"Apa kita berdua dijodohkan!" Celia dan Alfian sama-sama terpeki kaget ketika orang tua mereka merencanakan Perjodohan di masa muda mereka.
"Benar sekali," sahut Darius.
"Ini tidak masuk akal. Pa, kami berdua masih sekolah dan bahkan kami tidak akrab," sahut Alfian.
"Tenanglah Alfian, justru perjodohan ini akan membuat kalian akrab dan belajar untuk menuju hidup di masa depan," aahhh Darius.
Alfian dan Celia benar-benar tidak menyangka bahwa mereka akan dijodohkan, mereka sudah mencoba untuk protes, tetapi para orang tua itu menginginkan hubungan mereka diikat dalam ikatan pertunangan.
Alfian dan Celia saling bertukar cincin sebagai ikatan diantara mereka berdua jika ada hubungan spesial yang tidak akan terpisahkan oleh apapun.
Raut wajah Alfian dan Celia terlihat murung, tidak memiliki pilihan selain menuruti permintaan orang-orang dewasa.
Celia terpaksa melakukannya agar memiliki akses lebih luas untuk bisa sekolah di luar negeri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33 Kepergok
Tenda Celia sudah terpasang sama seperti anak-anak yang lain. Celia juga sudah memasukkan barang-barangnya ke dalam tenda.
Saat ini Celia bersama dengan beberapa murid-murid terlihat mengangkat kayu bakar dengan memindahkan ke tempat yang lain agar tidak terkena hujan.
Sebelumnya kayu bakar itu diambil di dalam hutan dengan memerintahkan beberapa murid laki-laki, ketika sampai di lokasi tersebut dengan waktu yang minim wakil kepala sekolah memberikan tugas kepada murid-murid untuk mempercepat pekerjaan dan tugas yang diberikan secara merata agar dapat diselesaikan sebelum matahari tenggelam.
Celia terlihat keberatan saat mengangkat kayu tersebut. Alfian dari kejauhan melihat hal itu, langkahnya dipercepat untuk menghampiri Celia, tetapi belum juga sampai tiba-tiba saja Rafa sudah mengangkat kayu tersebut mengambil alih dari Celia.
"Rafa biar aku saja," Celia merasa tidak enak dan mengambil kembali tetapi ditahan oleh Rafa.
"Ini terlalu berat dan tenaga wanita tidak sebanyak tenaga pria, jadi biarkan saja aku yang membawanya," ucap Rafa.
"Tapi Rafa, ini kan tugas yang diberikan, kamu juga sudah kebagian tugas yang lain, jadi biarkan aku saja membawanya, aku akan mengurangi bebannya dan akan mengambil sisanya nanti," ucap Celia.
"Mau selesai jam berapa Kiara, kamu tidak lihat hujannya sudah mulai menetes. Ayo kita sebaiknya antarkan kayunya agar tidak sempat basah," ucap Rafa langsung berdiri.
Celia menghela nafas, Celia mau tidak mau harus menuruti Rafa dengan keduanya berjalan mengantarkan kayu bakar tersebut.
"Makasih ya, kamu sudah membantuku dan padahal masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan," ucap Celia ketika keduanya sama-sama menyusun kayu tersebut pada tempatnya.
"Sudahlah tidak apa-apa, ini adalah pekerjaan tim dan sesama teman harus saling membantu satu sama lain," ucap Rafa.
"Kok bisa ya, di SMA bintang dengan murid-murid menyebalkan di sekolah ini memiliki satu murid yang baiknya luar biasa, sopan dan bahkan sangat terbuka," ucap Celia tanpa menyadari bahwa dia telah mengagumi Rafa.
Senyumnya pada Rafa terlihat begitu lebar dan semua itu diperhatikan oleh Alfian dari kejauhan.
"Kamu bisa saja," sahut Rafa.
Keduanya bahkan tertawa lucu dan entah apa yang membuat mereka sama-sama tertawa. Wajah Alfian benar-benar datar dipenuhi dengan kecemburuan, sampai tiba-tiba saja hujan turun dengan Rafa dan Celia sama-sama melihat ke arah atas langit.
Rafa begitu gercep membuka jaketnya dan menutup ke kepala Celia, kemudian Celia untuk meninggalkan tempat tersebut. Alfian diam pada tempatnya dengan terus memperhatikan pasangan tersebut tanpa menyadari bahwa tubuhnya ternyata basah.
Celia tidak mengetahui bahwa setiap tadi aku yang ternyata memperhatikannya. Alfian dia memotong di tengah murid-murid memasuki tenda untuk mendapatkan tempat berteduh.
"Alfian ayo!" Alfian harus ditarik oleh Diego yang kebetulan Alfian dan melihat bagaimana temannya mematung seperti orang bodoh. Alfian mengikut saja.
*****
Hujan hanya turun sebentar, suasana malam di dalam hutan tampak begitu ramai dengan banyaknya aktivitas yang dilakukan murid-murid dan obrolan obrolan mereka yang cukup keras, suasana di hutan tampak terang dengan api unggun dan lampu-lampu yang berada pada tenda.
Mereka juga bergantian untuk mengambil makanan dan menikmati makanan itu dengan membentuk lingkaran duduk di atas rerumputan sembari mengobrol.
Mood Alfian memburuk yang hanya bersandar di bawah pohon dengan satu kakinya ditekuk dan kedua tangannya dilipat di dadanya, ternyata tidak ada aktivitas yang dia lakukan selain arah pandangan matanya tertuju pada Celia dan Rafa yang terlihat mengobrol sembari makan.
Mungkin cemburu tetapi Alfian tidak bisa mengungkapkan hal itu.
"Lihat deh Valery!" Kania lagi-lagi menegur Valery untuk melihat ke arah Alfian.
"Apaan coba Alfian, nih beneran punya hati kali sama tuh cewek, lihat saja matanya sejak tadi nggak lepas melihat ke arah Celia," kesal Kania.
Valery melihat ke arah Alfian dan kemudian melihat kearah pandang sahabatnya itu Celia dan Rafa yang mengobrol akrab.
"Sama-sama nyebelin semuanya, Alfian, Celia dan juga Rafa, mereka benar-benar gak asik," kesal Valery.
"Kenapa Rafa harus ikut? Bukankah dia tidak tahu apa-apa?" tanya Kania.
"Sudahlah Kania, nggak usah bahas apapun tentang mereka," sahut Valery.
****
Selesai makan, Celia terlihat mencuci piring karena memang mendapat giliran dengan beberapa temannya.
"Celia aku ambil piring yang bertumpuk di sana dulu ya!" ucap salah satu teman yang sejak tadi menemaninya mencuci piring.
"Oke," sahut Celia.
"Benar-benar murid-murid manja, sudah tahu hidup di hutan dengan penuh keterbatasan, apa salahnya setelah selesai makan piringnya jangan diletakkan dan sebaiknya diantar ke tempat ini dan langsung dicuci, giliran mereka aja nanti harus diantarkan," Celia sejak tadi mengucap sembari terus mencuci piring.
Krakkk
Celia kaget mendengar suara injakan kayu, tempatnya mencuci piring memang sedikit jauh dari keramaian.
Celia mengerutkan dahinya saat melihat cahaya senter.
"Alfian!" ucap Celia dengan memastikan bahwa pria yang sedang menghidupkan senter dan berjalan tersebut adalah Alfian.
"Mau ngapain dia masuk hutan sendirian, jangan-jangan....." Celia tiba-tiba saja teringat perkataan Cynthia bahwa Alfian salah satu pecandu narkoba.
"Oh my God, ini udah nggak benar, aku harus mengikutinya dan menangkap apa yang telah dia lakukan dan dengan begitu aku memiliki bukti untuk memperlihatkan kepada Bunda bahwa dia bukan laki-laki yang baik untuk melanjutkan perjodohan ini, lagi pula perjodohan ini juga sudah tidak ada gunanya dilanjutkan, aku juga tidak memiliki kesempatan untuk memasuki universitas kedokteran di luar negeri, karena sekeras apapun berusaha nilai-nilai itu tidak akan bisa naik karena orang tua mereka yang memiliki uang ikut campur," ucap Celia.
Celia tidak melanjutkan mencuci piring dan melainkan meninggalkan tempat tersebut dan mengikuti Alfian.
"Ini Celia....." teman cuci piring Celia baru saja tiba dan melihat Celia sudah tidak ada.
"Kemana dia?" tanyanya kebingungan melihat di sekelilingnya dan tidak menemukan Celia.
"Huhhhh, sudahlah mungkin aku terlalu lama dan dia mengambil piring lain," ucap wanita tersebut kemudian melanjutkan untuk mencuci piring tersebut.
Dan sementara Celia harus memasuki hutan untuk mencari bukti bahwa Alfian memang memakai barang-barang haram.
Celia saat ini berdiri tepat di belakang Alfian yang sedang berdiri dan bahkan senter tersebut sementara diletakkan di kantongnya hanya cahayanya saja yang terlihat.
"Dia pasti mengkonsumsi obat itu!" ucap Celia berusaha untuk memastikan dan mengambil ponselnya dengan siap untuk merekam.
Krakk
Alfian kaget dengan suara ranting yang diinjak tepat di belakangnya membuatnya membalikkan tubuh.
"Aaaaaaa!"
Celia dan Alfian sama-sama berteriak. Mata Celia melotot dan ternyata Alfian bukan sedang mengkonsumsi obat-obat terlarang tersebut tetapi sedang buang air kecil.
"Aaaa tutup...." Celia berteriak memejamkan matanya sangat sial matanya melihat sesuatu hal yang tidak perlu dia lihat.
"Apaan sih kamu Celia!" kesal Bagas tidak menyangka jika Celia tiba-tiba saja muncul di belakangnya.
"Kamu dasar mesum!" teriak Celia.
"Buruan tutup!" kesal Celia.
"Nih cewek bener-bener sakit ya!" Bagas begitu kesal dan kembali membalikkan tubuhnya, menaikkan resletingnya dan setelah sudah terpasang rapi kemudian mengarahkan senter tersebut tepat ke wajah Celia yang membuat Celia merasa silau dengan membuka matanya.
Bersambung.....