Sahabat ku bernama Fitriani Septian adalah seorang yang asik kita bersahabat dari kecil bermain bersama bersekolah bersama.
sampai setelah aku kelas 6 SD dan sahabat ku kelas 5 ada siswa baru di kelas 5
sahabatku mereka saling berkenalan dengan siswa baru bernama megiani satu hari itu mereka sudah sangat akrab.
dan hari demi hari sahabat ku yang pernah bersamaku kini dengan murid baru itu. kita jarang bertemu walau rumah kita saling dekat bahkan jika bertemu kita sudah asing tidak seperti dahulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Priska Heriska, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rasa sepi
Aku berada di sana, secara fisik sangat dekat, namun secara emosional ada jarak yang tak kasat mata yang memisahkan kami. Alih-alih meratapi dinding pembatas itu, aku menarik napas dalam-dalam, membiarkan hiruk-pikuk tersebut menjadi latar suara semata. Aku belajar berdamai dengan momen ini; tidak apa-apa hari ini aku hanya menjadi penonton.
Ketukan sepatu yang berirama tegas di koridor tiba-tiba memecah lamunan kolektif kelas. Sesaat kemudian, langkah kaki itu berhenti tepat di depan pintu. Kehadiran sesok guru di ambang pintu seketika mengubah ruangan seperti tombol sunyi yang ditekan serentak.
Canda tawa tadinya memenuhi setiap sudut kelas langsung menyusut, digantikan oleh suara seretan kursi dan langkah kaki yang tergesa-gesa kembali ke tempat duduk masing-masing, dunia kecil yang tadi mengabaikan ku kini melebur, dipaksa tunduk pada rutinitas yang sama. Aku menutup buku di hadapanku, menggantinya dengan buku tugas pelajaran hari itu. Saat guru mulai menyapa kelas dan membuka lembaran materi, aku merasakan sebuah kelegaan yang halus. Pelajaran telah dimulai, dan dalam keseragaman fokus ini, aku tidak lagi menjadi satu-satunya yang terasing.
Guru mulai menuliskan rumus-rumus di papan tulis, suaranya yang pelan mendominasi ruangan. Aku memfokuskan perhatianku pada Spidol yang membentuk angka variabel. Di sekitarku, teman-teman yang tadinya sibuk bergosip kini sibuk mencatat, beberapa Tampak mengantuk, dan yang lain mengerutkan dahi kebingungan. Dalam kesibukan ini, terasa terasing yang tadi menghimpit perlahan menguap. Kami semua sama dihadapan tugas-tugas ini; hanya sekumpul siswa yang mencoba bertahan hingga jam pelajaran usai.
Setelah guru memberikan soal latihan, suasana kelas menjadi sunyi, hanya menyisakan suara gesekan pena. Seseorang berbaris depan berbisik meminta penghapus kepada temannya, suara bisikan yang dulu mungkin membuatku merasa ditinggalkan, kini terasa biasa saja aku menyelesaikan soal dengan ritme yang tenang. Fokus pada pelajaran ternyata menjadi tempat persembunyian terbaik dari rasa sepi.
Saat bel berbunyi istirahat pun berbunyi memutus keheningan intens tersebut, sekelas kelas kembali meledak dalam hiruk-pikuk. Tombol sunyi tadi seolah dilepas paksa. Teman-teman sekelompok langsung berkumpul, merencanakan pergi ke kantin bersama.
Aku sengaja memperlambat gerakanku saat merapikan buku ke dalam tas. Kelegaan halus yang kurasakan saat pelajaran tadi perlahan terkikis, digantikan kembali oleh kecanggungan yang familier.
"Ris, yuk ke kantin!" ucap Nayla
tiba Nayla mengajakku untuk ke kantin bersama, aku menatap wajah Nayla yang tersenyum ramah, tanpa ada tanda-tanda kecurangan atau rasa risih atas sikapku yang belakangan ini sering menghindar.
Ragu sejenak, akhirnya aku mengangguk pelan sambil memaksakan senyum tipis.
"Boleh,yuk," jawabku berusaha menetralkan suara agar tidak terdengar gemetar.
Kami berjalan berdampingan menyusuri koridor sekolah yang riuh oleh siswa-siswi yang berebut menuju ke luar kelas. Di sepanjang langkah itu, aku mencoba fokus menatap lantai koridor, menyembunyikan rasa canggung yang teramat sangat, sementara Nayla mulai bercerita tentang tugas tadi dengan begitu santai. Selesai itu kami makan bersama lalu mengobrol
Tak lama bel masuk berbunyi terlalu cepat, memaksa semua murid kembali ke rutinitas.
Jam-jam berikutnya berjalan seperti montase yang lambat; perjalanan tadi istirahat bersama, disusul oleh tugas kelompok seni rupa di mana akhirnya aku mendapat bagian tugas mandiri yang bisa dikerjakan sendiri di sudut meja. setiap detik terasa menyerap, namun aku terus bertahan, menghitung mundur waktu menuju kebebasan.
Hingga akhirnya, bel panjang yang dinantikan bergema ke seluruh penjuru sekolah. Tiga kali ketukan panjang menandakan akhir di hari itu.
Suasana kelas langsung berubah menjadi riuh yang tak sabar. Buku-buku dimasukkan ke dalam tas dengan tergesa-gesa, kursi-kursi di geser tanpa mempedulikan suaranya yang memekakkan telinga.
"Duluan ya!" seru salah satu taman kelas Kepda kelompoknya saat mereka berlari keluar pintu.
Aku menyampirkan tas ranselku di bahu, melangkah keluar kelas di antara kerumunan murid yang bergegas pulang. Koridor sekolah penuh sesak oleh semua siswa bergerak menuju gerbang utama, membicarakan main nanti sore atau sekedar mengeluh tentang PR yang menumpuk.
Saat aku melewati gerbang sekolah dan merasakan terik matahari siang menyinari wajahku, aku menoleh ke belakang sejenak melihat sekolah yang mulia sepi. Hari ini melelahkan, namun aku berhasil melaluinya. Aku berjalan kaki dengan langkah ringan.
jarak itu mungkin masih ada besok, tetap hari ini, aku telah menang melawan sepi dari caraku sendiri.
Langkah kakiku membawa angan mengembara menyusul jalan aspal yang mulai melepaskan uap panas. Rasa lelahku perlahan luntur, digantikan oleh kelegaan karena satu hari berhasil kulakukan.
Dari kejauhan, gang rumah sudah terlihat. Samar-samar, terdengar riuh suara ibu-ibu yang akrab di telinga. Benar saja di depan rumah, ibu sedang berbelanja di tukang sayur keliling bersama beberapa tetangga.
"Sayur kangkung" suara ibu terdengar cekatan
Begitu melihatku datang, wajah ibu yang semula berpeluh langsung dihiasi senyum hangat. Ia menyeka keringat di dahinya dengan ujung baju.
"Sudah pulang" ucap ibu
"Iya, sudah. Bapak belum pulang, bu?"
tanyaku
"Belum, bapakmu tadi bilang ada borongan angkat pasir. Tadi pulang berjualan langsung pergi lagi, pulangnya sore mungkin. Kamu masuk sana, ganti baju terus makan. Itu ibu sudah goreng tempe hangat," kata ibu sambil menerima plastik kresek dari tukang sayur.
Aku mengangguk lalu melangkah masuk ke dalam rumah kami yang sederhana. Suasana rumah sepi. bapak sedang berkerja di bawah teriknya matahari, sementara kakak belum kelihatan. Kakak memang pulang selalu sore karena jadwal kelasnya bertambah dan kegiatan lainnya di SMA yang cukup padat.
Waktu bergulir pelan, setelah menyantap masakan ibu, aku menghabiskan siang dengan membaca buku di ruang tengah. Ibu sendiri sibuk di dapur, sesekali terdengar denting wajan dan aroma tumisan sayur yang harum, diselingi suara musik dari tetangga.
Sore hari pun tiba. Semburat jingga mulai muncul di langit ketika terdengar suara langkah sepatu yang melelahkan. Kakak dengan seragam yang tampak kusut dan wajah yang jelas sekali kelelahan.
"Assalamualaikum," ucap kakak, suaranya agak serak saat meletakkan tas ranselnya yang tampak berat di atas kursi plastik.
"Waalaikumsalam. Sore amat pulangnya?" tanyaku sambil menutup buku
Kakak mengembuskan napas panjang, lalu duduk menyandar.
"Iya nih" jawab kakak
Ibu keluar dari dapur membawa segelas air putih dan meletakkannya di meja depan kakak.
"minum dulu"
Kakak meminum air itu sampai habis
"terima kasih, Bu. Bapak belum pulang juga?"
Tanya kakak dengan senyum tipis.
Tepat setelah kakak bertanya, terdengar langkah kaki berat dari arah pintu depan.
Bapak berjalan masuk dengan kaos yang di penuhi keringat dan bercak debu pasir, namun sorot matanya tetap meneduhkan. Kami berkumpul di ruang tengah yang sempit itu. Perjuangan hari ini terasa lengkap dan melelahkan bagi kami berempat, tetapi berada di rumah ini, di antara mereka, membuat semua rasa lelah itu meledak luntur tak berbekas.
pokoknya harus Sampek ending