Di hari kematian putrinya, Arini justru dituduh lalai oleh Bagas dan keluarga mertuanya yang toxic. Sebagai "penebus dosa", ia dipaksa bekerja keras dan dijadikan mesin pencari uang oleh mereka.
Takdir berubah saat Arini bertemu Dikta, seorang mafia kejam yang rela membayar mahal demi mendapatkan ASI eksklusif untuk putra semata wayangnya. Arini pun masuk ke dalam kehidupan Dikta sebagai ibu susuan.
Akankah Arini mampu bertahan di bawah tekanan keluarga Bagas yang terus memanfaatkannya? Dan bagaimana reaksi Dikta—sang mafia berdarah dingin—saat mengetahui wanita yang merawat putranya ternyata sedang dihancurkan oleh suaminya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Suhada Bintan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Suara ketukan sepatu hak tinggi terdengar nyaring di koridor. Pintu terbuka lebar, menampakkan Salma yang berdiri anggun dengan sebuah map tebal dan kotak beludru hitam di tangannya. Di belakangnya, ada Bagas dengan raut wajahnya yang kusut.
"Begitu menyedihkan," ucap Salma, melempar map itu ke wajahku, lalu menatap jijik gamis yang bernoda darah yang kukenakan berhari-hari.
Aku mundur ketakutan, merapatkan punggung ke tiang ranjang dengan raut yang cemas. Aku menjalankan rencana sesuai permintaan Dikta semalam. "Ibu..mau apa lagi? Tolong lepaskan aku, Bu."
Salma mendekat, mencengkeram daguku dengan kuat. "Bagas itu bodoh. Dia pikir memukulmu bisa membuatmu sudi memegang pulpen. Menghadapi wanita keras kepala sepertimu butuh cara yang lebih lembut, iya kan, Arini?" Salma tersenyum getir. Ia membuka kotak beludru itu, memperlihatkan sebuah alat suntik berisi cairan bening.
"Apa itu? Jangan, Bu! Tolong jangan lakukan itu pada ku!" jeritku ketakutan. Aku menggeleng cepat dengan mata yang berkaca.
"Tandatangani surat pengalihan tanah sektor empat ini sekarang, Arini! Begitu tanda tanganmu ada di sini, seluruh aset tanah itu resmi jadi milik Arman Wijaya!" desis Salma tajam. Ia menjentikkan jarinya ke udara. "Pegang dia!"
Dua pengawal berbadan kekar langsung masuk, meringkus dan menekan tubuhku ke lantai dingin. Aku meronta sekuat tenaga. "Lepaskan! Lepas!"
Salma berjongkok di hadapanku, mengarahkan jarum ke urat leherku. "Tanda tangan, atau cairan ini akan membawamu pada kematian!" gertaknya.
"Buka matamu, Arini!" timpal Bagas, ikut membentak dari punggung ibunya. "Tiga hari! Tiga hari aku memberimu kelonggaran karena efek obat dari Ibu. Hari ini, tidak ada alasan lagi. Cepat tanda tangan!"
"Aku tidak mau! Tanah itu milik putra Pak Dikta! Aku hanya wali sah yang memegang amanah surat wasiatnya, aku tidak punya hak untuk mengalihkannya kepada kalian!" teriakku membuat mereka semakin kesal.
Plak
Salma menamparku dengan keras. "Keras kepala! Masa bodoh dengan surat wasiat sialan itu! Tanda tangan!" bentaknya sambil menarik lengan tanganku untuk mememegang pulpen dengan paksa.
Jarum yang dipegangnya tadi menusuk kembali pada leherku. Aku mulai merasakan sensasi dingin yang ekstrem, menjalar ke seluruh tubuh, lalu berubah menjadi rasa panas yang membakar yang luar biasa.
"Aaagh... hhh..." Suaraku tercekat di tenggorokan. Seluruh sistem motorikku terkunci. Tanganku tidak bisa mengepal, kakiku berasa mati rasa. Aku ambruk, lumpuh di atas lantai.
Salma menjambak rambutku, memaksa kedua kali untuk menatap wajahnya. "Sakit, kan? Ini baru setengah dosis. Jika tanganmu masih menolak menandatanganinya, aku akan suntikkan dosis penuh sampai jantungmu berhenti berdetak karena lumpuh. Sekarang, pilih... tanda tangan atau mati?!" Ia melepas cengkraman itu dengan kasar.
"Mas... tolong, Mas... jangan suntik aku lagi," ratapku dengan suara bergetar. Aku menatap Bagas dengan pandangan penuh ketakutan. Aku harus terlihat lebih lemah di hadapan suamiku sendiri. "Aku takut, Mas... dadaku sesak. Aku tidak mau mati di kamar ini... tolong kasihanilah aku..."
Salma melempar map dokumen itu kembali. "Kalau kau takut mati, cepat ambil pulpen itu!"
"A-aku akan tanda tangan, Mas... aku akan lakukan apa pun yang kalian mau," lirihku sambil merangkak, memegang ujung celana Bagas dengan tatapan pasrah. "Aku tidak mau mati... aku mau hidup, Mas. Tapi tolong... jamin keselamatanku setelah ini. Aku mohon..."
Bagas menepis tanganku dengan ujung sepatunya. Ia mendengus puas melihatku bersujud di bawah kakinya. "Begitu kan lebih baik! Dari awal harusnya kau sadar posisimu, Arini. Dikta, pria yang kau agung-agungkan itu, sedang sekarat di sel isolasi. Dia tidak akan bisa menyelamatkanmu!"
"Aku tahu, Mas... aku tahu Pak Dikta sudah hancur," ucapku lirih. Meskipun tubuh ini merasakan sakit luar biasa, aku tidak boleh putus ada. Jika Pak Dikta saja sedang bertaruh nyawa di jeruji besi demi memberikan waktu bagi timnya untuk bergerak di luar. Kenapa aku tidak? Aku harus hidup demi memperbaiki semua kejahatan dan kesalahan yang dibuat oleh suamiku sendiri.
Bagas merenggut pulpen yang tergeletak di lantai, lalu melemparkannya ke wajahku."Cepat tanda tangan di atas meterai itu! Jangan buat Aku kehilangan kesabaran lagi!"
"Iya, Mas... iya, aku tanda tangan," lirihku, mengambil pulpen dengan jari yang lemas akibat suntikan tadi.
Aku menggoreskan tinta di atas kertas putih tersebut. Satu lembar, dua lembar, hingga lembar terakhir. Setiap coretan tanda tangan yang ku palsukan ini terasa seperti sebuah langkah mundur yang sengaja ku ambil untuk memancing mereka masuk ke dalam jurang. Di balik penampilanku yang hancur, batinku menyeringai puas. Sektor empat itu, menunjukkan seluruh modal finansial mereka akan terkunci mati di tanah ilegal ini.
Salma langsung menyambar map tersebut dari lantai. Ia memeriksa setiap lembar tanda tangan dengan mata serakah. "Sempurna. Legalitas tanah sektor empat sudah resmi berpindah tangan ke atas nama Arman Wijaya."
Bagas tertawa puas. "Tetaplah membusuk di kamar ini, Arini. Setelah proyek ini berjalan setengah jalan dan semua keuntungan masuk ke rekeningku, aku sendiri yang akan mengurus surat perceraian kita. Kau sudah tidak berguna lagi."
"Terima kasih, Mas... terima kasih karena tidak membunuhku," bisikku, menyembunyikan wajah dengan senyuman menyeringai puas.
"Ayo, Bu. Kita urus pencairan modalnya sekarang," ajak Bagas penuh kemenangan.
"Mari. Biarkan wanita bodoh ini meratapi nasibnya di sini," sahut Salma dingin.
Begitu suasana kamar kembali senyap, aku perlahan menegakkan tubuhku. Aku menghapus sisa air mata di pipiku dengan kasar. Gemetar di tanganku seketika hilang, digantikan oleh kepalan tinju yang begitu kuat. Tatapan mataku yang tadi ketakutan, kini berubah menjadi sorot mata yang tajam dan penuh kebencian.
Tiga hari waktu yang diminta Dikta telah terpenuhi. Seluruh modal finansial mereka kini resmi terkunci mati di proyek sektor empat yang tidak sah di mata hukum.