NovelToon NovelToon
Takdir Didunia Sihir

Takdir Didunia Sihir

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Fantasi
Popularitas:582
Nilai: 5
Nama Author: (Rahu)l

Haruto Kazehara hanyalah remaja biasa yang tak pernah bermimpi menjadi seseorang yang istimewa—sampai takdir mengubah segalanya secara tiba-tiba lewat sebuah kecelakaan. Saat ia membuka mata kembali, ia mendapati dirinya terbangun di dunia yang tak pernah ia bayangkan: sebuah negeri yang dipenuhi cahaya sihir, hutan berbahaya, monster purba, naga yang menguasai langit, dan kerajaan kuno yang menyimpan ribuan rahasia.

Penuh harap ia menyambut kekuatan baru sebagai pahlawan yang legendaris. Namun kenyataan berbalik mengecewakan: sihir yang ia miliki justru berjenis aneh, tak terduga, dan seringkali gagal total di saat-saat paling krusial. Alih-alih tampil gagah dan memukau, Haruto malah kerap menjadi bahan tertawaan teman-temannya—belum lagi tingkah laku slime rakus bernama Pochi yang selalu mengikutinya ke mana saja dan tak segan membuat kekacauan di mana pun mereka berada.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon (Rahu)l, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32 – HARUTO KAZEHARA VS KAEL

Kael melesat bagaikan anak panah yang dilepaskan dari busur. Pedang air di tangannya memancarkan cahaya biru tajam, membelah udara hingga menimbulkan desisan panjang.

"Jangan berlagak seolah kau menguasai segalanya!" bentaknya.

Ayunan pedang itu menghantam tempat Haruto berdiri sesaat sebelumnya. Namun Haruto tidak menghindar, ia hanya menggerakkan telapak tangan melingkar di depan dadanya. Seketika dinding air berbentuk perisai bulat terbentuk begitu saja, bening dan kokoh seolah terbuat dari kristal padat.

BRAKK!!!

Benturan itu meledakkan percikan air ke segala arah. Kael terkejut saat melihat serangan yang ia curahkan sekuat tenaga seolah diserap begitu saja oleh perisai itu tanpa meninggalkan goresan sedikit pun.

"Kau pikir pertahanan semacam itu bisa menahanku?" seru Kael kembali melancarkan serangan beruntun. Tebasan demi tebasan menghujani perisai bulat itu, namun air yang seharusnya terpecah justru berputar semakin cepat, mengalirkan tenaga serangan itu melingkar menjauhi tubuh Haruto.

Tanpa disadari, aliran yang terbentuk dari benturan itu makin membesar. Lantai batu di bawah kaki mereka mulai berguncang hebat. Retakan menjalar hingga ke dinding gua, dan aliran air di sela-sela bebatuan tiba-tiba menyembur keluar dengan kekuatan dahsyat.

"Kau...!" Kael hendak menerjang sekali lagi, namun gelombang raksasa yang tiba-tiba meloncat dari dasar kolam menyapu mereka berdua bersamaan.

Keduanya terlempar keluar dari mulut gua air terjun, berputar bersama arus deras sebelum akhirnya terhempas ke permukaan sungai yang luas di bawah sana. Kael meronta berusaha mengendalikan diri, namun arus yang dipengaruhi oleh energi mereka berdua terlalu kuat. Hingga akhirnya mereka terdampar di bebatuan yang agak landai, saling berhadapan sambil terengah-engah.

Kael mengusap air di wajahnya sambil menatap sekeliling dengan napas memburu.

"Di dalam sana terlalu sempit..." gumamnya pelan, namun terdengar jelas oleh Haruto. "Ternyata kau memaksaku keluar tanpa sadar."

Haruto berdiri perlahan, air menetes dari ujung rambutnya. Ia sendiri sedikit terkejut melihat betapa besarnya arus yang terbentuk secara tak terduga tadi.

Di sisi lain sungai, di bawah naungan pohon rindang, Daichi dan Mizuna sudah duduk bersandar pada batang kayu. Luka mereka kini ditutup dengan perban yang direndam ramuan penyembuh, sementara Ryuusen berdiri di samping mereka sambil memantau keadaan dengan tatapan tenang.

"Kekuatan itu... bukan lagi sekadar sihir," bisik Mizuna, matanya tak lepas dari sosok pemuda yang kini berdiri tegak di hadapan Kael. "Ia benar-benar menjadi satu dengan air itu sendiri."

Daichi mengangguk pelan, merasakan hangatnya obat yang menembus luka di tubuhnya. "Aku tidak tahu bagaimana caranya... tapi untuk pertama kalinya, aku merasa yakin kita tidak akan kalah hari ini."

Ryuusen tersenyum tipis, namun matanya memancarkan kekhawatiran sekaligus harapan yang mendalam.

"Sekarang lihatlah," ucapnya lirih. "Pertarungan sesungguhnya baru saja dimulai."

Di hadapan mereka, Kael kembali berdiri tegak. Meski terkejut, api semangat tempurnya belum padam.

"Baiklah," ucapnya dingin sambil mencengkeram kembali pedang air yang terbentuk di tangannya. "Kalau begitu mari kita selesaikan di sini. Di mana air mengalir sebebas-bebasnya."

Haruto menarik napas dalam-dalam, merasakan aliran sungai, embun di daun, hingga kelembapan udara di sekelilingnya seolah menjadi perpanjangan dari tubuhnya sendiri.

"Aku tidak ingin melukaimu," ucap Haruto tulus. "Tapi jika kau tetap memaksakan kehendakmu... aku tidak akan mundur."

Pochi di pundaknya memancarkan cahaya biru lembut, seolah memberi aba-aba bahwa ia siap mendukung temannya kapan saja.

 

...****************...

Udara di lembah itu seketika terasa mendidih. Kael melesat bagaikan kilat biru, pedang air di tangannya kini memanjang, berkilau tajam seolah terbuat dari berlian yang membeku. Setiap ayunannya membelah udara, menciptakan gelombang tekanan yang merobek dedaunan di sepanjang tepian sungai.

"Jangan berpikir karena kau menguasai arus, kau sudah setara dengan kami!" bentak Kael di sela-sela serangan yang tak kenal henti. "Orde Air Kuno telah berdiri ribuan tahun! Kami memegang teguh aturan yang tak boleh diganggu gugat!"

Tebasan demi tebasan menghujani Haruto. Namun pemuda itu tak lagi hanya diam bertahan. Kakinya melangkah mengikuti aliran sungai, tubuhnya bergerak luwes bagaikan air yang menghindari bebatuan tajam. Ketika pedang Kael hampir menyentuh bahunya, Haruto menepisnya dengan pergerakan pergelangan tangan yang sangat halus—sebuah aliran air tipis melilit bilah pedang itu, membelokkannya perlahan hingga serangan itu meleset jauh dari sasaran.

CROT!!

Suara benturan air yang beradu terdengar nyaring. Kael terhuyung mundur, tak percaya bahwa serangan penuh tenaganya bisa dialihkan begitu saja seolah tidak memiliki bobot sama sekali.

"Mengapa kau tidak menyerang?!" seru Kael frustrasi, matanya memerah menahan amarah. "Apakah kau meremehkan kehormatan sebagai penyihir air?!"

"Aku tidak meremehkannya," jawab Haruto tenang, sambil mengangkat kedua tangannya perlahan. Seluruh permukaan sungai di hadapan mereka bergerak naik, membentuk ribuan tombak air yang melayang diam-diam menanti perintah. "Tapi kekuatan air bukan untuk saling melukai. Ia ada untuk melindungi, untuk mengalir, dan menyatukan segala sesuatu."

"Omong kosong!"

Kael meraung, melontarkan seluruh sisa tenaganya. Ia merangkai sihir yang belum pernah ia gunakan sebelumnya—badai air raksasa yang berputar kencang, menyeret bebatuan dan ranting pohon ke dalamnya, menciptakan pusaran maut yang melaju kencang menghantam posisi Haruto. Suara gemuruhnya menggetarkan tanah hingga Daichi dan Mizuna yang menonton dari kejauhan tak kuasa menahan napas.

Namun saat badai itu tiba di hadapan Haruto, sesuatu yang mustahil terjadi.

Alih-alih menabrak, dinding air raksasa itu perlahan terbelah dua. Seolah ada tangan tak kasat mata yang membelah arus sungai besar. Haruto berdiri tenang di tengah celah itu, matanya memancarkan cahaya biru yang menyatu dengan cahaya air di sekelilingnya. Dengan satu gerakan tangan yang mendorong perlahan ke samping, seluruh badai dahsyat itu dialihkan, mengalir mengelilingi dirinya dan Kael, lalu menyatu kembali ke aliran sungai seolah tak pernah terjadi apa-apa.

Kael terpaku. Pedang air di tangannya perlahan melemah, menyusut kembali menjadi butiran-butiran air yang jatuh ke tanah. Napasnya tersengal-sengal, keringat bercucuran bercampur air sungai yang membasahi seluruh tubuhnya.

"Kau... kau menyerap kekuatanku..." bisiknya tak percaya. "Kau tidak melawanku... kau... kau menjadikannya milikmu..."

"Aku tidak mengambilnya," jawab Haruto pelan namun tegas, melangkah satu langkah mendekat tanpa niat menyerang. "Aku hanya mengembalikannya ke tempat asalnya. Semua air ini adalah satu kesatuan. Kau memaksanya berperang, memisahkannya menjadi senjata pembunuh. Padahal ia diciptakan untuk memberi kehidupan."

Kael gemetar. Entah karena lelah, atau karena kata-kata itu menembus tembok keangkuhan yang telah ia bangun selama puluhan tahun. Bayangan ajaran Orde Air Kuno yang selalu mengajarkan kekuatan mutlak dan kepatuhan buta, kini berguncang hebat oleh kebenaran sederhana yang disampaikan seorang pemuda asing.

Di pundak Haruto, Pochi tiba-tiba melompat ke udara. Tubuhnya memancarkan cahaya biru yang lembut namun begitu luas, menyelimuti seluruh lembah. Cahaya itu tidak menyakiti, melainkan membawa rasa damai, rasa sejuk yang menenangkan hati yang sedang panas karena amarah.

Kael merasakannya. Aura yang selama ini membuatnya merasa hebat dan terpisah, kini terasa begitu kosong dan dingin dibandingkan kehangatan yang terpancar dari slime legendaris itu.

"Slime..." gumamnya, matanya berkaca-kaca bukan karena takut, melainkan karena kesadaran yang baru muncul. "Benar-benar... makhluk legendaris yang seharusnya sudah punah..."

Haruto menurunkan tangannya. Ribuan tombak air yang melayang di udara perlahan turun, menetes kembali ke sungai dengan gemerisik halus yang menenangkan.

"Kael," panggil Haruto lembut. "Apakah kau benar-benar percaya pada tujuan pemimpinmu? Atau kau hanya takut melanggar aturan yang sudah ditanamkan sejak kecil?"

Pertanyaan itu mematikan gerak Kael seketika. Ia terdiam lama, menatap air sungai yang mengalir tenang di antara mereka. Di kejauhan, suara burung kembali terdengar, seolah alam sendiri telah menghentikan amarahnya.

Di tepi sungai, Ryuusen tersenyum tipis sambil mengangguk pelan. Mizuna mengusap sudut matanya yang basah, sementara Daichi menghela napas panjang sambil tersenyum lega. Pertarungan itu belum usai sepenuhnya, namun mereka tahu... kemenangan sejati bukanlah tentang siapa yang jatuh bangun, melainkan siapa yang berhasil menyadari arti sebenarnya dari kekuatan yang dipegangnya.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!