Hakim Agung Damon Bradfort dikenal dingin, tak bisa disuap, dan tak punya satu pun alasan untuk mempercayai siapa pun. Selama lima tahun ia membongkar jaring hukum yang melindungi Cosa Nostra, tanpa seorang pun di Roma tahu darah siapa yang mengalir di nadinya.
Felipa Bianchi, 25 tahun, mahasiswi hukum yang menanggung adik kecilnya dan ayah yang kejam, butuh uang dan jalan keluar. Tawaran itu datang dari tempat yang paling ia takuti: magang di Mahkamah Agung, dengan satu syarat tak tertulis. Ia harus mengawasi sang hakim.
Hari pertamanya berakhir dengan bentakan dan tumpukan fotokopi. Namun sang hakim yang menyebalkan itu ternyata adil, teliti, dan sesekali menjadi satu-satunya orang yang melihat bahwa Felipa tidak baik-baik saja. Semakin dekat Felipa dengan pria yang seharusnya ia khianati, semakin sulit ia membedakan tugas dari perasaan.
Ketika kebenaran terbongkar, Damon harus memilih: hukum yang selama ini ia pegang, atau perempuan yang tak bisa lagi ia lepaskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mary Mendes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 - Hati yang Menggantung
Felipa
Aku masuk ke rumah Alice dengan jantung berdebar dan kepala penuh pikiran yang tak sanggup kutata. Aku masih berusaha mencerna semua yang terjadi dengan Damon, tapi sepertinya aku bukan satu-satunya yang butuh jawaban.
Alice nyaris tak memberiku waktu bernapas. Begitu pintu kututup, dia mencengkeram lenganku, menatapku lurus-lurus, dan menyerbu.
"Aku harus tahu, Felipa. Kamu tadi sama Hakim itu?"
Kugigit bibir, berusaha menahan senyum yang mau lolos.
"Iya."
Matanya melebar.
"Ya ampun, Felipa!" serunya, menutup mulut dengan kedua tangan sebelum menunjuk leherku. "Itu bekas apa, hah?"
Spontan kuletakkan tangan di tempat yang dia tunjuk, merasakan pipiku menghangat.
Alice mendekat, memeriksa bekas-bekas itu, dan tiba-tiba meledak tertawa.
"Kamu jatuh ke piring seorang karnivora!"
"Alice!" protesku, malu setengah mati.
Dia tertawa makin keras, satu tangan memegangi perut sambil berusaha mengatur napas.
"Jangan pasang tampang begitu ke aku! Kamu menghilang, aku bohong ke ayahmu, lalu kamu muncul di sini penuh bekas dan berharap aku diam saja? Sayang, itu bukan pria, itu predator berjas!"
Kututup wajahku dengan kedua tangan, berharap menemukan lubang untuk bersembunyi.
Kupandang Alice, dadaku sesak oleh cemas.
"Menurutmu Ayah percaya?"
Dia menatapku beberapa detik, seakan mencari cara menenangkanku.
"Aku ikut ke rumahmu."
Suaranya tegas, tapi tatapannya tetap khawatir.
"Kamu perlu tarik napas dulu, Felipa. Aku aktris yang lumayan."
Sekeras apa pun aku mencoba tenang, aku jauh dari berhasil. Kepalaku penuh pertanyaan, dan kemungkinan Ayah curiga pada sesuatu membuatku makin gelisah.
Alice mengambil barang-barangnya, lalu kami berangkat bersama menuju rumahku.
Sepanjang jalan, dia menyetir dalam diam. Sesekali dia melirikku, berusaha menyembunyikan kekhawatirannya.
Dalam beberapa menit, kami tiba di rumahku. Alice berhenti di depan pagar dan, ketika aku hendak membuka pintu, dia memegang lenganku dengan lembut.
"Tunggu dulu, Nona."
Kutoleh dia, bingung, sampai kulihat dia membuka laci dasbor dan mengeluarkan pouch kecil berisi alat rias.
"Alice, kamu ngapain?"
"Mencegah kamu masuk rumah dengan leher begitu!" jawabnya, membuka pouch dan mencari sesuatu di dalamnya.
Wajahku langsung panas. Kuraba leherku, teringat bekas-bekas yang ditinggalkan Damon di kulitku, dan aku mengembuskan napas malu.
Alice mendekatkan wajahnya ke wajahku dan mulai menutupi bekas-bekas itu dengan concealer, serius pada pekerjaannya.
"Diam sebentar. Kalau kamu terus bergerak, malah jadi makin parah."
Aku menurut, menggigit bibir menahan gugup.
"Nah. Sekarang kita lihat apakah bukti kencanmu dengan Hakim itu bisa kita sembunyikan."
Dia tersenyum miring, jelas menikmati situasi ini.
"Alice!" protesku pelan, pipiku serasa terbakar.
"Apa? Aku cuma menjalankan tugas sebagai sahabat. Harus ada yang memastikan kamu nggak diinterogasi sebelum sempat sampai ke kamarmu."
Di tengah kecemasanku, tawa kecil lolos juga dariku. Selama beberapa detik, ketegangan mereda, tapi cukup memandang pintu masuk rumahku untuk membuat jantungku berpacu lagi.
Karena sebanyak apa pun Alice bisa menyembunyikan bekas di leherku, dia tak bisa melakukan hal yang sama pada semua yang kurasakan untuk Damon.
Kami turun dari mobil dan masuk ke rumah. Begitu melewati pintu, mataku menemukan Ayah duduk di sofa, segelas minuman di tangan dan sebotol di dekatnya. Dia sedang minum, dan televisi yang menyala tampaknya cuma jadi teman.
Perutku mengencang.
Alice, sebaliknya, masuk seolah tak ada apa-apa, dengan senyum paling riangnya.
"Halo, Om! Kami sudah datang!"
Ayah mengangkat mata ke arah kami.
"Hai, kalian lama sekali." Dia menenggak minumannya, tapi tatapannya menetap padaku terlalu lama.
Aku berusaha bersikap wajar, menahan pandangannya beberapa detik sebelum membuang muka. Apa dia menyadari sesuatu? Apa concealer-nya benar-benar menutupi bekasnya, atau kegugupanku yang membongkarku?
Sebelum sempat memikirkan alasan, kudengar langkah tergesa di lorong.
Enzo muncul berlari dari kamarnya dan tersenyum lebar begitu melihat Alice.
"Halo, Alice! Hari ini kita ke Porquinho?"
Alice membungkuk sedikit agar sejajar dengannya dan tersenyum.
"Iya, dong, sayang."
Adikku bersorak senang atas jawaban itu, sementara Alice mengacak-acak rambutnya dengan sayang.
Kumanfaatkan keadaan yang teralihkan itu untuk melangkah ke kamarku. Yang kuinginkan hanyalah menutup pintu, sendirian beberapa menit, dan mencoba menata pikiran yang menyiksaku sejak aku keluar dari rumah Damon.
Baru beberapa langkah, suara Ayah menyusulku.
"Lain kali, Felipa, pulang ke rumah. Jam berapa pun."
Aku berhenti seketika.
Kupejamkan mata sesaat sebelum berbalik menghadapnya. Dia masih duduk di sofa, gelas di tangan, tapi kini seluruh perhatiannya tertuju padaku.
"Iya, Ayah," jawabku, berusaha menjaga suaraku tetap mantap.
Dia menyipitkan mata, seakan menunggu aku mengatakan sesuatu lagi.
Aku menelan ludah, merasakan cemas berteriak di dalam diriku.
"Maaf. Nggak akan terulang."
Ayah menahan tatapannya beberapa detik lagi. Aku tak tahu apakah dia curiga atau hanya kesal karena aku lama, tapi aku tak berani bertanya.
"Awas kalau iya."
Aku mengangguk samar dan kembali berjalan di lorong, merasakan beratnya tatapan itu di punggungku.
Baru setelah masuk kamar dan menutup pintu, aku bisa bernapas lega.
Kuletakkan tangan di wajah dan mengembuskan napas perlahan.
Aku butuh satu hari yang tenang. Satu hari saja di mana hidupku tak terasa akan runtuh.
Tapi setelah semua yang terjadi dengan Damon, aku punya firasat buruk bahwa ketenangan adalah hal terakhir yang akan kudapat.