Di siang hari, Arkana Baswara adalah pengusaha paling terhormat di kota, sosok tampan berkuasa yang diperebutkan setiap wanita. Namun ketika malam turun, ia berubah menjadi Sang Iblis: penguasa dunia hitam yang paling ditakuti, seorang pria yang tak pernah mengizinkan siapa pun menyentuh hatinya.
Salsabila hanyalah gadis penjual bunga miskin dengan satu mimpi sederhana: menjadi dokter dan mengangkat keluarganya dari kesulitan. Sampai satu malam kelam mengubah seluruh hidupnya, dan meninggalkan sebuah rahasia yang harus ia jaga dengan nyawanya.
Bertahun-tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali. Kini sang mafia menemukan apa yang selama ini disembunyikan darinya, dan ia tak akan melepaskannya begitu saja. "Kau dan dia adalah milikku," katanya. Tapi Salsabila punya satu tekad: melarikan diri, sejauh apa pun, berapa kali pun.
Namun bagaimana caranya kabur dari seorang pria yang menguasai seluruh kota? Bagaimana caranya membenci pria yang perlahan meruntuhkan setiap tembok di hatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meche, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 — Kamu Juga Harus Memanggilnya Om?
Arkana menemani mereka sarapan. Meski tak biasa makan banyak di pagi hari, ia memutuskan mencicipi sedikit hidangan.
Salsabila kembali dihinggapi pikiran yang sama seperti beberapa hari lalu, bahwa tubuh bagus pria itu pasti hasil perawatan yang ketat. Maka ia akan membuat pria itu melanggar dietnya. Ia merasa pikiran atau situasi ini terasa tak asing, seakan sudah pernah ia alami bertahun-tahun lalu.
"Boneka, mau tambah panekuk lagi?" tanya Salsabila.
"Mau, Mama, pakai madu dan cokelat dobel," jawab Alika.
"Satu topping saja. Sekarang pilih, kamu suka yang mana. Masih terlalu pagi untuk gula sebanyak itu, dasar bocah nakal."
Salsabila duduk di samping Alika, sementara Arkana duduk di hadapan mereka berdua.
"Mama, aku suka dua-duanya. Dulu Mama selalu membolehkanku makan begitu."
Otak Salsabila mencoba memutar ulang ingatannya, tapi tak menemukan satu pun kenangan. Sementara itu Arkana mengamati tingkah putrinya. Bocah ini ahli menipu, sebab ia teringat saat di rumah sakit Salsabila mengulang ceramah yang sama persis.
"Baiklah, sekarang Mama berpikir lain, kamu tidak boleh makan gula terlalu banyak karena kamu masih kecil. Tapi ommu boleh makan sebanyak itu, jadi ayo kita bantu tuangkan sedikit tiap topping ke atas panekuknya," ujar Salsabila.
Arkana tak henti memandangi Salsabila, dan wanita itu menyembunyikan tatapannya. Bersama Alika, ia menuangkan sedikit tiap sirup ke atas panekuk lalu menyerahkannya kepada Arkana.
"Om, mumpung Om boleh makan semua rasa ini, enak, lho," ucap Alika.
"Terima kasih, Putri. Om akan memakannya dengan senang hati, karena ini dibuat oleh tangan-tangan terbaik," balas Arkana.
Salsabila mengira pria itu akan kesal, tapi justru sebaliknya. Pria itu melahap panekuknya dan minta tambah satu porsi lagi. Mungkinkah ia sebenarnya tak menjaga pola makan? Ia hanya makan bak babi lalu berolahraga banyak-banyak.
Sesekali Arkana menyuapkan makanannya pada Alika, yang mulutnya berair melihat begitu banyak yang manis-manis berkumpul jadi satu.
"Baiklah, karena sudah selesai, kalian boleh ganti baju, sebab hari ini kita akan menghabiskan waktu di kolam renang," ujar Arkana.
Si bocah berlari memeluk omnya. Ia begitu bahagia di sisi pria itu.
"Yeeey, Om memang yang terbaik sedunia. Andai saja Om papaku," seru Alika.
Arkana memeluk erat bocah itu dan menatap Salsabila dengan benci. Wanita itulah yang menciptakan kebingungan ini, dan ia pula yang harus membereskannya.
"Om adalah pria yang tak akan pernah membiarkanmu jatuh, yang selalu melindungimu dan hadir di setiap pencapaianmu," ucap Arkana.
"Terima kasih, Om, sudah begitu menyayangiku," sahut Alika.
"Ayo, Alika," ajak Salsabila.
Di dalam hatinya Salsabila kesal, tapi ia tak mengerti alasannya. Ia hanya benci melihat bocah itu berdampingan dengan pria besar itu.
Kedua gadis pergi berganti baju. Alika memakai setelan renang lengkap, sementara Salsabila hanya menemukan set dua potong yang terbuka di lacinya. Ia membenci siapa pun yang menaruh semua itu di sana. Ia memakai baju renang merah, menutupinya dengan jubah mandi, dan membawa satu jubah cadangan.
Bersama Alika ia tiba di kolam renang rumah besar itu. Bagaimana pria itu bisa punya uang sebanyak ini dan rumah sebesar ini? Kolamnya indah, dikelilingi berbagai perabot, dan pohon-pohon palem besar memberi kesan pantai. Ia menyukai pemandangan tempat itu.
Keduanya berendam di kolam, dan tentu saja Salsabila memanfaatkan kesempatan selagi Arkana belum tiba untuk masuk ke air, supaya pria itu tak melihatnya dengan busana seminim itu.
Selagi ia bermain dengan putrinya, Arkana muncul dalam wujud paling rupawan yang bisa ada. Ia tak bisa mengingkari bahwa pria itu tampan dan tampil sesuka hatinya, hanya saja ia takut pada tubuhnya yang besar.
Arkana Baswara.
"Bagaimana keadaan kalian? Boleh aku ikut masuk ke air bersama kalian?" tanya Arkana.
"Boleh, Om, ayooo, ikut main sama kami," sahut Alika.
Salsabila tak tahu harus memandang ke mana. Wajahnya merah melihat dewa Yunani di hadapannya itu. Ia terpesona pada pria itu; di kepala dan hatinya bercampur perasaan cinta dan benci.
Jauh di dalam ia membencinya entah karena alasan apa, tapi matanya yang memandang pria itu membuat perutnya dipenuhi kupu-kupu.
"Kamu suka kolamnya, Bila?" tanya Arkana.
"Namaku Salsabila. Dan ya, aku suka sekali."
"Kamu bisa berenang?"
"Sejujurnya aku tidak bisa berenang."
Arkana tercengang. Bagaimana mungkin seorang gadis seusianya tak bisa berenang?
Ketiganya berada di bagian kolam yang dangkal. Alika memakai pelampung berbentuk donat, dan kedua orang tuanya mengapitnya sambil mengobrol.
"Kamu mau belajar? Kau izinkan aku mengajarimu?" tanya Arkana.
"Mungkin. Biar kupikirkan dulu," jawab Salsabila.
"Hahaha, baiklah, silakan dipikirkan," sahut Arkana.
"Mama, ayo biarkan Om mengajarimu, ya? Dia om terbaik sejagat raya. Mama, kalian ini kakak-adik, ya?" tanya Alika.
"Bukan, kami bukan kakak-adik!" jawab Salsabila.
"Kalau begitu kenapa dia omku?"
"Karena dia orang yang lebih tua, dan kita harus menghormatinya."
Alika anak yang penuh rasa ingin tahu dan gemar bertanya soal segala hal. Ia sedikit bingung dengan situasinya saat ini.
"Om, umur Om berapa?" tanya Alika.
"Om 36 tahun, sayang. Kenapa bertanya?" jawab Arkana.
"Mama, kalau Mama umur berapa?"
"Umur Mama 24 tahun. Sekarang beritahu Mama, kenapa kamu bertanya begitu?" ujar Salsabila.
"Mama, omku lebih tua 12 tahun. Dia lebih tua dari Mama. Berarti Mama juga harus memanggilnya Om?"
Arkana yang sedang menyeruput jus lemon menyemburkan seluruh minumannya ke kolam, sementara Salsabila kehilangan kata-kata.
Alika memang bocah yang sangat nakal. Kedua orang dewasa itu terdiam memikirkan selisih usia di antara mereka.
Arkana tak tahu harus tertawa atau menangis. Apa ia terlalu tua untuk Salsabila? Apa wanita itu ingin bersama pria yang lebih muda seusianya? Ia merasa masih muda dan terawat secara fisik. Seperti apa selera Salsabila sebenarnya?
Salsabila menghadapi dilema yang sama. Bagaimana ia bisa terlibat dengan pria setua itu? Tapi pria itu begitu rupawan hingga tak ada yang menyangka usianya sudah sebegitu. Apakah ia terlihat seperti gadis kecil di mata pria itu? Haruskah ia juga memanggilnya om? Ia merasa aneh dengan perbandingan yang dibuat putrinya.