Di balik dinding rumah mewah yang megah dan sunyi, seorang pelayan perempuan menjalani hari-harinya dengan setia dan penuh kesederhanaan. Ia tak pernah menyangka, kehadirannya yang hangat justru menjadi pelipur lara bagi sang majikan. seorang pria mapan yang terjebak dalam kesepian pernikahan.
Sang majikan memiliki istri cantik dan sukses, seorang model terkenal yang lebih banyak menghabiskan waktu di luar negeri demi karier gemilangnya. Rumah megah itu pun berubah menjadi tempat yang dingin, tanpa cinta dan kehangatan.
Dari percakapan singkat hingga perhatian kecil yang tulus, benih-benih perasaan terlarang tumbuh tanpa disadari. Di antara kesepian, status, dan batasan moral, cinta kedua itu hadir menguji kesetiaan, nurani, dan pilihan hidup yang tak lagi sederhana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cumi kecil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9 HARGA DARI SEBUAH AMBISI
Malam semakin larut.
Lampu kamar Ammar menyala redup, menyisakan bayangan panjang di dinding. Uap air dari kamar mandi masih menggantung di udara ketika Ammar melangkah keluar, mengenakan kemeja santai berwarna gelap. Rambutnya masih sedikit basah, namun pikirannya jauh lebih kusut daripada penampilannya.
Ia duduk di tepi ranjang besar itu, lalu meraih ponsel yang tergeletak di meja samping. Nama Sabrina tertera jelas di layar.
Ammar menatapnya lama sebelum akhirnya menekan tombol panggil. Nada sambung terdengar.
Satu kali.
Dua kali.
Tiga kali.
Tak ada jawaban.
Ammar menghela napas berat, lalu mencoba lagi. Panggilan kedua. Ketiga. Keempat.
Semua berakhir sama sunyi. Ponsel itu akhirnya ia jatuhkan perlahan ke kasur, seolah beratnya bertambah berkali-kali lipat.
“Aku menyesal…” gumam Ammar lirih, suaranya hampir tenggelam oleh keheningan kamar. “Aku menyesal dulu telah mendukungmu sejauh ini, Sabrina.”
Ia menyandarkan tubuh ke kepala ranjang, menatap langit-langit putih yang kini terasa begitu asing.
“Andai dulu aku tidak membantumu… mungkin sekarang kamu ada di sampingku. Di samping Queen.”
Nada suaranya sarat penyesalan.
Pikirannya melayang jauh ke masa lalu ke masa ketika semua masih sederhana, ketika cinta belum tercampur ambisi, dan rumah belum terasa sedingin ini.
FLASHBACK ON
Sabrina bukan siapa-siapa. Bukan model papan atas. Bukan wajah majalah. Bukan perempuan yang hidupnya dikelilingi lampu kamera dan pujian palsu.
Sabrina dulu hanyalah gadis biasa.
Gadis yang ditemuinya secara tak sengaja di sebuah acara kecil, dengan gaun sederhana dan senyum malu-malu. Ammar masih mengingat jelas bagaimana Sabrina tertawa saat ia menjatuhkan gelas minum karena gugup.
Cantiknya bukan dari riasan tebal atau pakaian mahal.
Cantiknya dari kesederhanaan.
Mereka berkenalan tanpa rencana, lalu mulai sering bertemu. Satu bulan. Dua bulan. Hingga tanpa sadar, setahun berlalu dalam hubungan yang hangat.
Ammar jatuh cinta dalam, tulus, dan tanpa syarat.
Sabrina sering bercerita tentang mimpinya. “Aku ingin jadi model terkenal, Mar,” katanya suatu sore, sambil memandang langit senja. “Bukan cuma cantik buat dipuji… tapi diakui.”
Ammar waktu itu tersenyum dan menggenggam tangannya.
“Kamu sudah cukup hebat tanpa pengakuan siapa pun,” jawabnya.
Namun Sabrina menggeleng pelan. “Aku ingin lebih. Aku tidak mau selamanya jadi gadis biasa.”
Kalimat itu dulu terdengar seperti mimpi yang indah.
Ammar tidak menyangka, mimpi itu akan menjadi jurang yang memisahkan mereka.
Saat Ammar memutuskan melamar Sabrina, ia melakukannya dengan keyakinan penuh. Ia ingin menjadikan Sabrina istrinya. Menjadikannya rumah.
Sabrina menerima lamaran itu dengan satu syarat.
“Aku mau menikah denganmu,” kata Sabrina saat itu, suaranya lembut namun tegas. “Tapi kamu harus berjanji mendukung karierku. Aku ingin jadi model papan atas.”
Ammar terdiam waktu itu. Ia tahu dunia yang akan dimasuki Sabrina bukan dunia yang mudah. Ia tahu risikonya. Jarak. Waktu. Kesepian.
Namun karena cintanya ia mengangguk. “Aku janji,” katanya. “Aku akan mendukungmu.”
FLASHBACK OFF
Ammar tersenyum pahit mengingat dirinya yang dulu.
Ia membuka pintu untuk dunia Sabrina.
Memperkenalkannya pada orang-orang penting. Membiayai kursus, pemotretan, bahkan membantu ibunya Melinda yang kemudian menjadi manajer Sabrina.
Perlahan, Sabrina naik. Satu panggung ke panggung lain.
Satu negara ke negara lain. Dan perlahan pula, Ammar kehilangan perannya dalam hidup istrinya.
Yang tersisa hanyalah jadwal padat, panggilan singkat, dan pesan-pesan dingin. Ammar menghela napas panjang. “Apakah aku terlalu bodoh?” tanyanya pada diri sendiri.
Di sudut pikirannya, wajah kecil Queen muncul.
Anaknya. Buah dari cinta yang kini terasa timpang.
Queen tumbuh lebih sering ditemani pelayan daripada ibunya sendiri. Lebih sering menunggu daripada dipeluk.
Dan malam ini entah mengapa wajah Sari ikut terlintas.
Ammar memejamkan mata. Rasa bersalah kembali menekan dadanya. Ia ingat betul ketakutan di mata gadis desa itu. Tubuh kecil yang gemetar. Suara yang nyaris tak terdengar.
“Aku hampir menghancurkan hidup orang lain hanya karena aku kesepian,” gumamnya.
Ia mengepalkan tangan. Ini tidak boleh terjadi lagi.
Ammar bangkit dari tempat tidur, melangkah ke jendela, menyingkap tirai. Di luar, taman belakang tampak sunyi. Lampu taman menerangi ayunan kecil milik Queen.
Tempat Sari dan Queen tertawa sore tadi.
Tawa yang begitu tulus.
Tawa yang bahkan tak pernah lagi ia dengar dari istrinya.
“Apa aku salah berharap terlalu banyak dari pernikahan ini?” Ammar bertanya pada malam.
Ponselnya kembali bergetar di tangannya. Ia menatap layar tidak ada panggilan masuk. Tidak ada pesan.
Ammar menghela napas panjang, lalu menulis pesan singkat.
Queen merindukanmu. Ia menatap pesan itu lama sebelum akhirnya menekan kirim. Tak lama, tanda
centang muncul. Dibaca. Namun tak ada balasan.
Ammar tersenyum getir. “Selalu begitu,” ucapnya lirih.
Ia mematikan lampu kamar, lalu berbaring tanpa benar-benar berniat tidur. Pikiran-pikirannya berkelindan, bertabrakan satu sama lain.
Tentang Sabrina.
Tentang Queen.
Tentang Sari yang seharusnya tidak pernah ia libatkan dalam kekacauan hidupnya.
Di lantai bawah, di kamar kecil pelayan, Sari juga belum terlelap. Ia memeluk lututnya, menatap dinding kosong, mencoba menenangkan diri.
Mereka berada di rumah yang sama. Di bawah atap yang sama. Namun masing-masing terjebak dalam kesepian yang berbeda.
Dan malam itu, Ammar Abraham akhirnya menyadari satu hal yang pahit.
Cinta yang ia perjuangkan dulu telah berubah menjadi ambisi milik orang lain.
Dan harga yang harus dibayar adalah kehadiran yang tak pernah lagi ia rasakan, bahkan di rumahnya sendiri.
pantesan ...
type istri mu adalah yang bener2 wanita berkeluarga.bukan wanita hanya mementingkan karier.aku juga kerja,tapi begitu pulang anak terutama ku peluk,ku suapkan makan,ku Nina bobokan ketika tidur, walaupun umur nya sudah 4 tahun,cowok lagi.tapi karena aku ingin berdekatan dengan anak,ingin mempererat jalinan bathin kami berdua.
ceraikan Sabrina,nikahi Sari...