NovelToon NovelToon
Musuh Bebuyutan Kok Pacaran?

Musuh Bebuyutan Kok Pacaran?

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Romantis / Komedi
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rofiwan

Dafa Mahendra itu kapten basket paling keren se-antero sekolah, tapi otaknya suka agak lemot kalau urusan cinta. Niatnya mau nembak Kinar Kirana (kapten basket putri) pakai cara super romantis di koridor yang gelap, Dafa malah salah sasaran! Akibat salah narik tangan karena panik, dia justru menyatakan cinta ke Lilis Nurmala—kapten cheerleader sekaligus musuh bebuyutannya yang super galak dan hobi adu mulut dengannya.

Sialnya, momen salah tembak itu viral! Demi menjaga gengsi dan menghindari hukuman dari guru karena bikin keributan, mereka terpaksa pura-pura pacaran. Di sisi lain, Kinar yang aslinya naksir Dafa mulai panik dan mencoba merebut Dafa kembali. Belum lagi Azril, kapten futsal yang protektif banget sama Lilis, siap menghajar Dafa kapan saja. Tapi, siapa sangka? Dari yang tadinya hobi bertengkar, saling mengejek, dan pasang jebakan jail tiap hari di kelas, Dafa dan Lilis justru pelan-pelan malah saling bikin baper beneran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Plester luka 'Dinosaurus' 24.

Malamnya, Lilis tidak bisa tidur. Kamarnya yang biasa terasa hangat mendadak berubah pengap oleh bayangan masa depan yang suram.

Di langit-langit kamar, bayangan wajah Dafa dengan hidung bengkak keunguan seperti terproyeksi jelas. Sialnya, wajah bengkak itu masih sempat-sempatnya tersenyum menyebalkan sambil berbisik, "Lo salting, kan?"

Lilis berguling ke kanan, menenggelamkan wajahnya ke bantal, lalu mengerang frustrasi. "Bodoh, bodoh, bodoh!" rutuknya pada diri sendiri.

Dia bukan tipe cewek dramatis yang suka mengurung diri jika ada masalah.

Lilis itu praktis, cenderung cuek, dan lebih suka menyelesaikan urusan dengan cepat.

Tapi urusan kali ini melibatkan Dafa—kapten tim basket, cowok yang punya "pasukan penggemar" tersebar dari kelas sepuluh sampai alumni, dan cowok yang baru saja membuat jantungnya berdetak tidak keruan di lapangan kemarin.

Kalimat Dafa di UKS tentang Kinar terus berputar seperti kaset rusak. “Gue terima karena gak enak sama dia. Gak lebih.”

Mengapa Dafa harus menjelaskan hal itu? Mengapa Dafa harus peduli pada isi kepala Lilis yang kacau? Dan yang paling penting, mengapa Lilis harus merasa se-lega ini setelah mendengarnya?

"Ah, tau ah!" Lilis menendang selimutnya. "Yang penting besok hidungnya gak busuk aja."

**

Esok harinya.

Pukul enam pagi lewat sedikit, Lilis sudah berdiri di depan deretan loker koridor barat.

Suasana sekolah masih sepi, hanya ada satu-dua siswa yang datang kepagian untuk menyontek PR Matematika.

Napas Lilis agak memburu. Di dalam tasnya, ada sebuah benda yang dia beli di apotek 24 jam semalam dengan penuh perjuangan menahan malu.

Sebuah kotak plester luka. Bukan plester cokelat biasa yang membosankan, melainkan plester kain bermotif dinosaurus kecil warna hijau yang memakai topi ulang tahun. Mengapa dinosaurus? Karena hanya itu satu-satunya plester yang tersisa di rak apotek, selain plester bergambar barbie yang menurut Lilis akan membuat Dafa benar-benar menguliti dirinya hidup-hidup.

Lilis menoleh ke kanan dan ke kiri. Aman.

Dengan gerakan secepat kilat, dia menyelipkan satu lembar plester dinosaurus dan satu botol kecil minyak tawon, minyak tawon ini saran dari ibunya agar lebam cepat hilang.

Keduanya ditaruh ke dalam celah loker nomor empat dua. Loker milik Dafa.

Setelah memastikan benda itu masuk sempurna, Lilis berbalik dan berjalan cepat menuju kelasnya dengan dada yang berdegup kencang. Setidaknya, tanggung jawab moralnya sudah tunai separuh.

Jam istirahat pertama adalah simulasi neraka bagi Lilis. Sebagai ketua pemandu sorak, dia diwajibkan berkumpul di pinggir lapangan sela-sela aula untuk pimpin brifing terakhir sebelum pertandingan persahabatan melawan SMA Wahidin nanti siang.

"Lis, lo kenapa sih? Dari tadi jalan kayak kepiting, tengok-tengok mulu," tegur Feli, sambil mengikat tali sepatu.

"Hah? Enggak, gapapa. Encek-encek leher aja, agak kaku," kilap Lilis sambil memutar kepalanya kaku, membuat Feli menatapnya aneh.

"Eh, liat deh! Anak basket udah pada turun," seru Ajeng, salah satu anak pemandu sorak dari sudut lapangan.

Jantung Lilis rasanya mau copot. Dia perlahan memutar tubuhnya, mencoba bersembunyi di balik tubuh Lilis yang kebetulan agak bongsor.

Dari pintu aula, rombongan tim basket berjalan masuk dengan jersi merah kebanggaan mereka. Di paling depan, tentu saja si kapten Dafa.

Lilis menahan napas, matanya langsung tertuju pada wajah cowok itu.

Lebam kemarin masih ada, samar-samar berwarna kehijauan di bagian pangkal hidung.

Namun, yang membuat Lilis hampir tersedak ludahnya sendiri adalah sebuah benda yang menempel horizontal di atas hidung mancung itu.

Plester dinosaurus hijau bertopi ulang tahun.

Dafa memakainya. Tanpa malu, tanpa ditutupi masker. Plester imut itu tampak sangat kontras dengan proporsi wajahnya yang tegas, rahangnya yang kokoh, dan auranya yang biasanya dingin saat akan bertanding.

Beberapa anak perempuan di pinggir lapangan mulai berbisik-bisik, beberapa terang-terangan tertawa geli.

Namun, Dafa mengabaikan mereka semua. Dia berjalan santai sambil mendribel bola dengan tangan kirinya.

Hingga kemudian, mata Dafa bergerak menyapu area pinggir lapangan. Lilis mencoba mengecilkan tubuhnya, tapi terlambat. Mata mereka bertemu.

Dafa menghentikan bola dalam genggamannya. Bukannya marah atau memasang muka ketus karena wajahnya dirusak plester kekanakan, Dafa justru menyunggingkan senyum tipis.

Dia berjalan mendekat ke arah tempat Lilis dan Via berdiri.

"Pagi, pawang tawon," sapa Dafa santai begitu jarak mereka tinggal dua meter.

Feli langsung menoleh ke Lilis dengan mata membelalak, sementara Lilis ingin sekali bumi terbelah dan menelannya sekarang juga.

"D-Dafa... itu... kenapa dipakai?" bisik Lilis setengah mendesis, panik kalau-kalau ada yang menyadari asal-usul plester itu.

Dafa menyentuh hidungnya pelan, tepat di bagian gambar dinosaurus. "Lah, kan lo yang ngasih. Katanya biar hidung masa depan gue gak patah."

"Gue gak nulis gitu di plesternya ya!" protes Lilis spontan, yang sedetik kemudian langsung merutuki mulutnya sendiri karena secara tidak langsung mengakui kalau dia yang menaruhnya.

Dafa terkekeh geli. Suaranya rendah, terdengar renyah di tengah bisingnya aula. "Nggak ditulis sih, tapi minyak tawon di loker gue baunya khas banget kayak bau minyak yang lo pakai pas pingsan di perkemahan tahun lalu. Tebakan gue gak pernah salah, Lis."

Lilis mematung. Cowok ini mengingat sedetail itu?

"Tapi serius, makasih," lanjut Dafa, suaranya melembut, menyisakan interaksi yang terasa begitu intim di antara mereka berdua di tengah keramaian. "Lebamnya mendingan karena minyaknya. Dan plester ini... lucu. Anak-anak tim bilang gue kelihatan kayak kartun, tapi gapapa, yang penting yang ngasih senang."

Lilis merasakan sensasi panas menjalar cepat dari leher menuju kedua pipinya. Dia membuang muka, berpura-pura sibuk membetulkan pom-pom di tangannya yang sebenarnya tidak rusak.

"Terserah lo deh. Yang penting nanti mainnya jangan kalah, tar gue yang disalahin seangkatan karena bikin kaptennya cedera," gumam Lilis, mencoba mengembalikan gengsinya yang sudah runtuh ke lantai.

Dafa tersenyum lagi, jenis senyuman yang membuat matanya ikut menyipit jenaka. Dia memutar bola basket di ujung jarinya, lalu berbalik untuk kembali ke timnya. Namun baru tiga langkah, dia menoleh lagi.

"Lis."

"Apa lagi?"

"Nanti pas gue nge-golin, lo harus sorak paling kencang ya. Anggap aja itu penebusan dosa buat hidung gue," ucap Dafa sambil mengedipkan satu matanya sebelum berlari kecil menyusul teman-temannya.

Lilis terpaku di tempatnya. Jantungnya berdegup begitu kencang sampai dia takut Feli bisa mendengarnya.

Di depannya, Dafa mulai bergabung dengan tim, melakukan lay-up dengan plester dinosaurus yang bergoyang halus di hidungnya.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupnya di SMA, Lilis menyadari satu hal: dia tidak lagi sekadar merasa bersalah. Dia benar-benar jatuh cinta sejatuh-jatuhnya pada cowok menyebalkan itu.

......................

...***************...

Tbc,

1
Gege Mas
yaaah pikir plotnya lilis hilang ingatkan..trus jadi berpuluh puluh episode buat kembali ingat dafa..🤣
Gege Mas
apik Dan epic
Gege Mas
perasaan di bab berapa sudah di perjelas..disini di putar balik lage.. othor memainkam durasi ini..🤣🤭
Rofiwan: satu bab doang /Sob/🤣
total 1 replies
falea sezi
makanya jangan bego dava.. ayo lis putusin hubungan pura2 kalian
falea sezi
makanya jd cowok jangan serakah suka lilis malah nemenin mantan gebetan🤣🤣 plin plan elu🤣
falea sezi
abis ne bodoh amat m dava donk lis jual. mahal putusin hubungan pura2🤣 berjuang apanya pret si dava
mars-venus
ceritanya gak bosenin asliii
mars-venus
jujur ini gimana caranya berenti baca novel.. berasa males kerja pen baca sampe akhir😫
falea sezi
lanjut
falea sezi
jual mahal lis ngapain ngejar cowok duluan🤣 ogah amat mending di cintai Dripada mencintai
falea sezi
biarin aja lis dava ma Kinar 🤣 nanti jg dia nyesel tp uda telatt🤣
falea sezi
lanjut q kirm hadiah
Gege Mas
luncurkan 10k kata Thor...gasskeun
Nita Nita
wekwekwekwek 😄
Queen Aisyah
woy, sampe keselek siomay saya baca ginian/Sob//Curse/
Nita Nita
😄😄😄😄😄🤣🤣🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!