Di sekolah, Rendra Adijaya adalah pangeran sempurna yang dingin dan tak tersentuh. Namun di balik pintu kamar, dia hanyalah cowok anxious kronis yang menyembah seorang admin Discord anonim sebagai "pawang mental"-nya. Siapa sangka, admin gaming tempatnya mengemis semangat setiap malam itu ternyata Naya, cewek cuek bermulut tajam yang duduk di pojok kelasnya dan paling anti dengan cowok nyata.
Begitu rahasia terbongkar, saklar obsesi Rendra langsung menyala. Topeng pangeran dinginnya pecah total saat dia nekat menyudutkan Naya di kelas kosong sambil memelas gila, "Tolong jangan block gue... gue rela beliin angkot jalur sekolah ini asal lu tetep mau jadi pawang gue!" Mampukah Naya bertahan menghadapi tingkah bucin akut sang idola sekolah yang aslinya serapuh kerupuk kesiram kuah soto?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TCN_Luna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20: Perjanjian di Atas Angkot Oranye
Sore hari yang cerah perlahan mulai beranjak jingga saat bel pulang sekolah yang dinanti-nanti akhirnya berdering lantang di seantero SMA Internasional Garudatama.
Suasana di dalam kabin angkot oranye modifikasi sultan milik keluarga Adijaya terasa begitu hening senyap, hanya menyisakan deru halus dari embusan AC portable di sudut langit-langit bodi mobil.
Kendaraan eksklusif itu melaju dengan kecepatan konstan yang teratur, membelah jalanan aspal kota yang mulai padat oleh kendaraan lain yang pulang beraktivitas di bawah siraman cahaya senja yang keemasan.
Rendra Adijaya yang tadi siang berdiri laksana dewa basket analitis yang menumbangkan kapten tim senior di tengah lapangan terbuka, kini telah berubah wujud kembali ke mode pabrikan aslinya yang menggemaskan.
Seluruh kekuatan pro-player e-sports top global nomor satunya telah menguap lenyap tanpa sisa dari tubuh tingginya akibat kelelahan mental yang teramat sangat brutal.
Topeng pangeran dinginnya luruh total berkeping-keping di atas jok angkot yang bersih dan wangi aroma kopi premium tersebut.
Rendra kini sedang telungkup pasrah dengan nyaman, merebahkan kepalanya yang terasa pening tepat di atas paha kiri Kanaya Putri yang terbalut rok abu-abu sekolah.
Kedua tangan panjang Rendra bergerak melingkar, memeluk erat guling kecil bermotif kucing hitam berkacamata miliknya yang sengaja dia simpan di dalam angkot sultan sejak subuh tadi.
Wajah blasteran Jerman-Sundanya yang biasanya dipuja-puja satu angkatan sekolah kini kusut masai, merona merah padam, dan menempel lekat di kain rok Naya dalam mode anak kucing yang sedang manja beralasan kelelahan fisik.
"Nayaaa... capek banget gue, demi Tuhan! Jiwa sosial gue serasa diperas sampai kering laksana kanebo dijemur seminggu!" rengek Rendra dengan suara cempreng aslinya yang melengking manja dan penuh keputusasaan dramatis.
"Gue tadi diliatin ratusan mata manusia asli pas di lapangan semen, Nay! Rasanya mau mati stands di tempat karena serangan panik sosial!" lanjut Rendra sambil menggesekkan pipinya ke paha Naya dengan gerakan lebay.
Naya menghela napas panjang yang sangat berat, merasakan getaran lelah dari tubuh cowok jangkung yang saat ini sedang bersandar manja di pangkuannya tanpa tahu malu.
Dia meraih handuk kecil berwarna putih bersih dari dalam tas ranselnya, lalu dengan gerakan ketus namun sarat akan perhatian rahasia, dia mulai mengusap sisa-sisa keringat yang menempel di dahi dan pelipis Rendra.
"Heh! Makanya gausah sok nyari perkara lo dari awal! Lagian siapa juga yang suruh lo nekat ngeladeni tantangan duel fisik si jamet basket itu, hah?!" semprot Naya berbisik tajam, meskipun tangannya tetep mengusap rambut Rendra dengan lembut.
"Ya kan lo sendiri yang ngancem mau nge-ban akun Discord gue kalau gue kalah, Naya sayang!" sahut Rendra cemberut, mendongakkan wajah tampannya dari atas paha Naya untuk menatap langsung ke manik mata sang pawang mental.
"Gue kan cuma nanya ngasal pas di tangga darurat kemarin, kenapa sih lo harus sampai se-serem dan se-nekat itu pas denger kata ban permanen dari mulut gue tadi siang?" tanya Naya pelan, intonasi suaranya mendadak berubah menjadi agak serius dan penuh rasa ingin tahu yang mendalam.
Naya menghentikan gerakan tangannya yang sedang memegang handuk kecil, menatap lurus ke dalam sepasang bola mata Rendra yang saat ini tampak mulai berkaca-kaca dramatis di bawah temaramnya cahaya senja kabin angkot.
Mendengar pertanyaan serius yang terlontar dari bibir manis Naya, aura manja anak kucing dari dalam tubuh Rendra mendadak luntur perlahan dalam hitungan satu detik yang krusial.
Saklar di dalam otak pangeran sekolah yang jaringannya sudah korsleting permanen itu kembali bergeser ke mode dark dan intens-obsesifnya yang teramat sangat pekat.
Rendra tidak mengubah posisi telungkupnya di paha Naya, namun sepasang mata hitam legam miliknya mendadak berkilat bersinar tajam memantulkan pendar jingga matahari sore yang masuk menembus kaca jendela angkot.
Pupil matanya melebar sempurna dengan fokus analitis yang mutlak, mengunci pandangan mata Naya agar tidak bisa mengalihkan pandangannya ke arah objek lain di dalam kabin mobil sultan tersebut.
Suara cempreng manjanya lenyap seketika, digantikan oleh perubahan intonasi suara aslinya yang kembali terdengar teramat sangat rendah, berat, dalam, dan bergetar hebat oleh rasa kepemilikan yang absolut dan mutlak.
"Karena kehilangan hak akses akun digital itu... artinya gue bakal kehilangan satu-satunya ruang suci di mana gue bisa bebas jadi diri gue sendiri yang rapuh di depan lo, Kanaya Putri," ucap Rendra dengan nada berbisik yang teramat halus namun sedingin es batu.
Senyuman lebar yang agak janggal dan simetris laksana topeng psikopat perlahan kembali terukir tipis di sudut bibir tampannya, memotong atmosfer rom-com kabin menjadi penuh ketegangan intens yang merindingkan bulu kuduk.
"Fasilitas angkot sultan ini, kemenangan duel basket analitis tadi siang, bahkan seluruh silsilah kekayaan harta bokap gue... semuanya ga akan pernah ada artinya sepeser pun di hidup gue," lanjut Rendra dengan tatapan hitamnya yang semakin menusuk lekat ulu hati Naya.
"...kalau pada akhirnya lo tetep memilih buat nge-klik tombol block permanen dan ngusir eksistensi gue secara total dari lingkaran kehidupan nyata lo, Naya sayang. Lo itu matahari tunggal gue, dan gue ga akan pernah ngebiarin lo pergi dari wilayah kendali gue seumur hidup," tegas Rendra diakhiri sebuah kekehan halus yang teramat dark dan posesif tingkat tinggi.
Naya langsung membeku total di atas jok kursi angkot oranye yang sedang melaju mulus membelah keheningan sore hari kota.
Seluruh persendian di tubuh cewek cuek itu mendadak kaku sekeras semen pondasi, dan lidahnya mendadak terasa kelu tak bertulang untuk sekadar membalas ucapan gila dari cowok di pangkuannya.
Jantung Naya yang biasanya selalu berdegup dengan ritme santai dan anti-cowok nyata, kini mendadak melewatkan satu detakan krusial sebelum akhirnya berdegup kencang secara nyata laksana genderang perang yang bertalu-talu di balik dadanya.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupnya, Naya merasakan ketakutan manis yang teramat sangat eksklusif bercampur getaran aneh yang menjalar hebat ke seisi tubuhnya akibat intensitas kebucinan akut sang idola sekolah.
Rendra tetap mempertahankan posisi telungkup manjanya di paha Naya dengan senyuman lebar janggal dan sepasang mata hitam legamnya yang terus berkilat bersinar penuh kilatan obsesi tak berdasar di bawah siraman cahaya senja yang temaram.
Naya hanya bisa mematung diam melongo menatap ke dalam mata sang monster raksasa obsesif yang menyamar jadi anak kucing serapuh kerupuk soto di pangkuannya tersebut.
Dan tepat di momen krusial saat pandangan mata mereka saling mengunci lekat dari hati ke hati di dalam angkot sultan yang berjalan lambat membelah keindahan cakrawala senja sore hari...