NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Dokter Dingin

Istri Kontrak Dokter Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Dydy_ailee

Amora terjebak dalam lilitan utang dan tak punya banyak pilihan ketika Damian, seorang dokter bedah tampan, kaya, dan dingin, menawarkan pernikahan kontrak dengan bayaran yang mampu menyelesaikan semua masalahnya.
Syaratnya sederhana: menikah, tinggal serumah, dan jangan pernah jatuh cinta.
Bagi Damian, Amora hanya istri sementara. Bagi Amora, Damian hanyalah jalan keluar dari kesulitan hidupnya.
Namun tinggal bersama perlahan membuat hubungan mereka berubah. Terlebih ketika masa lalu Damian, penolakan sang ibu, dan perasaan yang semakin sulit disembunyikan mulai menguji kesepakatan mereka.
Bagaimana jika pernikahan yang awalnya hanya sebuah kontrak justru berubah menjadi cinta yang nyata?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dydy_ailee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB-17 Bayangan Amora

Setelah makan malam selesai, Damian dan Amora kembali menuju mobil. Amora memegangi perutnya sambil berjalan, tampak sangat puas.

“Mas Damian,” katanya, “serius deh, mie goreng tadi tuh kayak pelukan di tengah hujan. Hangat, menyentuh jiwa.”

Damian membuka pintu mobil. “Kamu puitis kalau sudah kenyang, ya?”

Amora masuk ke dalam, tertawa kecil. “Kalau lapar, aku bisa jadi sadis. Jadi anggap saja tadi aku diselamatkan dari tragedi.”

Damian masuk ke sisi kemudi dan menyalakan mobil. Mesin menyala, radio menyetel lagu lawas yang mendayu-dayu. Damian buru-buru mengecilkan volumenya.

“Bukan selera kamu?” tanya Amora sambil mengangkat alis.

“Aku bukan tipe orang yang galau-galau nggak jelas,” jawab Damian tenang.

“Padahal kamu cocok lho,” seloroh Amora. “Mukanya tuh kayak nyimpan 37 masalah negara, 20 masalah keluarga, dan 1 masalah cinta yang belum kelar.”

Damian melirik tajam, tapi senyumnya sempat muncul sekilas. “Kamu itu cerewet.”

“Kalau aku diem doang nanti Mas Dokter bosan.”

Mobil mulai melaju di jalan kota yang mulai lengang. Lampu-lampu jalanan menari di kaca jendela, memberi suasana tenang. Amora menyandarkan kepala ke jok, lalu memalingkan wajah ke Damian.

“Mas… makasih ya,” katanya pelan.

Damian tidak langsung menjawab, hanya melirik sekilas.

“Makasih udah… ya, tadi, nemenin makan. Aku tahu kamu capek. Tapi aku senang.”

Damian menghela napas. “Kamu gampang banget senang.”

“Harus. Hidupku terlalu banyak drama, Mas. Jadi kalau ada hal kecil yang bikin bahagia, ya harus dihargai. Kalau enggak, bisa gila.”

Damian melirik Amora, matanya sedikit melunak. Tapi tetap saja bibirnya enggan membalas dengan kata manis.

Beberapa menit kemudian, mereka sampai di gang rumah Amora. Damian memarkir mobilnya agak ke pinggir.

“Sudah sampai,” katanya singkat.

Amora membuka pintu mobil, tapi sebelum turun, ia menoleh. “Mas, aku serius ya soal perjanjian itu. Aku bakal jalani semampu aku. Tapi satu hal…”

Damian mengangkat alis. “Apa?”

“Kalau suatu saat nanti kamu beneran suka sama aku, jangan gengsi bilang,” ujar Amora sambil nyengir penuh percaya diri.

Damian tertawa kecil. “Mimpi saja dulu.”

Amora melompat turun, menutup pintu pelan. Ia melambai dari luar. “Hati-hati di jalan, Mas Gengsi!”

Mobil melaju pelan meninggalkan gang, tapi dalam hatinya, Damian mulai merasa bahwa perjanjian bodoh itu mungkin akan jadi sesuatu yang tak biasa.

**********

Damian membuka pintu rumahnya yang sepi. Lampu ruang tengah sudah menyala redup. Suasana rumah besar itu dingin, hening, dan teratur—terlalu teratur. Ia melepaskan jas dokter dan meletakkannya di sandaran sofa. Ditariknya napas panjang, lalu menjatuhkan tubuh ke sofa sambil memejamkan mata sejenak.

Namun, bukannya lelah yang ia rasakan, pikirannya justru dipenuhi tawa dan ocehan Amora sepanjang malam tadi. Tatapan mata gadis itu, cara ia menggoda, sampai ekspresi norak bahagianya waktu makan mie goreng.

Damian membuka mata. “Kenapa aku malah memikirkan Amora sih?” gumamnya pelan, mengacak rambut sendiri dengan frustasi.

Ia berdiri dan melangkah ke dapur, menuang air ke gelas, lalu meminumnya. Tapi bahkan air dingin pun tak cukup untuk menenangkan kepalanya yang mulai penuh dengan bayangan senyum Amora.

“Kalau suatu saat nanti kamu beneran suka sama aku, jangan gengsi bilang.”

Damian menggeleng pelan, lalu menghela napas. “Ngomong apa dia tadi…”

Ia berjalan ke kamarnya, melepaskan kemeja dan berganti dengan kaos santai. Setelah itu, ia duduk di depan laptop, niat awalnya mau menyelesaikan catatan pasien—tapi yang muncul justru tab perjanjian kontrak yang tadi ditandatanganinya bersama Amora. Matanya menatap nama di bawah tanda tangan.

Amora Putri Addara.

Nama yang sederhana, tapi kini mulai membuat kepalanya tidak tenang. Damian menatap layar itu lama, lalu dengan malas mengetik sesuatu di ponselnya: “Sudah tidur?”

Namun, ia urungkan. Pesan itu terhapus sebelum terkirim. Ia lemparkan ponselnya ke atas kasur, lalu menjatuhkan diri menyusul. Satu tangan menutup wajahnya.

“Ini semua cuma permainan, Damian,” katanya kepada diri sendiri. “Jangan bodoh…”

Tapi entah kenapa, malam itu ia tidur lebih larut dari biasanya. Dan senyum nyengir Amora masih ada di dalam kepalanya.

**********

Cahaya pagi merambat masuk melalui lubang-lubang ventilasi rumah sederhana itu. Burung-burung bersahut-sahutan di luar, tapi yang membangunkan Amora justru aroma gosong samar yang menyelinap ke dalam hidungnya.

Ia membuka mata dengan pelan. “Hah? Bau apa nih?” gumamnya serak.

Amora bangkit dengan sigap, rambutnya awut-awutan, dan dengan langkah cepat menuju dapur kecil di sudut rumah. Matanya membelalak ketika melihat Azka berdiri di depan kompor, berusaha membalik telur ceplok yang bagian pinggirnya sudah gosong sedikit.

“Azka!” serunya kaget, tapi lebih karena khawatir daripada marah.

Azka menoleh dengan wajah penuh senyum dengan yang minyak menetes dari sendok spatula di tangannya. “Pagi, Kak! Aku mau bikin sarapan. Kakak kan capek…”

Amora tersenyum lebar, rasa haru menyesakkan dadanya. Ia mendekat dan mengusap rambut Azka yang sudah lepek karena keringat. “Ya ampun… kamu bikin Kakak pengen nangis. Tapi lain kali bilang dulu, ya? Bahaya main kompor sendirian.”

Azka mengangguk cepat. “Iya, Kak.”

Setelah memastikan api dimatikan dan telur aman tersaji, Amora buru-buru ke kamar mandi. Sepuluh menit kemudian, ia sudah duduk di tikar bersama Azka, menyantap telur ceplok yang sedikit terlalu matang dan sedikit gosong itu dengan nasi sisa semalam yang dihangatkan ulang.

“Enak, kok,” ujar Amora sambil tersenyum lebar, sengaja memberi pujian pada adiknya.

Azka menatapnya lama, lalu menunduk, memainkan sendoknya. “Kak…”

“Hm?” sahut Amora, mulutnya penuh.

“Sebenarnya… Kakak dapat uang dari mana? Kok bisa ambil lagi sertifikat rumah kita? Waktu itu kan katanya kita nggak punya simpanan. Ditambah lagi uang untuk menebusnya sangat banyak.”

Amora terdiam. Ia menaruh sendok perlahan ke piring, lalu menatap adiknya dengan senyum tipis yang terasa lebih berat dari biasanya.

“Azka…” ia menghela napas. “Ada seseorang yang bantuin kakak. Kakak kerja sama dia sekarang. Kerjaannya aneh sih… tapi nggak jelek, nggak jahat, dan yang penting halal.”

Azka mengerutkan dahi. “Aneh gimana maksudnya?”

Amora tergelak pelan, berusaha menutupi kecanggungan. “Hmm… semacam peran pura-pura, gitu deh. Tapi bukan sandiwara sembarangan. Kakak dikontrak, kayak aktor!”

“Kakak jadi artis?” Azka langsung bersinar matanya.

“Yah… bisa dibilang artis dadakan,” jawab Amora, mencubit pelan pipi adiknya. “Yang penting, semua aman. Kita nggak dikejar-kejar rentenir lagi. Kakak janji, hidup kita bakal pelan-pelan berubah. Kamu percaya sama Kakak dan fokus saja sekolah.”

Azka mengangguk kecil, masih belum mengerti sepenuhnya, tapi ia tahu satu hal pasti, kakaknya selalu berjuang untuk mereka berdua. Dan itu cukup baginya.

Setelah sarapan sederhana yang penuh makna, Amora bersiap-siap kembali bekerja. Ia mengenakan seragam kafe berwarna coklat susu yang sudah disetrika rapi sejak malam. Rambutnya dikuncir sederhana, wajahnya hanya dibaluri bedak tipis. Tak ada riasan berlebihan, tapi semangat di matanya cukup membuat siapa pun tahu, hari ini ia siap menjemput perubahan. Sebelum itu, ia terlebih dahulu mengantarkan Azka ke sekolah.

“Hati-hati, Kak!” serunya sambil melambai, setelah turun dari motor Amora.

Amora membalas lambaian itu dengan senyum hangat. “Kamu juga! Sekolah yang benar ya. Jangan macam-macam.”

“Siap!” seru Azka bersemangat.

Amora lalu melanjutkan perjalanan menuju kafe tempatnya bekerja—kafe yang letaknya hanya sepelemparan batu dari rumah sakit tempat Damian bertugas. Pagi itu, matahari bersinar terang, dan langkah Amora terasa ringan meski jalan hidupnya belum sepenuhnya lapang.

1
Suhartini hartini
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!