang menusuk punggungnya. Keisya, yang berdiri beberapa meter di belakangnya, tampak tenang, namun jemarinya sedikit mengepal sebuah pertanda bahwa ia tidak berniat membiarkan jarak 0,5 poin itu bertahan lama.

Namun, perhatian sebagian besar siswa segera teralihkan ke dasar layar. Di sana, barisan nama-nama dengan latar belakang merah menyala tampak berkedip pelan. Itu adalah Zona Reduksi.

Nabila berdiri di depan salah satu baris terbawah, bahunya bergetar hebat. Matanya membelalak saat melihat namanya tertera di sana, dikelilingi oleh status Under Minimum Threshold. Ia adalah salah satu dari sepuluh siswa terakhir. Peringkatnya terjun bebas akibat penalti kedisiplinan dan kegagalan pada simulasi taktis semalam.

"Aku... aku tidak mungkin berada di sana," bisik Nabila, suaranya pecah di tengah keheningan aula.

"Sistem tidak pernah melakukan kesalahan, Nabila," sebuah suara yang berat dan penuh wibawa menyambar dari arah belakang.

Seluruh siswa menoleh. Leonard, seorang siswa senior dari angkatan atas yang bertugas sebagai Proctor pengawas, melangkah masuk ke lobi dengan seragam perak yang memancarkan otoritas. Sepatu bot militernya menimbulkan bunyi tak-tak yang ritmis dan mengancam di atas lantai marmer.

Leonard berhenti tepat di depan papan peringkat, lalu berbalik menatap lautan siswa yang ketakutan. Ia berjalan perlahan ke arah Nabila, lalu menunjuk layar raksasa itu dengan telunjuknya.

"Papan ini bukan sekadar pajangan dinding," ujar Leonard, suaranya menggema, tajam dan dingin. "Ini adalah cermin kejujuran kalian. Setiap titik angka di sana adalah akumulasi dari setiap keputusan, setiap keraguan, dan setiap napas yang kalian ambil sejak pertama kali menginjakkan kaki di tempat ini."

Leonard menatap Nabila yang hampir menangis. Ia tidak menunjukkan belas kasihan. "Di luar sana, orang-orang biasa menganggap kesalahan sebagai bagian dari proses belajar. Tapi di sini? Kesalahan memiliki harga. Harga yang dibayar dengan status kalian, hak kalian, dan pada akhirnya, masa depan kalian."

"Tapi ini baru hari pertama," protes Dimas pelan, mencoba membela rekannya.

Leonard memutar tubuh, menatap Dimas dengan tatapan yang membuat sang pemuda terdiam seketika. "Waktu di Nexus tidak dihitung dalam hari, melainkan dalam efisiensi. Jika di hari pertama saja kalian sudah berada di zona merah, bagaimana sistem bisa percaya bahwa kalian akan bertahan hingga hari keseratus?"

Leonard kembali menatap Atharva, lalu beralih ke seluruh siswa.

"Papan ini akan diperbarui setiap enam jam. Bagi kalian yang berada di zona merah, jangan berharap pada belas kasihan. Berharaplah pada keberuntungan, karena dalam enam jam ke depan, mereka yang tidak mampu memperbaiki skornya akan dipanggil ke Ruang Eliminasi untuk proses data."

Setelah mengatakan itu, Leonard melangkah pergi, meninggalkan atmosfer lobi yang kini terasa jauh lebih menyesakkan daripada sebelumnya.

Atharva tetap diam, namun otaknya mulai menghitung. Ia tidak melihat papan peringkat itu sebagai daftar prestasi, melainkan sebagai peta musuh. Ia tahu siapa yang berada di atasnya, siapa yang mengintainya di bawah, dan yang paling penting, ia menyadari bahwa zona merah itu bukan hanya tempat bagi mereka yang gagal, tetapi juga tempat bagi mereka yang sengaja atau tidak sedang dipersiapkan untuk dikorbankan demi menyeimbangkan skor rata-rata angkatan.

Nabila masih menatap layar merah itu dengan pandangan kosong. Atharva meliriknya sejenak, lalu beralih ke Keisya. Ada satu hal yang mereka berdua sadari tanpa perlu berbicara: jika sistem ini bisa mencabut status seseorang begitu saja hanya berdasarkan angka, maka satu-satunya cara untuk bertahan bukanlah dengan mematuhi aturan, melainkan dengan memanipulasi algoritma itu sendiri dari dalam.

...****************...

Suasana lobi yang sempat mencekam itu perlahan mulai terurai seiring berjalannya para siswa menuju ruang simulasi berikutnya. Namun, bayang-bayang papan peringkat itu tetap menghantui setiap langkah mereka. Nabila masih terdiam di tempatnya, menatap kolom namanya yang berkedip merah sebuah penanda yang bagi siapa pun di Nexus Academy berarti satu hal: ia hanyalah komoditas yang sedang menunggu waktu untuk dibuang.

"Jangan menatapnya terlalu lama," ujar sebuah suara dingin di samping Nabila. Itu adalah Keisya. Ia tidak berhenti berjalan, hanya melirik Nabila sekilas tanpa ekspresi. "Jika kau membiarkan sistem melihat ketakutanmu, skor integritasmu akan terus merosot. Itulah yang mereka inginkan."

Keisya tidak menawarkan bantuan, namun kata-katanya adalah sebuah pengingat brutal yang menyadarkan Nabila. Nabila menarik napas panjang, memaksakan tangannya untuk berhenti gemetar. Ia tahu Keisya benar. Jika ia jatuh sekarang, ia tidak akan memiliki kesempatan untuk membuktikan apa pun.

Di sudut lobi, Atharva masih berdiri di tempat yang sama, mengamati pantulan cahaya dari papan peringkat di lantai marmer. Ia tidak sedang memperhatikan namanya, melainkan pola pergerakan angka pada siswa-siswa di sekitarnya. Ia memperhatikan bagaimana setiap kali seseorang merasa tertekan, skor mereka berfluktuasi secara tidak wajar. Itu bukan sekadar penilaian itu adalah pemetaan psikologis.

Farel menghampiri Atharva, napasnya sedikit terburu-buru. "Atharva, aku sempat meretas log server tadi pagi saat kita menunggu di aula. Kau tahu apa yang kupelajari?"

Atharva memberi isyarat dengan matanya agar Farel menjaga jarak. Mereka bergerak perlahan ke arah area blind-spot di balik pilar besar aula yang tidak terjangkau sensor kamera.

"Bicaralah," bisik Atharva.

"Zona merah itu bukan hanya sekadar peringkat," Farel berbisik, matanya menatap tajam ke arah papan peringkat yang kini mulai berganti tampilan menjadi jadwal kelas. "Sistem sengaja memberikan penalti tinggi pada mereka yang berasal dari sektor beasiswa. Ini adalah manipulasi terstruktur. Papan itu tidak menunjukkan kemampuan kita yang sebenarnya, tapi menunjukkan siapa yang paling mudah untuk dikendalikan."

Atharva mengangguk pelan. Ia sudah menduga hal itu sejak awal. "Itu sebabnya Leonard tadi sengaja menekankan soal harga. Mereka ingin kita percaya bahwa kegagalan adalah kesalahan kita sendiri, agar kita tidak mempertanyakan sistem itu sendiri."

"Lalu apa yang harus kita lakukan?" tanya Farel. "Jika kita diam saja, Nabila dan yang lainnya akan dipanggil ke ruang eliminasi sore ini."

Atharva menatap ke arah koridor menuju ruang simulasi. "Kita tidak akan membiarkan sistem itu bekerja dengan caranya sendiri. Jika mereka menggunakan algoritma untuk menyingkirkan kita, maka kita harus memberikan input yang tidak terduga ke dalam algoritma tersebut."

Atharva berbalik dan mulai melangkah menjauh dari papan peringkat. Ia tidak memiliki jawaban pasti, namun ia tahu satu hal: untuk mengalahkan sistem ini, mereka tidak bisa bermain dengan aturan yang sudah ditetapkan di papan itu.

Tepat saat mereka hendak meninggalkan lobi, alarm kecil berbunyi di lencana seluruh siswa. Papan peringkat di dinding mendadak padam total, digantikan oleh satu pengumuman besar berwarna biru neon:

“TANTANGAN BINER: PENGAMBILAN DATA. RUANG SIMULASI LANTAI 10. PESERTA DI ZONA MERAH WAJIB MENCAPAI SKOR MINIMAL 90 DALAM SATU PUTARAN ATAU MENGHADAPI ELIMINASI LANGSUNG.”

Pengumuman itu memicu riuh rendah yang lebih kacau. Ini bukan lagi sekadar simulasi. Ini adalah pertaruhan nyawa yang dipaksakan. Nabila, yang melihat pengumuman tersebut, jatuh terduduk di lantai, sementara Atharva justru mengencangkan langkahnya. Ia tahu, tantangan ini bukan hanya ujian bagi mereka yang berada di zona merah, melainkan kesempatan bagi mereka untuk membuktikan bahwa sistem bisa dikalahkan selama mereka tahu celah mana yang harus diserang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!