NovelToon NovelToon
DARA DAN JUWITA (Anak Yang Tak Dianggap)

DARA DAN JUWITA (Anak Yang Tak Dianggap)

Status: sedang berlangsung
Genre:Hamil di luar nikah / Mengubah Takdir / Bullying dan Balas Dendam
Popularitas:969
Nilai: 5
Nama Author: Icita

Dara adalah gadis dari keluarga kelas bawah yang dijebak oleh pemuda kaya bernama Riko yang berujung kehamilan Dara. Riko menolak untuk bertanggung jawab karena mempertahankan status sosial dan nama baik keluarga.
Keputusan Dara memilih untuk mempertahankan kehamilannya yang menyebabkan dirinya dibuang dari keluarganya sendiri karena dianggap sebagai sebuah aib.
Kisah Dara yang berjuang sendiri dalam kehamilannya begitu pilu dan penuh perjuangan hingga melahirkan seorang anak perempuan yang sangat lucu dan jenius yang diberi nama Juwita.
Kehidupan Jiwita tak kalah menyedihkan, dia selalu dikucilkan dan dijauhi karena dicap sebagai anak haram, bahkan setiap prestasi yang didapatkan selalu tak dianggap oleh siapapun kecuali ibunya yang selalu memberikan semangat dan dukungan. Kesabaran dan tekad Dara dan Juwita diuji dengan banyaknya lika-liku kehidupan yang harus dijalani.
Mampukah mereka bertahan, membalikan keadaan dan membalas rasa sakit yang dialami ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Icita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Detik-Detik Maut yang Digagalkan

Kemarahan seorang konglomerat yang berada di ambang kebangkrutan adalah hal paling berbahaya di dunia. Di dalam ruang kerja pribadinya yang megah namun diterangi cahaya remang-remang, Riko Aditama mencengkeram gelas wiskinya hingga buku-buku jarinya memutih. Di atas meja kerjanya, laporan penurunan saham perusahaan berserakan berdampingan dengan rekaman video viral dari aula SMA Pelita Bangsa—rekaman di mana putranya, Kevin, dipermalukan secara telak oleh Juwita di hadapan ratusan siswa dan dewan juri.

Kevin berdiri di sudut ruangan dengan kepala tertunduk dalam, tubuhnya gemetar ketakutan menatap kemarahan sang ayah.

"Anak tidak berguna!" bentak Riko dengan suara rendah namun menggelegar, melempar gelas kaca itu hingga pecah berkeping-keping menghantam dinding. "Kau tidak bisa menjatuhkan gadis itu di sekolah, kau tidak bisa mencuri kodenya dengan benar, dan sekarang seluruh dewan direksi mulai meragukan kemampuanmu sebagai pewaris!"

"Pa... aku... aku sudah mencoba..." cicit Kevin terbata-bata, air mata ketakutan mengalir di pipinya. "Juwita... dia tidak seperti yang kita duga. Dia punya perlindungan dari Baskoro Pratama!"

Riko mendengus tajam, seringai dingin menghiasi bibirnya yang menipis. "Baskoro Pratama tidak bisa menjaga anak itu selama dua puluh empat jam penuh. Jika logika dan reputasinya tidak bisa menghancurkan mentalnya... kita gunakan cara lain."

Riko mendekati putranya, mencengkeram bahu Kevin dengan kuat. "Seekor ular tidak akan menyerang mangsanya dari kepala jika kepalanya keras. Ular akan menyerang titik paling rapuh yang membuat mangsanya kehilangan akal sehat."

Mata Riko menyipit penuh niat jahat. "Ibu tirimu itu... wanita penyakitan yang tinggal di gubuk reyot dekat rel kereta api. Kalau wanita itu mati karena 'kecelakaan kecil' atau sesak napas mendadak di tengah malam... mari kita lihat seberapa kuat mental si jenius Juwita saat dia kehilangan satu-satunya alasan dia hidup di dunia ini."

Mendengar rencana keji ayahnya, mata Kevin membelalak horor. Meskipun ia membenci Juwita, melibatkan pembunuhan langsung atau mencelakai orang tua adalah batas garis merah yang membuat darahnya mendadak dingin. Namun, rasa takutnya pada sang ayah jauh lebih besar daripada nuraninya yang tersisa. Kevin hanya bisa terdiam kaku, membiarkan rencana iblis itu berjalan.

Malam itu, jarum jam menunjukkan pukul sebelas malam. Udara di perkampungan padat penduduk di bantaran rel kereta api terasa sangat lembab dan sunyi. Sebagian besar warga telah tertidur lelap, menyisakan deru angin malam yang bergesekan dengan seng-seng tua rumah warga.

Di dalam gubuk reotnya, Dara terbaring damai di atas kasur tipisnya. Pernapasannya teratur, dibantu oleh tabung oksigen portabel yang diletakkan di sisi ranjang. Beberapa meter dari sana, Juwita masih terjaga di meja belajarnya, merampungkan dokumentasi akhir untuk presentasi final tingkat nasional esok hari.

Tiba-tiba, sebuah firasat buruk mencengkeram dada Juwita. Bulu kuduk di tengkuknya meremang seketika.

Ia menghentikan ketikan di laptopnya, mendengarkan seksama suasana di luar. Di luar gubuk, terdengar suara langkah kaki yang sangat pelan—langkah kaki yang disamarkan dengan sengaja di atas jalanan kerikil basah. Bukan suara tetangga, dan bukan pula suara kucing liar.

Juwita bangkit dari kursinya dengan hati-hati. Ia berjalan perlahan ke arah pintu triplek yang dikunci dari dalam. Melalui celah kecil di bilik kayu tersebut, Juwita melihat dua sosok pria berbadan tegap mengenakan jaket hitam berkerudung sedang berdiri di dekat jendela kecil kamar ibunya. Salah satu dari mereka sedang memegang sebuah selang kecil dan tabung semprot misterius, sementara pria lainnya mengawasi situasi sekitar sambil menyelipkan benda tajam di balik jaketnya.

Darah Juwita mendadak mendidih. Otaknya berputar cepat menghubungkan potongan-potongan teror: ancaman keluarga Aditama, posisinya yang semakin terdesak, dan niat busuk mereka untuk menyingkirkan keluarganya selamanya.

Mereka ingin membunuh Ibu!

Tanpa membuang waktu sedetik pun, Juwita tidak berteriak atau memanggil warga. Ia tahu jika ia keluar lewat pintu depan, ia akan langsung disergap di ruang terbuka. Dengan gerakan kilat, Juwita menyambar sebatang pipa besi tua yang biasa digunakan untuk menyangga meja, lalu bergerak menuju jendela samping yang tersembunyi di balik lemari kain.

Di luar gubuk, pria berjaket hitam itu mulai mencongkel kassa nyamuk jendela kamar Dara, bersiap menyemprotkan gas kimia berbahaya atau memutus selang oksigen utama agar wanita paruh baya itu tewas dalam tidur akibat sesak napas yang disamarkan sebagai serangan asma.

Kriek...

Juwita membuka jendela samping dengan dorongan kuat yang mendadak. Sebelum pria berkerudung itu sempat bereaksi, Juwita mengayunkan pipa besinya dengan seluruh tenaga yang ia miliki, menghantam tepat pergelangan tangan pria yang memegang tabung kimia.

Prang!

Tabung semprot itu terlepas dari tangan sang preman dan jatuh menghantam batu, mendesis mengeluarkan asap putih beracun ke udara malam.

"Keparat!" geram preman pertama kesakitan sambil memegang pergelangan tangannya yang langsung membengkak.

Preman kedua yang bertugas mengawasi langsung mencabut pisaunya dari balik jaket, berbalik menerjang ke arah Juwita dengan seringai buas. "Anak sialan! Mau cari mati, hah?!"

Juwita tidak mundur barang sejengkal pun. Adrenalin yang mengalir deras di nadinya melenyapkan rasa takut. Saat preman itu melompat mendekat, Juwita merendahkan tubuhnya, menghindari tusukan pisau, lalu menggunakan sisa momentum untuk menghantamkan siku tangannya ke perut sang preman sekuat tenaga.

Pria berbadan besar itu terpekik tertahan, terhuyung mundur kehilangan keseimbangan, lalu terjatuh ke dalam selokan berlumpur di samping rel kereta.

Melihat rekan mereka tumbang dan keributan mulai memancing suara geraman dari rumah-rumah tetangga di sekitar rel, preman pertama panik. "Sialan, misinya gagal! Cabut! Cepat cabut!" teriaknya sambil membopong temannya yang babak belur. Kedua bayangan hitam itu melarikan diri tergesa-gesa menembus kegelapan gang sempit, menghilang ditelan malam.

Juwita berdiri tegak di samping jendela, napasnya memburu naik turun, keringat dingin membasahi seluruh keningnya. Pipa besi di tangannya masih tergenggam erat.

Ia segera berbalik, menerobos masuk ke dalam kamar ibunya untuk memastikan kondisi Dara.

"Ibu... Ibu, bangun, Bu!" seru Juwita panik, langsung berlutut di sisi ranjang dan memeriksa denyut nadi serta selang oksigen ibunya.

Dara membuka matanya perlahan, tampak kebingungan akibat suara gaduh di luar. "Nduk... Juwita? Ada apa di luar sana? Suara apa ribut-ribut...?"

Melihat ibunya selamat dan masih bernapas dengan normal, pertahanan Juwita akhirnya runtuh. Air mata kelegaan bercampur kemarahan yang teramat dalam tumpah membasahi wajahnya. Ia mendekap tubuh ibunya erat-erat, membenamkan wajahnya di pelukan wanita itu sambil gemetar hebat.

"Ibu... tidak apa-apa... Ibu aman..." isak Juwita tertahan, berusaha menenangkan detak jantungnya sendiri.

Dara mengusap rambut putrinya dengan penuh kasih sayang, meskipun wajah wanita tua itu tampak pucat pasi karena menyadari apa yang baru saja terjadi. "Nduk... mereka orang suruhan Riko, ya?" bisik Dara parau.

Juwita perlahan melepaskan pelukannya. Ia menatap lurus ke depan, menghapus air matanya dengan punggung tangan. Sorot mata di kedua bola matanya tidak lagi menyisakan keraguan. Ketakutan itu telah berubah menjadi baja yang membara.

"Iya, Bu," jawab Juwita dengan suara dingin yang membuat malam terasa semakin membeku. "Pria itu... ayah kandungku sendiri... baru saja mencoba membunuh Ibu."

Dara terkesiap, menutup mulutnya dengan tangan yang bergetar.

Juwita bangkit berdiri. Ia melangkah berjalan ke dekat meja belajarnya, memandang layar laptopnya yang menyala menampilkan data investigasi keuangan dan bukti aliran dana ilegal milik Riko Aditama yang selama ini diam-diam ia kumpulkan bersama jaringan Pratama Corp.

Selama ini, Juwita berpikir bahwa bertahan hidup dengan belajar dan membuktikan prestasi di sekolah sudah cukup untuk mengalahkan mereka. Namun malam ini, kenyataan menamparnya dengan keras: orang seperti Riko Aditama tidak akan pernah berhenti selama mereka masih memiliki kekuasaan untuk menghabisi nyawa orang lain di dalam gelap.

Juwita mengepalkan kedua tangannya hingga kuku-kukunya menancap di telapak tangannya sendiri.

"Cukup, permainan belas kasihan ini sudah berakhir," sumpah Juwita di dalam hatinya dengan suara penuh kepastian yang menggetarkan seisi ruangan. "Kalau Riko Aditama ingin bermain kotor dengan nyawa ibuku... aku akan pastikan seluruh kekaisaran, nama baik, dan kebebasannya direnggut habis sampai ia merangkak di lantai gereja memohon ampun padaku."

Malam itu, di bawah atap gubuk reot yang hampir roboh, seorang gadis muda menjelma menjadi algojo keadilan yang siap meruntuhkan singgasana seorang konglomerat paling berkuasa di negeri ini. Perang yang sesungguhnya telah resmi dimulai, dan tidak akan ada lagi jalan kembali.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!