NovelToon NovelToon
Ma Huang, Bencana Keluarga Jian

Ma Huang, Bencana Keluarga Jian

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Epik Petualangan / Action
Popularitas:360
Nilai: 5
Nama Author: Restu Agung Nirwana

Malam pembantaian Keluarga Ma menyisakan darah, puing, dan dendam mendalam di dada Ma Huang. Sebagai satu-satunya yang masih bertahan, ia mengambil keputusan gila: menempuh Jalur Darah Pemakan Bencana, sebuah kultivasi terlarang yang menggerogoti organ fisiknya demi menggenggam kekuatan membunuh tiada tanding.

Berbekal Pedang Tulang Hitam dan tubuh yang dialiri racun pekat, Ma Huang melangkah menembus lautan darah untuk membantai satu per satu siapaun yang telibat dalam tragedi tersebut. Dari pelataran tempa Kota Yunjiang hingga kegelapan Lembah Tengkorak yang dipenuhi racun alam, ia bertaruh nyawa demi merebut kembali Segel Besi Hitam, pusaka komando tiga ribu prajurit Serigala Hitam, serta kunci rahasia Makam Leluhur.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5 - Suar Darah dan Siasat di Dermaga Timur

Bilah Pedang Tulang Hitam membelah udara malam yang pekat, meluncur lurus sebelum ibu jari Jian Gang sempat menekan pemicu bola besi peledak di genggamannya. Udara di dalam aula batu berdesis nyaring saat aura beracun dari pedang Ma Huang merobek lapisan Qi keemasan yang melindungi lengan pria tua itu.

Cahaya keemasan pelindung Jian Gang telah hancur sepenuhnya diserap oleh racun hitam yang menjalar dari luka lehernya. Pria tua itu mencoba mengangkat tangannya untuk menangkis, tetapi aliran saraf di lengan kanannya sudah mati rasa.

Sret!

Ujung pedang Ma Huang menembus pergelangan tangan kanan Jian Gang hingga tembus ke belakang. Potongan telapak tangan yang masih menggenggam bola besi peledak jatuh menghantam lantai batu dengan dentang nyaring, berguling beberapa jengkal sebelum akhirnya membeku tertutup lapisan racun kehitaman yang mengepulkan asap busuk.

Jeritan melengking keluar dari tenggorokan Jian Gang. Pria tua itu melangkah mundur limbung, menabrak meja kayu di belakangnya hingga cawan-cawan tuak dan mangkuk daging hancur berantakan di atas lantai batu.

"Ma Huang... kau... iblis!" jerit Jian Gang dengan suara parau yang tersumbat. Lidahnya mulai membengkak kaku, terhalang cairan busuk berwarna hijau pekat yang terus membubung naik dari lambungnya.

Ma Huang melangkah maju tanpa suara. Sepasang matanya tetap dingin, memperhatikan cairan darah hitam yang kian pekat membanjiri leher dan dada musuhnya. Tidak ada kepuasan di raut wajahnya, hanya kehampaan yang menuntut pembalasan dendam selapis demi selapis.

Ia mengangkat kaki kanannya, menghantam lutut kiri Jian Gang hingga terdengar suara derakan tulang patah yang sangat keras. Pria tua itu roboh berlutut di atas ubin batu, tak berdaya menahan bobot tubuhnya sendiri di hadapan pemuda yang dulunya ia anggap telah mati.

"Garis darah Keluarga Ma tidak pernah melahirkan iblis, Jian Gang," kata Ma Huang dengan nada suara pelan dan datar. "Keluarga Jian milikmulah yang menyeret neraka ke rumah kami, dan malam ini aku hanya mengembalikan neraka itu kepada pemilik aslinya."

Jian Gang mendongak kaku. Urat-urat di wajahnya telah menghitam sepenuhnya, membentuk pola jaring beracun yang mengerikan di bawah kulitnya yang pucat. Pria tua itu menggigil hebat saat merasakan Inti Emas di Dantiannya tergerus habis.

Ia terkekeh parau, memuntahkan gumpalan darah kental bercampur serpihan organ dalam ke marmer. "Kau pikir... kau sudah menang hanya dengan membunuhku di sini? Kau tidak tahu apa-apa tentang apa yang sedang disiapkan oleh Keluarga Jian..."

Gigi-gigi Jian Gang bergemeletuk halus, menahan rasa sakit membakar yang merobek seluruh saluran meridiannya. Inti Emas yang dibangunnya selama puluhan tahun kini retak secara perlahan, teroksidasi oleh racun pembunuh yang melumat seluruh kekuatan spiritualnya hingga tak tersisa.

"Jian Yue... putriku... sebentar lagi akan mengikat pertunangan resmi dengan Murid Utama Sekte Pedang Suci," bisik Jian Gang dengan tatapan mata yang mulai kabur. "Seluruh kota... sudah berada di dalam cengkeraman kami. Bahkan sisa-sisa pengawal setia ayahmu, kelompok Serigala Hitam yang dipimpin Lu Gang, sedang diburu oleh pasukan utama malam ini..."

Rahang Ma Huang mengatup rapat hingga garis otot di lehernya menegang. Informasi tentang Lu Gang, kapten pengawal kepercayaan ayahnya yang selamat dari pembantaian, membuat aliran Qi beracun di dalam meridiannya bergejolak meluap-luap.

"Di mana Lu Gang sekarang?" tanya Ma Huang dingin. Ujung Pedang Tulang Hitam bergeser pelan, menekan kulit leher Jian Gang hingga menembus masuk beberapa milimeter.

Jian Gang tersenyum sinis, memperlihatkan gusi dan giginya yang telah menghitam oleh racun Ular Hijau. "Dia... dan sisa-sisa cacing yang bersembunyi bersamanya... akan dibantai sebelum fajar menyingsing di Dermaga Timur... Kau tidak akan pernah sempat menyelamatkan mereka..."

Ma Huang tidak memberikan ruang bagi pria tua itu untuk menikmati kejahatannya lebih lama lagi.

Jleb!

Pedang Tulang Hitam menembus tenggorokan Jian Gang hingga tembus ke dinding batu di belakangnya. Tawa parau itu terputus seketika, berganti dengan suara desisan darah yang tersumbat di saluran napas.

Ma Huang memutar bilah pedangnya sembilan puluh derajat sebelum mencabutnya dengan satu hentakan kencang. Tubuh Jian Gang ambruk kaku ke depan, menghantam lantai batu tanpa gerak sedikit pun. Inti Emas di dalam Dantian pria tua itu runtuh total, hancur menjadi debu spiritual yang sirnah bersama terhentinya denyut jantung terakhirnya.

Keheningan kembali menguasai aula batu di kedalaman Lembah Angin Hitam. Asap hitam berbau amis membubung pelan dari jasad Jian Gang yang kian membusuk akibat sisa racun yang mengerogoti sel-sel fisiknya.

Ma Huang berlutut di samping jasad itu. Dengan jemarinya yang terbungkus kain jubah, ia menggeledah lipatan baju besi emas milik Jian Gang. Ia membutuhkan petunjuk tertulis untuk memastikan kebenaran ucapan pria tua tersebut sebelum melanjutkan pergerakannya.

Sebuah surat gulung bersampul kulit ular dan cap lilin merah berbentuk lambang Keluarga Jian terselip di balik saku dadanya. Ma Huang memotong tali pengikatnya menggunakan ujung pedang, lalu membuka gulungan sutra itu di bawah remang cahaya obor dinding.

Mata merah Ma Huang membaca bait demi bait tulisan tangan di atas kertas sutra tersebut. Tulisan tangan yang indah dan rapi itu adalah milik Jian Yue, sosok wanita yang tiga hari lalu berdiri di sampingnya dengan pakaian pengantin.

Di dalam surat itu, Jian Yue memerintahkan Jian Gang untuk menyerahkan seluruh inventaris senjata dan pusaka bekas simpanan Keluarga Ma kepada perwakilan Sekte Pedang Suci besok siang di Kedai Anggur Merah, Dermaga Timur.

Selain itu, di bagian bawah surat, Jian Yue menuliskan instruksi khusus bahwa penyergapan terhadap Lu Gang dan kelompok pengawal Serigala Hitam akan dipimpin langsung oleh An Sha, kapten Kelompok An Ying yang belum sempat ditemui Ma Huang di kuil tua.

An Sha dijadwalkan membawa pasukan pembunuh bertopeng untuk mengepung tempat persembunyian Lu Gang di gudang garam tua Dermaga Timur tepat pada tengah malam ini.

"Tengah malam ini..." bisik Ma Huang serak. Ia melirik ke arah celah jendela batu. Waktu berputar cepat, dan pertengahan malam hanya tersisa kurang dari dua jam lagi.

Tiba-tiba, dada jasad Jian Gang yang tergeletak di lantai meletup tipis.

Sebuah jimat kertas berwarna merah darah yang tersembunyi di dalam lapisan jubah dalam pria tua itu terbakar secara mendadak. Sebelum Ma Huang sempat menyabet jimat itu dengan pedangnya, seberkas cahaya merah berbentuk jarum meluncur deras menembus atap aula batu, membubung tinggi ke langit malam yang kelam.

Wusss!

Di atas tebing Lembah Angin Hitam, cahaya merah itu meledak hebat di udara, membentuk bayangan pola tengkorak merah yang menyinari seluruh kawasan lembah selama beberapa hembusan napas.

Jimat Suara Jiwa Kematian.

Itu adalah jimat pemicu rahasia yang secara otomatis mengudara saat seorang tetua tingkat Inti Emas dari Keluarga Jian tewas di tangan musuh. Cahaya merah tersebut berfungsi sebagai panggilan darurat sekaligus penanda lokasi pembunuhan bagi seluruh pasukan keamanan Keluarga Jian.

Gema terompet tanduk lembu mendadak membelah malam dari arah gerbang depan lembah. Suara derap langkah ratusan kaki berpelindung besi terdengar bergemuruh dari jalur masuk utama, bergerak cepat mengepung seluruh kompleks bangunan aula tempat Ma Huang berdiri.

"Pengepungan telah dimulai," kata Ma Huang pelan pada dirinya sendiri.

Cengkeramannya pada gagang Pedang Tulang Hitam terkunci kaku. Ia menyapu bercak darah di wajahnya dengan punggung tangan kiri, lalu memoleskan cairan beracun dari jasad Jian Gang ke sepanjang bilah pedangnya hingga warna hitamnya kian memikat.

Ujung jarinya mendadak dingin saat menyadari situasi yang dihadapinya. Pasukan penjaga luar Lembah Angin Hitam telah menutup seluruh jalan keluar, sementara waktu yang tersisa untuk menyelamatkan Lu Gang di Dermaga Timur kian sempit.

Jika Lu Gang dan para pengawal pendukung setia ayahnya tewas malam ini, maka seluruh jaringan mata-mata dan sisa kekuatan Keluarga Ma akan terhapus total dari wilayah Kota Yunjiang. Ma Huang akan kehilangan mata dan telinga yang sangat dibutuhkannya untuk menghancurkan Keluarga Jian dari dalam.

Suara teriakan para pengawal luar terdengar kian mendekat di luar pintu aula batu. "Tetua Jian Gang terbunuh! Tutup seluruh jalur tebing! Jangan biarkan pembunuh itu lolos!"

Ma Huang berbalik perlahan, menatap pintu gerbang utama aula yang kini dipenuhi oleh bayangan puluhan prajurit berpakaian besi dan pembunuh bertopeng yang mulai merangsek masuk dengan senjata terhunus.

Sepasang mata Ma Huang berkilat merah pekat di dalam kegelapan malam. Ia tidak memilih jalur melarikan diri lewat semak tebing di belakang aula.

Ia melangkah lurus menuju pintu depan, mengangkat Pedang Tulang Hitam setinggi dada, siap membelah barisan puluhan nyawa yang berdiri kaku di antara dirinya dan keselamatan sisa-sisa pengawal keluarganya di Dermaga Timur.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!