"Katanya sahabat masa kecil itu cuma masa lalu, tapi kenapa kehadirannya bisa menghancurkan masa depanku?"
Bagi Nawang, Timy adalah segalanya—cowok yang berjanji melindunginya di bawah inisial kalung T&N. Tapi segalanya berubah saat Kanaya, teman masa kecil Timy yang rapuh dan penuh trauma, kembali hadir. Demi alasan kemanusiaan, Timy perlahan melangkah terlalu jauh hingga melupakan janji-janjinya pada Nawang.
Saat Nawang memilih mundur karena lelah dianaktirikan, Rendy—Ketua OSIS berhati es—hadir menawarkan sandaran baru.
Di saat Timy tersadar dirinya hanya dijadikan pelampiasan egois oleh Naya, semuanya sudah terlambat. Penyesalan Timy membawanya pada Jihan, gadis misterius yang diam-diam membalut lukanya.
Ini bukan sekadar cerita tentang cinta segitiga, melainkan tentang melepaskan yang sia-sia, menyembuhkan luka, dan menemukan kedewasaan di koridor sekolah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nonton Bioskop Sendirian 13.
Langkah kaki Nawang terasa sinkron dengan detak jantungnya sendiri—lambat, berat, tapi konstan.
Dia sengaja tidak langsung memesan tiket begitu sampai di lantai bioskop. Cewek itu memilih berdiri di depan cermin besar toilet mal, menatap pantulan dirinya sendiri.
Seragam putih abu-abunya kelihatan agak kusut. Di bagian kerah, masih ada noda samar sisa jus alpukat tadi siang di kantin sekolah.
Noda yang menjadi awal dari seluruh histeria Naya malam ini.
Pandangan Nawang turun ke lehernya.
Sebuah rantai perak tipis melingkar di sana, menggantungkan dua huruf kecil yang saling bertautan: T&N. Timy & Nawang.
Waktu Timy memberikan kalung ini di hari jadian mereka yang satu tahun, Nawang merasa seperti cewek paling beruntung di SMA mereka.
Timy menyisihkan uang jajan sebulan penuh hanya untuk membeli perak asli agar kulit Nawang yang sensitif tidak gatal.
Tapi hari ini, melihat inisial itu di cermin, Nawang merasa sedang memakai borgol tak kasat mata.
"T&N," bisik Nawang pada pantulannya sendiri. Senyumnya kecut. "Timy dan Naya juga T&N, kan?"
Realitas itu menghantamnya tanpa permisi. Selama ini dia mencoba rasional. Dia mencoba paham kalau Naya adalah sahabat masa kecil Timy, cewek yang punya trauma masa lalu, cewek rapuh yang harus selalu 'dijaga'.
Tapi ada garis tipis antara kepedulian seorang sahabat dan obsesi yang merusak hubungan orang lain. Dan malam ini, Naya sekali lagi membuktikan kalau dia punya kendali penuh atas remot kontrol hidup Timy.
Nawang mengembuskan napas panjang, memutus kontak mata dengan dirinya sendiri di cermin. Dia tidak boleh menangis di toilet mal.
Dia berjalan keluar menuju konter tiket, membeli satu tiket film drama romantis yang hari ini Timy janjikan untuk tonton bersama.
Kursinya sengaja dia pilih di barisan tengah, agak menyendiri. Sendirian di dalam bioskop yang dingin terasa jauh lebih baik daripada sendirian di kamar tidurnya yang sepi.
Saat lampu bioskop padam dan layar raksasa mulai menyala, Nawang menyandarkan punggungnya ke kursi empuk. Di layar, adegan demi adegan romantis bergulir. Sepasang kekasih fiksi sedang berdebat tentang masa depan, saling melempar tatapan penuh cinta, lalu berpelukan di bawah guyuran hujan kota London.
Orang-orang di sekitar Nawang mulai terdengar terisak kecil. Filmnya memang sedih. Tapi anehnya, mata Nawang tetap kering.
Pikirannya tidak ada di film. Pikirannya tertinggal di parkiran motor setengah jam yang lalu, membayangkan Timy yang mungkin sekarang sedang memacu motornya kesetanan, menerobos lampu merah demi sampai di kamar Naya.
Nawang menyentuh liontin di dadanya lagi. Jari-jarinya meraba permukaan logam dingin itu. Pertanyaan-pertanyaan yang selama ini dia kubur dalam-dalam mulai naik ke permukaan, menuntut jawaban jujur.
Sampai kapan aku harus mengalah pada masa lalu orang lain?
Timy selalu bilang dia sayang pada Nawang. Dan Nawang tahu itu bukan bohong.
Timy adalah cowok yang akan memayunginya saat hujan, yang akan membelikan cokelat hangat saat dia PMS, yang selalu bangga menggandeng tangannya di koridor sekolah. Tapi masalahnya, cinta Timy selalu punya catatan kaki.
Aku sayang kamu, Nawang, tapi Naya lagi butuh aku.
Aku mau jalan sama kamu, Wang, tapi Mama Naya nelepon.
Maaf ya, Wang, Naya lagi kambuh.
Nawang memejamkan mata di kegelapan bioskop. Dialog film di depannya mendadak terdengar seperti latar belakang yang kabur.
Dia mulai membedah hubungannya sendiri dengan logika yang dingin. Jika setiap kali trauma Naya datang, Timy harus datang menenangkan nya, lalu di mana ruang untuknya? Di mana posisi Nawang sebagai pacar?
Dia bukan tidak punya empati pada kondisi mental Naya. Dia tahu Naya sakit. Tapi ada rasa lelah yang teramat sangat ketika posisinya sebagai prioritas selalu digeser oleh alasan 'kemanusiaan'.
Timy selalu merasa bersalah pada Naya karena kecelakaan bertahun-tahun lalu yang membuat Naya kehilangan ayahnya, sementara Timy selamat. Dan Timy membayar rasa bersalah itu dengan menyerahkan seluruh sisa hidupnya—termasuk hubungan asmaranya—untuk menjadi tameng Naya.
"Kamu nggak bisa jadi penyelamat dunia, A," gumam Nawang pelan, hampir tak terdengar di antara dentuman sound system bioskop. "Apalagi kalau harganya adalah aku."
Hati Nawang patah, bukan karena Timy berselingkuh secara fisik.
Tapi karena Timy berselingkuh secara emosional tanpa cowok itu sadari. Timy membagi fokusnya, membagi kecemasannya, dan selalu menyisakan bagian yang paling lelah untuk Nawang.
Nawang selalu mendapatkan sisa waktu, sisa energi, dan sisa senyuman.
Dua jam berlalu. Lampu bioskop perlahan menyala, menandakan film telah usai.
Penonton lain berjalan keluar sambil menyeka air mata, sibuk membahas akhir cerita yang tragis. Nawang berdiri, membenarkan letak tas sekolahnya, lalu ikut mengalir keluar bersama kerumunan.
Dia merogoh ponsel dari saku roknya. Layarnya menyala. Ada tujuh panggilan tak terjawab dari Timy, dan rentetan pesan WhatsApp yang masuk sekitar lima belas menit yang lalu.
Timy: Wang, maaf banget baru sempat pegang hp. Naya udah tenang, pintunya tadi terpaksa didobrak Pak RT. Dia sempat histeris tapi sekarang udah tidur setelah minum obat.
Timy: Kamu udah di rumah? Kamu nggak apa-apa kan? Maafin Aa, Wang. Demi tuhan Aa nggak bermaksud ninggalin kamu gitu aja.
Timy: Kabarin Aa kalau udah sampai rumah, ya? Aa khawatir banget.
Nawang membaca pesan-pesan itu tanpa ekspresi. Dulu, dia pasti akan langsung membalas dengan kalimat penenang: "Iya A, nggak apa-apa. Syukur deh kalau Naya udah aman."
Dia selalu menjadi Nawang yang pengertian. Nawang yang dewasa.
Nawang yang tidak mau menambah beban pikiran pacarnya.
Tapi malam ini, jemarinya diam di atas papan ketik. Nawang sadar, menjadi cewek yang 'selalu pengertian' ternyata tidak membuat hubungannya menjadi lebih sehat. Itu hanya membuat Timy berpikir bahwa mengorbankan perasaan Nawang adalah hal yang aman, karena Nawang pasti akan selalu memaafkannya.
Nawang menarik napas dalam-dalam, menghirup udara luar bioskop yang beraroma popcorn carmel. Dia tidak membalas pesan Timy.
Dia hanya mengunci ponselnya, memasukkannya kembali ke dalam saku, lalu berjalan menuju eskalator untuk pulang.
Sambil berjalan, tangan kanannya bergerak ke belakang leher.
Dengan satu sentikan jari yang tegas, dia membuka pengait kalung perak itu. Liontin T&N itu kini tergeletak di telapak tangannya.
Tidak ada air mata. Hanya ada ketetapan hati yang perlahan mengeras di dalam dadanya.
......................
...****************...
Tbc,