Norman Turner mengira Grace Wills, wanita yang mudah dibodohi, sayangnya ia tidak memahami istrinya dengan baik.
Grace Wills malah memilih langkah yang paling berbeda saat mengetahui suaminya mendua.
Apa yang dilakukan Grace Wills? Penasaran, kepoin yuk ceritanya ...
Untuk tahu info update, follow IG: @nana_vinli
Diusahakan update setiap hari, 1 sampai 3 bab.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ocean Na Vinli, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Awal Kehancuran
"Apa-apaan ini?!"
Suara Henry menggelegar di tengah ballroom. Dia berdiri dari kursinya dengan wajah memerah. Tatapannya terpaku pada layar besar di depan sana.
"Kenapa wajahku ada di situ?!" geramnya sambil menunjuk layar.
Suasana yang tadinya penuh tawa dan tepuk tangan mendadak berubah menjadi sunyi.
Allison hanya diam membeku. Matanya tak berkedip sedikit pun. Wajahnya perlahan berubah pucat saat melihat sosok suaminya terpampang jelas di layar.
"Astaga..." Ruby menutup mulutnya dengan kedua tangan.
Norman tak mengatakan apa-apa. Dia hanya menatap layar dengan rahang mengeras.
Sementara itu, Grace berdiri di sampingnya dengan ekspresi terkejut.
Namun, jauh di dalam hatinya, Grace justru tersenyum puas. Rencananya berjalan lebih cepat dari yang dia bayangkan. Ia melirik Mia sekilas. Mia hanya duduk tenang di kursi sambil menyeruput champagne.
Tentu saja Grace memperoleh video-video ini melalui Mia. Sebelum Mia benar-benar pamit kemarin.
Video itu belum berhenti. Tiba-tiba layar berganti. Kali ini, wajah Jacob terpampang jelas. Wanita yang bermain dengannya, wajahnya diblur.
"Astaga!" Ruby kembali berseru dengan mata melebar.
Beberapa tamu mulai berbisik. Suasana ballroom yang sebelumnya meriah berubah menjadi kacau. Sebagian dari mereka bahkan mulai mengangkat ponsel, mencoba merekam kejadian tersebut. Mona yang baru saja tiba, langsung membeku kala melihat rekaman di depan sana.
Jacob terkesiap dan langsung berdiri.
"Itu palsu!" serunya. "Video itu palsu!"
Namun, Rara yang baru saja kembali dari toilet hanya berdiri diam di tempatnya. Tatapannya tertuju pada layar, kemudian beralih kepada Jacob.
Jacob segera menghampiri Rara. "Rara, dengarkan aku. Itu bukan seperti yang kau pikirkan."
Rara tidak menjawab. Dia hanya duduk di kursinya dengan wajah datar, sementara Jacob berdiri di hadapannya.
"Rara, aku bersumpah, itu bukan—"
"Berhenti!" Satu kata dari Rara langsung membuat Jacob terdiam.
Rara mulai menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Namun, sekarang tatapan dingin tertuju kepada suaminya.
Grace melirik ke arah mereka. Entah mengapa, dia menyukai sikap Rara saat ini.
Meskipun, selama ini hubungan mereka tidak pernah benar-benar dekat, Grace merasa puas melihat Rara tidak langsung mempercayai Jacob.
Namun, perhatian Grace kembali tertuju kepada Allison.
Wanita itu masih berdiri sambil menatap layar.
"Allison, aku bisa menjelaskannya." Henry mencoba mendekat.
Allison langsung menoleh dengan mata melotot. "Jangan sentuh aku!"
"Sayang, dengarkan aku dulu."
"Diam!" seru Allison sambil mengayunkan tangan ke pipi kanan Henry.
Plak!
Tamparan keras langsung mendarat di pipi Henry.
Semua orang terdiam.
Henry memegang pipinya dengan tatapan tak percaya. "Allison!"
"Beraninya kau!" teriak Allison dengan mata berkaca-kaca. "Kau mempermalukanku di depan semua orang!"
"Ini tidak seperti yang kau pikirkan!"
"Jadi apa?! Wajahmu bukan wajahmu begitu?!"
Henry terdiam.
Plak!
Allison kembali menampar Henry.
"Aku tidak pernah tahu selama ini!" teriak Allison. "Aku bahkan mempercayaimu!"
"Allison, aku bisa menjelaskan semuanya."
"Menjelaskan apa lagi?!"
Henry berusaha menahan emosi. Dia tahu semua orang sedang memperhatikannya.
"Video itu bisa saja sudah diedit."
"Kalau begitu kenapa wajahmu ada di sana?!"
Henry tak langsung menjawab.
Sementara itu, video kembali berhenti.
Layar berubah menjadi hitam.
Namun, sebelum suasana sempat sedikit tenang, Grace tiba-tiba memandang ke salah satu meja tamu. Matanya seolah baru menyadari sesuatu.
"Mama," panggil Grace seketika.
Allison menoleh.
Grace menunjuk seorang wanita yang duduk tak jauh dari mereka. "Itu, coba lihat wajah wanita itu?"
Semua orang mengikuti arah telunjuk Grace.
Wanita tersebut langsung membeku. Wajahnya pucat, karena memang benar dia selingkuhan Henry. Dia hanyalah sekretaris dari teman bisnis Henry dulu.
Grace memasang ekspresi terkejut. "Ma, wanita itu sangat mirip dengan yang ada di video."
Mendengar ucapan Grace, Allison langsung menatap wanita tersebut.
Henry ikut menoleh, wajahnya seketika berubah.
Wanita itu berdiri perlahan dari kursinya. Dia terlihat panik saat semua mata tertuju kepadanya.
"Aku ..." katanya gugup.
Allison berjalan cepat menghampiri sosok tersebut.
"Jadi kau?"
Wanita itu mundur selangkah.
"Nyonya Allison, saya bisa menjelaskan."
Tamparan pertama mendarat di pipinya.
"Allison!" Henry langsung berlari menghampiri.
Namun, bukan untuk menghentikan istrinya.
Henry justru berdiri di depan wanita tersebut, seolah berusaha melindunginya.
Pemandangan itu membuat mata Allison semakin membesar.
"Jadi benar!" teriak Allison. "Kau melindungi wanita jalang ini?!"
"Jangan sentuh dia!" bentak Henry.
Kalimat itu justru membuat keadaan semakin buruk.
Allison tertawa getir. "Ternyata selama ini kau berbohong kepadaku!"
"Allison, tenang dulu."
"Tenang?!"
Allison menatap Henry dengan air mata yang mulai mengalir. "Kau masih menyuruhku tenang setelah melakukan semua ini?"
Henry tak mampu menjawab.
Di belakang mereka, para tamu semakin gaduh.
Ruby hanya bisa berdiri terpaku.
Norman mulai melangkah maju, berusaha mengendalikan keadaan.
"Ma, cukup," kata Norman.
Namun, Allison seolah tidak mendengar Norman. Tatapannya justru tertuju pada wanita yang berada di belakang Henry.
Wanita itu menangis dan terus menundukkan kepala.
"Keluar kau dari sini!" teriak Allison.
"Nyonya Allison ..."
"Keluar!"
Allison berteriak sekali lagi. Dan wanita itu semakin ketakutan.
Henry masih berdiri di depannya, bak pahlawan.
Grace memperhatikan semuanya dengan wajah penuh kekhawatiran.
"Jangan, Ma. Tolong tenang dulu," kata Grace sambil berusaha mendekati Allison.
Namun, di dalam hatinya, Grace justru menikmati setiap detik kekacauan di hadapannya ini.
Semuanya berjalan sesuai rencana.
Henry, Jacob dan sekarang, Allison.
Satu per satu, keluarga ini mulai retak di depan matanya sendiri.
Grace menahan senyum yang hampir muncul di bibirnya. Dia harus tetap menjadi menantu yang baik. Dia harus terlihat khawatir, dan harus terlihat seperti seseorang yang ingin menyelamatkan keluarga suaminya.
Padahal, dialah dalang yang menghancurkan mereka perlahan-lahan.
"Ma, ayo kita bicara di tempat lain," ujar Norman.
"Tidak!" Allison langsung menepis tangan Norman.
"Jangan hentikan aku!" lanjut Allison.
"Ma, semua orang melihat," kata Norman sesekali melirik ke arah tamu undangan, termasuk Edmund yang saat ini menatap tajam ke arahnya, memberi kode untuk segera mengakhiri semua kekacauan ini.
Norman memusatkan perhatian ke arah Allison lagi.
"Aku tidak peduli!" Dengan wajah merah padam, Allison berbalik dan melihat meja di dekatnya. Di atas meja itu terdapat beberapa peralatan makan yang digunakan untuk jamuan malam.
Tatapan Allison berhenti pada sebuah pisau.
Dia langsung meraih benda tajam tersebut.
Semua orang semakin menegang.
"Mama!" Grace berteriak panik.
Henry membelalak. "Allison, jangan!"
Wanita itu mundur ketakutan. Allison melangkah cepat menghampirinya. Semua orang di ruangan pun tak kalah takut, berusaha menghindari Allison.
"Berhenti, Ma!"
Norman bergerak secepat kilat. "Cukup, Ma! Jangan!"
Namun, semuanya terjadi begitu cepat.
"Akh!"
Terdengar suara jeritan di sekitar.
Akan bahagia klo video perselingkuhan Edmund juga juga viral 🤣
Mona yang haus status Turner hingga tak sadar bahwa Mona membuka jalan untuk keruntuhan Turner sekeluarga 🤣