Mengisahkan seorang gadis cantik yang berprofesi menjadi model, namun memiliki kita kelam semenjak ibunya meninggal dan ayahnya menikah lagi dengan seorang wanita licik dan memiliki seorang anak yang bernama Lalita. Isyana selalu di bully di hina dan di perlakuan seperti anak pelayan. Hingga pada suatu hari Isyana di jodohkan oleh ibu tirinya dengan seorang CEO dingin dan kejam bernama Brayen Lucian Alkantara...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurelia Sadewa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berlian Tak Ternilai
Bali.
Resort megah bintang 7 milik kerja sama antara Hartono Group dan Alkantara Group akhirnya resmi dibuka. Pantai private, infinity pool yang menghadap langsung ke Samudera Hindia, semua tamu undangan adalah kalangan atas. Menteri, artis, dan ratusan rekan bisnis dari Jakarta dan Jepang.
Panggung peresmian dihias dengan bunga lily putih dan kain sutra gold. Spanduk besar bertuliskan: _GRAND OPENING - THE ALKANTARA HARTONO LUXURY RESORT BALI_.
MC dengan suara lantang mulai memanggil.
"Dan untuk simbolis pemotongan pita, kami mengundang ke atas podium, Bapak Hartono selaku owner dari Hartono Group, Ibu Clara Hartono, dan Bapak Brayen Alkantara selaku investor terbesar dari Alkantara Group!"
Sorak tepuk tangan. Pak Hartono dengan jas mahalnya naik dengan bangga, Clara dengan senyum kemenangan naik dengan gaun putih ketatnya yang sengaja ia pilih agar terlihat seperti pengantin yang mendampingi Brayen. Ia sudah membayangkan foto besok di majalah bisnis: _Clara & Brayen, Duo Serasi di Balik Mega Proyek Bali._
Tapi...
Brayen tidak bergerak dari kursinya.
Semua mata menoleh ke Brayen yang masih duduk tenang di barisan VIP. Di sampingnya, Isyana duduk gugup dengan dress simple warna peach, tangan mungilnya diremasnya sendiri karena tidak percaya diri berada di antara orang-orang hebat itu.
Clara yang sudah di atas podium melirik ke bawah dengan senyum sinis, seolah berkata, _Lihat, kamu tidak diundang, Isyana. Kamu cuma istri pengganti._
Brayen melihat tatapan itu. Rahangnya mengeras.
Lalu dengan gerakan yang sangat gentle, sangat gentleman, Brayen berdiri. Bukan sendiri.
Ia menggandeng tangan Isyana. Menggenggamnya erat. Mengangkatnya pelan.
"Sayang, ikut Mas," bisiknya hanya terdengar oleh Isyana.
Isyana kaget. "Mas... tapi... MC cuma manggil Mas Hartono dan Clara... aku... aku gak..."
"Tanpa kamu, proyek ini tidak ada," bisik Brayen lagi, matanya menatap Isyana dengan penuh cinta.
Mereka berjalan berdua menuju podium. Langkah Brayen mantap, langkah Isyana gemetar. Semua tamu berbisik.
Clara di atas panggung wajahnya langsung berubah pucat.
Brayen naik ke podium, tapi ia tidak berdiri di samping Clara. Ia menarik Isyana ke tengah, tepat di depan mic. Ia masih menggandeng tangan Isyana, tidak dilepas sedetik pun.
MC kebingungan, tapi Brayen mengambil alih mic dengan tenang.
Suasana langsung hening. Angin pantai Bali pun seolah berhenti berhembus.
Brayen menatap semua tamu, lalu menatap Isyana di sampingnya dengan tatapan yang melelehkan.
"Terima kasih," ucap Brayen, suaranya berat dan berwibawa. "Saya Brayen Alkantara. Saya ingin meluruskan sesuatu."
Pak Hartono mengerutkan dahi.
Brayen melanjutkan, "Banyak yang bertanya kenapa di detik-detik terakhir, saat proyek ini hampir saya batalkan karena saya ragu dengan prospeknya, saya akhirnya tetap menjadi investor terbesar di mega proyek ini. Bahkan menambah investasi 300 Miliar lagi."
Semua orang menahan napas.
Brayen menoleh ke Isyana, senyumnya muncul, senyum langka yang hanya ia berikan untuk Isyana.
"Jawabannya adalah wanita di samping saya ini. Istri tercinta saya, Isyana Alkantara."
Isyana membelalak, air matanya langsung menggenang.
"Dialah yang meyakinkan saya," lanjut Brayen, suaranya semakin lembut tapi tegas. "Setiap malam, saat saya bilang proyek ini berisiko, dia yang bilang, 'Mas, kalau niatnya baik untuk membuka lapangan kerja untuk orang Bali, Allah pasti bantu'. Dialah yang membuat saya melihat proyek ini bukan dari angka, tapi dari hati."
"Jadi sudah menjadi keharusan," Brayen mengangkat tangan Isyana yang ia gandeng tinggi-tinggi, agar semua orang melihat, "Bagi semua rekan bisnis yang terkait dengan proyek ini, untuk berterima kasih kepada istri saya. Karena tanpa dia, resort ini tidak akan berdiri hari ini."
"Dia bukan hanya istri saya. Dia adalah... Berlian tak ternilai di hidup saya."
DUARRR!!!
Kalimat itu meledak di seluruh pantai!
Tamu undangan langsung berdiri dan bertepuk tangan histeris! Wartawan langsung jepret jepret kamera ke arah Isyana!
Clara? Wajahnya merah padam menahan malu dan amarah. Ia berdiri di pojok podium, tidak ada satu pun kamera yang mengarah padanya. Ia yang tadi merasa jadi ratu, kini menjadi bayangan yang tidak terlihat.
Pak Hartono langsung canggung, tapi ia profesional, ia langsung ikut bertepuk tangan dan berkata ke mic, "Betul! Terima kasih banyak Ibu Isyana! Berkat Ibu Isyana!"
Isyana sudah tidak bisa berkata apa-apa. Air matanya tumpah deras. Ia menatap Brayen dengan cinta yang meluap-luap.
Brayen tanpa peduli, di depan semua tamu, di depan Pak Hartono, di depan Clara yang terbakar cemburu, ia menghapus air mata Isyana dengan ibu jarinya dan mengecup kening Isyana dengan lembut.
"Jangan nangis, Berlian ku," bisiknya.
Clara meremas gaun putihnya sampai sobek di bagian samping. Dalam hatinya ia berteriak, _Isyana... awas kamu..._
Tapi malam itu, tidak ada yang bisa mengalahkan cahaya Isyana. Gaun peach sederhananya bersinar lebih terang daripada gaun putih mahal Clara, karena ia bersinar dengan cinta Brayen.
---BERSAMBUNG---