Alarice Jovelyn Dav Dewantara, atau Jove, adalah putri pertama keluarga Dewantara yang hidupnya nyaris sempurna. Namun, kesempurnaan itu runtuh dua hari sebelum pernikahannya ketika ia memergoki calon suaminya sedang bercinta dengan wanita lain di rumah yang telah mereka persiapkan untuk kehidupan setelah menikah.
Tanpa ragu, Jove membatalkan pernikahannya dan memilih menutup hati. Selama dua tahun, ia menenggelamkan diri dalam pekerjaan hingga membuat kedua orang tuanya khawatir.
Alaska Dewantara akhirnya memutuskan menjodohkan Jove dengan Nicholas Alvarendra, putra sahabat bisnisnya.
Nicholas adalah pria dingin yang juga memiliki luka yang sama. Ia pernah dikhianati tunangannya yang justru hamil dari sahabatnya sendiri. Sejak saat itu, Nicholas tidak lagi percaya pada cinta.
Dua hati yang sama-sama terluka akhirnya dipertemukan dalam sebuah perjodohan.
Mereka menikah tanpa cinta dan membuat kesepakatan untuk tidak saling berharap.
“Pernikahan kita hanya sebatas kertas, jangan berharap lebih.”
“Tenang saja, aku juga tidak ada niat menjalankan rumah tangga ini denganmu.”
Tapi, bagaimana jika dua orang yang sama-sama tidak percaya cinta justru perlahan menemukan kembali arti cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shann29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15. Pertemuan Dua Keluarga
Pagi itu, suasana di rumah keluarga Dewantara terasa sedikit berbeda.
Bukan karena ada acara khusus.
Bukan pula karena ada tamu.
Melainkan karena sejak semalam, Alaska terlihat jauh lebih ceria dari biasanya. Jihan bahkan beberapa kali tersenyum sendiri ketika sedang menyiapkan sarapan.
Jove yang baru turun dari lantai atas langsung menyadari perubahan itu.
“Mommy kenapa?”
Jihan menoleh. “Kenapa apanya?”
“Dari tadi senyum sendiri terus.”
Jihan tertawa kecil. “Mommy kan sedang bahagia.”
Jove menarik kursi dan duduk di meja makan. “Oh ya? Bahagia karena apa?”
Jihan melirik Alaska yang sedang membaca berita melalui tabletnya.
“Karena putri Mommy akhirnya mau membuka hati.”
Jove hampir tersedak air putih yang baru diminumnya. “Mom…”
Alaska menurunkan tabletnya dan ikut tersenyum. “Biarkan Mommy bahagia.”
“Kan aku cuma bilang aku dekat dengan Nic.”
“Bukankah itu awal yang bagus?”
Jove tidak menjawab.
Jonathan yang baru datang ikut duduk. “Menurutku Daddy benar.”
Jordi menyusul beberapa saat kemudian. “Setuju.”
Jove menatap kedua adiknya bergantian. “Kalian kompak sekali.”
Jonathan mengambil roti. “Kami cuma senang melihat Kak Jove akhirnya punya seseorang.”
“Belum tentu dia jadi seseorang untukku.” Balas Jove.
Jordi tertawa. “Semalam dia mengantar Kakak sampai rumah.”
“Dia kebetulan mengantar kok.”
“Dan kalian makan malam bersama.”
“Karena memang mau makan.”
“Terus kalian dekat juga sejak di Bandung.”
Jove menghela napas. “Kenapa kalian seperti sedang menginterogasi?”
Jordi tertawa semakin lebar. “Karena selama dua tahun terakhir, kehidupan hati Kak Jove lebih sepi daripada kantor cabang yang sedang tutup.”
“Jordi!”
“Aku cuma mengatakan fakta.”
Jonathan ikut tertawa.
Jove menggelengkan kepala.
Ia sebenarnya merasa sedikit bersalah karena semua orang begitu bahagia hanya karena sebuah kebohongan kecil yang ia ciptakan bersama Nic.
Namun, ia juga tidak bisa mengungkapkan kebenarannya.
Bukan sekarang.
Mungkin tidak akan pernah.
Setelah sarapan, Jove bersiap berangkat ke kantor.
Baru saja ia mengambil tas, Alaska memanggilnya.
“Jove.”
“Ya, Dad?”
“Kalau kamu serius dengan Nic, Daddy ingin kamu menjalaninya pelan-pelan.”
Jove menatap ayahnya.
“Daddy tidak akan memaksaku?”
“Tidak.”
Alaska tersenyum. “Daddy cuma ingin kamu bahagia.”
Jove terdiam.
Kalimat itu kembali membuat hatinya tersentuh.
Alaska tidak tahu bahwa putrinya sedang mengambil keputusan yang sangat berbeda dari apa yang ia bayangkan.
Namun, Jove tetap tersenyum.
“Aku tahu, Dad.”
“Dan kalau suatu hari kamu merasa Nic memang orang yang tepat, jangan takut untuk mencoba.”
Jove mengangguk. “Iya Dad.”
Ia kemudian mencium pipi ayah dan ibunya sebelum berangkat.
Di dalam mobil, Jove menarik napas panjang.
Semakin jauh mobilnya meninggalkan rumah, semakin ia merasa bahwa drama yang mereka mulai semalam ternyata sudah berkembang lebih cepat dari perkiraannya.
Kedua keluarga sudah berharap.
Padahal…
Mereka bahkan belum benar-benar menjadi pasangan.
Di Alva Corp, situasinya tidak jauh berbeda.
Nic baru saja masuk ke ruang kerja ketika Arman muncul tanpa mengetuk pintu.
“Pagi, calon pengantin.”
Nic langsung menatap ayahnya.
“Pa.”
Arman tertawa.
“Kenapa? Tidak boleh?”
“Belum sampai kearah sana, Pa.”
“Papa yakin akan sampai ke arah sana.”
Nic menggeleng. “Papa terlalu bersemangat.”
“Ya jelas.” Arman duduk di sofa. “Papa akan bicara dengan Pak Alaska nanti.”
Nic langsung menoleh. “Bicara?”
“Iya.”
“Bicara apa?”
“Ya, soal kalian.”
Nic terdiam. Ia tahu cepat atau lambat kedua keluarga akan mulai ikut campur.
“Dan?”
“Pak Alaska juga pasti senang.”
Nic hanya mengangguk.
Arman memperhatikan putranya.
“Kamu benar-benar nyaman dengan Jove?” Pertanyaan Arman membuat Nic diam sejenak.
Nyaman? Entahlah. Ia memang merasa lebih mudah berbicara dengan Jove dibandingkan kebanyakan orang.
Mungkin karena mereka memiliki pengalaman yang hampir sama.
Mungkin karena Jove tidak pernah memaksanya untuk menceritakan masa lalu.
Atau mungkin karena Jove sama sekali tidak menunjukkan ketertarikan berlebihan kepadanya.
Namun, Nic akhirnya menjawab. “Nyaman.”
Arman tersenyum puas. “Nah. Kalau sudah nyaman, tinggal dilanjutkan.”
Nic mengangguk kecil. Ia tidak menjelaskan bahwa nyaman bukan berarti cinta. Dan mungkin memang lebih baik seperti itu.
Hari-hari berikutnya mulai berubah.
Tidak ada pertunangan resmi.
Belum ada tanggal pernikahan.
Tetapi hubungan Jove dan Nic mulai menjadi pembicaraan di antara keluarga mereka.
Sesekali Nic datang ke rumah keluarga Dewantara. Sesekali Jove bertemu dengan keluarga Alvarendra. Setiap kali mereka bertemu dengan keluarga, keduanya memainkan peran yang sama.
Pasangan yang sedang saling mengenal.
Padahal ketika tidak ada keluarga yang melihat, mereka kembali menjadi dua orang yang menjalankan kesepakatan.
Sore itu, ketika Jove baru saja selesai rapat, ponselnya berbunyi.
Pesan dari Nic.
Nic:
Sepertinya Kita perlu makan malam bersama keluarga.
Jove membaca pesan itu beberapa saat.
Jove:
Keluarga kita?
Nic:
Iya.
Jove tersenyum kecil.
Jove:
Kamu yang mengusulkan?
Nic:
Kita.
Jove mengangkat alis membaca jawabannya.
Jove:
Kenapa?
Nic:
Kalau kita ingin mereka percaya hubungan ini serius, sepertinya kita harus mulai terlihat seperti pasangan yang memang sedang mempersiapkan pernikahan.
Jove terdiam.
Ia tidak bisa menyangkal perkataan Nic.
Selama ini mereka hanya memberikan potongan-potongan kecil yang membuat keluarga percaya bahwa hubungan mereka berkembang.
Makan malam bersama dua keluarga akan membuat semuanya terlihat lebih nyata.
Jove:
Di mana?
Nic:
Restoran privat. Aku akan cari tempatnya.
Jove:
Oke.
Beberapa menit kemudian, Nic mengirimkan nama restoran dan waktu yang sudah ia pilih.
Jove hanya membalas singkat.
Jove:
Aku setuju.
Kemudian Jove menatap layar ponselnya sambil tersenyum tipis.
Mereka benar-benar sedang membuat drama.
Dan yang lucu…
Drama itu harus terlihat begitu meyakinkan sampai keluarga mereka sendiri tidak menyadari bahwa semua yang terjadi hanyalah bagian dari kesepakatan rahasia.
Dua hari kemudian, sebuah restoran privat dipilih sebagai tempat makan malam kedua keluarga.
Jove datang bersama Alaska, Jihan, Jonathan, dan Jordi.
Sementara Nic datang bersama Arman dan Marry.
Begitu kedua keluarga bertemu, suasana langsung terasa hangat.
Arman menyalami Alaska dengan senyum lebar.
“Pak Alaska, akhirnya kita makan malam bersama dalam suasana yang lebih santai.”
Alaska tertawa.
“Benar. Sepertinya anak-anak kita yang punya ide.”
Arman langsung menoleh kepada Nic.
“Wah, ternyata anak saya sudah mulai pandai mengatur acara keluarga.”
Nic tersenyum tipis. “Sesekali, Pa.”
Jihan memandang Jove dengan wajah bahagia. “Mommy senang kalian berdua yang mengajak kami.”
Jove hanya tersenyum.
“Sekalian supaya semuanya lebih dekat.”
Kalimat sederhana itu kembali membuat kedua orang tua mereka tersenyum.
Tidak ada yang tahu bahwa sebenarnya ada alasan lain di balik makan malam tersebut.
Jove dan Nic ingin memastikan satu hal.
Kedua keluarga harus percaya bahwa hubungan mereka benar-benar serius.
Makan malam berlangsung hangat.
Mereka berbicara tentang pekerjaan, keluarga, dan tentu saja… pernikahan.
Marry bahkan mulai membicarakan kemungkinan tanggal.
“Kalau memang kalian sudah yakin, Mama rasa tidak perlu terlalu lama.”
Jove melirik Nic. Nic membalas tatapannya.
Keduanya sudah tahu jawaban yang harus diberikan.
“Kami sudah membicarakannya,” ujar Jove.
Nic melanjutkan, “Dan kami siap.”
Seketika wajah kedua keluarga dipenuhi kebahagiaan.
Jihan menggenggam tangan putrinya.
Marry tersenyum lebar.
Alaska menghela napas lega.
Arman bahkan tersenyum puas.
Sementara Jonathan dan Jordi saling pandang.
Jordi berbisik, “Sepertinya Kak Jove benar-benar akan menikah.”
Jonathan menjawab pelan, “Sepertinya begitu.”
Jove mendengar bisikan itu, tetapi hanya tersenyum.
Tidak seorang pun tahu bahwa di balik senyum yang ia berikan malam itu, ada sebuah rahasia besar.
Begitu pula Nic.
Mereka sedang mempersiapkan pernikahan.
Tetapi bukan pernikahan seperti yang dibayangkan keluarga.
Pernikahan itu akan menjadi awal dari kehidupan mereka di bawah satu atap, dua orang yang tidak saling mencintai, tidak saling menuntut, dan bahkan tidak berniat menjadi pasangan sungguhan.
Setidaknya…
itulah yang mereka yakini saat ini, menjalani sebuah drama pernikahan.