NovelToon NovelToon
Gadis Cantik Di Arena Pertarungan

Gadis Cantik Di Arena Pertarungan

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: R251Aje

Terjebak dalam utang dan tidak memiliki jalan keluar, dia terpaksa memasuki arena pertarungan ilegal demi mendapatkan hadiah uang yang cukup untuk bertahan hidup. Bagi orang lain, arena itu adalah tempat kematian. Tetapi bagi Aira, arena hanyalah tempat mencari nafkah. Selama ada uang dan masih bernafas, dia bersedia bertarung dan tidak menyerah.

Dia tidak mengenal kata cinta tapi tiga pria tampan tanpa sengaja menempel dan ingin memilikinya. Tapi Aira tidak mudah ditakhlukkan, hanya uang yang bisa membuatnya patuh walau cuma sebentar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R251Aje, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23 Nama yang Dikembalikan, Uang yang Mengganggu, dan Pilihan yang Belum Siap

Reza menggeser posisi, masih di lantai. “Kamu bisa berhenti menghitung.”

“Tidak bisa. Menghitung itu yang membuat saya tetap waras.” Aira akhirnya menoleh. Cahaya redup membuat memar di wajahnya terlihat lebih gelap. “Kakekmu bilang saya Aira Hadi. Putri tunggal. Pewaris. Tunanganmu.”

“Ya.”

“Saya tidak ingat. Sama sekali. Tidak ada wajah ayah atau rumah besar. Tidak ada apa-apa kecuali arena, utang, dan cara bertahan hidup.” Dia menarik napas dalam, lalu menyesali karena rusuknya masih protes. “Kalau ini benar, berarti seseorang telah menyembunyikan saya, menjual saya, atau membuang saya. Dan sekarang tiba-tiba saya diminta menikah agar bisa memiliki apa yang seharusnya menjadi milik saya sejak awal.”

Reza tidak langsung menjawab. Dia memilih kata dengan hati-hati. “Kamu tidak harus memutuskan sekarang. Kamu bahkan tidak harus percaya sekarang.”

“Tapi kamu percaya.”

“Saya percaya pada apa yang saya lihat. Kakek saya tidak pernah bereaksi seperti itu pada siapa pun. Dan wasiat resmi tidak bohong.”

Aira tertawa kecil. “Wasiat. Perjodohan. Warisan. Semuanya terdengar seperti masalah orang kaya. Saya hanya ingin tahu apakah saya masih boleh membawa pisau lipat jika suatu hari saya tinggal di rumah besar itu.”

Reza berdiri, berjalan pelan mendekat, lalu berhenti di jarak yang aman. “Kamu boleh membawa apa saja. Termasuk pisau itu. Termasuk kebiasaan menghitung uang di kepala. Saya tidak meminta kamu berubah menjadi putri yang lemah.”

“Kamu terlihat senang tadi.”

“Saya senang,” aku Reza tanpa ragu. “Karena untuk pertama kalinya, kewajiban yang selalu saya benci ternyata mengarah pada orang yang ingin saya jaga. Bukan pada orang asing.”

Aira menatapnya lama. “Jangan senang dulu. Saya belum bilang ya. Saya bahkan belum yakin saya ingin dikenal sebagai Aira Hadi. Nama itu terasa… asing. Berat. Seperti baju yang tidak pas.”

Reza mengangguk pelan. “Baik. Kita tidak usah pakai nama itu dulu. Kamu tetap Aira. Saya tetap Reza yang menjaga kamu karena saya mau, bukan karena wasiat.”

Aira mengalihkan pandangan ke jendela lagi. Di kejauhan, lampu kota terlihat seperti debu cahaya yang jauh. “Raka dan Keenan akan menemukan kita. Mereka tidak akan diam.”

“Saya tahu. Saya akan hadapi mereka. Tapi tidak sekarang. Kakek melarang kebocoran.”

“Kakekmu juga yang bilang saya harus menikah denganmu untuk jadi pewaris.” Aira menekan pelipis. “Kalau saya menolak, saya tetap miskin. Kalau saya menerima, saya merasa seperti menjual diri untuk makan seumur hidup. Keduanya jelek.”

Reza duduk di tepi tempat tidur, masih menjaga jarak. “Ada pilihan ketiga. Kamu sembuh dulu. Kita cari bukti siapa yang menyembunyikanmu dulu. Setelah itu baru kamu putuskan. Uang Raka bisa dipakai untuk bertahan sementara tanpa harus menerima warisan atau menikah.”

Aira terdiam cukup lama. Lalu bilang pelan, “Kamu terlalu tenang untuk orang yang baru tahu tunangannya adalah gadis yang hampir mati di pelukannya kemarin.”

“Saya sudah hampir kehilanganmu dua kali. Saya tidak mau kehilangan untuk ketiga kalinya hanya karena terburu-buru.”

Angin masuk lebih kencang, membuat gorden tipis bergoyang. Aira menarik selimut sampai ke dada. Tubuhnya masih lemah, tapi pikirannya berjalan terlalu cepat. Dia membuka ponsel sekali lagi, menatap angka yang besar itu, lalu menutupnya.

“Besok,” katanya akhirnya. “Besok saya ingin melihat dokumen wasiat itu. Dan foto keluarga Hadi kalau ada. Saya ingin tahu wajah orang yang konon ayah saya.”

Reza mengangguk. “Saya minta pada kakek.”

“Dan…” Aira ragu sejenak. “Jangan bilang pada Raka dan Keenan soal nama Hadi dulu. Biarkan mereka marah karena saya dipindahkan. Jangan tambah kekacauan dengan cerita putri hilang.”

“Baik.”

Mereka terdiam lagi. Kali ini keheningan terasa lebih ringan, meski masih penuh pertanyaan yang belum terjawab. Aira memejamkan mata, bukan untuk tidur, melainkan untuk mencoba mengingat sesuatu—apa saja dari masa sebelum arena. Yang muncul hanya gelap dan bau darah lama.

Di luar, jauh di bawah bukit, dua mobil parkir tanpa lampu. Di dalam salah satunya, Raka menatap koordinat yang berhasil dilacak dengan cara yang tidak sepenuhnya legal. Wajahnya tegang.

“Ketemu,” gumamnya. “Keenan, saya kirim lokasi. Kita naik sekarang.”

Di mobil sebelah, Keenan menjawab singkat lewat radio, “Saya ikut. Tapi kalau Reza menghalangi, saya yang bicara dulu.”

Angin pinus terus berembus. Di kamar atas, Aira membuka mata lagi dan menatap Reza yang masih duduk di tepi tempat tidur.

“Reza.”

“Ya.”

“Kalau suatu hari saya menerima warisan itu… saya tetap akan menghitung setiap pengeluaran. Jangan harap saya berubah menjadi orang yang memboroskan uang tanpa catatan.”

Reza tersenyum sangat tipis di gelap. “Saya tidak berharap kamu berubah. Saya hanya berharap kamu tetap hidup lama untuk terus menghitung.”

Aira tidak menjawab. Dia hanya memalingkan wajah ke jendela, di mana gelap mulai retak oleh fajar yang sangat tipis.

Di bawah, dua pasang lampu mobil mulai menyala dan bergerak pelan menanjak menuju rumah bukit. Suara mobil terdengar jauh sebelum lampu mereka terlihat di antara pohon.

Aira yang sedang duduk di kursi jendela langsung menegangkan tubuh. Reza sudah berdiri, tangan bergerak ke arah senjata di pinggang, tapi dia tidak menghunus. Langkahnya menuju pintu utama tenang, terlalu tenang untuk orang yang tahu dua pria keras kepala sedang menanjak.

“Mereka menemukan kita,” kata Aira datar.

“Saya duga tidak akan lama.” Reza membuka pintu sebelum ketukan pertama datang.

Raka masuk lebih dulu. Overall balapnya sudah diganti jaket hitam, tapi bau karet dan bensin masih menempel. Matanya langsung mencari Aira, lalu menatap Reza dengan dingin yang jarang dia pakai.

“Kamu memindahkannya tanpa bilang apa-apa,” suara Raka rendah. “Kami menghubungimu puluhan kali.”

Keenan menyusul di belakang, tas medis masih di bahu, wajah lelah tapi mata tajam. “Kamar di rumah sakit kosong. Perawat hanya bilang perintah letnan. Tidak ada tujuan atau kontak yang bisa dihubungi.”

Reza menutup pintu. “Perintah kakek saya. Lokasi ini tidak boleh bocor.”

“Kakekmu?” Raka melangkah lebih dekat. “Sejak kapan urusan Aira menjadi urusan kakekmu?”

Aira yang masih duduk di kursi mengangkat tangan pelan. “Sudah. Jangan bertengkar di ruang tamu. Kursinya tua. Kalau rusak, siapa yang ganti?”

Raka berbalik ke arahnya. Ekspresinya berubah total saat melihat wajah Aira yang masih pucat. Dia mendekat cepat, berlutut di depan kursi. “Kamu baik-baik saja? Luka tadi bagaimana? Kenapa dipindah begitu saja?”

“Masih hidup. Rusuk masih sakit. Dan saya tidak dimintai pendapat.” Aira menatap ketiga pria itu bergantian. “Sekarang kalian semua di sini. Bagus. Hemat waktu.”

Keenan meletakkan tas, lalu memeriksa denyut nadi Aira tanpa izin. “Tekanan darah masih rendah. Kamu memaksakan diri naik ke sini.”

“Saya tidak memaksa. Saya dibawa.”

Raka menoleh ke Reza, suara kembali keras. “Jelaskan. Sekarang.”

1
falea sezi
lanjut
falea sezi
🤣🤣🤣🤣 raka cemburu
falea sezi
suka cwek Badas gini 🤣🤣 sat sett gk menye 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!