Dibuang oleh keluarga sendiri. Dikhianati oleh orang yang paling ia percaya. Dan kehilangan segalanya karena ulah mereka.
Reyna pernah menjalani hidup seperti itu sampai kematian menjadi satu-satunya akhir yang tersisa.
Namun ketika membuka mata, ia justru kembali ke masa lalu. Kali ini, Reyna tahu siapa yang akan mengkhianatinya.
Mereka mengira Reyna masih gadis naif yang mudah dimanfaatkan, namun mereka salah.
Dengan ingatan dari kehidupan sebelumnya, Reyna akan merebut kembali apa yang menjadi haknya, melindungi orang-orang yang dulu gagal ia selamatkan, dan membongkar satu per satu kebusukan yang pernah menghancurkan hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11
Bram menatap Reyna, menyadari bahwa gadis di hadapannya bukanlah putri manja yang bisa ia intimasi. Dengan tangan gemetar, ia melepaskan lencananya, meletakkannya di atas meja, dan keluar tanpa sepatah kata pun.
"Siapa yang akan menggantikannya?" tanya Vincent, terkesan dengan kecepatan Reyna mengambil alih kendali fisik gedung.
"Panggilkan Maya. Dia kepala divisi keamanan lantai dasar," perintah Reyna. "Dia mantan anggota pasukan khusus, jujur, dan yang paling penting, dia tidak berutang budi pada Richard. Berikan dia kendali penuh atas seluruh akses gedung, server, dan brankas. Tidak ada seorang pun yang boleh masuk atau keluar tanpa persetujuanku. Termasuk Richard."
Vincent segera mencatat perintah itu. "Siap. Tapi Reyna... besok adalah hari RUPSLB. Jika kita tidak mengamankan suara para komisaris, kita bisa kehilangan kendali."
Reyna berjalan kembali ke meja CEO, duduk di kursi kulit yang empuk. Ia menatap kalender di mejanya.
"Biarkan Richard mengumpulkan domba-dombanya," ucap Reyna, senyum tipis yang penuh perhitungan terukir di bibirnya. "Dia pikir dia masih memegang kendali karena dia punya uang untuk menyuap mereka. Tapi dia lupa satu hal."
"Apa itu?"
"Uang bisa membeli kesetiaan sementara," jawab Reyna, matanya menatap tajam ke arah pintu. "Tapi rasa takut... rasa takut pada seseorang yang memegang rahasia gelap mereka... itu membeli kesetiaan selamanya. Besok pagi, kita akan melihat siapa yang sebenarnya memegang tali kekang di perusahaan ini."
Reyna membuka laci meja, mengambil sebuah buku catatan hitam. Di dalamnya, terdapat nama-nama para direksi dan komisaris, lengkap dengan dosa-dosa kecil yang mereka sembunyikan. Informasi yang ia kumpulkan dari ingatan masa depannya.
"Besok, kita bukan hanya akan memenangkan rapat, Vincent. Kita akan membuat mereka mencium sepatu kita."
***
Pukul 09:00 pagi. Ruang rapat eksekutif di lantai lima puluh Arland Group terasa seperti ruang sidang pengadilan. Meja melingkar berukuran raksasa dari kayu mahoni hitam mengilat, dikelilingi oleh kursi-kursi kulit yang mahal. Di tengah ruangan, sebuah proyektor besar siap menyala kapan saja.
Reyna melangkah masuk diiringi oleh Vincent dan Maya, kepala keamanan baru yang berdiri tegap di sampingnya. Di seberang meja, Richard Arland sudah duduk dengan wajah sombong, diapit oleh tiga komisaris independen: Santoso, Hendra, dan Wijaya.
Di kehidupan sebelumnya, inilah hari di mana Reyna dihancurkan. Di ruangan ini, Santoso dengan dingin membacakan surat keterangan gangguan jiwa, Hendra dan Wijaya memberikan suara bulat untuk mencopot hak warisnya, dan Richard tersenyum puas sambil menandatangani surat pengirimannya ke rumah sakit jiwa.
Namun hari ini, Reyna tidak melihat para algojo itu sebagai sosok yang menakutkan. Ia hanya melihat tiga orang tua yang gemetar di dalam jas mahal mereka.
"Kau terlambat, Reyna," buka Richard, suaranya bergema di seluruh ruangan. Ia tidak berdiri untuk menyambut putrinya. "Duduk. Kita punya agenda penting hari ini. Mengingat tindakanmu yang tidak stabil secara emosional dan membekukan rekening perusahaan tanpa persetujuan direksi, memecat kepala keamanan secara sepihak, dan mengancam ayahmu sendiri—komisi ini sepakat bahwa kau tidak layak memimpin."
Reyna duduk dengan anggun, menyilangkan kakinya, dan menatap ayahnya dengan tatapan datar. "Lanjutkan, Pa. Aku ingin mendengar seberapa jauh imaginasi Papa."
Richard menyeringai, merasa putrinya masih bisa dikendalikan. Ia menoleh pada Komisaris Santoso, pria berumur enam puluh tahun dengan perut buncit yang selalu berpura-pura menjadi paman yang bijak bagi Reyna.
"Santoso, silakan sampaikan hasil evaluasi medis dan finansial yang telah kita siapkan," perintah Richard.
Santoso mengangguk, membuka map tebal di hadapannya. Namun, tangannya sedikit gemetar. Keringat dingin terlihat mengkilap di pelipisnya. Ia menatap Reyna sekilas, lalu menunduk lagi, menghindari tatapan gadis itu.