Anitha Putri, seorang wanita berusia 26 tahun adalah seorang sarjana manajemen bisnis, setelah menikah dia memutuskan hanya menjadi seorang ibu rumah tangga biasa.
Hidup rumah tangganya yang penuh kemelut mengantarkan dia yang seorang sarjana jadi seorang asiaten rumah tangga.
Dia bertolak ke Jakarta hanya untuk sebagai asisten rumah tangga pada salah satu keluarga berada.
Bagaimanakah perjalanan hidupnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aricha Businnes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jual Memori
"Saya dulu sempat merasa bosan, saat hanya seperti boneka di rumah. Saya tidak ingin melawan, tetapi hati berontak. Kini saya tidak tahu apa itu bosan Pak, hanya tahu dalam hidup harus berjuang. Berjuang dari gangguan Tuan paling utamanya," kata Anitha tertawa manis. Namun di awal kalimat Anitha, tuan Nan sempat melihat aura Anitha suram.
"Ohhh ...." hanya itu yang bisa diucapkan tuan Nan.
"Saya hidup berpacu dengan waktu, seakan lomba lari sprint atau kadang lari maraton dengan si waktu itu. Walau saya terkadang merasa sesak napas mengejarnya, ternyata hanya berjalan teratur hehehe ...." ucap Anitha bercanda dan kembali tertawa. Tuan Nan terdiam seakan sulit memaknai ucapan Anitha, dan melihat Anitha tertawa dalam kehampaan.
"Tuan makan dulu, nanti hidangan menjadi dingin loh," ucapnya tulus.
"Iya," jawab tuan Nan singkat. Anitha kadang merasa heran apa yang terjadi dengan tuannya. Kadang kata-katanya jadi lebih singkat dan nadanya tidak ada keinginan untuk adu argumen seperti biasa dia lakukan untuk menyerang.
"Baik, saya temani. Makanlah, Tuan mau nasinya sedikit atau banyak?" Anitha mengambil piring dan menyendok nasi dan lauk. Cara ini walau tuannya tahu pasti tak ada rasa di hati Anitha, tak bisa dia pungkiri hatinya bisa berdebar manis.
"Sedikit saja, banyakin saja lauk-pauk," jawab tuan Nan lembut.
"Makanlah Tuan," ucap Anitha lembut. Namun tanpa ada perasaan lain di hati.
"Maafkan saya," ucap tuan Nan. Dia masih memegang sendok tanpa berniat memulai makan.
"Untuk apa Tuan?" tanya Anitha tak paham ke mana maksud tuannya.
"Saya sudah bersikap tidak baik padamu. Semua terjadi karena saya sangat kesal pada Allea. Saya melampiaskan pada wanita yang dibawanya dan mau saja dibawanya," ucap tuan Nan sungguh-sungguh.
Namun Anitha tidak bisa percaya begitu saja. Seperti ada suatu sensor di tubuhnya untuk melapisi hatinya agar tak masuk perangkap tuannya. Namun dia tetap menjawab, "Saya tidak jadi masalah Tuan!" tegas Anitha.
Tuan Nan hanya diam memandang Anitha, dia hanya ingin mengamati dan menyelam ke dalam bola mata Anitha yang terlihat hitam pekat. Seakan bola matanya ikut menutupi isi hati Anitha yang penuh kabut.
"Apa seharian tidak bertemu Tuan jadi begitu merindukan aku?" gurau Anitha.
"Apa yang harus saya rindukan darimu?" tanya tuan Nan kembali penuh ejekan.
"I'm beautiful and i am also smart," kata Anitha penuh percaya diri.
"Hahahah ... kamu memang cantik dan pintar namun kamu numbness!"
"Siapa bilang saya mati rasa, jika mati rasa tidak mungkin sakit hati saat Tuan katai saya wanita boneka!"
"Hahaha jadi kamu sakit hati saat kamu saya katai begitu?"
"Menurut Tuan?"
"Apa yang kau tangkap saya mengatakan begitu?"
"Anda mengatakan saya tidak bisa apa-apakan Tuan, sama seperti boneka yang hanya bisa diam."
"Itukan hanya perasaanmu saja, tapi bagaimana hati yang tak punya rasa bisa merasa?" olok tuan Nan lagi.
"Tuan jangan mengalihkan perhatianku dengan mengatakan saya tak punya rasa atau apalah namanya," jawab Anitha.
"Saya mengatakan wanita boneka, bukan karena kamu tidak bisa apa-apa," jelas tuan Nan sedikit berbohong.
"Lalu?" tanya Anitha.
"Itu karena kamu suruhan istriku dan kamu kebetulan cantik seperti boneka," kata tuan Nan jujur. Hanya dia memang sempat menduga Anitha tak bisa apa-apa.
Anitha hanya diam. Tuan Nan memutuskan untuk menyantap hidangannya sebelum kembali dingin. Anitha masih memperhatikan tuannya. Tuan Nan walau tidak memfokuskan pandang ke wajah Anitha, dia tahu Anitha memperhatikan dengan seksama.
"Ufff apa lagi yang ada dalam pikiran wanita ini. Aku tak bisa mengabaikan rasa ingin tahuku," batin tuan Nan memasukan makanan ke dalam mulutnya dan mengunyah dengan perlahan.
Anitha tidak membuang muka saat tuannya menatap matanya dengan dalam. "Ada apa? Apa aku begitu rupawan dari mantan suamimu?" ucap tuan Nan sengaja menyinggung masa lalu Anitha yang ingin dia tahu.
Anitha tidak merespon ucapan tuannya yang dianggapnya sindiran. Namun tak bisa dipungkiri, bola mata yang indah itu, terlihat begitu mengelam oleh tuan Nan. Tuan Nan kembali tertegun melihat pemandangan di depannya.
"Apa saya benar?" desak tuan Nan, walau dia tahu reaksi Anitha kurang baik. Dia ingin mendesak Anitha sampai ambang batas kesabaran Anitha.
"Anda benar Tuan," ucap Anitha menetralkan hati yang tiba-tiba penuh kebencian pada Sahrul. Mengingatkan masa lalu adalah hal yang paling dia benci. Bahagia yang membawa petaka dalam hidup.
Ingin dia mengusir kenangan bahagia ataupun kenangan yang menyakitkan.Namun sayang masa lalu itu begitu menempel di dalam otak kecil Anitha. Seakan memori itu tidak bisa dihapus dan menjadi virus bagi memori lain di otaknya. Anitha sangat membencinya.
"Apa kita perlu bertukar pikiran untuk masa lalu kita?" tawar tuan Nan yang sudah bisa memprediksikan jawaban Anitha. Hanya ingin memastikan apa dugaan dia benar.
"Tak ada yang perlu dibahas untuk masa lalu Tuan! Masa lalu hanyalah masa lalu, tidak akan jadi masa sekarang apa lagi masa depan!" tekan Anitha. Sesuai dugaan tuan Nan, Anitha akan menolak jika ditanya terang-terangan.
"Ya sudah kalau begitu, bagaimana kalau saya menawarkan suatu bisnis padamu?" pancing tuan Nan bercanda ringan.
"Bisnis apa Tuan? Asal jangan bisnis kotor!" olok Anitha yang membuat tuan Nan hanya tersenyum.
"Bisnis jual-beli."
"Jual-beli apa? Jual-beli perbudakan atau gadis-gadis cantik?"
"Kamu ini cantik tetapi pikiran kamu kotor saja sama saya!" Tuan Nan memuji dan menjatuhkan Anitha bersamaan.
"Bisnis apa Tuan?"
"Jual memori masa lalumu, aku akan membelinya dan bisa menjadi ladang uang bagimu. Dengan begitu masa lalumu tidak terbuang percuma, justru menghasilkan," ucap tuan Nan konyol.
Anitha hanya terdiam. Dia seperti memikirkan sesuatu. Lalu kekonyolan tuan Nan justru disambut baik oleh Anitha. "Bagus juga jika Tuan mau! Bisa menambah nominal di rekeningku yang hampir mati," ucap Anitha serius.
Tuan Nan sungguh terperangah mendengarnya. "Kamu serius?" tanya tuan Nan terbodoh. Kini kata serius justru dia yang mengucapkan.
"Saya serius, bukankah Tuan yang menyarankan. Kenapa Tuan jadi ragu? Apa Tuan takut saya meminta harga yang fantastis pada Tuan?" tanya Anitha semakin gila terdengar oleh tuan Nan.
"Kamu kira saya takut dengan harga yang kamu tawarkan?" Nada menyepelekan tuan Nan terasa kental.
"Lalu kenapa Tuan bertanya keseriusan saya?" Anitha menautkan alis merasa bingung dengan maksud tuan Nan.
"Kamu masih normal?" tanya tuan Nansen. Mau tidak mau bertanya kenormalan otak Anitha.
"Masihlah Tuan, Tuan kira saya sakit jiwa apa?"
"Kamu yakin kamu tidak sedang sakit jiwa?" tanya than Nan kembali.
"Saya rasa saya tidak sakit jiwa Tuan." Senyum Anitha terbit di bibirnya.
"Tapi kamu memang akan menjual jika saya inginkan memori masa lalumu?" tanya tuan Nan menjadi ikut terdengar gila.
"Tentu, jika kita sepakat dengan harganya," kata Anitha terdengar horor di telinga tuan Nan.
Tuan Nan memandang Anitha dengan menyelidik. Dia hampir ikutan gila melihat keseriusan Anitha. Apa benar dia mau menjual memorinya, setidaknya kalimat itu yang melintas-lintas di pikiran tuan Nan.
"Apa normal namanya orang menjual memori masa lalunya?" kata tuan Nan heran.
"Hahaaa ... Tuan yang tidak normal duluan dengan memberikan ide pada saya. Bagi saya masuk akal juga jika memori itu saya uangkan, dari pada sia-sia jalan hidupku. Jika aku jadikan novel sekalipun belum tentu menghasilkan sebanyak yang tuan beri," ucap Anitha tertawa puas.
"Apa di kepalamu itu hanya ada uang, uang dan uang?"
"Tuan benar! UANG adalah sumber segalanya bagiku kini!" Anitha berkata begitu serius dan jelas.
"Apa itu yang paling berharga menurutmu?"
Apa ada yang lebih berharga dari uang menurut Tuan?" tanya Anitha pula. Tuan Nan bertanya Anitha malah balik bertanya.
"Ada." Tuan Nan menjawab dengan yakin.
***