Menjalani kehidupan yang cukup sulit akibat terlilit hutang-hutang ayahnya membuat Diva terkadang ingin merasakan bagaimana enaknya menjadi orang kaya. Namun siapa sangka, suatu kejadian yang menimpanya membuat jiwa Diva terjebak dalam raga orang lain, sehingga gadis itu menyadari bahwa tidak semua orang yang terlahir kaya bisa menikmati hidupnya. Semua manusia pasti tercipta dengan sifat dan ujian yang berbeda-beda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selvi serman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Elio sampai menganga bingung melihat istrinya dengan santainya membuka pintu bangku penumpang, bukannya pintu samping kemudi. Padahal, sebelumnya Calista paling senang dan pastinya akan duduk di samping Elio bila bepergian dengan suaminya itu.
"Sebenarnya apa yang terjadi pada Calista? Apa mungkin akibat menenggak racun ada sarafnya yang rusak, hingga sikap Calista jadi berubah begini?." Batin Elio sebelum menyusul masuk ke mobil.
Di sepanjang perjalanan, istrinya itu hanya sibuk mengobrol dengan putra mereka tanpa mengajaknya mengobrol sama sekali, dan itu malah membuat Elio kesal sendiri.
"Mommy sayang kan sama Elhan dan Daddy?." Di sela obrolan ringan mereka, tiba-tiba Elhan melontarkan pertanyaan demikian.
"Tentu saja mommy sayang sama kamu, nak." Jawaban Diva berhasil memancing atensi Elio yang tengah fokus mengemudi. Pria itu sontak menatap istrinya melalui pantulan kaca di depannya, merasa bahwa jawaban istrinya tidak seharusnya seperti itu. 'Tentu saja mommy sayang pada kalian berdua' seperti itulah semestinya jawaban yang lebih pas terucap dari mulut istrinya, menurut Elio.
Mungkin karena usianya yang masih bocah atau karena tidak terlalu memperhatikan dengan seksama kalimat mommy-nya, sehingga Elhan nampak mengangguk senang sambil mengembangkan senyum dibibirnya.
Kini mobil Elio telah tiba di sekolah Elhan.
"Kamu akan menunggui Elhan hingga jam pulang sekolah?." Tanya Elio memastikan, ketika mendengar obrolan sang istri dan putra mereka.
"Iya, tu_maksudnya mas." Diva buru-buru mengoreksi panggilannya. Lagian, mana ada seorang istri memanggil suaminya sendiri dengan sebutan tuan, begitu pikir Diva hingga. Namun siapa sangka, panggilan 'mas' yang terucap dari mulutnya justru memancing kerutan halus di dahi Elio.
"Kamu panggil aku apa barusan? Mas?."
"Kenapa memangnya? Apa ada yang salah?." Berdasarkan pengalaman disekitarnya, Diva sering mendengar seorang istri memanggil suaminya dengan sebutan 'mas' itulah mengapa ia memutuskan memanggil Daddy-nya Elhan dengan sebutan 'mas'.
"Mungkin Daddy hanya kaget saja, mom, soalnya selama ini mommy kan selalu memanggil Daddy dengan sebutan 'Hubby'." Elhan menimpali obrolan diantara kedua orang tuanya.
"Kenapa kamu bisa seceroboh ini, Diva....Mengapa tidak mencari tahu lebih dulu dari para pelayan tentang panggilan Calista pada suaminya." Sesal Diva.
Elio tak lagi berkomentar apapun, pria itu hanya diam, sibuk dengan pemikirannya sendiri.
Diva sontak tersenyum renyah sambil mengusap tengkuknya. "Maaf, sepertinya setelah meminum ra-cun otakku sedikit error." Tuturnya, berharap Daddy-nya Elhan percaya begitu saja dengan kata-katanya.
"Siang nanti aku akan menjemput kalian, dan kita akan pergi kerumah sakit." Elio berniat mengajak istrinya ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan MRI.
"Tapi sepertinya tidak perlu, Hubby." Diva merasa geli sendiri saat memanggil Daddy-nya Elhan dengan sebutan Hubby.
"Baiklah." Menyadari lirikan Elio, pada akhirnya Diva pun pasrah dan mengiyakannya.
*
Sesuai ucapan Elio pagi tadi, siang harinya pria itu menjemput istri dan juga putranya di sekolah. Setelahnya, mereka pun melanjutkan perjalanan menuju rumah sakit.
Setibanya di rumah sakit, Diva pun mengikuti serangkaian pemeriksaan, termasuk pemeriksaan MRI sesuai dengan permintaan Elio.
"Menurut semua hasil pemeriksaan, kondisi Calista baik-baik saja, Elio. Tidak ada yang salah dengan istrimu." Jelas Edo setelah membaca semua hasil pemeriksaan medis Calista.
Elio mengangguk paham. Rumah sakit tempat Edo bekerja merupakan rumah sakit nomor satu di ibukota, semua tenaga medis di sana terpercaya begitu pula dengan semua peralatan medisnya.
Di luar ruangan, Diva bersama Elhan tengah menunggu Elio yang kini sedang mengobrol dengan Edo.
Tak lama kemudian, Elio nampak keluar dari ruangan Edo, dan menghampiri istri dan juga putranya.
"Kita pulang sekarang!." Ajak Elio dan Diva pun mengangguk.
Di tengah perjalanan, tiba-tiba ponsel Elio berdering, rupanya panggilan telepon dari asisten pribadi Elio di kantor. Pria itu menyampaikan bahwa rekan bisnis yang berasal dari negara paman Sam sedang menanti kedatangan Elio di kantor.
Diva mengernyit bingung. Elio bukannya mengajak mereka kembali ke rumah, melainkan ke sebuah gedung perkantoran berlantai dua puluh. Dari balik kaca mobil Diva menatap ke arah gedung berlogo Dirgantara Group tersebut.
"Ayo turun!." Ajak Elio. Walaupun setiap kali mengunjungi perusahaan Calista akan berakhir ribut dengan sekretarisnya, namun Elio juga tak mungkin membiarkan istrinya menunggu di mobil, terlebih ada Elhan yang ikut bersamanya.
"Aku ada meeting bersama rekan bisnis yang berasal dari Amerika, dan aku harap hari ini kamu tidak sampai membuat keributan lagi di kantor!." Pesan Elio.
Diva mengangguk mengiyakan, meski dalam hatinya masih bertanya-tanya mengapa sampai Calista sering membuat keributan di kantor suaminya.
Elio cukup kaget, karena biasanya Calista akan protes jika Elio berpesan demikian karena di mata Calista, maksud dan tujuan Elio berpesan demikian untuk melindungi sekretaris sekaligus temannya semasa duduk di bangku SMA dulu, Erin. Hari ini, istrinya itu langsung mengangguk mengiyakan ucapannya tanpa beban sama sekali.
Dengan menggunakan lift khusus petinggi perusahaan, Elio mengajak istri dan putranya ke lantai eksekutif, di mana ruangannya berada. Setelah mengantarkan istri dan putranya ke ruangannya, Elio lanjut menuju meeting room bersama asisten pribadinya untuk menemui rekan bisnis yang sejak tadi menanti kedatangannya.
"Elhan ngantuk ya?." Diva melihat Elhan beberapa kali menguap.
"Iya, mom."
Diva lantas meminta Elhan untuk berbaring di sofa kemudian memberikan usapan lembut pada punggung bocah itu, hingga tak lama kemudian Elhan pun tertidur.
Diva menoleh ke arah pintu saat menyadari kedatangan seseorang. Rupanya seseorang tersebut adalah wanita cantik yang tadi dilihat Diva duduk di meja sekretaris, sebelum Elio mengajaknya masuk ke ruangan pimpinan.
Diva mengulas senyum ramah.
"Kenapa kamu tidak mati saja setelah menenggak racun malam itu, Calista."
Senyum di bibir Diva langsung redup tak berbekas setelah mendengar kalimat wanita dihadapannya itu.
"Sepertinya wanita ini tidak menyukai Calista." Batin Diva.
"Kalau saja enam tahun lalu kamu tidak menjebak Elio, pasti sekarang aku yang menjadi nyonya Elio Dirgantara."
Diva masih diam saja seraya membalas tatapan tak suka wanita itu terhadapnya, lebih tepatnya terhadap Calista.
"Kenapa? Kamu mau mengadukan semua ucapanku barusan pada Elio? Jangan mimpi, Calista! Karena sampai kapanpun, di mata Elio kamu hanyalah wanita posesif. Aku dan Elio sudah berteman sejak lama, dan pastinya Elio akan lebih percaya padaku ketimbang aduan konyol mu itu." Seperti itulah sifat Erin, diam-diam suka sekali memprovokasi Calista.
Fiks. Kini Diva paham, mengapa sampai Calista bersikap posesif terhadap suaminya.
"Ceklek."
Tiba-tiba pintu ruangan dibuka dari arah luar. Rupanya Elio yang kembali, hendak mengambil ponselnya yang ketinggalan di meja kerjanya. Tadinya Elio hendak meminta asisten pribadinya untuk mengambil benda itu, namun teringat pada keberadaan Calista di ruangannya, Elio pun memutuskan untuk mengambilnya sendiri.
"Apa yang kamu lakukan di sini, Erin?." Elio nampak tak suka ketika mendapati keberadaan sekretarisnya itu di ruangannya pada saat istrinya juga sedang berada di sana.
"Maaf, tuan. Saya hanya bermaksud mengantarkan berkas ini ke meja kerja anda." Erin berdalih mengantarkan sebuah berkas ke meja kerja Elio, dan Elio percaya karena wanita itu menunjukkan berkas ditangannya pada Elio.
"Waaaahhhh... Wanita ular rupanya...." Batin Diva.
Real ya pelakor banyak gak sadar diri dan gak tau posisi...🤣🤣🤣🤣