NovelToon NovelToon
PENYESALAN YANG DATANG TERLAMBAT

PENYESALAN YANG DATANG TERLAMBAT

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Rumah Tangga / Selingkuh / Tamat
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Alya menjalani pernikahan perjodohan dengan Arga, pria kaya yang tidak pernah benar-benar menerimanya sebagai istri. Saat Alya berusaha mempertahankan rumah tangga mereka, Arga justru masih menjalin hubungan dengan kekasih lamanya dan mengabaikan kesetiaan istrinya.
Diam-diam, Alya menahan penyakit parah dan luka hati yang semakin dalam. Hingga suatu hari, ia memilih pergi tanpa meminta apa pun lagi.
Arga mengira Alya akan kembali. Namun ketika hari berganti dan rumah terasa semakin sunyi, ia mulai menyadari bahwa perempuan yang selalu ia abaikan adalah satu-satunya orang yang tulus mencintainya. Saat Alya akhirnya ditemukan dalam keadaan kritis, penyesalan Arga telah datang terlalu terlambat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TIDAK ADA YANG MEKAR

Alya meninggal jam 13.02 di bawah pohon mangga.

Jam 13.05, Bu Ratna masuk ke kamar Alya untuk ambil kain kafan, lihat buku biru muda jatuh di lantai, terbuka, halaman terakhirnya ada tulisan Alya yang belum selesai karena pulpen jatuh.

Tulisannya berhenti di tengah kalimat:

Makasih udah temenin dari 16 ribu sampai 5,8. Aku pulang ya, Mas. Bukan ke Makassar, tapi pulang beneran. Kalau nanti aku...

Kalimatnya putus. Pulpennya jatuh karena tangannya sudah tidak kuat.

Arga ambil buku itu, lihat kalimat putus itu, langsung tau lanjutan yang mau Alya tulis apa. Karena 3 hari sebelum meninggal, Alya bisik waktu demam 39,1: "Mas, kalau aku hamil, anak kita namanya apa ya?"

Waktu itu Arga kira Alya ngigau karena demam. Ternyata tidak. Alya telat haid 2 bulan, tapi tidak pernah cerita karena takut, karena dokter bilang dengan trombosit 24 ribu tidak boleh hamil, bisa mati.

Di tas Alya di kampung, Arga buka dompet kecil, ada testpack, garis dua samar, tanggal 2 minggu sebelum meninggal. Positif. Sudah 8 minggu.

Alya hamil 8 minggu waktu meninggal, dengan Hb 5,8 dan trombosit <20 ribu. Ia tau, tapi tidak bilang ke siapa-siapa, karena kalau bilang, Arga akan bawa paksa ke Makassar, akan transfusi paksa, akan transplant paksa.

Ia pilih diam, dan bawa calon anaknya pulang sekalian di bawah pohon mangga.

Arga tau itu di hari pemakaman, setelah jenazah dimandikan. Perut Alya masih rata, tidak kelihatan, tapi Arga pegang perut itu lama di ruang mandi jenazah, sambil dimandikan.

"Al, kamu bawa siapa?" bisik Arga ke jenazah Alya, dengan suara hancur, tidak ada yang dengar kecuali Bu Ratna di luar pintu.

Bu Ratna masuk, lihat Arga pegang perut Alya, langsung paham. Karena Bu Ratna yang cuci celana dalam Alya 2 minggu lalu, lihat bercak darah samar, dikira haid karena trombosit rendah, ternyata bukan.

Malam setelah pemakaman, Arga tidak pulang ke rumah panggung, tapi tidur di samping makam Alya yang masih basah, tanah masih merah.

Pak Pramono bilang, "Ga, pulang, Nak, hujan."

"Nggak, Pak. Saya di sini aja. Takut Alya kedinginan, dia bawa anak."

Pak Pramono nangis di situ, pertama kalinya Bapak nangis keras sejak Alya lahir. Karena baru tau anaknya hamil.

Tujuh hari setelah itu, Arga balik ke Makassar, sendirian, dengan testpack garis dua samar di saku celana, bukan map biru lagi.

Rumah Makassar kosong, debu tebal, 12 batang bunga kuning mati kering sudah dibakar, jadi abu.

Arga tidak cabut, tidak bakar, karena sudah jadi abu oleh panas kemarau.

Ia masuk kamar, buka lemari, ada daster Alya yang terakhir dipakai sebelum ke kampung, belum dicuci, ada bercak darah mimisan kering di kerahnya.

Ia cium daster itu, masih bau Alya, bau obat siklosporin dan bau matahari.

Jam 7 malam, alarm HP bunyi: Ting... ting... ting... Minum obat, Al...

Alarm yang sudah bunyi setahun, yang Alya sudah meninggal, masih bunyi.

Arga tidak matikan. Ia biarin bunyi, sampai baterai HP habis, sampai HP mati, karena kalau dimatikan, suara Alya benar-benar hilang.

Tiga bulan setelah Alya meninggal, Arga dipecat dari kantor, karena sudah resign dan tidak masuk 3 bulan. Tidak ada pesangon, karena resign sendiri.

Tabungan habis. Uang 80 juta pinjaman untuk donor gagal, masih harus dicicil 3 tahun.

Arga jual rumah Makassar yang ada tanah retak bekas 12 bunga kuning itu. Rumah yang dulu mereka beli dengan cicilan 15 tahun, baru cicil 3 tahun.

Rumah laku murah, karena pembeli lihat taman belakang mati, tanah retak, vas retak.

Uang jual rumah habis untuk bayar utang donor gagal.

Arga pindah ke kos kecil 2x3 di belakang RS, tempat dulu Alya kontrol 112 ribu dan 165 ribu. Dari jendela kos, kelihatan taman bunga kuning RS, tempat mereka duduk di Bab 24 dan 25.

Setiap hari jam 5.30 pagi, Arga lihat dari jendela kos, tukang taman siram bunga kuning itu. 12 kuntum, mekar terus, tidak pernah mati, karena disiram tiap hari oleh tukang taman, bukan oleh Arga.

Bunga yang sama, tempat yang sama, tapi yang duduk di taman bukan Alya lagi, melainkan pasien lain dengan kursi roda.

Setahun setelah Alya meninggal, Arga ke makam, bawa testpack garis dua yang sudah pudar, hampir hilang garisnya karena disimpan di dompet setahun, kena keringat.

Ia taruh testpack itu di atas nisan kayu Alya yang sudah lapuk dimakan rayap, karena nisan kayu murah, tidak ada uang ganti nisan marmer.

"Al, ini anak kita," kata Arga ke nisan, dengan suara yang sudah tidak ada air mata lagi, karena air mata habis 6 bulan pertama. Yang keluar sekarang hanya ingus, yang ia lap pakai lengan baju.

"Umur 8 minggu waktu kamu bawa pulang. Kalau hidup, sekarang umur 1 tahun, Al. Sudah bisa panggil Bapak."

Angin kampung tiup, testpack jatuh dari nisan, masuk ke tanah makam.

Arga tidak ambil lagi. Biarin terkubur bersama Alya dan calon anak 8 minggu.

Di rumah panggung, Bu Ratna simpan buku biru muda yang putus kalimatnya di lemari, tidak pernah dibuka lagi, karena kalau dibuka, halaman terakhirnya ada darah mimisan kering Alya yang netes waktu nulis terakhir di bawah pohon mangga.

Buku itu berdarah, putus, dan tidak ada kelanjutan.

Dan di kos 2x3 belakang RS, vas retak yang dulu ada 1 tangkai bunga kuning, sekarang kosong, retaknya makin besar, airnya bocor, tidak bisa lagi taruh bunga.

Arga tetap taruh vas retak itu di meja, kosong, bocor, seperti rahim Alya yang kosong lagi.

Jam 7 malam, tidak ada lagi alarm minum obat, karena HP Arga sudah dijual untuk bayar utang, untuk makan.

Sepi. Benar-benar sepi.

Tidak ada bunga mekar. Tidak ada Arga jadi tukang kebun. Tidak ada healing.

Yang ada hanya tanah retak, vas bocor, testpack pudar terkubur, dan buku berdarah yang kalimatnya putus di kata "aku..."

Alya tidak sempat selesaikan kalimat terakhirnya.

Dan kita tidak akan pernah tau mau nulis apa setelah kata "aku..."

TAMAT. PABRIK TUTUP.

1
Inarrr Ulfah
semgat alaya
Nuna_Pena: hehe.. makasi cayank sudah mampir..
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!