Novel ini mengisahkan Ahmad Zaki, seorang pemuda berusia 20 tahun yang merupakan anak dari pedagang kain. Ia berniat untuk belajar dan memperdalam ilmu di pondok pesantren yang berada di pedesaan.
Baru beberapa hari di pondok pesantren, ia telah menanam benih-benih cinta. Cinta yang tulus kepada seorang santriwati berusia 18 tahun, Nafisah Zahra.
Namun, cinta keduanya terhalang oleh perjodohan dan agresi militer.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MF015, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9: Dua Tamu dari Kediri
Balasan Nafisah tiba hari Sabtu pagi, terselip di bawah tumpukan nampan sarapan seperti biasa.
Kali ini bukan kertas terlipat, melainkan goresan pensil di pinggir halaman tujuh belas, tepat di samping bekas lipatan kertas puisi kemarin. Zaki hampir menjatuhkan sendoknya saat membacanya di pojok dapur, tersembunyi di balik punggung Darto yang sedang sibuk mengaduk bubur.
"Baris terakhirnya berani. Saya simpan."
Zaki membaca kalimat itu lambat-lambat. Ada garis kecil di bawah kata simpan, tipis sekali, seolah ditarik ragu-ragu lalu dibiarkan.
Baris kedua ada di bawahnya:
"Tapi wazan di baris ketiga kurang tepat, Kang. Tidak apa-apa. Puisi memang boleh salah, asal jangan i'rab. 🙂"
Zaki tertawa pendek, cukup keras sampai Darto menoleh curiga.
"Kamu dimarahi?"
"Dikoreksi."
"Lalu kenapa senyum?"
"Karena koreksinya sopan."
Darto menatapnya lama, lalu menghela napas panjang seperti orang tua yang menyerah menasihati anaknya. "Kang Zaki, saya sudah lihat banyak santri jatuh cinta di pondok ini. Tapi baru kamu yang jatuh cinta karena dikoreksi."
"Saya tidak jatuh cinta."
"Baik. Kamu jatuh simpati. Simpati yang sangat dalam."
"Darto."
"Diam. Bubur saya gosong."
Pukul sepuluh, sebuah dokar berhenti di depan gapura. Dua lelaki turun, satu paruh baya dengan peci putih dan wajah tenang, satunya lagi lebih tua, berjanggut tipis, membawa tongkat kayu jati yang diketuk-ketukkan ke tanah.
"Tamu Kiai dari Kediri," bisik Kang Fadil, yang selalu tahu lebih dulu. "Yang berpeci putih itu Ustaz Zahid. Yang bertongkat Haji Mansur, kawan lama Kiai."
Zaki mengangguk tanpa banyak pikir, dan kembali menyapu. Tapi Darto, di sampingnya, mendadak berhenti mengayun sapu.
"Kang Zaki."
"Hm?"
"Ustaz Zahid itu..." Darto menelan ludah. "Ayahnya Nafisah."
Sapu di tangan Zaki berhenti bergerak.
Ia menatap lelaki berpeci putih itu lebih saksama. Wajahnya lonjong dengan hidung mancung, dan alisnya lurus dan tegas. Mata itu, saat ia menoleh sebentar memandang halaman, terasa akrab dengan cara yang tidak bisa dijelaskan. Bening, agak sipit di ujung, seperti mata yang pernah menatapnya sekilas di antara asap dapur.
"Kok kamu tahu?"
"Dulu beliau pernah mengajar di sini. Sebelum Nafisah masuk, beliau yang mengantarkan." Darto menurunkan suaranya. "Dan sekarang beliau datang lagi. Bukan di hari besar, bukan pas wisuda. Itu artinya ada urusan."
"Urusan apa?"
Darto tidak menjawab. Ia hanya menggaruk kepala dan berkata, "Ayo, kita disuruh Bu Nyai menyuguhkan teh."
Ruang tamu Kiai Wahid tidak besar, tapi hari itu terasa sesak oleh sesuatu yang tidak kelihatan. Kiai duduk di kepala tikar. Di hadapannya, Ustaz Zahid dan Haji Mansur bersila berdampingan. Di sudut, tirai kain dibentangkan, dan di baliknya, samar-samar, tampak bayangan Bu Nyai Khadijah yang duduk tenang.
Zaki dan Darto masuk membawa nampan teh dan singkong rebus. Mereka menunduk, meletakkan gelas satu per satu, dan berusaha bergerak setenang mungkin.
"...bukan soal siap atau tidak," sedang berkata Haji Mansur dengan suara berat. "Zaman berubah, Wahid. Perundingan Linggarjati itu ditandatangani bulan lalu, tapi kabar dari Surabaya dan Malang tidak enak. Belanda menambah pasukan, dan para pemuda di Kediri sudah bersiap-siap."
"Kita juga sudah dengar," jawab Kiai tenang. "Hanif pun pulang karena itu."
"Itu yang ingin kami bicarakan." Ustaz Zahid menimpali pelan. "Kalau keadaan makin sulit, saya ingin urusan anak-anak kita jelas lebih dulu."
Zaki hampir menumpahkan teh. Ia buru-buru menegakkan nampan dan menahan napas.
"Zahid," kata Kiai, "urusan itu belum waktunya kita putuskan di sini."
"Tapi Hanif sudah dua puluh tiga, dan Nafisah..."
"Nafisah baru delapan belas. Dan yang paling berhak menentukan hidupnya adalah dirinya sendiri, di samping restu orang tuanya." Suara Kiai lembut, tapi ada ketegasan halus di dalamnya. "Saya tidak akan memaksa apa pun yang belum diridai hatinya."
Ruangan itu sunyi sebentar. Darto, yang berdiri di belakang Zaki, menyikut pelan dan berbisik nyaris tak terdengar, "Kita keluar sekarang."
Tapi terlambat. Kiai Wahid menoleh dan memandang mereka.
"Nak Zaki. Nak Darto. Terima kasih tehnya. Silakan."
"Inggih, Kiai."
Mereka menunduk dan mundur. Namun sebelum keluar, Zaki sempat menangkap sesuatu dari sudut matanya. Ustaz Zahid, ayah Nafisah, memandangnya sekilas dengan tatapan tajam tapi tidak kasar, seperti menimbang sesuatu yang belum ia ketahui.
Zaki membalas dengan anggukan hormat, dan langkahnya menjauh dengan dada yang terasa dipenuhi air sumur yang dingin.
Di luar, langit Sabtu itu cerah tanpa awan. Anak-anak ayam berlarian di halaman, dan suara anak-anak santri kecil menghafal terdengar dari jauh. Semuanya terasa normal, padahal di dalam dada Zaki, sesuatu baru saja bergeser dari tempatnya.
"Dua puluh tiga dan delapan belas," gumamnya, lebih pada dirinya sendiri.
Darto berdiri diam di sebelahnya, tidak berusaha mengejek atau bercanda.
"Kang Zaki."
"Iya."
"Saya sudah bilang, kamu belum siap." Darto menghela napas. "Sekarang kamu sudah dengar setengahnya."
"Setengahnya apa?"
"Setengah dari yang belum boleh kamu dengar."
Zaki menatap tembok tinggi di ujung halaman. Bayangan siang menimpanya, dan di atasnya, seekor burung gereja yang sama seperti hari pertama bertengger dengan tenang, tak peduli pada urusan manusia.
"Tapi kata Kiai," ujar Zaki pelan, "keputusan itu milik Nafisah."
"Iya." Darto tersenyum tipis, pahit dan hangat sekaligus. "Itu satu-satunya kalimat baik yang saya dengar hari ini."
Zaki menggenggam kitab tipisnya di balik sarung, di halaman tujuh belas ada goresan pensil yang belum sempat ia balas. "Puisi memang boleh salah, asal jangan i'rab."
Ia tidak tahu apa yang akan ia tulis nanti. Ia tidak tahu apakah ia masih punya hak untuk menulis apa pun. Tapi untuk pertama kalinya, ia sadar bahwa yang ia takutkan bukan hanya perang yang mungkin datang dari luar, melainkan ada juga jarak tak terlihat yang sudah lebih dulu berdiri di antara dirinya dan seseorang di seberang tembok.
Dan di antara semua itu, satu kalimat Kiai Wahid terus terngiang, tenang dan teguh seperti batu yang tidak bergeser oleh air: yang paling berhak menentukan hidupnya adalah dirinya sendiri.
Kalimat itu, entah kenapa, terasa seperti pintu yang belum sepenuhnya tertutup.