Bagi semua orang, pernikahan Nadia dan Rian adalah gambaran kesempurnaan. Rian adalah arsitek sukses yang menopang kehidupan mereka, sementara Nadia adalah istri penurut yang melepaskan mimpi dan karirnya demi berbakti kepada suaminya. Namun di balik dinding rumah megah mereka, hubungan itu telah lama mati dingin sejak insiden keguguran dua tahun lalu.
Namun Rian yang selalu di kelilingi wanita cantik yang menggoda, membuat Nadia merasa terabaikan dengan sikap Rian yang dingin. Belum lagi menghadapi ibu mertuanya yang manipulatif, makin menyudutkan Nadia dalam fitnah dan tuduhan tak berdasar. Saat Rian lebih memilih meragukannya daripada pasang badan untuknya, Nadia akhirnya mengambil keputusan terbesar dalam hidupnya, menyerah dan pergi membawa surat cerai.
Apa yang akan terjadi selanjutnya? Yuk bantu ramaikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eys Resa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Matahari perlahan mulai condong ke barat saat taksi yang ditumpangi Nadia memasuki halaman rumah. Jam di pergelangan tangannya baru menunjukkan pukul empat sore, jauh lebih awal dibanding hari kemarin. Nadia melangkah masuk dengan langkah ringan, membawa secercah kelegaan setelah seharian sibuk menata galeri barunya bersama Amira.
Suasana di dalam rumah terasa begitu senyap. Tidak ada suara televisi yang berdengung atau omelan khas Bu Ratna yang biasa menyambut kepulangannya atau tatapan sinis dari Sarah. Di area dapur, ia hanya mendapati Bi Inah yang sedang membereskan sisa perlengkapan memasak.
"Sore, Bi," sapa Nadia ramah.
Bi Inah menoleh dan tersenyum hormat. "Sore, Mbak Nadia. Wah, tumben sudah pulang cepat?"
"Iya, Bi. Pekerjaan di sana sudah beres untuk hari ini. Ibu sama Sarah kemana, Bi?" tanya Nadia penasaran melihat rumah begitu sepi.
"Oh, tadi siang sekitar jam satu, Ibu sama mbak Sarah pergi naik taksi online, Mbak. Katanya mau arisan sekaligus belanja ke mal. Sampai sekarang belum pulang," jawab Bi Inah menjelaskan.
Nadia mengangguk paham. Tanpa ingin ambil pusing, ia memutuskan untuk langsung masuk ke kamarnya. Tubuhnya terasa cukup lelah setelah seharian berdiri menata kanvas dan perlengkapan melukis. Begitu merebahkan diri di atas kasur empuknya, mata Nadia yang memang sudah mengantuk langsung terpejam.
Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Baru sekitar lima belas menit ia terlelap, suara bising dari luar mulai mengusik pendengarannya. Tawa nyaring Sarah bercampur dengan suara renyah Bu Ratna terdengar menggema di ruang tamu. Entah lelucon apa yang baru saja mereka bahas, namun tawa itu terdengar begitu bersemangat dan sengaja dibesarkan volumenya.
Nadia menarik selimutnya sedikit untuk menutupi telinga, memilih tidak peduli dengan apa pun yang sedang mereka bicarakan atau tertawakan, lalu kembali mencoba memejamkan mata.
Pukul enam lewat, deru mesin mobil yang sangat familier tertangkap oleh pendengaran Nadia. Siapa lagi kalau bukan mobil Rian yang memasuki garasi.
Nadia yang sudah bangun sejak satu jam lalu, segera merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, dan bersiap menyambut kepulangan suaminya. Namun, sebelum ia sempat beranjak dari meja riasnya, Rian yang baru masuk kedalam rumah langsung disambut oleh suara Bu Ratna yang langsung melengking menyambut anaknya dengan nada aduan yang begitu kentara.
"Rian! Kamu baru pulang? Duh, istrimu itu benar-benar ya!" suara Bu Ratna sengaja dikeraskan agar terdengar oleh seisi rumah, kalau bisa tetangga juga mendengar apa yang akan dia katakan.
Langkah kaki Rian yang tadinya terdengar mantap mendadak terhenti di ruang tengah. "Ada apa lagi, Bu? Apa lagi kesalahan yang di buat Nadia? Apa Nadia belum pulang juga?"
Dari balik pintu kamarnya yang tertutup rapat, Nadia bisa mendengar dengan jelas bagaimana Bu Ratna meracuni pikiran suaminya.
"Belum! Entah keluyuran kemana lagi dia!" cerca Bu Ratna dengan nada penuh kebohongan yang amat rapi. "Dari kemarin sampai hari ini kerjanya cuma pergi main di luar, ninggalin rumah begitu saja tanpa peduli sama suami. Istri macam apa itu, Rian? Jelas-jelas dia cuma cari alasan supaya bisa bebas keluyuran!"
Sarah, yang berdiri di samping Bu Ratna, menimpali dengan suara lembut yang dibuat-buat. "Iya, Mas Rian... Kasihan Mas Rian banting tulang kerja seharian di kantor, tapi di rumah malah diabaikan begini. Tadi saja dari siang sampai sore kami tinggal pergi, pas pulang dia tetap belum kelihatan batang hidungnya."
Nadia yang mendengarkan percakapan itu dari dalam kamar hanya bisa mengelus dada. Ibu mertua dan sepupu suaminya itu benar-benar kompak merangkai skenario kebohongan demi menghasut Rian agar membenci dan memarahinya.
Rian yang baru saja melewati hari yang melelahkan di kantor langsung tersulut emosinya. Mendengar laporan beruntun dari ibunya bahwa Nadia belum juga pulang hingga malam, darahnya mendidih seketika. Dengan wajah mengeras menahan amarah, Rian melangkah dengan langkah lebar masuk kedalam kamar. Ia membuka pintu kamarnya dengan kasar, siap meluapkan kekesalannya.
Tapi langkah kakinya terhenti saat dia melihat sosok Nadia sedang duduk didepan meja riasnya
"Nadia? kok kamu ada disini? kata ibu... kamu..."
Nadia hanya tersenyum miring, ia lalu berdiri tenang di dekat meja rias, menatap suaminya tanpa rasa takut. "Iya, Mas. Kamu sudah pulang?"
Rian terpaku di ambang pintu. Napasnya memburu, matanya membelalak lebar menatap sosok wanita yang berdiri di hadapannya. Pria itu menoleh ke arah jam dinding, lalu kembali menatap Nadia dari ujung kepala hingga kaki dengan ekspresi kebingungan yang luar biasa.
"Kamu... kamu sudah di kamar?" tanya Rian terbata, rasa marahnya seketika menguap, digantikan oleh keheranan yang mendalam. "Tadi... kata Ibu, kamu belum pulang dari siang. Ibu bilang kamu keluyuran entah kemana sampai malam begini!"
Nadia tersenyum tipis, senyum yang penuh dengan kepahitan dan sindirian telak. Ia melipat kedua tangannya di dada.
"Ibumu tidak tau apa-apa, Mas," jawab Nadia tenang namun tajam. "Aku sudah pulang dari jam empat sore tadi. Bahkan Bi Inah yang membukakan pintu dan tahu persis kalau aku sudah di kamar sejak jam itu."
Rian mengerutkan keningnya dalam-dalam. Otaknya berputar cepat, mencoba mencerna situasi yang baru saja ia hadapi. "Tapi... kenapa Ibu bilang kamu belum pulang?"
"Karena ibumu dan Sarah tidak tau kalau aku sudah pulang. Saat aku pulang mereka tidak ada di rumah. ya sudah aku tidur aja dan istirahat di kamar. Dan mungkin mereka memang sengaja ingin memprovokasi kamu, Mas," jelas Nadia, melangkah mendekati suaminya.
"Kata Bi Inah Mereka pergi arisan dari siang dan baru pulang tadi. Mereka bahkan tidak tahu jam berapa aku pulang, tapi dengan sengaja mereka memutarbalikkan fakta di depanmu supaya kamu marah besar padaku."
Rian terdiam seribu bahasa. Wajahnya perlahan berubah murka, bukan lagi kepada Nadia, melainkan pada provokasi yang baru saja dilontarkan oleh ibunya sendiri. Pria itu menyadari betul bagaimana ibunya terus-menerus mencari celah untuk menghancurkan ketenangan rumah tangganya.
"Maafkan aku, ya. Aku kira kamu tadi benar-benar belim pulang. Jadi... "
"Sudahlah mas. Katanya kamu akan menanyakan apapun terlebih dulu padaku sebelum tersulut emosi. Dan nyatanya kamu masih percaya pada ibumu dan sepupumu itu sebelum mengetahui fakta yang sebenarnya. " ucap Nadia kesal sambil bersedekap dada.
"Maafkan aku, Nadia. Aku pulang dalam keadaan lelah dan pulang-pulang langsung mendapatkan laporan seperti itu dari ibu. Ya, siapa yang nggak marah, coba. "
"Ya sudah kali ini aku maafkan. Cepat mandi dan ganti pakaian, kita makan malam, aku sudah lapar."
"Oke, sayang. "