Menceritakan dua kisah, antara Gibran anak broken home yang bertemu dengan Caramel. Dari pertemuan yang tak terduga, membuat Gibran merubah sikapnya secara perlahan demi mempertahankan hubungannya. Disisi lain dirinya juga harus mengalami penderitaan selama berada di rumahnya.
Selamat membaca:)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25. Pertandingan
...Selamat Membaca📖...
...🎨🎨🎨...
Hari ini ada jadwal pertandingan basket dengan SMA Garuda. Caramel sudah meminta Satria untuk pulang terlebih dahulu, karna dia dan Jihan akan menonton pertandingan basket. Kebetulan SMA Pradipta adalah tuan rumahnya dan pertandingan akan dimulai pulang sekolah, sekitar jam tiga.
Sekarang Caramel dan Jihan sudah ada di tribun, untuk menyaksikan pertandingan, bersama siswa lainnya. Beberapa teriakan histeris ketika para pemain sudah memasuki lapangan. Jihan begitu semangat menyaksikan kekasihnya yang sudah berdiri di tengah-tengah lapangan. Tidak lupa Ia juga memberikan semangat kepada Revan. Entah sejak kapan mereka baikan.
"SAYANG, SEMANGAT YA!" teriak Jihan, membuat telinga Caramel budek seketika.
"Woy berisik, bisa diem nggak lo!" ujar seorang siswa dari belakang mereka.
Jihan menoleh kebelakang, sambil berdacak pinggang. "Heh, kenapa lo yang sewot. Mulut-mulut gue."
"Udah lah, Han. Lagian lo juga, ngapain teriak-teriak kaya gitu." Caramel memutarkan tubuh Jihan, kembali mengarah ke lapangan.
Fokus Caramel teralih pada Gibran yang sedang men-dribbling bola. Dia mengamati setiap gerak geriknya. Gibran dan salah satu tim lawan sudah berada di center.
Mata keduanya seolah sedang memancarkan aliran listrik, peluit berbunyi dan bola basket terlempar keatas. Keduanya melompat untuk merebutkan bola basket tersebut, Gibran berhasil mendapatkannya. Tim lawan langsung berpencar, berusaha merebut bolanya kembali. Satu orang berdiri di depan ring, berjaga-jaga jika Gibran melakukan shooting.
Bola beralih pada Revan, Revan mendribblie bola basket mendekati ring dan melakukan lay up.
Yeh, Revan berhasil mencetak skor.
"YEYY!"
"BRAVOO."
"HUAA, REVAN KEREN."
Ya itu semua teriakan dari Jihan, dia bertepuk tangan, bahkan dia juga berdiri. Carame hanya menggeleng heran, aish malu-maluin sekali mempunyai teman seperti ini.
Ketika pelut berbunyi, semua pemain berjalan menuju pinggir lapangan.
Gibran mengambil satu botol air mineral, kemudian meminumnya sedikit, lalu menyiramnya ke wajahnya dengan air tersebut. Sumpah damagenya nggak main. Tidak mau munafik, Caramel terpukau dengan ketampanan Gibran. Jujur saat Gibran menyisir rambutnya yang basah menggunakan jarinya, ketampanannya bertambah.
Jihan yang dari tadi mengamati wajah Caramel, ya sepertinya gadis ini sedang memperhatikan Gibran, gumannya.
"Gibran ganteng ya?" ujar Jihan, pelan.
Caramel menoleh kearah Jihan. "Kenapa lo suka sama dia?"
"Enak aja, lo kali yang suka sama dia?!"
"Gibran memang tampan." Jihan memelototkan matanya, menatap Caramel kembali. "Ah, lebih gantengan Revan!"
Peluit kembali berbunyi, semua pemain masuk ke area lapangan kembali.
...🎨🎨🎨...
Pertandingan sudah selesai setengah jam yang lalu, namun Caramel masih berada di sekolah. Ia menemani Jihan, Revan sedang berkumpul bersama teman tim basketnya. Sebenarnya dirinya bisa langsung pulang, namun dia juga harus mengembalikan jaket milik Gibran.
Tak lama Revan datang bersama Gibran.
"Ayo, pulang." ucap Revan, sambil merangkul Jihan.
Jihan mengangguk.
"Lo mau pulang sama, Revan? terus gue sama siapa dong?" ucap Caramel
"Tenang kan ada," Revan menunjuk Gibran dengan dagunya. "Ya udah, gue tinggal dulu ya. Anterin ya bos!"
Revan berjalan, sambil merangkul Jihan.
"Berengsek lo!" Gibran menatap tajam punggung Revan.
"Kasian cewek bos."
Motor Revan melaju, keluar gerbang sekolah. Sekarang hanya ada Caramel dan Gibran di depan area parkir.
Hari mulai gelap, ya karna sekarang sudah jam setengah enam.
"Kalo lo nggak mau nganterin gue juga nggak pa-pa kok." Caramel mengambil jaket di dalam tasnya. "Ini jaket lo, makasih ya."
"Makasih buat apa? kan lo yang nyuci."
"Makasih aja, karna lo udah ngelindungi gue waktu itu."
"Nggak usah geer lo," Gibran berjalan menghampiri motornya. "Jadi ikut nggak?"
"Ja...jadi." Caramel berlari meyeimbangkan langkah Gibran.
Mereka berhenti tepat di samping motor milik Gibran. Gibran menoleh kearah Caramel, menatapnya lekat. Sumpah Caramel menjadi risih, ditambah rasa gerogi.
Gibran memberikan jaket yang tadi, kepada gadis itu. Ia tidak tega jika gadis itu kedinginan di jalan.
"Pakai!"
"Nggak, nanti aku di suruh nyuci lagi."
"Pakai! di jalan dingin!" Gibran menaiki motornya, kemudia memakai helem. "Naik!"
Setelah memakai jaket, Caramel langsung naik keatas motor. Tanpa disuruh, Caramel memeluk pinggang Gibran.
Gibran membiarkan saja gadia itu, memeluknya. Sambil tersenyum di balik helemnya, kemudian melajukan motornya.
Cuaca sangat dingin, Caramel mempererat pelukannya kepada Gibran. Kepalanya bersander di pundak Gibran. Dirinya baru sadar, jika biasanya Gibran mengendarai motornya dengan kebut-kebutan, sekarang malah pelan.
"Masih betah?"
"Betah kenapa?"
"Meluknya? gue habis tanding lo, belum mandi. Masih bau keringet."
"Gue nggak peduli,"
Gibran memperhatikan Caramel dari balik kaca sepion. Gadia itu tersenyum di pundaknya.
"Ada yang marah ya?"
"Marah, siapa yang marah?" ucap Gibran, menoleh kebelakang.
"Ya pacar lo, kalik."
"Gue nggak punya pacar dan gue nggak pernah pacaran." curhat oey....
Gibran menghentikan motornya di tepi jalan.
"Kenapa berhenti?"
"Gue lapar, lo mau nemenin gue kan?
"Boleh."
Caramel turun dan berjalan mengikuti Gibran. Mereka berhenti di depan gerobak somay, Gibran memesan dua somay dan membeli dua air mineral. Terakhir mereka berdua duduk di kursi bawah lampu, di pinggir jalan.
"Lo sendiri udah punya pacar?"
Caramel mengerutkan keningnya. "Gue juga belum pernah pacaran."
"Ini somaynya." ucap abang penjual somay. Sambil memberikan dua piring somay.
"Makasih bang."
Caramel mulai memakan somaynya, sedangkan Gibran dia sibuk memperhatikan wajah gadis ini dari samping. Dia pikir, gadis seperti ini sudah pernah berpacaran. Dia pintar, cantik, polos walau kadang suka oon.
"Terus hubungan lo sama Sandrina, gimana?"
"Sandrina? gue nggak ada apa-apa sama dia. Lo cemburu?"
Uhuk! uhuk!
Caramel membuka tutup botol minum, kemudian meneguk air tersebut.
Setelah selesai makan, Gibran mengantar Caramel pulang. Di jalan mereka mengobrol banyak, dari hal yang nggak penting sampai ke hal yang paling nggak penting.
Motor Gibran berhenti di depan gerbang rumah, Caramel turun.
"Jaketnya...katanya lo ngga mau nyuciin lagi."
"Hemm, gue cuci lagi aja deh."
"Ikhlas nggak?"
"Iya, ya udah sana lo pulang."
"Ngusir lo?!"
"Nggak, emang lo mau mampir?"
"Boleh?"
"Boleh aja, kalo lo mau."
Gibran menatap Caramel. "Sayangnya gue nggak mau." Gibran memakai helemnya kembali.
Caramel mendengus kesal. Saat motor Gibran melaju dengan kecepatan tinggi.
Ia masuk kedalam rumah.
Bersambung....
salam my Kids My Hero
kisah Aluna
Aq msh setia..
aq msh setia lh nungguin....
semangat terus berkarya ya thor.. ceritamu bagus.. aku suka 👍👍