Hujan deras mengguyur gang sempit malam itu. Napas Sesil terengah-engah, memburu bersama ketakutan yang makin membelenggu dada.
Di tengah hawa dingin yang menusuk tulang, ia memeluk erat sebuah buku catatan bersampul hitam—satu-satunya bukti kejahatan mematikan yang berhasil ia temukan.
Tiba-tiba, sorot lampu mobil menyilaukan memotong kegelapan dari arah belakang. Sebuah mobil mewah berhenti mendadak. Sosok pria berpostur jangkung melangkah keluar.
Alden.
Dengan payung hitam di genggamannya, ia berjalan tenang menghampiri Sesil tanpa raut panik sedikit pun.
BRAAKK!
Dentang besi bersahut-sahutan mengudara saat tubuh Sesil terpental keras ke aspal basah. Rasa sakit menusuk seketika, disusul pandangan matanya yang perlahan mengabur dan menggelap. Sebelum kesadarannya hilang sepenuhnya, bisikan dingin berselimut nada manis terdengar tepat di telinganya:
"Tidur yang nyenyak, Sesil. Pas bangun nanti, kamu bakal mencintai aku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon just Zii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10: PENGAKUAN PALSU
Suasana di dalam ruang kerja rahasia itu mendadak membeku. Udara dingin antiseptik terasa begitu pekat menyusup ke dalam paru-paru Sesil. Ia berdiri menempel pada tepi meja laboratorium, tangannya mengepal erat hingga kuku-kukunya memutih.
Laporan medis berstempel Mandaroba Compound-9 masih berada tepat di samping tangannya, sementara foto-foto masa lalunya sebagai jurnalis memotret bayangan kelam di papan gabus belakang tubuhnya.
Alden melangkah masuk perlahan. Setiap ketukan sepatu kulitnya di atas lantai granit terdengar bagaikan ritme lonceng kematian. Namun, ekspresi wajah pria itu berubah dengan kecepatan yang mengerikan.
Tatapan dingin dan mematikan yang sempat terpancar saat ia membuka pintu mendadak luruh, berganti menjadi raut penyesalan yang amat dalam, terluka, dan penuh penderitaan emosional yang begitu meyakinkan.
"Sesil..." suara Alden bergetar halus saat ia mendekat. Pria itu tidak menunjukkan amarah. Ia justru memandangi Sesil dengan mata yang mendadak berkaca-kaca.
"Jangan mendekat!" bentak Sesil, suaranya melengking ketakutan, gemetar oleh adrenalin yang memuncak. "Jangan sentuh aku! Aku... aku tahu semuanya sekarang! Kamu memberi racun ini padaku! Kamu memata-matai seluruh hidupku! Siapa aku sebenarnya, Alden?!"
Alden menghentikan langkahnya, menundukkan kepala secara perlahan seolah menanggung beban kesalahan yang amat berat.
Ia mendesah panjang, sebuah helaan napas yang sarat akan keputusasaan.
"Aku tahu hari ini akan tiba, Sesil," ucap Alden dengan nada suara yang begitu rendah, serak, dan penuh emosi. "Aku tahu kamu akan menemukan ruangan ini dan membenciku setengah mati."
"Kamu membohongiku!" air mata amarah menyembur keluar dari pelupuk mata Sesil. "Kamu bilang Rian itu gila! Kamu bilang aku penulis gaya hidup! Tapi foto-foto ini... koran ini... aku adalah jurnalis yang kamu buru!"
Alden mengangkat wajahnya, menatap Sesil lurus-lurus dengan binar mata yang memancarkan rasa cinta yang teramat obsesif sekaligus menyedihkan.
"Ya. Kamu benar, Sesil. Semua yang ada di ruangan ini adalah fakta," akui Alden tanpa ragu sedikit pun. Pengakuan jujur yang diutarakannya secara mendadak itu justru membuat Sesil terhenyak kaku.
"Dengar penjelasanku, sekali ini saja, lalu kamu bebas membenciku atau membunuhku jika kamu mau," lanjut Alden seraya melangkah maju dua tindak secara perlahan, tidak berusaha merebut dokumen dari tangan Sesil.
"Perusahaanku—perusahaan keluarga yang kuwarisi—memang mengembangkan racun saraf itu di bawah kendali dewan direksi lama yang korup. Kamu, jurnalis paling hebat dan pemberani yang pernah kutemui, berhasil membongkarnya."
Alden berhenti tepat satu meter di hadapan Sesil, menatap wanita itu dengan keputusasaan yang tertata rapi.
"Malam itu, saat kamu berlari membawa buku catatan itu, dewan direksi lamaku mengirim orang untuk menghabisi nyawamu," Alden memelankan suaranya, membawa intonasinya ke titik emosional yang paling rapuh. "Aku mencoba menghentikan mereka, Sesil! Tapi aku terlambat. Mobil itu menabrakmu. Saat aku menemukanmu di jalanan basah malam itu, kepalamu berdarah hebat, napasmu hampir berhenti. Aku membawamu ke rumah sakit pribadi, menyuap semua dokter, dan membersihkan seluruh jejakmu."
Sesil menggelengkan kepalanya keras-keras, mencoba menolak narasi itu. "Lalu kenapa kamu memberiku obat penenang ini?! Kenapa kamu menghapus ingatanku?!"
"Karena racun itu sudah terhirup olehmu saat kecelakaan, Sesil!" tegas Alden dengan nada suara yang meninggi penuh kepedihan.
"Jaringan otakmu rusak berat! Mandaroba Compound-9 bukan diciptakan untuk menghancurkanmu, tapi itu adalah satu-satunya penawar medis yang bisa mencegah kerusakan saraf otakmu menjadi permanen! Efek sampingnya adalah amnesia dan penurunan kecepatan berpikir. Aku terpaksa memberikan obat itu setiap malam agar kamu tetap hidup!"
Sesil mematung. Logikanya berantakan. Narasi Alden masuk ke dalam celah-celah laporan medis yang dibacanya. Laporan itu memang menyebutkan inhibitior memori, namun Alden dengan sangat lihai membingkai zat beracun tersebut sebagai 'satu-satunya obat penawar' bagi nyawanya.
"Lalu foto-foto ini... kamera CCTV di kamarku...?" bisik Sesil, ketakutannya mulai bercampur dengan keraguan yang membingungkan.
"Kamera itu untuk memantau jika kamu mengalami kejang saraf di tengah malam saat aku tidak ada," jawab Alden cepat, mata hitamnya mengunci pandangan Sesil. "Dan foto-foto itu... aku mengumpulkan seluruh jejak hidupmu karena aku takut jika suatu hari nanti obat ini gagal, aku bisa mengembalikan identitasmu secara utuh. Mengenai Rian... Rian adalah bagian dari tim investigasimu yang memanfaatkan keberanianmu untuk kepentingannya sendiri. Dialah yang membiarkanmu berlari sendirian di malam badai itu sementara dia menyelamatkan dirinya sendiri!"
Alden berlutut di atas lantai dingin di hadapan Sesil. Seorang pria berkuasa, kaya, dan terpandang kini berlutut pasrah di kakinya.
"Aku berbohong tentang status pertunangan kita karena aku mencintaimu, Sesil," bisik Alden, suara pria itu tercekik oleh tangis yang ditahannya. "Sejak pertama kali aku memata-matai kegiatan investigasimu berbulan-bulan lalu, aku sudah jatuh cinta pada keberanianmu. Saat kamu terbaring koma, aku bersumpah pada diriku sendiri... jika Tuhan memberiku kesempatan kedua untuk menjagamu, aku akan memberikan segalanya—rumahsakitku, rumahku, seluruh hidupku—hanya agar kamu aman dari orang-orang jahat di luar sana yang menginginkan kematianmu. Jika merawatmu dan menyembunyikanmu membuatku menjadi monster di matamu, maka biarlah aku menjadi monster itu."
Pengakuan palsu yang dirancang dengan sangat sempurna itu menghantam benteng pertahanan psikologis Sesil yang baru saja terbentuk.
Reaksi kimia obat yang menumpuk di tubuhnya selama berminggu-minggu bertindak sebagai akselerator manipulasi ini. Otak Sesil, yang tumpul oleh efek senyawa Mandaroba, gagal menemukan kejanggalan dalam kebohongan Alden.
Keraguan batinnya kembali goyah. Rasa benci yang baru menyala beberapa menit lalu kini terkikis oleh rasa kasihan, keterikatan emosional, dan utang nyawa buatan yang terasa begitu nyata.
Malam harinya, kediaman perbukitan itu diselimuti oleh suasana jamuan makan malam privat yang sangat megah.
Meja makan panjang di lantai bawah dihiasi oleh ratusan kelopak bunga mawar merah, lilin-lilin aromatik yang memancarkan cahaya keemasan syahdu, serta hidangan makanan kelas atas yang disiapkan khusus. Suasana yang dibuat sedemikian rupa dirancang untuk menghapus jejak trauma dari insiden di ruang kerja tadi siang.
Sesil duduk di kursi utama, mengenakan gaun malam berwarna merah marun anggun yang disiapkan oleh Alden. Wajahnya pucat, jemarinya masih terasa sedikit dingin. Di kepalanya, pergolakan antara naluri jurnalisnya dan kebohongan indah Alden masih bertempur hebat, namun pertempuran itu makin tidak seimbang.
Alden berdiri dari kursinya. Pria itu mengenakan tuksedo hitam yang sangat elegan. Ia melangkah mendekati Sesil, lalu perlahan berlutut di samping kursi wanita itu, persis seperti yang dilakukannya di ruang kerja rahasia tadi siang, namun kali ini dengan suasana romansa yang pekat.
Dari dalam saku jasnya, Alden mengeluarkan sebuah kotak beludru hitam. Ia membukanya, memperlihatkan sebuah cincin berlian berukuran besar dengan potongan cushion-cut yang memancarkan kilau sempurna di bawah cahaya lilin.
"Sesil..." panggil Alden halus, menatap mata wanita itu dengan kedalaman afeksi yang memikat. "Tadi siang kamu telah melihat sudut tergelap dari hidupku dan alasan di balik semua tindakan ekstremku untuk menyelamatkan nyawamu. Aku tidak ingin lagi ada kebohongan di antara kita."
Alden mengambil tangan kanan Sesil yang bergetar pelan.
"Cincin ini bukan lagi simbol dari cerita pertunangan palsu yang kubuat untuk melindungimu," ujar Alden dengan nada bersumpah yang begitu sakral. "Hari ini, di hadapanmu yang telah mengetahui segalanya, aku melamarmu secara resmi. Jadilah istriku, Sesil. Biarkan aku menghabiskan sisa hidupku untuk menyembuhkanmu, menjagamu dari dunia luar yang kejam, dan membuktikan bahwa cintaku padamu adalah satu-satunya hal yang nyata dalam hidupmu."
Sesil menatap cincin berlian yang berkilau itu, lalu beralih menatap wajah Alden.
Di dalam benaknya, bayangan Rian yang berteriak di depan kedai kopi dan foto-foto investigasi di papan gabus mendadak terasa makin samar, terkubur di bawah kehangatan buatan dan drama pengorbanan yang disajikan Alden.
Rasa takut akan kenyataan luar yang asing dan berbahaya membuat benteng kesadarannya runtuh sepenuhnya. Ia merasa berutang nyawa pada pria yang berlutut di hadapannya ini.
Dengan mata yang berkaca-kaca oleh emosi yang membingungkan namun pasrah, Sesil mengangguk perlahan.
"Ya... aku mau, Alden," bisik Sesil pasrah.
Senyuman kemenangan yang sangat tipis dan tak terdeteksi terbit di sudut bibir Alden. Pria itu menyematkan cincin berlian yang berkilau itu ke jari manis Sesil—sebuah ikatan fisik dan emosional baru yang kini mengunci Sesil jauh lebih rapat daripada obat penenang mana pun.
Alden berdiri, membungkuk, dan mendaratkan ciuman dalam di bibir Sesil.
Di balik keraguan batin yang masih tersembunyi jauh di lubuk hatinya, Sesil membiarkan dirinya tenggelam kembali ke dalam cengkeraman sang pemangsa, terikat oleh lamaran dan pengakuan palsu yang tertata sempurna.